INVESTIGASI

Eijkman: Diangkat Prestasi, Ditundukkan Birokrasi

Selama hampir 1,5 abad LBM Eijkman berkontribusi penting bagi dunia kesehatan. Peleburan ke BRIN telah membuatnya kehilangan para ilmuwan andalan.


Selasa, 11 Januari 2022

Ratusan saintis honorer Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dipecat tanpa pesangon per 31 Desember 2021. Sebanyak 113 tenaga honorer, termasuk 71 peneliti, diberhentikan karena status karyawan kontrak. Hanya 17 saintis, dari total 42 pegawai Eijkman berstatus ASN, yang dapat bergabung ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Pemberhentian ini merupakan buntut dari Pasal 121 UU Cipta Kerja. Disebutkan, pembentukan BRIN bertujuan menjalankan penelitian, pengembangan, pengkajian, penerapan, serta intervensi dan inovasi yang terintegrasi. Pasal ini merupakan revisi Pasal 48 UU 11/2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Tak ada perincian tentang pekerjaan BRIN dalam aturan itu. Namun pada Pasal 48 ayat (3) berbunyi: Ketentuan lebih lanjut mengenai Badan Riset dan Inovasi Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan presiden. Open legal policy tersebutlah yang kemudian mengarahkan kemungkinan dalam peraturan lanjutan.

Pengujian COVID-19 di Lembaga Eijkman.
Foto : Detikcom Third Party

Presiden Joko Widodo menguatkan UU Cipta Kerja dengan menerbitkan Peraturan Presiden 78/2021 tentang BRIN pada 24 Agustus 2021. Aturan tersebut memerinci berbagai aspek soal BRIN, termasuk menggabungkan berbagai lembaga riset di lingkungan Kementerian.

Saya juga
masih menangani pengembangan
Vaksin Merah Putih
walau ada kelambatan."

Pengintegrasian lembaga riset ke BRIN diikuti alih status PNS, perlengkapan laboratorium, pembiayaan, dan aset lembaga riset. Aturan yang mulai dieksekusi pemerintah akhir 2021 ini mencaplok lembaga riset lain, seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), dan Lembaga Antariksa Nasional (Lapan), ke dalam BRIN.

Eijkman, yang bekerja di bawah naungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek-Dikti), juga otomatis melebur ke dalam BRIN dengan nama Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman. Eks Kepala Eijkman Amin Soebandrio mengatakan kepada reporter detikX, melalui rapat virtual yang dipimpin oleh Kepala BRIN Laksana Tri Handoko, per 1 September 2021, BRIN mengumumkan struktur kepemimpinan Eijkman yang digantikan oleh pelaksana harian (plh).

Meski struktur pelaksana harian yang menempati jabatan petinggi belum rinci, Amin sebagai Kepala Eijkman kontan lengser dari posisinya dan digantikan oleh peneliti LIPI Wien Kusharyoto. Sebab, Amin tak memenuhi syarat umur peleburan ke BRIN.

“Per 1 september itu sudah berlaku plh-nya. Walau belum definitif, memang sampai saat ini kami belum lihat SK-nya,” ujarnya Amin, Jumat, 7 Januari 2021.

Menurut Amin, meleburnya Eijkman ke dalam BRIN menurunkan level. Sebelumnya, Eijkman diharapkan menjadi lembaga pemerintah nonkementerian, seperti LIPI. Namun statusnya kini diturunkan menjadi di dalam BRIN, statusnya menjadi hanya di level eselon II. Selain itu, proyek Vaksin Merah Putih yang sedang dikomandoi oleh Eijkman semakin molor.  

“Saya fokus mengajar saja di UI (Universitas Indonesia) karena sebelumnya kan memang saya sudah mengajar juga. Saya juga masih menangani pengembangan vaksin Merah Putih walau ada kelambatan,” kata guru besar mikrobiologi klinik UI itu.

Sedangkan Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengungkapkan, sebagai lembaga pembuat kebijakan sekaligus eksekutor, BRIN membutuhkan dukungan banyak pihak. Karena itu, BRIN tak cukup cuma mendapatkan dukungan dari komunitas riset, melainkan juga butuh dukungan politik seperti terjadi di banyak negara.

"Kalau pengarahnya periset semua ya kurang kuat. Itu terjadi di semua negara juga. Kepala China Council itu dipimpin langsung kepala pemerintahan. Karena BRIN sudah langsung di bawah Presiden, maka Dewan Pengarahnya ada pengusaha, LSM, politisi, yang semuanya diharapkan bisa mendukung percepatan riset dan inovasi," tuturnya dalam program Blak-blakan detikcom, Senin, 3 Januari 2022.

Kiprah Eijkman

Selama hampir 1,5 abad berdiri, lembaga riset Eijkman telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi bidang ilmu kesehatan. Hasil penelitian awak Eijkman kerap moncer dan telah membawa namanya mendunia.

Bermula pada tahun 1888, Christiaan Eijkman ditunjuk menjadi kepala laboratorium penelitian patologi dan bakteriologi di Rumah Sakit Militer Weltevreden (sekarang RSPAD Gatot Soebroto). Penunjukan itu berkat kariernya yang sukses sebagai salah satu peneliti dalam Misi Pekelharing-Winkler dalam mengidentifikasi penyakit beri-beri.

Produk Eijkman adalah kemampuan teknologi, diagnostik, dan dari situ bisa dipergunakan langsung kepada masyarakat

Dalam buku ‘Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia’ karya sejarawan Universitas Sydney Hans Pols, Eijkman melanjutkan riset dan usaha menekan pandemi beri-beri di Hindia Belanda dengan membangun laboratorium. Dia kemudian memboyong peralatan bakteriologis dari Belanda ke laboratoriumnya.

Eksperimen Eijkman terhadap ayam-ayam peliharaan laboratoriumnya akhirnya memberikan jawaban terhadap hawar yang sedang terjadi kala itu: musabab beri-beri adalah kekurangan gizi seimbang. Berkat hasil penemuannya ini, ia kemudian mendapatkan penghargaan Nobel dari Akademi Sains Swedia pada 1929.

Laboratorium pimpinan Eijkman telah menjadi rumah bagi sejumlah terobosan penting dalam sektor medis. Guna menghormati kontribusi besar Eijkman, pada 1928 nama Eijkman diabadikan menjadi nama laboratorium peninggalannya itu.Bukan hanya beri-beri, lembaga riset pimpinan Eijkman juga gencar melacak musabab penyakit malaria.

“Produk Eijkman adalah kemampuan teknologi, diagnostik, dan dari situ bisa dipergunakan langsung kepada masyarakat,” ujar peneliti senior Eijkman, Herawati Sudoyo, kepada reporter detikX.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, 2014—2021.
Foto : Tim Blak-blakan detikcom

Eijkman sempat mati suri saat zaman penjajahan Jepang hingga pernah resmi ditutup pada 1960 karena situasi politik saat itu. Namun, pada 1992, BJ Habibie, yang saat itu menjadi Menristek, menghidupkan kembali lembaga penelitian ini. Dia mengangkat peneliti Indonesia yang telah masyhur di Australia, Sangkot Marzuki, sebagai direktur pertama Lembaga Eijkman.

Eijkman kemudian kembali menunjukkan taringnya ketika pada September 2004 sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh salah satu pendiri Eijkman, Herawati Sudoyo, ditunjuk oleh polisi untuk mengungkap identitas pengebom Kedutaan Besar Australia, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Ledakan bom yang begitu masif berasal dari mobil Suzuki Carry membuat polisi kesulitan dalam pengenalan identitas. Sekelompok ilmuwan sains ini harus banting tulang membantu polisi dalam menguak identitas pengebom menggunakan analisis DNA.

Ini bukan pekerjaan mudah. Sebab, metode analisis DNA untuk korban bencana baru berkembang satu dekade belakangan. Para saintis ini mengumpulkan fragmen jaringan yang tercecer di sekitar lokasi kejadian, kemudian membandingkan dengan DNA empat ibu terduga teroris yang telah dikantongi oleh polisi.

Hanya dalam waktu dua minggu, para peneliti ini berhasil mengidentifikasi tiga teroris pelaku pengeboman Kedubes Australia. Ini merupakan kesuksesan besar bagi sebagian besar kelompok ilmuwan yang tergabung dalam Lembaga Eijkman. Nama Herawati melambung tinggi, ia dijuluki Si Pemburu DNA.

Pengujian COVID-19 di Lembaga Eijkman.
Foto : Detikcom Third Party

Jejak langkah Herawati di Eijkman kian moncer. Ia melakukan penelitian dalam rangka menjawab “siapa nenek moyang orang Indonesia?”. Studi genetika ini menjawab misteri asal-usul bangsa Indonesia. Berkat riset ini, nama Lembaga Eijkman semakin cemerlang dan menjadi pusat studi biologi molekuler paling dihormati di Indonesia.

Tak berhenti sampai di situ, Eijkman juga memegang peran yang cukup signifikan selama pandemi COVID-19 melanda Indonesia. Lembaga riset yang berlokasi di Salemba, Jakarta Pusat, ini membentuk Tim Waspada Covid-19 (Wascove). Sejak maret 2020, mereka bertugas mendistribusikan alat tes, mengambil sampel, dan memeriksanya di laboratorium khusus. Kontribusi Eijkman dalam penanganan pandemi lainnya adalah donor plasma konvalesen.

Penelitian penting lainnya yang sedang berlangsung adalah pengembangan vaksin Merah Putih, yang ditargetkan bisa rampung dan diproduksi massal pada pertengahan 2022. Namun realitasnya, hingga kini proses pengembangan vaksin molor.

Amin Soebandrio, yang mengepalai proyek riset itu, mengatakan saat ini kelanjutan vaksin Merah Putih masih dalam tahap penawaran ke industri, baru proses praklinis serta uji klinis I dan II. Melihat proses yang masih panjang ini, ia dan sejumlah pihak pesimistis. Mereka melihat proyek riset strategis ini akan macet imbas kebijakan integrasi Eijkman ke BRIN, ditambah Tim Wascove diambil alih oleh Kedeputian Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN.


Reporter: Rani Rahayu, May Rahmadi 
Penulis: Rani Rahayu 
Editor: Dieqy Hasbi Widhana 
Desainer: Luthfy Syahban
Ilustrasi Cover: Edi Wahyono

***Komentar***

Baca Juga

SHARE