Investigasi

Amburadul Bisnis Kampus Perwira TNI

Seorang anggota TNI Angkatan Laut diduga menyalahgunakan statusnya sebagai perwira untuk menjalankan bisnis mendirikan kampus, melakukan intimidasi, dan bahkan penyadapan. Kampus yang dikelolanya bermasalah hingga akhirnya ditutup dan mahasiswanya telantar.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Rabu, 31 Mei 2023

Dipersatukan oleh kegelisahan yang sama, enam mahasiswa semester lima Universitas Tangerang Raya (Untara) Cabang Mekarsari berdiskusi di sebuah kedai kopi di kawasan Cileungsi, siang itu, Minggu, 31Juli 2022. Mereka baru menyadari ada banyak kejanggalan di kampus yang dikelola Letnan Satu TNI AL Frans Suharno tersebut.

Kejanggalan itu antara lain tidak adanya nomor induk mahasiswa sejak awal perkuliahan, tidak pernah mengisi kartu rencana studi, dan tidak pernah mengetahui indeks prestasi. Selain itu, banyak pengajar yang merupakan guru sekolah—tak berkompetensi dosen—mata kuliah yang sama untuk semua jurusan dan tidak ada perkuliahan pada semester lima. Di sisi lain, mereka terus diminta mencicil pembayaran semester.

Tiarapnya profesionalitas kampus di daerah Mekarsari, Bogor, Jawa Barat, itu pun menjadi pertanyaan dan kegelisahan yang disampaikan para mahasiswa dalam pertemuan tersebut. Apalagi, setiap ditemui, Lettu Frans Suharno tidak memberikan jawaban yang jelas mengenai masalah tersebut. Suharno dinilai tidak bertanggung jawab.


Keterangan : Lokasi kampus Untara di Mekarsari

“Waktu itu, ada mahasiswa mengajak kumpul untukdiskusi. Kenapa, sih, kok selama ini kita belajar nggak sesuai jurusan?” kata Theresya Florina bercerita kepada reporter detikX pekan lalu.

Waktu itu, ada mahasiswa mengajak kumpul untuk diskusi. Kenapa, sih, kok selama ini kita belajar nggak sesuai jurusan?”

Tiba-tiba Suharno, yang bertugas di Satuan Siber MabesTNI dan menjabat Direktur Untara Cabang Mekarsari, datang tanpa diundang. Mereka bingung. Informasi mengenai pertemuan tersebut hanya ada di sebuah grup WhatsApp bentukan mahasiswa.

Mau tak mau mereka tetap menerima kedatangan Suharno. “Bapak sudah datang, masa kami suruh pulang?” kata Theresya waktu itu.

Dalam pertemuan itu, Suharno menyayangkan para mahasiswa berkumpul dan mengeluhkan permasalahan kampus. Suharno menuduh, hal itu terjadi karena diprovokasi oleh Theresya melalui grup WhatsApp mahasiswa. Padahal yang mengeluhkan kampus bukan hanya Theresya, meski memang dia getol mempertanyakan kejanggalan kampus ke Suharno secara langsung.

Dalam pertemuan itu pula, Theresya menceritakan, Suharno bahkan mengetahui isi percakapan grup WhatsApp mahasiswa. Namun Suharno hanya membacakan pesan dari Theresya, yang salah satunya berupa ajakan pindah kampus.

“Padahal yang ngomong untuk pindah kampus ajatuh bukan cuma saya,” katanya.

Berdasarkan rekaman suara pertemuan itu yang diterima tim detikX, Suharno mempersilakan Theresya pindah kampus. Dia bahkanmengaku sudah membuat surat drop out.

“Kalau kamu mau pindah, silakan pindah. Saya sudah menyurat ke (Untara) pusat bahwa kamu akan saya DO,” kata Suharno.

Kepada Suharno, Theresya pun mempertanyakan bagaimana caranya mengetahui agenda pertemuan dan isi percakapan grup WhatsApp tersebut. Karena mengetahui Suharno bekerja di bidang siber Mabes TNI, Theresya menduga ponselnya disadap.

“Bapak menyadap HP saya atau Bapak mendapatkan terusan(forward) pesan-pesan grup itu?” kata Theresya.

Ngapain kamu nanya ini? Kan, saya bilang, ini nggak penting untuk kamu,” jawab Suharno.

“Penting buat saya, dong. Kalau Bapak menyadap, kan, berarti Bapak sudah melanggar privasi saya."

Perdebatan di antara mereka pun terjadi. Theresya tidak terima ponselnya disadap, sementara Suharno menganggap hal tersebut tidak penting untuk diungkap.

“Apakah Bapak mendapat informasi itu dengan cara menyadap atau Bapak diinformasikan oleh seseorang?” tanya Theresya lagi memastikan. Sebab, Theresya sadar, ada beberapa anggota TNI AL yang juga berstatus mahasiswa dan tergabung dalam grup tersebut.

Gini, saya tidak harus menyampaikan pekerjaan saya,” kata Suharno.

“Berarti Bapak menyadap?”

“Iya, bisa dibilang begitu,” jawab Suharno menimpali pertanyaan dan mengakui menyadap ponsel Theresya.

“Berarti Bapak melanggar hak privasi saya, ya?”

“Iya, nggak apa-apa.”

Berbaju Dinas Mencari Lahan untuk Kampus

Kampus Untara di Mekarsari sudah tidak lagi beroperasi sejak November 2022. Rektor Untara periode saat ini, Abdul Gani Sidqi menutup kampus itu karena melanggar aturan. Dari Januari 2021, sewaktu pertama kali beroperasi, kampus ini sudah memiliki dua angkatan, yang jumlahnya lebih dari 50 mahasiswa.

Kampus ini tutup, tapi para mahasiswa masih telantar sambil terus menunggu tanggung jawab Frans Suharno selaku direktur kampus. Sebab, mereka tidak mendapatkan transkrip nilai setiap semester, apalagi ijazah. Bahkan ada mahasiswa yang tidak tercatat di pangkalan data Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Pada mulanya, kampus Untara di Mekarsari beroperasi karena adanya perjanjian kerja sama antara Yayasan Indonesia Sains dan manajemen yang menaungi Untara (pusat) di Tigaraksa dengan sebuah yayasan berinisial TWI. Dokumen itu memberikan kewajiban kepada Untara Tigaraksa untuk menyiapkan kurikulum dan mengurus administrasi ke Pangkalan Data Dikti. Kewajiban urusan operasional diserahkan kepada Untara Mekarsari.

Dokumen tersebut ditandatangani oleh Mardiyana selaku Ketua Pembina Yayasan ISM yang juga rektor Untara Tigaraksa saat itu. Sedangkan seseorang berinisial NA mewakili sebuah yayasan berinisial TWI. Lettu TNI AL Frans Suharno menjadi satu dari tiga saksi yang turut menandatangani dokumen perjanjian itu.

Kepada tim detikX, Mardiyana berdalih, awalnya dia tidak mengenal NA maupun Suharno. Kerja sama itu terjadi karena ia dihubungkan kepada keduanya oleh salah satu stafnya.

“Ada salah satu staf saya mengatakan, di sana ada tempat (untuk pembukaan kampus) dan dia mengenal dengan Pak Frans Suharno,” kata Mardiyana. "Saya tahunya, dia (Suharno) tentara."

Pertama kali muncul, kampus Untara Mekarsari beralamat di sebuah sekolah di Jalan Raya Gandoang, Cileungsi, Jawa Barat. Suharno kemudian mencarikan tempat baru sampai akhirnya mendapatkannya di Jalan Raya Cileungsi, Jonggol, Jawa Barat.

