INVESTIGASI

Bocah-bocah Marunda Diserbu Debu Batu Bara

Mereka digusur dan dipaksa pindah ke Rusunawa Marunda dengan janji lingkungan hidup yang lebih layak. Tetapi, nyatanya, kini lingkungan hidup mereka tercemar debu batu bara. Banyak anak jatuh sakit.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 28 Maret 2022

Kornea mata Nino—bukan nama sebenarnya anak berusia 9 tahun—rusak. Diduga kuat akibat serpihan debu batu bara. Peristiwa itu terjadi dua tahun yang lalu saat Nino menjadi siswa kelas I di SDN 05 Marunda, Jakarta Utara. Ia bermain di ruang publik terbuka ramah anak (RPTRA) di lingkungan Rusunawa Marunda.

Ketika pulang ke rumahnya di Blok A Rusunawa Marunda, kepada orang tuanya, Nino mengeluhkan sakit mata. Selama dua hari lamanya Nino tidak bisa membuka mata.

“Akhirnya diperiksakan ke Rumah Sakit (Cipto Mangunkusumo), ternyata (matanya) sudah bernanah,” tutur Kepala SDN 05 Marunda Purwati Ningsih kepada reporter detikX, Rabu, 23 Maret 2022.

Debu batu bara yang menempel di kaki anak-anak dan orang dewasa di Rusunawa Marunda, Jakarta Utara, Kamis (24/3/2022). 
Foto : Pradita Utama/detikcom


Tapi yang pasti, ada debu batu bara yang terhirup oleh anak-anak kami.”

Dokter RSCM mendiagnosis mata Nino telah rusak parah akibat terpapar debu. Nino harus mengganti kornea matanya jika ingin benar-benar sembuh.

Iritasi mata juga menjangkiti Fiah—bukan nama sebenarnya bocah usia 6 tahun. Irfan, ayahnya Fiah, menyebut mata anaknya sempat iritasi parah sampai-sampai untuk melihat cahaya matahari saja Fiah tidak bisa. Dokter mendiagnosis mata Fiah mengalami iritasi karena debu.

"Kemarin itu mah ya kayak dua hari masih merah matanya.Saya kasih tetes mata kok masih merah. Ya mau nggak mau mesti ke dokter, kan," kata Irfan kepada reporter detikX.

Selain Fiah, ada pula Farel, balita berusia 8 bulan yang disebut sebagai korban debu batu bara. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menduga kerusakan mata yang dialami bocah-bocah tersebut disebabkan polusi debu batu bara yang mencemari lingkungan Rusunawa Marunda.

“Diduga kuat partikel halus debu batu bara mengenai mata si anak,” kata komisioner KPAI Retno Listyarti dalam keterangan tertulisnya.

Selain tiga bocah tersebut, banyak anak-anak dan warga berusia dewasa lainnya yang terserang penyakit lantaran diduga terpapar polusi batu bara. Saat KPAI melakukan kunjungan ke Rusunawa Marunda, kata Retno, sejumlah warga sempat mengeluhkan menderita konjungtivitis alias iritasi mata dan dermatitis atau iritasi kulit.

“Selain itu, sakit pernapasan kerap dialami warga Rusunawa Marunda,” ungkap Retno.

Salah satu yang menderita sakit pernapasan itu adalah Bertie, 40 tahun. Bertie kerap batuk-batuk dan sesak napas jika berada di luar rumah. Kalau sedang parah, kata Bertie, batuk-batuknya bisa sampai mengeluarkan dahak berwarna hitam pekat seperti boba.

Bertie pernah memeriksakan kondisinya itu pada 2014. Hasil computerized tomography scan (CT scan) dari rumah sakit tempat Bertie diperiksa menunjukkan terdapat flek di paru-parunya. Kondisi itu membuat ia kerap jatuh pingsan dan menderita sesak napas yang menyiksa.

Bertie tidak menyangka bahwa tinggal di Rusunawa Marunda ternyata punya risiko sebesar itu. Padahal dulu, ia mengira, Rusunawa Marunda bakal menjadi rumah yang lebih nyaman dibandingkan tempat tinggalnya sebelumnya.

Debu batu bara yang di lantai salah satu sekolah dasar di Rusunawa Marunda, Jakarta Utara, Kamis (24/3/2022). 
Foto : Pradita Utama/detikcom

Dulu Bertie tinggal di Pasar Ikan Modern, Muara Baru, Jakarta Utara. Pada 2013, rumah Bertie digusur dan dia dipindahkan ke Rusunawa Marunda. Presiden Joko Widodo—yang saat itu masih menjabat Gubernur DKI Jakarta—menjanjikan Bertie dan warga Muara Baru lainnya bakal mendapatkan tempat yang lebih layak. Tetapi, nyatanya, kondisi lingkungan di Rusunawa Marunda justru jauh lebih parah.

“Kalau di Muara Baru itu nggak sejahat ini, ya,” kata Bertie sembari mendekap dada dengan tangan kanannya lantaran batuk yang tidak sudah-sudah.

Ketua Forum Masyarakat Rusunawa Marunda dan sekitarnya Didi Suwandi mengatakan sebagian besar warga yang tinggal di Rusunawa Marunda memang merupakan warga gusuran dari beberapa wilayah. Mereka umumnya orang-orang yang tinggal di bantaran sungai, kolong tol, dan kawasan yang dianggap kumuh di sekitar Jakarta.

Warga direlokasi ke Rusunawa Marunda secara bertahap sejak 2007 hingga 2019. Agar warga mau direlokasi, gubernur-gubernur pada setiap era, mulai dari Fauzi Bowo hingga Anies Baswedan, menjanjikan mereka dengan tempat tinggal yang lebih layak dibanding rumah sebelumnya.

Saat ini sudah ada 10.158 orang yang tinggal di Rusunawa Marunda. Sebanyak 2.563 di antaranya merupakan anak-anak. Kesehatan para warga, khususnya anak-anak, terancam lantaran pencemaran debu batu bara di lingkungan mereka.

Didi menyebut pencemaran debu batu bara ini sudah dirasakan sejak lama. Namun dampak terparahnya baru dirasakan mulai 2019 hingga saat ini. Banyak warga di Rusunawa Marunda, khususnya anak-anak, yang menderita sakit seperti yang disampaikan Retno Listyarti. Kendati begitu, Didi tidak berani mengklaim apakah betul sakit itu disebabkan oleh debu batu bara atau bukan.

“Tapi yang pasti, ada debu batu bara yang terhirup oleh anak-anak kami,” tegas Didi.

Data kesehatan Puskesmas Kecamatan Cilincing—yang menaungi Kelurahan Marunda—pada 2017 hingga 2019 menunjukkan adanya peningkatan tiga penyakit yang diduga disebabkan oleh debu batu bara, yakni infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), dermatitis, dan konjungtivitis. Khusus penyakit ISPA, terjadi peningkatan dua kali lipat dari 4.256 kasus pada 2017 menjadi 8.683 kasus pada 2019.

Untuk konjungtivitis, peningkatannya mencapai tiga kali lipat dari 128 kasus menjadi 402 kasus. Kemudian peningkatan tertinggi terjadi pada dermatitis, yang melonjak dari 203 kasus menjadi 1.254 kasus. Kami sengaja tidak memasukkan data 2020 hingga 2022 untuk menghindari bias antara ISPA yang disebabkan oleh COVID-19 dan faktor lainnya, termasuk ketakutan warga datang ke fasilitas kesehatan.

Kepala Puskesmas Kecamatan Cilincing dr Dian Anggrainy mengakui telah terjadi peningkatan jumlah pasien untuk tiga penyakit tersebut. Dermatitis dan ISPA bahkan termasuk 10 penyakit dengan jumlah pasien terbanyak di Puskesmas Kecamatan Cilincing.

“Tapi kami tidak bisa membedakan apakah memang ini kasus karena semata-mata karena debu batu bara sendiri ataupun sebab lain,” terang Dian saat ditemui reporter detikX pekan lalu.

Hingga saat ini, belum dapat dipastikan apakah tingginya jumlah penyakit ISPA, dermatitis, dan konjungtivitis di Rusunawa Marunda itu disebabkan oleh debu batu bara atau faktor lain. Namun, yang pasti, pencemaran debu batu bara di Rusunawa Marunda memang terbukti adanya.

Pekan lalu, saat tim detikX berkunjung ke Rusunawa Marunda, debu batu bara masih tampak bertebaran di mana-mana. Menempel di jendela, lantai, dan dinding setiap bangunan. Demikian juga di bangku-bangku sekolah, meja, dan dedaunan pada tanaman hias milik warga. Jalan-jalan, fasilitas bermain anak, taman, hingga fasilitas kesehatan pun tidak lolos dari pencemaran debu berwarna hitam pekat itu.

Kalau angin berembus kencang, debunya beterbangan menghinggapi mata. Perih. Kami seolah dipaksa memilih lapisan udara mana yang harus kami hirup. Sebab, baru 2 jam di sana, kerongkongan langsung terasa gatal dan pahit, seperti baru saja menenggak puluhan obat.

Sumber detikX di Suku Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta Utara menyebut, DLH DKI Jakarta pernah mengecek kualitas udara di Rusunawa Marunda pada 2019. Pengecekan itu dilakukan selama sembilan hari, pada 12-20 September 2019. Hasilnya didapatkan bahwa selama empat hari, baku mutu particulate matter 2.5 (PM 2.5) melebihi baku mutu udara yang ditetapkan pemerintah sebesar 55 mikrogram/m3. PM 2.5 merupakan skala terkecil pengukuran kualitas udara untuk mendeteksi partikel debu halus di udara.

Sumber ini mengatakan, selama empat hari tersebut, baku mutu PM 2.5 di Rusunawa Marunda berada di rentang 72,41-100,4 mikrogram/m3. Sedangkan lima hari sisanya berada di rentang 44,88-52,79 mikrogram/m3.

Berdasarkan pengukuran baku mutu udara itu, DLH DKI Jakarta sempat memberikan sanksi rekomendasi kepada perusahaan yang dituding menjadi penyebab polusi debu batu bara, yakni PT Karya Citra Nusantara (KCN). Perusahaan ini merupakan badan usaha pelabuhan (BUP) yang salah satu aktivitasnya adalah bongkar-muat batu bara untuk Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Lokasinya berada dalam Kawasan Berikat Nusantara, Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Jika ditarik garis lurus dengan menggunakan aplikasi Google Earth, jarak antara lokasi dermaga PT KCN dan Rusunawa Marunda hanya sekitar 718 meter.

Waktu itu, salah satu rekomendasi DLH DKI Jakarta adalah agar PT KCN memasang jaring penahan debu di lokasi bongkar-muat mereka. Namun sayangnya, kata sumber ini, rekomendasi dari DLH Jakarta tidak dilaksanakan dengan baik oleh PT KCN.

Hasil computerized tomography scan (CT Scan) yang menyatakan ada flek di paru-paru salah satu warga Rusunawa Marunda, Jakarta Utara. Penyebabnya karena lingkungannya tercemar polusi debu batu bara.
Foto : Fajar Yusuf Rasdianto/detikX

“Di lapangan, saya lihat itu robek-robek (jaringnya). Berarti kan kontrolnya kurang,” kata sumber ini.

Itu pulalah yang diduga menyebabkan pencemaran debu batu bara di Rusunawa Marunda masih terjadi sampai sekarang. Tak pelak, DLH DKI Jakarta pun kembali melakukan investigasi terkait pencemaran debu batu bara itu pada awal 2022. Pejabat Humas DLH DKI Jakarta Yogi Ikhwan mengatakan investigasi dimulai dengan melakukan pengecekan ulang kualitas udara di Rusunawa Marunda.

Hasilnya, kata Yogi, ternyata masih terjadi kelebihan baku mutu PM 2.5 di Rusunawa Marunda. Terdapat juga debu-debu yang beterbangan jika angin kencang berembus.

“Kami mengkonfirmasi itu dengan arah angin, terus dengan peta satelit. Nah, memang dari sisi PT KCN waktu itu kami simpulkan, makanya kita jatuhkan sanksi,” kata Yogi kepada reporter detikX.

Juru bicara PT KCN Maya S Tunggagini membantah tudingan yang menyebut perusahaannya merupakan dalang pencemaran debu batu bara di Rusunawa Marunda. Sebab, kata dia, PT KCN telah menjalankan kegiatan operasional perusahaannya sesuai dengan aturan yang berlaku. Menurut Maya, masih perlu dilakukan investigasi lebih lanjut untuk membuktikan siapa sebenarnya dalang pencemaran debu batu bara di Marunda.

“Kami menduga ada pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dan tendensius dengan memainkan isu debu batu bara hanya kepada pelabuhan KCN,” ujar Maya.


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Syailendra Hafiz Wiratama
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE