INVESTIGASI

Waswas Gelombang Ketiga COVID-19 Akibat Omicron

Varian Omicron mendongkrak penambahan kasus harian positif COVID-19 di Indonesia. Varian yang tiga kali lipat lebih menular daripada Delta ini berpotensi memicu gelombang ketiga pandemi, yang diprediksi terjadi bulan depan.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 17 Januari 2022

Masuknya varian Omicron ke Indonesia membuat aktivitas tenaga kesehatan di RS Darurat COVID-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, kembali meningkat. Tingkat keterisian ranjang medis menanjak signifikan. Pada Kamis, 13 Januari 2021, sebanyak 2.220 ranjang telah terisi atau 62,31 persen dari total ketersediaan. Melesat nyaris 20 kali lipat dibandingkan dengan titik terendah keterisian ranjang Wisma Atlet pada 1 Desember 2021, yang hanya 115 ranjang.

Koordinator Humas RS Darurat COVID-19 Wisma Atlet Mintoro Sumego mengatakan 333 pasien yang masih dan sempat dirawat di Wisma Atlet teridentifikasi positif Omicron. Sekitar 125 orang masih dirawat, sedangkan 208 pasien lainnya sudah dinyatakan sembuh.

“Sebagian besar (pasien Omicron) itu yang perjalanan luar negeri. Kalau non-pelaku perjalanan luar negeri itu ada 33 totalnya. Yang saat ini dirawat ada 28,” ungkap Mintoro kepada reporter detikX, Kamis, 13 Januari 2022.





Berdasarkan data Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID), bank data acuan genom SARS-CoV-2, per kemarin, terdapat 660 kasus Omicron di Indonesia. Varian Omicron telah mendominasi atau menyalip varian Delta sejak 27 Desember 2021. Sejauh ini, varian Delta hanya terdapat 528 kasus, terhitung sejak Omicron pertama kali ditemukan pada 8 Desember 2021.

Tapi, kalau kita lengah di situ, tentunya akan jadi masalah. Karena kita kemudian betul-betul dalam posisi yang kecolongan. Jadi saya minta ini tidak ada lagi, tidak boleh terjadi lagi. Tolong kerja samanya yang baik.”

Jika dianalisis, sejak varian Omicron menyalip dominasi Delta, kasus positif COVID-19 di Indonesia perlahan meningkat. Puncaknya, pada 15 Januari 2022, terdapat penambahan 1.054 kasus baru. Padahal kasus harian COVID-19 di Indonesia sejak 14 Oktober 2021 atau tiga bulan terakhir tak pernah melampaui angkat tersebut. Data ini mengacu pada penambahan kasus harian yang dirilis Satgas COVID-19 Indonesia.

Berdasarkan data yang didapatkan detikX, kasus pertama Omicron terdeteksi menjangkiti perempuan berusia 21 tahun berinisial TM. Dia merupakan pelaku perjalanan dari Nigeria. Sesampai di Indonesia, ia dirawat di RS Darurat COVID-19 Wisma Atlet sejak 27 November hingga 8 Desember 2021. Ia sudah diinjeksi dua dosis vaksin Sinovac.

Di sisi lain, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memerintahkan anak buahnya mengejar pelaku joki karantina yang disinyalir sebagai musabab Indonesia kebobolan virus SARS-Cov2 jenis baru ini. Pengawasan terhadap pelaku perjalanan luar negeri yang tengah melakukan karantina pun diperketat agar kasus serupa tidak terulang.

“Tapi, kalau kita lengah di situ, tentunya akan jadi masalah. Karena kita kemudian betul-betul dalam posisi yang kecolongan. Jadi saya minta ini tidak ada lagi, tidak boleh terjadi lagi. Tolong kerja samanya yang baik,” jelas Sigit di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis, 6 Januari 2022.

Meski begitu, bagi Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Hermawan Saputra, langkah yang diambil pemerintah ini terlambat. Sebab, saat ini sudah terjadi beberapa kasus positif Omicron yang disebabkan oleh transmisi lokal. Penularan lokal ini, menurut Hermawan, bisa menjadi pemicu terjadinya gelombang ketiga. Apalagi tingkat penularan galur Omicron lebih cepat dibandingkan Delta.

“Kemungkinan Februari (2022) itu kasusnya akan tinggi sekali,” ungkap Hermawan kepada reporter detikX melalui sambungan telepon akhir pekan lalu.





Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi tak menyangkal prediksi tersebut. Dia bilang, ada kemungkinan Indonesia memasuki gelombang ketiga pandemi pada pertengahan Februari 2020, dengan skenario penambahan kasus 40-60 ribu per hari.