Suwiji, salah satu orang tua mahasiswa yang ditelantarkan Untara Mekarsari, mengaku dirinyalah yang membantu Suharno mencari lahan untuk mendirikan kampus. Kala itu, ketika ia sedang bertugas sebagai sekuriti di salah satu bangunan perusahaan daerah Cileungsi, Suharno menghampirinya. Kepada Suwiji, Suharno menanyakan informasi mengenai ketersediaan bangunan yang bisa disewa untuk dijadikan kampus. 

"Dia waktu itu mengenalkan diri sebagai TNI di Angkatan Laut, pakai baju dinas," kata Suwiji menuturkan ulang kejadian itu kepada reporter detikX

Karena Suharno mengenalkan diri sebagai TNI, Suwiji menaruh hormat dan percaya. Singkat cerita, Suharno meminta bantuan untuk mencari bangunan dan Suwiji menyanggupinya.

"Beberapa kali saya tunjukin gudang-gudang kosong, tidak cocok. Sampai akhirnya dapat. Dia (Suharno) kontrak Rp 70 juta per tahun, selama dua tahun," katanya. 

Suwiji mengaku tidak mendapat uang dari Suharno atas bantuannya itu. Namun Suharno menawari anak Suwiji untuk berkuliah dan bekerja sebagai staf administrasi di Untara Mekarsari.

Waktu itu, sebenarnya anak Suwiji sudah kuliah dikampus lain. Namun, karena percaya pada Suharno, dia menerima tawaran tersebut. Belakangan, setelah Suwiji mengetahui masalah kampus Untara Mekarsari dan Suharno tidak bertanggung jawab, dia menyesalinya.

"Dia menjanjikan anak saya akan digaji Rp 1,6 juta per bulan. Kenyataannya, hanya Rp 350 ribu. Itu pun tidak setiap bulan," kata Suwiji. "Salah saya karena percaya dia sebagai anggota TNI itu gentleman."

Kondisi kampus Universitas Tangerang Raya di Mekarsari yang terbengkalai, Jumat, 26 Mei 2023. 
Foto : Dok. Istimewa

Setelah Untara Mekarsari tutup dan pendidikan anaknya terbengkalai, Suwiji harus mencarikan kampus baru. Pendidikan kuliah anaknya dimulai dari awal lagi.

Tim detikX sudah menghubungi Suharno melalui sambungan telepon dan WhatsApp untuk meminta penjelasan mengenai masalah ini. Dia mengatakan ingin memberikan klarifikasi atas semuanya, tapi dirinya membutuhkan izin dari atasannya. 

Hingga berita ini diterbitkan, Suharno tidak kunjung memberikan penjelasan. "Saya belum berani memberikan statement," tulisnya melalui WhatsApp, kemarin malam. Beberapa waktu kemudian, dia menghapus pesan tersebut. 

Kepala Subdinas Penerangan Umum Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Kolonel Fajar Tri Rohadi mengatakan Dispenal sudah mendapatkan informasi mengenai kasus yang melibatkan Suharno. Saat ini, POM TNI AL sedang mengumpulkan keluhan masyarakat dengan berbagai cara. 

"Ini sangat penting untuk internal TNI AL melakukan penegakan disiplin maupun hukum. Kita akan melakukan itu tentu dengan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan," kata Fajar kepada reporter detikX

Dia melanjutkan, Pusat Polisi Militer Angkatan Laut (Puspomal) juga akan menelusuri dugaan penyadapan yang dilakukan Suharno terhadap mahasiswa Untara Mekarsari. Sebab, hal tersebut merupakan penyalahgunaan. 

"Mungkin bisa dibilang ini merupakan penyimpangan kewenangan dalam tugas. Punya kemampuan sesuatu, tapi dimanfaatkan untuk kepentingan pribadinya," tegasnya. 

Fajar menegaskan seorang prajurit TNI aktif tidak diperbolehkan memiliki bisnis. Apalagi menggunakan statusnya sebagai TNI untuk memuluskan bisnis tersebut.


Reporter: Tim detikX
Penulis: Tim detikX
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE