INTERMESO
Bila nilai-nilai kebinekaan diajarkan dengan baik sejak dini, bibit rasialisme dan radikalisme akan punah.
Ilustrasi: Edi Wahyono
Jumat, 5 Februari 2016Suatu kali arsitek Denny Setiawan, 30 tahun, meminta para murid kelas IV Sekolah Dasar Negeri Cikini 02 Pagi, Jakarta Pusat, menggambar rumah mereka. Hasilnya, cuma Ilham yang justru menggambar sebuah gedung kotak dengan kalimat “Berani Jujur Hebat!”. Saat ditanya kenapa tidak menggambar rumah, ia bungkam.
Dari seorang guru di sekolah itu, akhirnya Denny mendapat penjelasan yang mencengangkan. Rupanya Ilham tak punya rumah dan sehari-hari tinggal di gerobak bersama keluarganya tak jauh dari gedung Komisi Pemberantasan Korupsi. Jadi, begitu ia bangun setiap hari, yang terlihat adalah gedung KPK.
Video: detikTV
Dalam kesempatan lain, saat mengajar di sebuah sekolah dekat area tambang batu bara di pedalaman Kalimantan, Denny bertanya kepada sejumlah murid tentang cita-cita mereka. Jawabannya adalah menjadi sopir truk atau sopir ekskavator seperti yang dilakoni ayah-ayah mereka.
“Dari situ, saya paham, apa yang anak-anak lihat di lingkungan sekitar
akan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan jiwa mereka,” kata
Denny. Semua pengalaman itu didapat Denny saat menjadi guru “Kelas
Inspirasi”.
Program yang digagas Anies Baswedan itu mensyaratkan, mereka yang ingin menjadi relawan mesti punya pengalaman kerja profesional minimal dua tahun. Denny, yang menjadi arsitek selepas lulus dari Universitas Bina Nusantara pada 2008, rupanya terpikat pada program tersebut. Setelah dua kali mengikuti tes, baru pada 2013 ia dinyatakan lulus.
Sekolah di Cikini menjadi tempatnya pertama kali menebar inspirasi. Dari
Cikini, lelaki kelahiran Jakarta, 31 Desember 1985, itu seperti
kecanduan untuk menjadi guru. Daerah berikutnya yang ia sambangi adalah
sekolah di Depok, Bandung, Samarinda, Balikpapan, dan Palangkaraya.
Selain harus kembali mengikuti seleksi dan evaluasi untuk setiap daerah
yang diikuti, ia harus merogoh kocek sendiri untuk semua biaya
aktivitasnya. “Kami tidak dibayar, karena semuanya merupakan inisiatif
pribadi untuk mengajar,” kata Denny.
Pengalamannya mengajar ia tularkan kepada teman-teman dekatnya. Salah
satunya adalah dr Wenny Kurniawan. Selepas menjadi dokter PTT (pegawai
tidak tetap) selama setahun di Sorong, Papua Barat, pada 2012, Wenny
mengikuti seleksi untuk menjadi guru “Kelas Inspirasi”. Pada pertengahan
September 2013, ia dinyatakan lulus dan mulai mengajar di SDN IV
Jatibening, Bekasi.
Wenny Kurniawan di depan murid-murid sekolah dasar tempat dia mengajar sebagai relawan Kelas Inspirasi
Foto: dok. pribadi
“Murid-murid itu sudah kayak bandit cilik, capek lo ngajar mereka. Suara sampai habis, padahal baru satu hari mengajar,” ujarnya mengenang saat ditemui detikX di Tangkuban Perahu Healthcare, Jakarta Pusat, Selasa, 12 Januari lalu. Tapi, dari situ, ia mengaku bisa lebih menghargai profesi guru. “Karena dulu, sewaktu sekolah, saya juga seperti anak-anak itu,” ujarnya diiringi tawa.
Pengalamannya mengajar, meski singkat, dan bertugas sebagai dokter di Papua mengubah sikap dan pola pikir Wenny. Ia makin sadar untuk lebih peduli terhadap negerinya, yang terdiri atas banyak suku dan etnis. Ia juga mulai memperbaiki diri untuk tidak bersikap diskriminatif. Karena itu, tanpa meminta izin orang tua, Wenny melamar menjadi dokter PTT. Saat bertugas di pedalaman Jambi, ia tak hanya menangani kesehatan warga, tapi juga berbagi ilmu dan memotivasi para pelajar serta melatih bidan puskesmas untuk menangani persalinan secara lebih profesional.
Denny Setiawan
Foto: Hasan Alhabshy/detikX
Hal ini berbeda dengan wejangan orang tuanya agar Wenny membatasi pergaulan dengan kalangan pribumi. Sikap tersebut tak lepas dari trauma pasca-Gerakan 30 September 1965. Kakeknya yang pedagang, kata dia, dipenjara dengan tuduhan terlibat Partai Komunis Indonesia hanya karena berdarah Tionghoa. Hartanya dikuras, lalu diusir dari Indonesia.
“Anak-cucunya diajari supaya enggak usah terlalu dekat bergaul dengan pribumi. Cuma, kayak saya, yang lahir dan tinggal di sini, dapat pasien juga orang sini, terus harus abandon gitu?” tutur perempuan yang gemar travelling ini.
Upaya untuk lebih terbuka dan mencintai Indonesia juga ia tularkan kepada adiknya yang mendapat beasiswa di National University of Singapore. Wenny senantiasa mewanti-wanti adiknya itu agar tidak melupakan Indonesia, tanah kelahirannya. “Kalau sudah sukses, harus pulang. Setidaknya, luangkan waktu untuk invest di sini juga,” ujarnya.
Wenny berharap, suatu hari seluruh warga masyarakat Indonesia bisa seperti di Thailand. Wenny bercerita, saat pelesir ke Bangkok beberapa waktu lalu, ia berbincang dengan seorang warga yang secara fisik berasal dari etnis Cina. Tapi, saat ditanya soal etnisnya, warga itu menggeleng. “I'm not Chinese, I'm Thai. Nah, aku pingin orang Cina di Indonesia juga begitu,” ujar dokter spesialis akupunktur ini.
Kita harus menerima kalau kita Cina, tapi harus mengerti bahwa menjadi Cina tidak bisa memilih."
Bagi Denny, yang pernah mengalami bullying sewaktu tinggal di bantaran kali daerah Roxy Mas, Jakarta Barat, kunci mengeliminasi sikap rasialis adalah pendidikan. Jika nilai-nilai pluralisme atau kebinekaan diajarkan dengan baik sejak dini, bibit rasialisme dan radikalisme akan punah. “Meski ada kekurangan, secara riil di lapangan saya sudah merasa merdeka. Kalau masih ada yang rasis, ya karena dia kurang sekolah dan kurang travelling,” ujarnya tertawa.
Bergaul dengan beragam kelompok etnis di Tanah Air, salah satunya mengikuti program “Kelas Inspirasi”, menurut Denny, membuat wawasan, sikap, dan pola pikirnya jadi lebih terbuka. Ia tidak gampang terjebak pada isu-isu rasial dan terhindar dari sikap diskriminatif.
“Kita harus menerima kalau kita Cina, tapi harus mengerti bahwa menjadi Cina tidak bisa memilih. Menjadi Indonesia itu pilihan. Saya selalu bilang kepada mereka yang rasis, I'm Chinese, but I'm Indonesian,” ujar Denny.
"Kami ingin merayakan keberhasilan sekaligus membasuh luka yang menganga dengan jernihnya tawa."
Ernest Prakasa
Foto: dok. pribadi
Jumat, 5 Februari 2016
Terapi paling mujarab menghadapi penindasan yang membuat hidup terasa pahit adalah menertawakannya. Pelawak tunggal (comic actor) Ernest Prakasa, 33 tahun, membuktikan hal itu. Pada saat dia kecil, berbagai ejekan dan perlakuan diskriminatif terhadapnya terasa begitu menyakitkan, tapi kini tidak lagi. Ia bangkit dan menjadikan penampilan fisiknya yang bermata sipit dan berkulit kuning sebagai bahan candaan.
Ernest sengaja mengangkat isu seputar diskriminasi terhadap kelompok masyarakat etnis Tionghoa karena pernah mengalaminya langsung. “Orang-orang keturunan Cina di Indonesia malah senang dengan materi saya di SUCI (Stand Up Comedy Indonesia) karena merasa lebih disuarakan,” kata Ernest saat berbincang dengan detikX di studio 1 Indosiar, Jakarta Barat, Rabu, 7 Januari lalu.
Salah satu adegan film Ngenest
Foto: dok. Starvision
Isu semacam itu menjadi kian kuat dan mendapatkan momen ketika Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terpilih menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta. Naiknya Ahok ke panggung politik Ibu Kota itu menjadi begitu fenomenal. Sebab, selama masa kampanye, bahkan hingga sekarang setelah menjabat gubernur, Ahok terus diganggu dengan isu rasialis.
Dulu sih dicina-cinain sakit hati bener, tapi sekarang malah bisa dibikin happy dan jadi sumber rezeki."
Ernest pribadi menilai kemunculan mantan Bupati Belitung Timur itu bisa turut mengikis stereotipe bahwa orang Tionghoa itu tertutup. Juga menafikan anggapan bahwa orang keturunan Tionghoa hanya peduli terhadap bisnis dan diri sendiri. Faktanya, Ahok sangat peduli terhadap rakyatnya.
“Dulu sih dicina-cinain sakit hati bener, tapi juga enggak bisa ngelawan. Tapi sekarang malah bisa dibikin happy dan jadi sumber rezeki,” ujar Ernest sambil cekakakan.
Sebelum namanya ngetop sebagai pelawak tunggal, Ernest berkarier di dua perusahaan rekaman terkemuka. Tapi, setelah hampir enam tahun, ia merasa panggilan jiwanya bukanlah di musik. Hingga suatu hari pada 2011 ia membaca iklan di sebuah surat kabar tentang ajang SUCI. Ia iseng-iseng mendaftar dan lulus. Pengalamannya sebagai penyiar radio dan menjadi pembawa acara selama kuliah di Bandung menjadi bekal berharga bagi dia untuk tampil percaya diri di atas panggung.
Meski cuma menjadi juara ketiga di SUCI, ternyata suami Meira Anastasia ini lebih populer. Wajah orientalnya memberikan karakter kuat, khas, dan hoki tersendiri. Ia pun memutuskan total menekuni dunia komedi.
Ernest lalu mendirikan komunitas Stand Up Indo bersama sejumlah pelawak tunggal senior, seperti Pandji Pragiwaksono dan Raditya Dika. Ia juga melakukan tur komedi tunggal bertajuk “Merem Melek” di 11 kota pada 2012.
Setahun kemudian, ayah Snow Auror Arashi dan Sky Tierra Solana ini menggelar pertunjukan komedi bersama para komedian berdarah Tionghoa-Indonesia dengan tajuk “Ernest Prakasa & The Oriental Bandits”. Pertunjukan digelar di Gedung Kesenian Jakarta pada 9 Februari atau sehari sebelum perayaan Imlek. "Kami ingin merayakan keberhasilan sekaligus membasuh luka yang menganga dengan jernihnya tawa," ujar Ernest kala itu kepada para wartawan.
Masih pada 2013, Ernest kembali menggelar tur yang berjudul “Illucinati” di 17 kota di Indonesia. Di tengah kesibukannya dengan proyek tersebut, putra Wahyudi Hidayat dan Jenny Lim ini memanfaatkan kesempatan untuk berakting dalam film Make Money. Kemudian, pada 2014, ia bersama sejumlah pelawak tunggal membintangi film Comic 8 besutan Anggy Umbara. Film bergenre comedy-action itu menjadi film terlaris Indonesia dan dibuatkan sekuelnya: Comic 8: Casino Kings—Part 1. Sukses itu membuat dia menjajal film drama Kukejar Cinta ke Negeri Cina.
Intinya, saya adalah Cina-Indonesia, saya cinta negara ini."
Pada pengujung 2015, ia merilis film Ngenest. Lewat film ini, gambaran penderitaannya semasa mengalami bullying saat di sekolah terasa lebih utuh. Simak cuplikan adegan berikut ini, misalnya.
”Mau ke mana lo, Acong?” tanya kawan Ernest.
"Gue mau ke kelas I-B.”
”Bukannya ke kelas I-C, Cina, ha-ha-ha….”
Saat menyaksikan film ini di Mal Kalibata, Jakarta Timur, pada Sabtu, 9 Januari lalu, detikX dan seisi studio berkali-kali terbahak bersama. Ngenest, yang telah ditonton sekitar 650 ribu orang dalam tempo dua pekan, mengajak kita melihat realitas kehidupan bersama sebagai orang Indonesia secara lebih bijak, dengan cara jenaka. Begitu juga dengan Jefferson, siswa kelas XII SMA Santo Kristoforus. Keluar dari bioskop, ia dan teman-temannya yang menonton di Mal Ciputra, Jakarta Barat, malah saling ledek, “Cina, lo”. “Meskipun sama-sama Cina, bukan marah, kami malah jadi ketawa semua,” ujar Jefferson.
Jauh sebelum film Ngenest, Steven Facius Winata membuat film CINtA. Film pendek ini merupakan karya akhir dia saat kuliah di Institut Kesenian Jakarta, 2009. Dibintangi Verdi Solaeman sebagai A Su dan Titi Handayani Rajo Bintang sebagai Siti, film ini diundang ke sejumlah festival bergengsi.
Salah satu adegan film CINtA (Verdi Solaeman dan Titi Handayani Rajo Bintang)
Foto: dok. Gandang Warah
Pada awal 2010, CINtA terpilih menjadi satu dari 70 film pendek yang diputar di festival film pendek terbesar di dunia, Clermont-Ferrand di Prancis. Jumlah itu merupakan hasil seleksi dari sekitar 6.000 film yang mendaftar. “Memang tidak menang, tapi (CINtA) mendapat atensi sampai ada satu sesi khusus untuk film itu,” ujar Steven kepada detikX, Jumat, 15 Januari. Dari Prancis, CINtA juga diundang ke festival di Singapura, Thailand, dan Ethiopia.
Steven Facius Winata bersama kru saat proses syuting film CINtA.
Foto: dok. Gandang Warah
CINtA bercerita tentang kisah kasih seorang pemuda keturunan Tionghoa, A Su, dengan Siti yang muslim. Saking cintanya, A Su rela mempelajari Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat agar bisa diterima oleh keluarga Siti. Tapi mereka tetap menolak A Su karena keturunan Tionghoa. “Kalau saya Jawa-Kristen, mungkin bisa diterima. Tapi saya kan Cina,” ujar Steven.
Lewat film ini, ia juga bermaksud menyindir warga etnis Tionghoa. Ia menilai masih banyak di antara mereka yang hanya memikirkan komunitas atau kelompoknya sendiri. “Saya maunya mereka juga tidak takut lagi untuk lebih membaur, lebih membuka diri,” ujar Steven, yang lebih suka disebut orang Cina ketimbang Tionghoa. “Saya tidak bisa ngomong Cina (meski), muka saya Cina. Intinya, saya adalah Cina-Indonesia, saya cinta negara ini.”
“Mengajak kaum Tionghoa bergabung dalam partai politik lebih susah ketimbang membujuk etnis lain.”
Foto: Rachman/detikX
Jumat, 5 Februari 2016
Bukan cuma karena muda dan jelita yang membuat Grace Natalie Louisa istimewa. Perempuan kelahiran 4 Juli 1982 itu juga menjadi perempuan berdarah Tionghoa pertama yang memimpin partai politik. Bukan sekadar sebagai bunga-bunga penghias pelengkap derita.
Bersama teman-temannya yang berlatar wartawan, aktivis, pelaku bisnis, dan konsultan, Grace mendirikan Partai Solidaritas Indonesia berangkat dari rasa muak. Mereka muak terhadap praktek politik uang yang merajalela. Muak terhadap sistem mahar dalam pemilihan bakal calon kepala daerah. Juga muak terhadap berbagai perilaku elite politik yang mengabaikan etika.

Foto: Rachman/detikX
Tapi mereka tak ingin sekadar muak, lalu cuek terhadap kondisi yang terjadi. “Kalau mau lihat perubahan, ya harus menjadi bagian dari perubahan itu sendiri,” kata Grace saat berbincang dengan detikX di gedung Pakarti, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat, 15 Januari 2016.
Kalau mau lihat perubahan, ya harus menjadi bagian dari perubahan itu sendiri."
Pada awal Grace mendeklarasikan Partai Solidaritas Indonesia, tak sedikit rekan dan kenalan yang mempertanyakan keseriusannya berkiprah di partai. Begitupun keluarga besarnya, yang masih berdarah Tionghoa. Mereka mengira Grace dan kawan-kawannya sedang melakukan gimmick tertentu. Toh, mereka jalan terus. Semua itu dianggap sebagai tantangan, dan mereka bersungguh-sungguh menjawab tantangan itu.
Putri Brata Ngadiman dan Anna Clementine itu memaklumi sikap skeptis keluarga besarnya. Sebab, sebagian anggota masyarakat etnis Tionghoa masih diliputi trauma untuk bersentuhan dengan dunia politik. Juga mungkin karena pandangan yang diwariskan orang tua mereka bahwa orang Tionghoa itu urusannya dagang atau bisnis. Menjalani kehidupan sebagai warga biasa tanpa ikut campur dalam urusan politik karena konsekuensi yang mengerikan.

Foto: Rachman/detikX
“Mengajak kaum Tionghoa bergabung dalam partai politik lebih susah
ketimbang membujuk etnis lain,” kata Grace. Ia merujuk pada orang-orang
keturunan Tionghoa yang mengambil sekolah politik tapi tidak menjadi
aktor utama untuk tampil di depan. Mereka kebanyakan lebih suka aktif
berperan di belakang layar.
Grace bisa berbicara seperti itu berkat pengalaman pribadinya. Sejak TK
hingga SMA, ia cuma bergaul dengan teman-teman sesama keturunan Tionghoa
dan Kristen. Lingkungan lebih heterogen baru didapat saat kuliah di
Jurusan Akuntansi Institut Bisnis dan Informatika Indonesia. “Tapi yang
paling drastis itu ketika saya masuk dunia kerja sebagai reporter di SCTV pada 2004,” ujar istri Kevin Osmond itu.

Foto: Rachman/detikX
Penerima penghargaan Anchor of the Year 2008 versi blog news Anchor Admirer itu masih ingat saat hari pertama liputan bersama seniornya. Ternyata, di lapangan, ada wartawan lain yang mengusiknya dengan pertanyaan bernada stereotipe. “Kok kamu jadi wartawan, kenapa enggak buka toko saja?”
Kok kamu jadi wartawan, kenapa enggak buka toko saja?"
Grace berharap, ke depan, masyarakat Indonesia dari etnis Tionghoa lebih banyak mengambil peran aktif dalam kehidupan sosial. Bila mereka terus-menerus berada dalam lingkungan homogen di antara sesama mereka sendiri, kata dia, begitu melihat ke luar, memang akan terasa mengerikan. Tapi, begitu berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang seperti yang telah dilakukannya, ternyata nyaman juga.
“Teman-teman di luar pun bisa melihat Tionghoa dari kacamata berbeda, lebih positif. Ini seperti ‘tak kenal maka tak sayang’,” ujarnya.
Ia sengaja merekrut orang-orang muda di bawah usia 35 tahun yang tidak pernah terjun ke partai politik mana pun agar bebas dari kontaminasi. Selain itu, jumlah penduduk di kisaran usia itu akan lebih dari 51 persen pada 2019. Merekalah pemilik suara yang akan menentukan arah negeri ini berikutnya. Mereka sangat cair, kritis, dan kecil loyalitasnya pada partai politik tertentu.
“Sejauh ini mereka tidak pernah serius digarap oleh partai yang ada,” ujar Grace. Bila kelak Partai Solidaritas Indonesia bisa mewujud menjadi rumah besar bagi semua golongan, ia yakin istilah pribumi dan nonpribumi, yang kini masih berkembang di masyarakat, akan hilang dengan sendirinya. Juga tak ada lagi warga etnis Tionghoa yang merasa diri mereka nonpribumi seperti sekarang ini.
Membela kaum tertindas menjadi obsesi Alldo Felix Januardy sejak kecil. Babak belur dihajar aparat di Bukit Duri, Jakarta Selatan.
Alldo Fellix Januardy
Foto: Hasan/detikX
Dua jam menjelang azan subuh berkumandang, Alldo Fellix Januardy bergegas meninggalkan rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, menuju Bukit Duri, Jakarta Selatan, Selasa, 12 Januari 2016. Ia menemui warga di bantaran Kali Ciliwung untuk berkoordinasi terkait rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membongkar pemukiman mereka. Alldo menilai surat perintah bongkar itu menyalahi aturan. Sebab, warga pada 5 Januari 2016 mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara terkait sengketa tersebut.
“Jadi seharusnya ya status quo, tidak ada upaya untuk membongkar,” kata pengacara Lembaga Bantuan Hukum Jakarta itu saat berbincang dengan detikX di kantor LBH Jakarta, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Senin, 19 Januari.
Nyatanya, Pemprov DKI bersikap sebaliknya. Seiring dengan terbitnya matahari, berbagai alat berat dan aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersiap merobohkan rumah-rumah warga. Alldo jelas tak terima. Ia mencoba bernegosiasi dengan camat dan Kepala Satpol PP untuk membatalkan rencana tersebut.
Bukan kesepakatan yang dicapai, justru tubuh Alldo yang kemudian diseret aparat Satpol PP ke ujung jalan. Lelaki bermata sipit yang mendampingi warga sejak Oktober 2015 itu diancam supaya tidak banyak cingcong. Kepalanya dipiting seseorang. Bogem mentah pun bertubi-tubi mendarat di wajahnya. Kacamatanya copot dan pecah. Pandangannya jadi kabur karena matanya minus 6.
Ketika beberapa aktivis LBH lainnya mendekat untuk menolongnya, aparat Satpol PP itu mencegahnya. Jadilah wajah Alldo babak belur. “Camat dan Kepala Satpol PP mendiamkan perilaku bawahannya meski tahu ada peristiwa kekerasan dan pengeroyokan di depan mata,” kata Alldo masygul.
Dalam setiap sengketa lahan, pengacara lulusan Universitas Indonesia itu berpendapat seharusnya musyawarah diutamakan. Tapi Pemprov DKI justru secara sepihak mengeluarkan perintah bongkar. Alasan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bahwa warga di bantaran kali merupakan penyebab banjir di Jakarta, menurut Alldo, perlu dikaji secara lebih cermat. Sebab, penelitian yang dilakukan Universitas Harvard pada 2012 justru menyebutkan bahwa penyebab banjir adalah air sumur yang digunakan oleh masyarakat menengah ke atas. Juga pembangunan yang sangat eksesif sehingga permukaan tanah turun.
Saya selalu berpikir bahwa saya orang Indonesia, selalu seperti itu dan akan terus seperti itu."
“Sampah itu hanya segelintir faktor, plus warga di pinggir kali tidak sekotor yang distigmakan Pak Ahok,” ujarnya.
Aksi kekerasan di Bukit Duri itu membuat Djasmin dan Anna Poernomo Wigonoyang kembali menggugat keputusan Alldo menjadi pengacara pro bono di LBH. Dari awal, keduanya, yang berprofesi sebagai notaris, keberatan terhadap keputusan putra sulungnya itu. Mereka sempat berharap pemuda kelahiran 18 Januari 1991 itu memilih profesi yang lazim digeluti warga dari etnis Tionghoa. Toh, Alldo bergeming. Ia merasa keputusannya menjadi pengacara di LBH sudah benar.
“Saya merasa ini panggilan hidup. Setiap umat beragama yang baik pasti hidup untuk memenuhi panggilan hidupnya. Saya merasa bisa maksimal di posisi ini,” tuturnya.
Alldo saat bersitegang dengan aparat Satpol PP dalam proses penggusuran warga Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan.
Foto: dok. pribadi
Alldo mengungkapkan, saat masih kecil, dia amat menggemari sosok Kesatria Baja Hitam, yang kisahnya ditayangkan di layar kaca. Sampai-sampai ia pun terobsesi menjadi superhero rekaan Shotaro Ishinomori itu. Alldo bercita-cita suatu saat bisa bergabung dengan markas Power Rangers agar bisa membela mereka yang teraniaya.
Beranjak remaja, ia memutuskan mendalami ilmu khusus agar bisa menjadi pembela kaum pinggiran yang tertindas. Fakultas Hukum UI menjadi pilihannya. Selama menjadi mahasiswa, 2009-2014, ia aktif mengadvokasi isu-isu hak asasi manusia. Juga pernah bergabung dengan Persatuan Pedagang Stasiun Se-Jabodetabek untuk membela pedagang stasiun se-Jabodetabek yang digusur oleh PT Kereta Api Indonesia.
Pengalaman ini kemudian mengantarnya berkhidmat di LBH Jakarta selepas dari UI. Di lembaga itu, Alldo berkali-kali ikut menangani masalah penggusuran warga oleh pemerintah daerah.
Rofiatul N., koleganya di LBH, menilai Alldo sebagai sosok yang supel. Saat masih sama-sama kuliah di Fakultas Hukum UI, ia terkesan oleh Alldo, yang meski dari etnis tionghoa dan Kristen tapi bisa bergaul akrab dengan para mahasiswa aktivis masjid.
Alldo juga bukan tipe mahasiswa text book. Saat menjadi anggota Majelis Wali Amanat, dialah yang mempersoalkan mahalnya biaya kuliah di UI. Aksinya itu membuat dia sempat diancam drop out dan dicerca beberapa profesor. Toh, Alldo tak ciut nyali.
“Aku melihat dia seorang minoritas, tapi punya mimpi yang besar untuk Indonesia ke depan,” ujar Rofiatul saat dihubungi melalui telepon.
Alldo pribadi menegaskan, meski secara fisik kasatmata beretnis tionghoa, sejak kecil dirinya tak pernah merasa demikian. Ia selalu berpikir dirinya orang Indonesia. “Selalu seperti itu dan akan terus seperti itu.”
Reporter: Melisa Mailoa, Pasti Liberti Mappapa
Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Videografer: Didik Dwi Haryanto/detikTV
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.