image for mobile / touch device
image 1 for background / image background
image 2
image 3
image 4

INTERMESO


Siapa Membunuh Malcolm X?

Sejumlah bukti menunjukkan bahwa dua orang terhukum dalam pembunuhan Malcolm X tak bersalah. Polisi dan FBI enggan membuka kembali kasusnya.

Foto: The Guardian

Kamis, 18 Februari 2016

Sudah lewat setengah abad peristiwa di Audubon Ballroom, Manhattan, Kota New York, tapi apa yang sebenarnya terjadi saat itu masih remang-remang. Pada sore itu, 21 Februari 1965, persis di depan anak-anak dan istrinya, Malcolm Little alias Malcolm X tewas diberondong tembakan. Ada 21 lubang tembakan di sekujur tubuhnya.

Pada sore itu, Thomas 15X Johnson alias Khalil Islam menuturkan kepada majalah New York empat puluh tahun kemudian, dia tengah berada di apartemennya yang menghadap ke Kebun Binatang Bronx, belasan kilometer dari Audubon Ballroom. Seharian, dia mengaku hanya bisa berbaring di tempat tidur lantaran menderita rematik parah.

Surat kabar memberitakan kematian Malcolm X.
Foto: NY Daily News

Tapi, sepuluh hari kemudian, polisi menggeruduk apartemennya dan menyeretnya ke kantor polisi. "Mereka mengatakan akulah yang menembak Malcolm X, kemudian lari ke toilet perempuan, melompati jendela, dan kabur lewat tangga," kata Khalil. "Padahal, sejujurnya, berjalan saja aku kesulitan."

Bersama Thomas Hagan alias Talmadge X Hayer alias Mujahid Abdul Halim dan Norman 3X Butler alias Muhammad Abdul Aziz, Khalil diputus bersalah atas pembunuhan Malcolm X. Di antara mereka bertiga, hanya Talmadge Hayer yang mengaku bersalah. Alibi Khalil dianggap angin lalu di persidangan. Bahkan kesaksian Hayer bahwa Khalil dan Norman tidak berada di tempat kejadian dan tak terlibat dalam pembunuhan Malcolm tak bisa membebaskan mereka berdua dari penjara.

Selama 22 tahun, Khalil menghabiskan umurnya di sejumlah penjara di New York. "Aku tak bersalah," kata Khalil, persis seperti pernyataannya di pengadilan pada 1965. Hingga meninggal enam tahun lalu, Khalil masih berstatus “pelaku” pembunuhan Malcolm X.

Malcolm X dalam kampanye menuntut kesetaraan status sosial kulit hitam dengan kulit putih.
Foto: Redlist

Pada 1977 dan 1978, Hayer memberikan pernyataan tambahan di bawah sumpah soal kasus pembunuhan Malcolm. Hayer kembali menegaskan bahwa Khalil dan Norman tak bersalah. "Aku merasa bersalah kepada mereka," kata Hayer kepada William Kunstler, pengacaranya. Penelusuran Manning Marable, profesor sejarah di Universitas Columbia, selama bertahun-tahun juga menghasilkan kesimpulan serupa: Khalil dan Norman tak bersalah.

Ada empat nama, dan semuanya anggota Nation of Islam, dari Newark, New York, menurut Hayer, yang membantunya membunuh Malcolm X. Dia mengenal mereka sebagai Willie, Wilbur alias Kinly, Lee, dan Ben. Kunstler mengungkap siapa mereka: Willie alias William Bradley, Lee alias Leon Davis, Ben alias Benjamin Thomas, dan Wilbur alias Wilbur McKinley. Benjamin sudah lama meninggal. Jejak Leon dan Wilbur tak terendus media.

Namun pelbagai upaya untuk meminta investigasi ulang kasus pembunuhan ini tak pernah ditanggapi Kepolisian New York maupun Biro Investigasi Federal Amerika (FBI). Pengadilan Tinggi New York juga menolak membuka kasus itu kembali. Padahal sejumlah saksi mata terang mengatakan ada beberapa orang yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan Malcolm yang lari dari Audubon Ballroom, tapi tak pernah diperiksa polisi. "Aku yakin pembunuhan Malcolm adalah pembunuhan politik," kata James Farmer, Ketua Kongres Kesetaraan Rasial, kepada CNN setahun lalu.

Malcolm X di hadapan massa pengikutnya.
Foto: NBC News

Bertahun-tahun sebelum terbunuh, Malcolm sudah masuk daftar orang-orang “berbahaya”. Lidahnya sangat tajam mengkritik diskriminasi terhadap keturunan kulit hitam di Amerika. Pidato-pidatonya yang berapi-api memikat banyak orang. Tapi orang-orang yang tak suka kepadanya juga berderet-deret.

Tak ada perintah dari Elijah Muhammad untuk membunuh Malcolm. Kami mengerjakan semuanya atas inisiatif sendiri."

FBI dan Kepolisian New York menyusupkan intel-intelnya terus membuntuti Malcolm. Musuh-musuhnya makin banyak setelah dia menyatakan berpisah dengan Nation of Islam dan Elijah Muhammad, pemimpin Nation, pada Maret 1964. "Malcolm mestinya tak melanggar aturan.... Dia terus mengkritik Elijah Muhammad, apa yang dia harapkan?" kata Khalil.

Berulang kali para pengikut Elijah melontarkan ancaman kepada Malcolm, termasuk juara dunia tinju kelas berat Muhammad Ali. Sepekan sebelum terbunuh, rumah Malcolm hancur berantakan dihajar bom. Namun, menurut Hayer, tak ada perintah dari Elijah Muhammad untuk membunuh Malcolm. "Kami mengerjakan semuanya atas inisiatif sendiri," kata Hayer kepada CNN. Pembunuhan Malcolm, menurut Hayer, adalah pembalasan atas pengkhianatannya.

Dalam bukunya, Malcolm X: A Life of Reinvention, Manning Marable menulis bahwa William Bradley-lah yang pertama menembakkan senapan ke arah Malcolm. Seorang saksi mata, Herman Ferguson, melihat Leon Davis dan Hayer menyusul Bradley memberondong tubuh Malcolm dengan tembakan. 

Foto: TES

Lima puluh tahun setelah penembakan Malcolm, jenggot dan rambut Bradley sudah memutih. Dia, yang pada masa muda berandalan dan ditakuti tetangga, juga sudah bersalin menjadi Al-Mustafa Shabazz. Bradley, yang sudah berkali-kali masuk penjara, kini hidup makmur dan menjadi warga “terhormat”. Kendati namanya disebut-sebut Hayer dan Profesor Manning Marable sebagai salah satu pelaku pembunuhan Malcolm, tak sehari pun Bradley menginap di penjara untuk kasus tersebut.

Bagi warga Newark, New Jersey, peran Al-Mustafa alias William Bradley dalam pembunuhan Malcolm X bukan lagi jadi bahan bisik-bisik. "Dialah orang yang bisa melenggang di jalan-jalan Newark dan tak tersentuh hukum," kata Abdur-Rahman Muhammad, sejarawan di kota itu, kepada New York Daily News, beberapa bulan lalu. Manning Marable menduga William merupakan informan polisi yang disusupkan ke Nation of Islam.

Al-Mustafa membantah tudingan keterlibatannya dalam pembunuhan Malcolm. "Itu hanya tuduhan. Mereka menuduhku atas sesuatu yang tak pernah aku lakukan," Al-Mustafa membela diri. Teka-teki pembunuhan Malcolm masih tetap jadi misteri.





Rindu-Benci Malcolm dan Ali

Malcolm X dan Muhammad Ali pernah bersahabat karib. Tapi belakangan Ali menganggap Malcolm sebagai musuh. Apa yang terjadi?

Foto: Ilmfeed

Kamis, 18 Februari 2016

Pada satu saat, Malcolm Little alias Malcolm X dan Cassius Clay alias Muhammad Ali merupakan dua sahabat karib. Cassius—dia baru beralih nama pada 1964—yang kala itu masih “hijau”, terpesona oleh karisma Malcolm, orator kelompok Nation of Islam.

Dengan tubuh langsing menjulang, gaya bicara berapi-api tanpa takut, Malcolm “menyihir” kelompok kulit hitam di Amerika Serikat, yang bertahun-tahun diperlakukan sebagai warga kelas dua. Kendati perbudakan sudah dihapus berabad-abad silam, status keturunan Afrika di Amerika kala itu tetap dianggap tak layak setara dengan keturunan Kaukasia.

“Bagaimana bisa seorang laki-laki kulit hitam bicara tentang orang-orang kulit putih dan pemerintah begitu berani, tapi dia tak ditembak mati?” Cassius alias Muhammad Ali bertahun-tahun kemudian mengenang Malcolm seperti dikutip LATimes. “Dia tak punya takut.... Itulah yang menarik perhatianku.”

Pertarungan ini adalah pertarungan kebenaran. Ini adalah pertarungan antara Salib dan Bulan Sabit di ring tinju untuk pertama kalinya."

Bukan cuma seorang sahabat dan mentor dalam hal agama Islam, Malcolm X-lah yang menyuntikkan semangat dan kepercayaan diri kepada Ali. Cassius bertemu dengan Malcolm pertama kali pada Juni 1962 di Detroit. Cassius baru 20 tahun, sementara Malcolm 17 tahun lebih tua. Bahkan, menurut Randy W. Roberts, profesor sejarah di Universitas Purdue dan penulis buku Blood Brothers: The Fatal Friendship between Muhammad Ali and Malcolm X, Cassius Clay tak akan menjadi Muhammad Ali jika tak ada Malcolm.

Saat Cassius menantang Sonny Liston untuk merebut gelar juara tinju kelas berat pada 25 Februari 1964, nyaris tak ada yang menjagokan Ali. Sonny adalah petinju yang brutal dan mengintimidasi lawan. Dia terlibat dalam sejumlah perampokan, belajar bertinju dalam penjara, dan, konon, akrab dengan mafia. Sonny merebut sabuk juara dunia dengan menumbangkan petinju kondang Floyd Patterson pada ronde pertama.

Muhammad Ali dan Malcolm X
Foto: Guardian

Lima puluh sembilan dari 62 penulis tinju yakin Sonny akan menghajar Cassius habis-habisan. Elijah Muhammad, pemimpin Nation of Islam, pun tak yakin Cassius bisa turun dari ring tinju sebagai juara. Bahkan Robert Lipsyte, reporter New York Times, sudah memetakan jalan paling singkat bagi Cassius menuju rumah sakit. Di radio, Jerry Izenberg, wartawan New Jersey Star Ledger, menuturkan santer beredar gosip Cassius telah kabur terbirit-birit ke Amerika Selatan lantaran kecut melawan Sonny Liston.

Malcolm-lah yang membesarkan hati Ali. “Pertarungan ini adalah pertarungan kebenaran.... Ini adalah pertarungan antara Salib dan Bulan Sabit di ring tinju untuk pertama kalinya,” kata Malcolm kepada Ali seperti dikutip majalah MensJournal. “Tidakkah kamu percaya Allah punya maksud untukmu keluar dari ring tinju kecuali sebagai juara?” Saat itu, konon diam-diam Cassius Clay sudah memeluk Islam. Menurut ayahnya, Cassius Clay Sr., kepada Pittsburgh Press, Ali memeluk Islam saat berumur 18 tahun. Tapi dia cemas, jika beredar, kabar itu bakal menghambat kariernya di atas ring.

Foto: Ilmfeed

Foto: Ilmfeed

Ramalan orang-orang itu meleset dan Malcolm benar. Di atas ring, Ali menari-nari dan tinjunya menyengat Sonny hingga tak sanggup lagi melanjutkan pertarungan di ronde ketujuh. Ali berlari ke pojok ring, tepat di depan tempat duduk para wartawan. “Telan kata-kata kalian.... Aku sudah bilang kepada kamu, kamu, dan kamu bahwa akulah raja di dunia. Sekarang kalian harus membungkukkan badan kepadaku,” Ali berteriak ke arah mereka.

Sejak hari itu Ali menjadi “Raja Tinju Kelas Berat”, tapi sejak hari itu pula hubungannya dengan Malcolm makin renggang, hingga jadi seperti dua musuh. Sudah sekian lama sebenarnya Malcolm tak lagi kerasan di Nation of Islam. Dia berulang kali mengkritik kelakuan tak patut Elijah Muhammad, pemimpin besar Nation. Kabarnya, Elijah punya anak di luar nikah dengan beberapa perempuan. Dua pekan setelah Ali merobohkan Sonny, Malcolm mengumumkan pengunduran dirinya dari Nation. Ali pilih berpihak kepada Elijah. Malcolm sangat menyesali permusuhan Ali. “Aku sudah merasa seperti saudara sedarah dengannya... aku tidak memusuhinya. Dia anak yang baik. Pintar. Dia hanya membiarkan diri dimanfaatkan oleh orang lain,” kata Malcolm seperti dikutip Randy Roberts dalam bukunya.

Muhammad Ali dalam sebuah pertandingan tinju.
Foto: NY Daily

Ali terus menghindar bertemu dengan Malcolm dan menolak menerima teleponnya. Keduanya tak sengaja berpapasan di lobi Hotel Ambassador di Kota Accra, Ghana, pada pertengahan Mei 1964. Malcolm datang ke Ghana untuk memenuhi sejumlah undangan sebagai pembicara. Ali, menurut Maya Angelou, penulis asal Amerika yang lama tinggal di Ghana, buru-buru hendak balik badan. “Saudaraku Muhammad,” Malcolm memanggil Ali. Muhammad Ali terdiam. “Saudaraku, aku tetap menyayangimu dan kamu tetap yang terhebat,” kata Malcolm. Ali menanggapi dingin. “Kamu telah meninggalkan Yang Mulia Elijah Muhammad. Itu keputusan yang salah,” kata Ali. Tapi Malcolm tak sakit hati.

Aku berharap masih bisa mengatakan kepada Malcolm betapa menyesalnya aku."

Kepada teman-temannya, Malcolm mengatakan, ”Aku merasa sangat... sangat kehilangan. Tolong tetap perlakukan dia dengan baik. Dia tetap ada di hatiku.” Kesabaran Malcolm tak bisa melunakkan hati Ali. “Malcolm X dan mereka yang memusuhi Elijah Muhammad akan mati.... Elijah Muhammad akan menghancurkannya lewat tangan Allah,” kata Ali. Hingga Malcolm tewas dibunuh pada 21 Februari 1965, setahun setelah Cassius Clay alias Muhammad Ali jadi juara dunia, Ali tetap memusuhinya.

Empat puluh tahun setelah kematian Malcolm X, Ali, yang sudah kesulitan berbicara, menyesali sikapnya terhadap Malcolm. “Mengkhianati Malcolm adalah kesalahan yang paling aku sesali dalam hidupku.... Aku berharap masih bisa mengatakan kepada Malcolm betapa menyesalnya aku,” kata Muhammad Ali dalam biografinya, The Soul of a Butterfly: Reflections on Life's Journey .


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.