INVESTIGASI

Negosiasi di Balik Penyerahan Diri Buron Termahal Surya Darmadi

Ruang gerak Surya Darmadi, tersangka kasus korupsi terbesar di Indonesia, terus dipersempit oleh Kejagung dan KPK. Seluruh asetnya disita. Dia dan keluarganya dicekal. Tak ada alasan lagi bagi konglomerat itu untuk tetap menjadi buron.

Ilustrasi : Denny Putra

Senin, 22 Agustus 2022

Surya Darmadi alias Apeng merupakan buron Kejaksaan Agung (Kejagung) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia menjadi tersangka kasus korupsi yang merugikan negara senilai Rp 78 triliun. Tim detikX mendapatkan cerita bagaimana dan apa yang membuat Surya akhirnya menyerahkan diri kepada penegak hukum di Indonesia.

“Tolong, Pak Juniver, bantu saya menjelaskan bahwa itu tidak benar,” kata Surya suatu hari kepada Juniver Girsang, kuasa hukumnya. Juniver sempat kaget saat Surya menghubunginya. Sebab, klaim Juniver kepada reporter detikX, sudah hampir 20 tahun ia putus kontak dengan Surya.

Permintaan itu muncul setelah Surya ditetapkan menjadi tersangka dalam dua kasus dugaan korupsi berbeda. Pertama di KPK, Surya terjerat kasus suap terkait pengajuan revisi alih fungsi hutan di Riau pada 2014. Kemudian kedua, Surya diduga terlibat kasus dugaan korupsi terkait penyerobotan lahan seluas 37.095 hektare oleh PT Duta Palma Group di Riau, perusahaan milik Surya.

Juniver pun menunjukkan rasa simpati terhadap kawan lamanya itu. Menurutnya, pengakuan Surya perlu diuji guna dapat mengantarkan pada kebenaran. Solusi dari Juniver adalah Surya mesti menjawab panggilan Kejagung.

Surya Darmadi (memakai rompi merah muda) saat menghadiri pemeriksaan di Kejagung, Kamis (18/8/2022). 
Foto : Wildan Noviansah/detikcom


Kalau dikatakan seperti itu (merugikan negara Rp 78 triliun), berarti terkaya di dunia dong saya. Ini sangat paradoks, bagaimana mungkin saya dikatakan merugikan negara Rp 78 triliun, sementara yang dipersengketakan itu ya maksimal nilainya hanya Rp 5 triliun.”

“Pak Suryadi, supaya ini clear, secara fisik you harus datang. Kalau you tidak datang, saya sendiri nggak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah kita hadapi proses hukumnya,” kata Juniver kepada Surya.

Awalnya Surya tak mengacuhkan saran Juniver. Di sisi lain, penyidik Kejagung perlahan melacak dan menyita satu per satu aset Surya. Hingga kini, menurut Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Ketut Sumedana, total nilai aset Surya yang sudah disita sekitar Rp 10 triliun.

Orang terkaya Indonesia nomor 28 versi majalah Forbes 2018 itu juga jengkel seluruh asetnya disita negara. Apalagi keluarganya, dia menuturkan, dicekal sehingga tak bisa bepergian ke luar negeri. Menurut Surya, tudingan yang dilontarkan kepadanya tak masuk akal.

“Kalau dikatakan seperti itu (merugikan negara Rp 78 triliun), berarti terkaya di dunia dong saya. Ini sangat paradoks, bagaimana mungkin saya dikatakan merugikan negara Rp 78 triliun, sementara yang dipersengketakan itu ya maksimal nilainya hanya Rp 5 triliun,” kata Juniver menirukan ucapan Surya.

Kemudian pada Rabu, 10 Agustus 2022, Kejagung menyatakan tengah memproses hukum kasus Surya secara in absentia. Dalam hal ini, Surya tetap akan diadili dalam persidangan meski tanpa kehadirannya.

You tidak percaya boleh, tapi dengan adanya masalah ini, you harus percaya. You harus hadapi secara hukum. Membela diri tanpa lihat wujudnya. Nanti kamu, kalau sidang in absentia, nggak bisa apa-apa you, nggak bisa bela diri,” ujar Juniver kepada Surya.

Secara berulang selama sepekan, Juniver membujuk dan berdiskusi dengan Surya serta keluarganya agar patuh terhadap proses hukum di Indonesia. Hingga akhirnya Surya setuju pulang ke Tanah Air dan menghadapi rangkaian proses hukum yang tengah menjeratnya.

Topik perbincangan keduanya pun berubah soal teknis kepulangan ke Indonesia. Kepada Juniver, Surya menanyakan bagaimana cara untuk kembali ke Indonesia saat status pencekalannya masih aktif.

“Supaya saya bisa masuk ke Indonesia, jangan saya dicegah, bagaimana caranya?” tanya Surya kepada Juniver.

Sebelumnya, Kejagung memang meminta Direktorat Jenderal Imigrasi mempersempit ruang gerak Surya melalui pencekalan. Permohonan itu dieksekusi pada Kamis, 11 Agustus 2022, dengan masa berlakunya pencekalan selama enam bulan atau hingga 11 Februari 2023.

Pengacara Surya Darmadi, Juniver Girsang (berada di tengah) saat mendatangi Kejagung.
Foto : Rizky AM/detikcom

Lulusan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran itu pun menyarankan Surya berkirim surat kepada Kejagung. Surya manut. Dua hari sebelum kedatangan Surya, Juniver berkoordinasi dengan pihak Kejagung serta KPK.

“Akhirnya dia (Surya) kirim surat dan menyatakan benar dia akan datang ke Indonesia. Setelah itu, saya informasikan saja ke publik bahwa SD serius akan datang. Saya begitu supaya dia nggak bohongin saya dong,” ungkap Juniver.

Secara terpisah, Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin mengaku Juniver sempat membuka komunikasi dengan pihaknya pada Sabtu, 13 Agustus 2022. Sejak saat itu, ia terus berkoordinasi dengan Juniver.

Surat yang dikirimkan Surya ditujukan langsung kepada Burhanuddin. Surat itu dikirimkan sekitar dua minggu sebelum Surya pulang ke Indonesia untuk menyerahkan diri.

“Saya berjanji, dalam bulan Agustus 2022 ini, saya akan segera datang menghadap Kejaksaan dan siap mengikuti semua prosedur hukum yang ada,” bunyi sepenggal surat Surya kepada Burhanuddin.

Penyerahan Diri Setelah Delapan Tahun Menjadi Buron

Surya Darmadi awalnya dideteksi berada rumah pribadinya di Jalan Bukit Golf Utama, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kemudian ia diduga melakukan pelarian dan tinggal di Singapura, beralamat di 21 Nassim Road #01-18 Nassim Park Residences. Hingga akhirnya, Kementerian Luar Negeri Singapura menyatakan Surya tak berada di negaranya.

Jaksa Agung Burhanuddin sempat mengakui tak mengetahui lokasi terkini Surya. Juniver Girsang-lah yang memberi tahu di mana Surya berada. Kepada reporter detikX, Juniver mengakui hal ini.

Keduanya pun berkoordinasi terkait rencana kepulangan Surya menggunakan pesawat China Airlines 761 pada Senin, 15 Agustus 2022. Surya berangkat pada pukul 9.22 pagi dari Bandara Internasional Taoyuan, Taiwan. Dia tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 13.22.

Dalam proses penyerahan diri Surya tersebut, Juniver masih terus meyakinkan agar berkomitmen serta kooperatif selama menjalani proses hukum. Diketahui sebelumnya, Surya empat kali mangkir dari panggilan penyidik Kejagung.

“Siap saya kooperatif, saya siap mengikuti proses hukum apa pun,” kata Juniver menirukan Surya.

“Biasanya,” Juniver melanjutkan, “orang-orang kayak (Surya) gini kan takut pulang.”

Ketika pesawat yang ditumpangi taipan yang delapan tahun—sejak dicekal KPK pada 5 November 2014—bersembunyi di negeri pelarian itu mendarat, asisten Surya langsung menghubungi Juniver.

“Pak Sur sudah datang. Tapi saya lihat pihak Kejaksaan yang akan bawa. Bapak (Surya) mau dibawa ke mana?” kata Juniver menirukan asisten Surya.

Juniver bilang Surya akan langsung dibawa ke Gedung Bundar Kejaksaan Agung untuk diperiksa. Berpakaian kemeja putih lengan panjang serta celana berkelir hitam, Surya akhirnya menampakkan dirinya.

Selama proses pemeriksaan dilakukan, Surya mengeluh sakit pada Kamis, 18 Agustus 2022. Juniver membeberkan, penyidik Kejaksaan baru menanyakan sembilan pertanyaan, tapi Surya pucat lemas tak berdaya.

Juniver akhirnya meminta agar pemeriksaan ditunda lantaran kondisi kliennya yang tak stabil. Surya keluar dari Gedung Kejaksaan menggunakan kursi roda dengan kedua tangan diborgol. Dia bersama tim Kejaksaan langsung tancap gas menggunakan ambulans ke RS Adhyaksa, Jakarta Timur.

“Dihentikan sementara untuk pemeriksaan medis. Masih kita lakukan pengecekan medis. Pemeriksaan sudah jalan sebentar, tiba-tiba kondisi Tersangka drop atau sakit, mengeluh dadanya sakit," kata Kapuspenkum Kejagung Ketut Sumedana pekan lalu.

Juniver membeberkan kliennya memang mengidap penyakit jantung kronis. Surya telah menjalani pengobatan bertahun-tahun, bahkan dokter di Taiwan menyarankan Surya opname karena kondisinya yang tak stabil.

“Pas dia mau berangkat juga sudah disarankan untuk opname. Itu ada surat rekomendasi dokter. Tapi, karena dia janji, dia datang lho,” kata Juniver.

Surya Darmadi di RS Adhyaksa. 
Foto : Dok. Kejagung

Pada Jumat, 19 Agustus 2022, Surya masuk ruang perawatan intensif (ICU) karena kondisi kesehatannya yang memburuk. Jadwal pemeriksaan KPK yang mestinya digelar hari itu terpaksa ditunda. Kejaksaan pun menangguhkan masa penahanan Surya karena kondisi fisik Surya yang tak sehat.

"Sementara kami bantarkan (penundaan penahanan sementara). Dibantar itu berarti masa tahanannya tidak dihitung. Nggak ditahan artinya ditangguhkan, tapi tetap dalam posisi pengawasan kita, dijaga. Sampai dokter menyatakan bisa balik,” kata Direktur Penyidikan Jampidsus Supardi.

Ancaman hukuman maksimal yang menjerat Surya Darmadi adalah kurungan penjara seumur hidup. Dia juga bisa dituntut mengembalikan kerugian negara dan asetnya dirampas.


Reporter: Rani Rahayu, May Rahmadi
Penulis: Rani Rahayu
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE