INVESTIGASI

Paket Misterius Potongan Tangan dan Plasenta Manusia

Arnold Putra diduga memesan potongan tangan dan plasenta manusia dari seseorang di Brasil. Kepolisian Federal Brasil membuka kerja sama polisi internasional guna mengusut kasus perdagangan organ manusia ini.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 07 Maret 2022

Jumat, 22 Februari 2022, Kepolisian Federal Brasil menggeledah Laboratorium Anatomi Manusia di Fakultas Kesehatan Universidade do Estado do Amazonas (UEA) di Kota Manaus, Arizona, Brasil. Dalam salah satu foto yang didapatkan detikX, setidaknya terdapat empat orang memakai rompi hitam bertulisan ‘POLiCIA Federal’. Salah satu di antaranya menenteng pistol hitam di pintu masuk ruangan yang berkelir hijau itu.

Mereka menyita berbagai bukti terkait tindak kriminal yang dilakukan Helder Bindá Pimenta, seorang profesor sekaligus koordinator laboratorium kampus tersebut. Dia dituding melakukan kejahatan perdagangan internasional organ manusia. Hukuman maksimalnya 8 tahun kurungan penjara.

Beberapa yang mereka sita antara lain file komputer serta beberapa organ tubuh manusia yang telah diawetkan menggunakan teknik plastinasi. Sebelumnya, mereka menggerebek kediaman Helder.

 “Tersangka mengirim organ manusia yang diplastinasi ke Singapura,” bunyi pernyataan resmi Bagian Koordinasi Umum Komunikasi Sosial Kepolisian Federal Brasil, kepada detikX melalui surel.

Kasus ini bermula dari Helder, yang kedapatan mengirimkan paket bungkusan berisi satu tangan dan tiga plasenta manusia ke Singapura. Penerimanya diduga adalah Arnold Putra, yang oleh Kepolisian Federal Brasil disebut “seorang desainer ternama Indonesia yang menjual aksesori dan pakaian berbahan dasar manusia”.

Igor Barros, anggota Kepolisian Federal Brasil, menjelaskan operasi ini dimulai sejak Oktober 2021 setelah menemukan paket yang dikirimkan Helder ke Arnold. Operasi Plastina sedang memperdalam keterkaitan Arnold Putra dengan kasus ini.

"Kami periksa di tingkat internasional dan ada kemungkinan terlibat dalam hal ini. Kemudian ya kami dapat meminta bantuan Interpol dalam hal ini," kata Igor kepada media di Brasil.

Helder Bindá Pimenta berpose bersama tiruan kerangka manusia di  Laboratorium Anatomi Manusia di Fakultas Kesehatan Universidade do Estado do Amazonas (UEA).
Foto : @esagerados/Instagram

Penyidikan ini dinamai Operacao Plastina atau Operasi Plastina. Nama operasi ini diambil dari cara Helder mengawetkan bagian dari tubuh manusia sebelum diperdagangkan. Helder mengekstraksi cairan tubuh dan lipid melalui metode kimia, menggantinya dengan resin plastik seperti silikon, poliester, dan epoksi, menghasilkan kain yang kering, tidak berbau dan tahan lama.

detikX telah menghubungi Kepolisian Federal Brasil untuk mendapatkan info yang lebih dalam. Mereka berjanji akan memberikan informasi setelah mendalaminya. Namun, hingga naskah ini ditayangkan, belum ada jawaban lagi dari mereka.

"Permintaan Anda telah diteruskan ke departemen yang bertanggung jawab. Kami akan menghubungi Anda segera setelah kami mendapat tanggapan," bunyi e-mail dari instansi resmi tersebut kepada detikX akhir pekan lalu.

Pada saat yang bersamaan dengan Operasi Plastina, pihak kampus UEA mengaku telah menerima surat dari Pengadilan Federal di Manaus. Isinya, perintah penonaktifan Helder sebagai dosen pengajar selama 30 hari untuk memenuhi rangkaian proses penyidikan polisi.

“Rektor Universitas Negara Bagian Amazonas mematuhi perintah pengadilan dan menetapkan pembukaan penyelidikan untuk menyelidiki fakta dan tanggung jawab,” bunyi pernyataan resmi dari UEA yang dipublikasikan melalui Instagram dan website resmi kampus.

Berdasarkan keterangan kampus, laboratorium yang dikelola Helder tersebut mulai melakukan teknik plastinasi sejak 2017. Pada Juni 2016, Helder mengikuti kursus di University of Toledo, Ohio, Amerika Serikat, untuk mempelajari teknik plastinasi. Dalam salah satu unggahan foto Instagram bernama @Plastinacao, saat kursus tersebut, Helder berswafoto dengan irisan otak manusia yang ia awetkan. Berdasarkan penelusuran detikX, akun Instagram tersebut dibuat oleh Helder dan ia mencantumkan nomor ponselnya. Dua hari yang lalu, akun Instagram ini dihapus.

Kepolisian Federal Brasil menggeledah Laboratorium Anatomi Manusia UEA, Jumat (22/2/2022).
Foto : @CrimesReais/Twitter

Helder nyaris setiap tahun menggelar pameran anatomi manusia, salah satunya ‘X Feira de Anatomia Humana UEA 2019’. Para pengunjung disuguhi berbagai potongan asli tubuh manusia yang telah diplastinasi. Salah satu impian Helder, sebelum laboratorium anatomi didirikan di UEA, adalah membuat museum anatomi manusia.

Kepolisian Indonesia yang Menunggu
Dua hari setelah penggeledahan laboratorium anatomi di kampusnya, Rektor UEA Cleinaldo de Almeida Costa membentuk komisi penyelidikan kasus Helder. Mereka akan mengumpulkan berbagai bukti dan kesaksian terkait kasus perdagangan organ manusia ini.

"Komisi ini terdiri atas dua pengacara dan dua ahli patologi. Mereka adalah profesional yang memenuhi syarat untuk mengevaluasi kasus ini," kata Cleinaldo dalam konferensi pers.

Cleinaldo menuturkan seluruh temuan dalam proses investigasi ini akan dirahasiakan. Betul saja, saat dimintai konfirmasi reporter detikX melalui akun Facebook miliknya, Tiago Novaes Pinheiro, seorang profesor di Fakultas Kesehatan UEA yang menjadi anggota komisi penyelidikan ini, mengaku tak bisa berkata apa pun terkait kasus ini. Dia meminta detikX menggali informasi ke Kepolisian Federal Brasil.

Sedangkan di Indonesia, Kepala Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri Irjen Johanis Asadoma mengatakan kepolisian Indonesia telah berusaha berkoordinasi dengan Kepolisian Federal Brasil. Namun belum ada titik terang yang mereka dapatkan.

“Sampai saat ini belum ada info dari Brasil sejak dua minggu lalu,” kata Johny kepada reporter detikX pekan lalu.

detikX telah berupaya menghubungi keluarga Helder untuk bertanya terkait kasus ini. Greysa Mores Fragoso, seorang pengacara yang direkrut keluarga Helder, membantah semua yang dituduhkan, dan Operasi Plastina ini merusak reputasi Helder. Meski begitu, ia berjanji Helder akan patuh terhadap hukum. Namun, saat kami tanyakan melalui surel dan pesan WhatsApp mengenai keadaan Helder kini dan apa saja komunikasi yang sudah dijalin dengan Kepolisian Federal, Greysa tak menjawabnya. Sementara itu, Arnold Putra tak merespons permintaan wawancara yang detikX ajukan melalui akun Instagram miliknya.

Arnold Dianggap Desainer Gadungan
Nama Arnold Putra mulai terdengar semenjak 2016. Saat itu, melalui akun Instagram miliknya, pria berusia 27 tahun itu mengunggah tas jinjing yang ia klaim terbuat dari lidah buaya dan tulang punggung anak kecil yang terjangkit osteoporosis. 

Tas tangan itu pernah dijual di platform fashion asal Britania Raya, The Unconventional, serta platform mode asal Los Angeles, Amerika Serikat, Not Just A Label, dengan banderol USD 5.000. Namun, tak lama kemudian, kedua situs ini menghapus postingan koleksi rancangan Arnold tersebut.

Sebelumnya, ia juga mengunggah koleksi pribadinya berupa fur vest atau rompi bulu. Bahan dasarnya dari kumpulan bagian tubuh manusia dan kulit albino yang telah melalui tahap plastinasi.

Sering travelling ke berbagai negara, mengenakan pakaian desainer ternama, hingga memiliki berbagai macam mobil mewah membuat dirinya masuk ke jajaran ‘Rich Kids of the Internet’ atau orang terkaya di jagat medsos. Pada 2017, Arnold juga tercatat sebagai salah satu kolektor mobil terpandang di Indonesia.

Selain itu, pada Januari 2022, Arnold mendatangi peragaan busana Paris Fashion Week. Ia mengenakan seragam ormas Pemuda Pancasila. Tingkah Arnold tersebut justru mengundang amarah publik. Pada Selasa, 22 Februari 2022, akun Twitter Tom Fraud @superiorgab mengunggah sebuah utas panjang mengenai puluhan kontroversi Arnold: dari penggunaan organ manusia untuk kepuasan estetika mode semata hingga sikapnya yang kerap menukar jam tangan palsu untuk barang-barang sakral suku pedalaman.

Arnold begitu kontroversial di dunia maya. Namun, realitasnya di Indonesia, tak banyak desainer yang mengenalnya. Desainer kawakan Ali Charisma sekaligus pemimpin Indonesia Fashion Chamber (IFC), misalnya, mengaku tak kenal dengan sosok Arnold.

Member IFC saya tanya juga nggak ada yang kenal dia (Arnold),” ujarnya kepada reporter detikX.

Jurnalis senior mode Lynda Ibrahim sudah lebih dari satu dekade selalu mendatangi empat pagelaran mode terbesar di Indonesia, yakni Jakarta Fashion Week, Indonesia Fashion Week, Muslim Fashion Festival, dan IPMI Trend Show. Namun tak pernah satu kali pun dirinya bertemu, bahkan mendengar nama Arnold.

“Saya bertanya-tanya karena yang selalu disebutkan kan dia perancang mode. Dia merancang di mana? Kapan show-nya? Siapa konsumennya? I never found out. Saya hanya melihat dia memakai desainnya yang mencengangkan. Tapi, kalau dia perancang, then you have the business, right?” kata Lynda kepada reporter detikX.

Tas jinjing buatan Arnold Putra yang dia klaim terbuat dari tulang punggung anak manusia dan lidah buaya.
Foto : arnoldputra/Instagram

Menurut lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu, Arnold tak lebih dari pesohor media sosial. “Saya nggak pernah memandang dia sebagai desainer mode. Kenapa? Karena saya hanya tahu dia dan kreasinya saat dia buat ulah di medsos,” ujarnya.

Lynda menganggap tren mode yang dirancang Arnold sangat tidak etis, bahkan dinilai tidak berperikemanusiaan. 

Fashion itu memang menyukai orang yang mendobrak kelumrahan, tapi yang dilakukan Arnold jelas tidak etis. Arnold memakai tubuh manusia. Humanismenya di mana?” kata perempuan yang juga berprofesi sebagai konsultan bisnis itu.

Guru besar hukum pidana Universitas Islam Indonesia, Mudzakir, mengatakan praktik jual-beli organ tubuh manusia dilarang keras dalam hukum kesehatan dalam alasan apa pun.

 “Organ tubuh hanya boleh didonorkan dengan sukarela untuk alasan kemanusiaan,” katanya kepada reporter detikX.

Transaksi internasional jual-beli organ tubuh manusia yang dilakukan Arnold dan Helder tidak dapat diadili berdasarkan hukum pidana Indonesia, meski Arnold adalah seorang warga negara Indonesia.

“Jadi tergantung, apakah di negara yang bersangkutan, perbuatan tersebut dilarang secara pidana. Jika iya, perbuatannya dapat diadili di negara tersebut, dan Arnold dapat diekstradisi ke negara yang bersangkutan,” jelasnya.


Reporter: May Rahmadi, Rani Rahayu
Penulis: Rani Rahayu
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE