image 1 for background / image background
image 2

INTERMESO

Intel Dua Miliar Dolar

Dokumen KGB mengakui betapa besar kerugian mereka akibat pengkhianatan Adolf Tolkachev.

Foto: Adolf Tolkachev/Washington Post

Jumat, 26 Februari 2016

Pada suatu Januari yang sangat dingin di Moskow, kala itu ibu kota Uni Soviet, pada 1977, kepala stasiun Dinas Intelijen Amerika Serikat (CIA) tengah buru-buru keluar dari kantor kedutaan. Mengendarai mobil menembus jalan bersalju, dia mampir di pompa bensin langganan para diplomat. Sembari menahan dingin, intel senior CIA itu menunggu tangki bahan bakar mobilnya penuh.

Tak disangka, seorang laki-laki paruh baya menghampirinya. “Apakah Anda orang Amerika?” laki-laki itu, seperti dikutip dalam dokumen CIA, bertanya dalam bahasa Inggris. Setelah sang mata-mata membenarkan, laki-laki itu segera meletakkan lipatan kertas di bangku mobil dan buru-buru berlalu. Kepala stasiun CIA melihat sekeliling dan baru menyadari bahwa dia satu-satunya yang mengendarai mobil dengan pelat mobil diplomatik Amerika.

Foto: Business Insider

Kata-kata di lipatan surat itu sangat ringkas dan tegas. Dia, laki-laki warga Soviet itu menulis, ingin mendiskusikan sesuatu yang sangat rahasia dengan pejabat Amerika yang berwenang. Dia juga menyebutkan waktu dan tempat yang dia kehendaki serta kode komunikasi untuk bertemu. Sungguh satu tawaran yang menggoda, sekaligus sangat berbahaya.

Demi pertemuan ini, aku sudah berjam-jam berputar-putar Kota Moskow mencari mobil diplomatik Amerika.”

Hari-hari itu, setelah sekian tahun terlibat Perang Dingin, Amerika dan Soviet adalah dua musuh yang sengit. Di Moskow, persis di jantung kekuasaan Uni Soviet, mata-mata Dinas Intelijen Soviet (KGB) ada di setiap jengkal kota itu. Mereka selalu membuntuti dan memelototi setiap pergerakan staf Kedutaan Amerika.

Bertemu dengan pejabat Soviet yang mungkin berniat membocorkan rahasia bukan cuma sangat berbahaya, tapi memastikan apakah informasi yang bakal dia berikan bukan umpan KGB dan bukan “rahasia” abal-abal juga bukan pekerjaan gampang. Pejabat di Langley, markas besar dinas mata-mata CIA, memutuskan mengabaikan surat itu.

Tapi laki-laki itu rupanya bersungguh-sungguh. Sebulan kemudian, laki-laki itu kembali menghampiri sang intel dan meninggalkan lipatan surat. Saat surat itu kembali diabaikan bos-bos CIA, dia kembali mencegat kepala stasiun CIA di parkiran mobil. Setelah empat kali suratnya diabaikan, pada surat kelima, hampir setahun kemudian, laki-laki itu menyertakan bukti dokumen tulisan tangan mengenai proyek radar pesawat tempur milik Soviet. “Aku ingin mengikuti jejak Belenko,” laki-laki itu menulis.

Pada 6 September 1976, Letnan Viktor Belenko, pilot pesawat tempur Soviet, membelot dari negaranya dan membawa “hadiah” sangat berharga bagi Amerika. Dia kabur dari Soviet dengan menerbangkan jet tempur Mig-25 Foxbat ke Hakodate, Jepang. Kala itu Mig-25 merupakan momok bagi musuh-musuhnya lantaran kemampuan manuver dan kecepatannya.

Foto: David Hoffman

Bukti yang dilampirkan laki-laki itu meluruhkan keraguan Gardner “Gus” Hathaway, Kepala CIA yang baru beberapa pekan ditugaskan di Moskow. Gus segera mengirim pesan ke Pentagon, minta izin untuk menjalin kontak dengan laki-laki itu. Tapi bos-bos besar CIA di Langley punya pertimbangan lain. Baru lewat beberapa bulan, sejumlah intel CIA diusir dari Soviet. Bos CIA tak mau cari gara-gara dengan intel Negeri Beruang Merah.

Terus ditolak, laki-laki itu hampir menyerah. Pada 1 Maret 1978, sekali lagi dia mencegat Gus Hathaway dan istrinya. Untuk meyakinkan bos-bos CIA, dia menyerahkan 11 halaman tulisan tangan yang memuat laporan detail proyek riset rahasia pesawat tempur Soviet. Pada pertemuan itu, dia juga memberikan identitas lengkap dengan lembaga tempat dia bekerja.

Dia bernama Adolf Tolkachev, kala itu 51 tahun, insinyur dari Institut Politeknik Kharkov, dan bekerja sebagai kepala desain di JSC Phazotron, pembuat radar dan sistem avionik pesawat-pesawat tempur Soviet. “Demi pertemuan ini, aku sudah berjam-jam berputar-putar Kota Moskow mencari mobil diplomatik Amerika,” kata Tolkachev. Pertemuan ini, kata Tolkachev kepada Gus, akan menjadi pertemuan terakhir mereka jika tak juga ditanggapi serius oleh Langley.

Berlembar-lembar dokumen itulah yang mengubah sikap para bos di Langley dan Pentagon.

***

Sudah lama Tolkachev terus menumpuk antipati terhadap Partai Komunis, yang berkuasa di negaranya. Ayah dan ibu mertuanya mati dalam hukuman Partai hanya lantaran diduga berniat memberontak. Sudah sekian lama dia merencanakan “pembalasan” kepada penguasa Soviet, yang dianggapnya munafik. Dan pada pertengahan 1970-an, dia sudah mengambil keputusan bulat. “Aku harus melakukan sesuatu,” Tolkachev belakangan menjelaskan kepada intel CIA seperti dikutip The Atlantic.

Foto: David Hoffman

Sebagai pejabat penting di Phazotron, Tolkachev bisa mengakses semua data dan dokumen paling rahasia soal pengembangan senjata Soviet. Menjual semua dokumen itu ke Cina atau negara lain tak pernah terlintas di benaknya. “Dari semua yang pernah aku dengar, aku ingin tinggal di Amerika,” kata Tolkachev. Dengan menyerahkan dokumen-dokumen rahasia itu kepada Amerika, dia bisa mendapatkan dua hal sekaligus: peluang hidup di Amerika dan membalas dendam kepada penguasa di Kremlin.

John Guilsher, mata-mata CIA yang fasih bercakap dalam bahasa Rusia, bertemu dengan Tolkachev pertama kali tepat pada malam tahun baru 1979. Pada pertemuan pertama setelah Langley memberi lampu hijau untuk menjalin kontak, Adolf Tolkachev menyerahkan 91 halaman dokumen rupa-rupa sistem senjata Soviet. Selama enam tahun, Tolkachev dan intel CIA bertemu 21 kali, dan berlembar-lembar dokumen serta beratus-ratus rol film berpindah tangan.

Dokumen pemberian Tolkachev ini sangat bernilai bagi militer Amerika. Berkat dokumen “curian” Tolkachev, seorang perwira militer Amerika mengatakan, mereka bisa menghemat waktu riset paling tidak lima tahun. “Kita tak pernah mendapatkan informasi sedetail itu.... Kita bisa menghemat dana riset sekitar dua miliar dolar AS,” ujar seorang petinggi Angkatan Udara Amerika kepada bos CIA.

Foto: Arsip NSA

Menurut memorandum internal CIA, Soviet perlu waktu delapan hingga sepuluh tahun untuk membuat teknologi baru seandainya mereka sadar telah kecurian. Bagi Tolkachev, imbalannya tak seberapa dibanding risiko yang mesti dia tanggung. Hampir semua diminta, untuk kepentingan istri dan anaknya, Oleg. Suatu kali, Tolkachev minta intel CIA membawakan kaset-kaset grup musik Barat. Lain kesempatan, dia minta dibelikan Sony Walkman, buku-buku arsitektur, dan pensil mekanik sebagai hadiah untuk Oleg.

Khawatir pengkhianatannya terbongkar, Tolkachev minta pil sianida kepada mata-mata CIA. Ketimbang tertangkap KGB, menurut Adolf Tolkachev, lebih baik dia mati bunuh diri. Seandainya dia mati sebelum diinterogasi, Tolkachev menulis surat kepada Direktur CIA, KGB juga bakal kesulitan memperkirakan rahasia apa saja yang telah dia bocorkan.

Sepandai-pandai CIA dan Tolkachev menutupi jejak, akhirnya terendus oleh intel-intel KGB. Hari itu, 13 Juni 1986, adalah hari sial bagi Tolkachev. Hari itu dia berencana bertemu dengan mata-mata CIA. Tak tampak hal mencurigakan. Intel CIA hanya melihat satu hal janggal, seorang perempuan berbicara sangat kencang dalam taksi.

Padahal saat itu ada belasan prajurit dari kesatuan Alpha di Spetsnaz, pasukan khusus Soviet, yang tengah mengintai. Saat sang intel tiba di lokasi pertemuan, prajurit Spetsnaz segera menyergap dan mengepungnya. Sang intel diusir dari Soviet dan Tolkachev dihukum mati beberapa bulan kemudian.

Belakangan, CIA baru sadar, bukan karena kecerobohan Tolkachev yang membuatnya tertangkap, melainkan pengkhianatan di tubuh dinas intelijen itu sendiri. Ada dua tersangka utama yang membocorkan identitas Tolkachev, juga intel-intel CIA lain, kepada KGB. Dua orang ini juga intel CIA: Aldrich Ames dan Edward Lee Howard. Ames sekarang mendekam di penjara Amerika, sementara Edward kabur dan minta suaka ke Soviet. Edward meninggal pada 2002 di rumahnya di Rusia.

Foto: ABCNews

Hampir 30 tahun setelah kematian Tolkachev, beberapa pekan lalu pemerintah Rusia merilis dokumen notulensi rapat Politbiro Partai Komunis Uni Soviet pada 25 September 1986, persis sehari setelah eksekusi mati Tolkachev. Dalam rapat, Sekretaris Jenderal Partai, Mikhail Gorbachev, bertanya kepada Direktur KGB soal propaganda media Barat mengenai orang-orang yang dihukum lantaran kegiatan politiknya.

Ada 240 orang, menurut V.M. Chebrikov, Direktur KGB, yang dihukum lantaran dianggap membahayakan negara. “Di antara mereka yang paling berbahaya adalah yang terlibat spionase.... Kemarin Tolkachev telah dihukum mati,” Chebrikov menjawab pertanyaan Gorbachev. “Dia telah membocorkan rahasia militer yang sangat penting kepada musuh.”

Dokumen ini sekaligus meruntuhkan dugaan Benjamin Fischer, mantan sejarawan CIA, bahwa Tolkachev hanyalah tipu-tipu KGB. Dia merujuk pada buku Rem Krasilnikov, purnawirawan Jenderal KGB, The Ghost of Tchaikovsky Street. Menurut Jenderal Krasilnikov, Tolkachev tak pernah ada. “Dia hanya isapan jempol karangan KGB dan hasil imajinasi CIA,” dia menulis.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.