Nadia meminta masyarakat tidak begitu khawatir terhadap Omicron. Sebab, kata dia, 98 persen pasien yang terjangkit Omicron tidak bergejala atau hanya bergejala ringan, seperti batuk dan pilek. “Ini kecepatan penularannya tiga kali dari varian Delta, tapi tidak meningkatkan keparahan,” kata Nadia kepada reporter detikX.

Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan pernyataan Siti Nadia merupakan cara pandang yang salah kaprah. Menurut Dicky, Omicron tetap bisa menimbulkan keparahan sebagaimana virus COVID-19 lainnya jika itu menjangkiti orang yang belum divaksinasi. Gejala-gejala seperti badai sitokin dan happy hypoxia masih terlihat di beberapa pasien Omicron berusia tua dan menderita komorbid.

Hanya, kabar baiknya, kekuatan Omicron menyerang bagian respiratori manusia rupanya 10-20 kali lebih lemah dibanding Delta. Namun, terhadap organ lain, seperti jantung dan hati, tingkat keparahannya tidak berbeda sedikit pun.

“Di sini juga kita mesti paham bahwa Omicron menyebar begitu cepat dalam kurun waktu kurang dari dua bulan ke hampir 140 negara. Untuk seperti itu, Delta butuh waktu sekitar lima bulan,” ungkap Dicky kepada reporter detikX.

Studi terakhir Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) yang dirilis 7 Januari 2022 menyebutkan, kini Omicron telah menjangkiti 149 negara. Itu terjadi di tengah sebagian besar masyarakat dunia sudah memiliki imunitas terhadap COVID-19, baik kebal lantaran sudah divaksinasi, pernah terinfeksi, maupun pernah terinfeksi lalu divaksinasi.

Negara-negara seperti Denmark, Inggris, dan Amerika Serikat, yang tingkat vaksinasinya sudah lebih dari 70 persen pun, kini malah menjadi episentrum baru Omicron. Dalam sepekan, sejak 26 Desember 2021 hingga 2 Januari 2022, tiga negara ini mengalami peningkatan kasus positif COVID-19 lebih dari 50 persen. Terparah terjadi di Negeri Paman Sam dengan total penambahan 2,5 juta kasus.

Fasilitas kesehatan di ketiga negara ini nyaris ambruk lantaran tingginya peningkatan kasus positif COVID-19. Di Amerika, tingkat keterisian ranjang rumah sakitnya meningkat 45 persen per 30 Desember 2021. Sedangkan di Denmark, sekitar 0,9 persen pasien Omicron harus dilarikan ke rumah sakit. Hanya berbeda 0,2 persen dibandingkan dengan varian lain, yang mencapai 1,1 persen.

Vaksinasi di Jakarta.
Foto : Agung Pambudhy/detikcom

Di Indonesia, dengan tingkat vaksinasi penuh yang baru menyentuh 57,51 persen dari target 208.265.720 jiwa, potensi dampak yang ditimbulkan lebih parah. Apalagi mengingat data vaksinasi lansia yang masih di bawah target. Sampai Sabtu, 16 Januari 2020, data Kementerian Kesehatan menunjukkan, lansia yang sudah tervaksinasi penuh hanya 9.668.135 atau 44,86 persen dari target 21.553.118 jiwa.

Dengan fakta yang demikian, lembaga riset independen dari Universitas Washington, Amerika Serikat, Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), memprediksi angka penambahan kasus positif COVID-19 di Indonesia bisa lebih parah dibandingkan dengan yang diramalkan pemerintah. Berdasarkan data terbuka IHME yang diakses detikX, pada 6 Januari 2022, Indonesia diprediksi bakal mencapai puncak kasus Omicron pada April 2022. Diprediksi, jumlah penambahan kasusnya bisa mencapai 387.850 kasus per hari.

Prediksi ini bisa berkurang menjadi 266.019 kasus per hari jika 1.714.540 orang Indonesia telah menerima vaksinasi dosis ketiga dan protokol kesehatan kembali diperketat. Namun, faktanya, hingga saat ini vaksinasi dosis ketiga di Indonesia belum berjalan, kecuali kepada tenaga kesehatan. Penerapan protokol kesehatan pun mulai longgar semenjak pemerintah menarik status pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 3 pada Desember 2021.

Dengan kondisi yang demikian, Dicky Budiman mengatakan prediksi IHME merupakan perkiraan yang moderat. Namun, ia sendiri tidak yakin Indonesia bisa mencatatkan kasus sebanyak itu mengingat kemampuan deteksi yang terbatas.

“Sebagaimana saya memprediksi, waktu puncak itu bisa 500 ribu waktu Delta ya. Cuma nggak ditemukan karena kemampuan deteksi penemuan kasusnya terbatas,” pungkas Dicky.


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Syailendra Hafiz Wiratama
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE