INVESTIGASI

Empat Carik Kertas Pembongkar Kebohongan Sambo

Ferdy Sambo sempat meminta keluarga Richard tinggal di rumah kontrakan yang ia sewa. Richard menolaknya karena alasan keamanan.

Foto : Dok. Istimewa/detikX

Rabu, 17 Agustus 2022

Sabtu, 6 Agustus 2022, sekitar pukul 13.00 WIB, Deolipa Yumara ditelepon oleh seorang penyidik Bareskrim Polri. Panggilan itu membuatnya terbangun dari tidur siang. Ternyata ia diminta segera datang ke Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan. Dia diminta menjadi pengacara Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E, setelah advokat sebelumnya, Andreas Nahot Silitonga, mengundurkan diri sekitar pukul 11.00 WIB.

“Saya jam 15.00 WIB sampai, jam 15.30 WIB itu sudah terus-terusan dengan Richard,” tutur Deolipa kepada reporter detikX di kediamannya di kawasan Depok, Jawa Barat, pekan lalu.

Hari itu, kata Deolipa, Richard mengenakan kaus berwarna biru. Saat Deolipa tiba, Richard masih terlelap. Dia kelelahan lantaran sejak pagi harus menjalani pemeriksaan oleh dua penyidik tim khusus (timsus) bentukan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Richard diperiksa terkait kasus pembunuhan Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Kawan dekatnya itu tewas di tangan Richard sendiri pada Jumat, 8 Juli 2022. Dalam keterangan awal yang disampaikan polisi, Yosua dilaporkan terbunuh dalam ‘baku tembak’ di rumah dinas mantan Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E (kiri depan) saat mengikuti Praops Tinombala 2020 di Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Foto : Dok. Istimewa/detikX


“Tembak, oi! Tembak! Tembak!”

Penyidik timsus menjadwalkan pemeriksaan ulang terhadap Bharada E lantaran, sehari sebelumnya, Richard menarik kesaksiannya dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Ini adalah pemeriksaan maraton ketiga untuk Richard setelah dia ditetapkan sebagai tersangka pembunuh Brigadir J sejak Rabu, 3 Agustus 2022. Richard disangkakan Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Direktur Tindak Pidana Bareskrim Polri Andi Rian Djajadi-lah yang menyampaikan langsung penetapan tersangka itu. Andi Rian bilang penetapan dilakukan setelah tim penyidik Polri memeriksa 42 saksi dalam kasus ‘Duren Tiga Berdarah’.

Penetapan tersangka inilah, tutur Deolipa, yang membuat Richard merasa harus menarik kesaksiannya di BAP. Richard tidak mau dihukum berat atas kejahatan yang tidak pernah ingin dia lakukan. Richard merasa bersalah terhadap Yosua dan keluarganya.

“Hampir gila si Bharada E. Bunuh teman sendiri depan matanya, otak dia gimana?” ungkap Deolipa.

Itulah mengapa Richard berjanji bakal menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo kepada dua penyidik timsus yang memeriksanya kala itu. Namun ia tidak sanggup menyampaikan kesaksian itu secara verbal. Bibirnya kelu. Tubuhnya gemetar dan air matanya tidak berhenti menitik. Richard masih trauma. Dia pun akhirnya meminta beberapa carik kertas kepada penyidik. Richard bilang, “Tidak usah ditanya, Pak, biar saya tulis sendiri.”

Sejak pagi, lanjut Deolipa, Richard menulis kesaksiannya dalam beberapa carik kertas. Namun beberapa kali juga dia berhenti dan mengubah kesaksiannya. Deolipa bilang, waktu itu Richard masih terngiang skenario lama yang dibuat Ferdy Sambo. Dia menulis dalam tekanan dan rasa takut lantaran khawatir terjadi apa-apa pada dirinya dan keluarga jika dia menceritakan kisah yang sebenarnya.

Kekhawatiran Richard cukup beralasan. Sebab, keluarga Richard sempat diminta tinggal di rumah kontrakan yang disewakan oleh Ferdy Sambo. Permintaan itu diduga digunakan Sambo untuk mengawasi keluarga Richard. Beruntung, Richard dan keluarganya tidak mengiyakan permintaan itu. Dia dan keluarganya memilih rumah tinggal yang disiapkan oleh Dankor Brimob Irjen Anang Revandoko.

Sebagai antisipasi, Richard mengingatkan agar keluarganya tetap waspada. Dia meminta semua anggota keluarga dan pacarnya mengganti nomor ponsel. Dia khawatir mereka terlacak orang-orang Ferdy Sambo.

Ketakutan Richard itu pun terendus oleh timsus. Itulah mengapa, pada hari yang sama, timsus juga memanggil Ferdy Sambo ke Bareskrim Polri. Malamnya, Sambo bahkan langsung ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Langkah ini dilakukan guna memberikan jaminan keamanan kepada Richard.

Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E saat bertugas.
Foto : Dok. Istimewa/detikX

Di ruangan penyidikan, Deolipa bersama dua penyidik Polri juga berupaya menenangkan Richard. Mereka menyetel lagu-lagu rohani untuk menenteramkan hati Richard. Richard, kata Deolipa, ikut menyanyi sembari menangis. Mereka berupaya meyakinkan Richard bahwa tidak ada lagi yang perlu ditakutinya kecuali Tuhan.

“Kami bilang, itu (Ferdy Sambo) bukan atasan kamu lagi. Atasan kamu Tuhan,” kata Deolipa berusaha menenangkan Richard.

Setelah cukup tenang, barulah Richard bisa dengan lancar menuliskan semua peristiwa yang dialaminya di rumah dinas Ferdy Sambo pada Jumat, 8 Juli 2022, sore itu. Dalam kesaksian yang ditulisnya, Richard menyebut Ferdy Sambo-lah yang menyuruhnya menembak Yosua.

Sore itu, kata Richard dalam kesaksiannya, dia dipanggil oleh ajudan Ferdy Sambo lainnya, yaitu Bripka Ricky Rizal, ke sebuah ruangan di rumah dinas bosnya. Di sana, ia melihat Sambo sudah memegang pistol HS-9 milik Yosua. Di ruangan itu, ada juga asisten rumah tangga Sambo, Kuat Ma’ruf. Yosua, kata Richard, sudah dalam posisi berlutut.

“Tembak, oi! Tembak! Tembak!” kata Richard dalam kesaksiannya sebagaimana diceritakan Deolipa.

Kesaksian Richard itu ditulis dalam empat carik kertas yang akhirnya diserahkan kepada penyidik Polri. Butuh waktu setidaknya enam jam untuk Richard menuliskan semua kesaksian tersebut. Setelah membaca bersama-sama, penyidik Polri yang memeriksa kesaksian Richard itu mengatakan bahwa ceritanya sesuai dengan hasil pemeriksaan sejumlah saksi lain dan barang bukti.

“Akhirnya kami sepakat, nih, dicap jempol di atas dan tanda tangan. Selesai, langsung kami masukkan BAP,” ucap Deolipa.

Empat carik kertas yang ditulis Richard itulah yang akhirnya menyingkap teka-teki perburuan aktor utama pembunuhan Brigadir J. Berkat kesaksian Richard, Irjen Ferdy Sambo bersama dua anak buahnya, Ricky Rizal dan Kuat Ma’ruf, pun akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Ketiganya disangkakan Pasal 340 subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Kepala Bareskrim Polri Komjen Agus Andrianto mengatakan pengakuan Richard yang menjadi titik awal terbongkarnya kebohongan Ferdy Sambo ini muncul berkat kegigihan penyidik dan timsus. Penyidik, kata Agus, sampai memanggil keluarga dan pacar Richard untuk meyakinkannya agar berani menyampaikan cerita yang sebenarnya. Upaya itu berhasil membuat Richard luluh dan yakin.

“Kepada penyidik, dia (Bharada E) akhirnya menyampaikan secara detail tentang kejadian itu,” kata Agus pekan lalu.

Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E saat menghadiri Komnas HAM untuk memberikan keterangan terkait pembunuhan Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J, Selasa (26/7/2022)
Foto : M Risyal Hidayat/Antarafoto

Kini kasus pembunuhan Brigadir J pun semakin terang. Belakangan, polisi menyetop dua laporan yang dibuat orang-orang Sambo ke Polres Jakarta Selatan. Laporan itu diduga merupakan bagian dari skenario Sambo untuk mengecoh penyidik mengungkap kejahatan yang terjadi sebenarnya. Satu laporan terkait percobaan pembunuhan terhadap Bharada E dengan nomor 368AVII/2022 SPKT. Satu laporan lainnya terkait dugaan pelecehan seksual terhadap Putri dengan nomor 1630VII/2022 SPKT.

“Berdasarkan hasil gelar perkara tadi sore, kedua perkara ini kita hentikan penyidikannya karena tidak ditemukan peristiwa pidana,” ungkap Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi pada Jumat, 12 Agustus 2022.

Dengan terungkapnya kasus pembunuhan Brigadir J ini, pengacara Bharada E yang baru, pengganti Deolipa, yakni Ronny Talapessy, pun mengaku bakal mengajukan kliennya sebagai justice collaborator. Targetnya, kata Ronny, Richard bisa divonis bebas atau setidak-tidaknya hukumannya bakal diringankan.

“Pertimbangannya masih muda, dia harapan keluarga. Masih jadi tumpuan keluarga dan juga bukan pelaku utama,” kata Ronny pada Jumat, 12 Agustus 2022.

Di sisi lain, pengacara keluarga Ferdy Sambo, Arman Hanis, sampai saat ini masih irit bicara. Saat dihubungi reporter detikX untuk dimintai konfirmasi sekaligus pembelaan terhadap Sambo, Arman hanya membalas singkat. Arman bilang saat ini tim kuasa hukum Sambo hanya bisa mempercayakan penyidikan kasus ini kepada Polri.

“Saat ini tim kuasa hukum masih fokus menindaklanjuti proses hukum klien kami dan belum memiliki penjelasan tambahan terkait perkembangan kasus ini,” pungkas Arman.


Reporter: May Rahmadi, Rani Rahayu
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE