INVESTIGASI

Jejak Dua Tentara di Kasus Mafia Karantina

Rachel Vennya Ronald lolos dari kewajiban karantina dengan melakukan permufakatan dengan sejumlah orang. Dua di antaranya anggota TNI Angkatan Udara.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 27 Desember 2021

Seorang tentara menemui Rachel Vennya Ronald ketika dirinya baru saja tiba di Wisma Atlet Pademangan, Jakarta, dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menggunakan bus Damri pada Jumat, 17 September 2021. Kala itu Rachel bersama pacarnya, Salim Suhaili Nauderer, dan manajernya, Maulida Khairunnisa, baru dari Amerika Serikat.

Ketiganya tidak ada yang mengenal tentara tersebut. Namun Rachel tahu tentara itu akan membantunya. “(Kami dijemput) TNI, tapi nggak tahu siapa,” kata Rachel di Pengadilan Negeri Tangerang, Jumat, 10 Desember 2021.

Berdasarkan penelusuran detikX, tentara itu diduga bernama I Gede Wira. Dia anggota TNI Angkatan Udara (AU). Rachel mengaku Wira diduga membantunya agar bisa langsung pulang ke rumah ketika dirinya tiba di Wisma Atlet.

Rachel Vennya bersama kekasihnya Salim Nauderer saat menjadi terdakwa menjalani sidang perdana pelanggaran karantina di Pengadilan Negeri Tangerang, Jumat, (10/12). Fot
Foto : Palevi/detikcom

Dengan mengikuti arahan Wira, Rachel dan dua orang dekatnya itu bahkan tidak masuk ke kamar karantina. Wira membantu mereka agar tidak melakukan proses karantina. “Saya tidak sampai ke kamar. Saya langsung pulang,” kata Rachel.

Dia lapor ke kita agar paspornya bisa diambil. Jadi, dia bilang, banyak temannya mengalami hal seperti itu. Di Bandara sudah diarahkan, nanti bisa tanpa karantina tapi membayar.”

Dokumen hukum yang detikX peroleh dari sumber yang enggan disebutkan identitasnya menyebutkan Wira mengajak mereka berpura-pura ke toilet. Dengan cara itu, mereka diam-diam menuju parkiran mobil. Sementara itu, kerabat Rachel bernama Intan Marialianita sudah menunggu di parkiran.

Intan lantas membawa pergi Rachel, Salim, dan Maulida keluar dari Wisma Atlet setiba mereka di parkiran. Mereka pun sukses lolos dari kewajiban karantina.

Namun persekongkolan bukan hanya terjadi di Wisma Atlet. Rachel dan dua orang dekatnya pun mendapatkan bantuan dari seorang tentara lainnya ketika berada di Bandara Soekarno-Hatta, sebelum ke Wisma Atlet menggunakan bus Damri.

Tentara itu diduga bernama Fatha Satria Utama dari matra Angkatan Udara. Fatha diduga berkaitan dengan Wira.

Di Bandara, awalnya Rachel dan dua orang dekatnya sempat menjalani pendataan oleh polisi Bandara. Mereka didampingi seseorang pekerja kontrak Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat yang bertugas sebagai protokoler di Bandara, Ovelina Pratiwi. Rachel mengenal Ovelina dari Intan.

Petugas polisi bertanya kepada mereka, “Kenapa ke Wisma?”

“Ini anak keluarga DPR,” jawab Ovelina.

Tak lama, seorang tentara Angkatan Udara yang juga anggota Satuan Tugas COVID-19 di Bandara, Fatha, menghampiri mereka. Fatha diduga melindungi dan membuat mereka lolos dari pemeriksaan polisi.

Keberadaan Fatha di sana itu merupakan bagian dari rencana. Sebelumnya, Ovelina menghubungi Fatha agar membantu mereka. Ovelina mengenal Fatha dari temannya yang bertugas di Bandara, Eko Priyadi. Eko, melalui atasannya, Zarkasih, menghubungkan Ovelina dengan Fatha.

Bukti transfer Rachel sebagai uang suap agar lolos dari kewajiban karantina.
Foto : Istimewa/detikx

Semua itu dilakukan dengan kesepakatan yang sudah dibuat bahkan ketika Rachel masih berada di Amerika. Pada Selasa, 14 September 2021, Ovelina dihubungi kerabat Rachel, Intan Marialianita. Intan meminta Ovelina membantu Rachel, Salim, dan Maulida agar tidak melakukan karantina.

“Mbak, tolong jemput saudara saya. Tolong dibantu, kedatangan internasional,” kata Intan kepada Ovelina.

“Saya akan usahakan, Mbak, karena yang berwenang ini Satgas,” Ovelina menjawab.

Intan kemudian kembali menegaskan permintaannya, ”Mohon dibantu, Mbak, ini keponakan saya, semoga lancar.”

Ovelina pun menghubungi temannya, Eko Priyadi, untuk memenuhi permintaan Intan. Dari percakapan antara Ovelina dan Eko, disepakati uang Rp 40 juta sebagai syarat membantu Rachel dan dua orang dekatnya.

Intan tidak keberatan. Kepada Ovelina, Intan mengatakan Rachel akan mentransfer uang tersebut ke rekening Ovelina. Intan lalu meminta Ovelina menghubungi Rachel dan memberi tahu bahwa dirinyalah yang akan membantu.

Rachel menghubungi Ovelina ketika tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Ovelina pun langsung memberi tahu Eko, dan Eko memberi tahu seorang anggota TNI AU yang juga anggota Satgas COVID-19 di Bandara, Fatha Satria Utama. Fatha membantu mereka sampai mereka menaiki bus Damri.

Duit Rp 40 juta dari Rachel ke Ovelina itu tersebar ke beberapa orang. Fatha menerima uang dari Ovelina melalui rekening adiknya bernama Kania Utami Handayani.

Proses Hukum Lanjutan

Pengadilan Negeri Tangerang telah memvonis bersalah Rachel, Salim, Maulida, dan Ovelina. Namun mereka tidak dikenai pasal suap. Mereka berempat hanya dinyatakan telah melanggar Undang-Undang tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Majelis hakim menjatuhkan hukuman percobaan empat bulan kepada mereka. Artinya, mereka tidak dipenjara.

Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Boyamin Saiman menilai proses hukum terhadap mereka janggal. Menurut Boyamin, seharusnya polisi—dalam hal ini Polda Metro Jaya—memproses empat orang itu dengan menggunakan pasal suap pada saat penyidikan.

Itu sebabnya, Boyamin melaporkan mereka ke Bareskrim Polri, Selasa, 21 Desember 2021. Dengan membawa beberapa dokumen sebagai bukti, ia melaporkan Rachel Vennya dengan tuduhan telah memberikan suap.

“Kaitannya dengan dugaan pungutan liar atau suap, karena Polda tidak memproses itu,” kata dia kepada reporter detikX pekan lalu.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Tubagus Ade Hidayat tidak menjawab permintaan wawancara detikX terkait hal ini. Sementara itu, Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Banten Ivan Siahaan mengatakan jaksa tidak mendakwakan pasal suap kepada mereka karena polisi tidak memproses aspek itu.

Sedangkan dua tentara yang terlibat dalam kasus Rachel Vennya, Wira dan Fatha, saat ini sedang menjalani proses hukum di Polisi Militer TNI Angkatan Udara. Keduanya telah berstatus sebagai tersangka.

Penyidik POM TNI AU menilai keduanya diduga bersalah karena tidak taat perintah dinas dalam perkara Rachel. Wira dan Fatha dikenai Pasal 103 KUHPM.

"Sampai saat ini proses penyidikan oleh POM TNI AU masih terus berlangsung dan, bila berkas pemeriksaan lengkap, selanjutnya diserahkan kepada Oditurat Militer Jakarta," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU Indan Gilang Buldansyah pekan lalu.

Gilang menjelaskan Fatha ditahan di rumah tahanan militer Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Sedangkan Wira dalam waktu dekat akan menyusul, menunggu surat penyerahan perkara dari atasan yang berhak menghukumnya, Danwing I Paskhas.

Rachel Vennya saat memenuhi pemeriksaan sebagai tersangka kasus kabur karantina.
Foto : Yogi Ernes/detikcom

Bukan yang Pertama

Rachel Vennya lari dari proses karantina karena terinspirasi dari orang lain. Dia meminta pertolongan kepada temannya, Intan Marialianita. Sebab, sebelumnya, ia mendapat informasi dari akun media sosial Intan bahwa seseorang dari luar negeri pulang ke Indonesia tanpa melalui karantina.

Ketua Pusat Studi Migrasi Migrant Care Anis Hidayah menyebut kasus Rachel memang bukan yang pertama. Ibarat puncak gunung es, menurutnya, kasus Rachel hanyalah bagian kecil dari sebuah praktik besar ‘mafia karantina’.

“Perilaku koruptif, pungli, yang jadi watak birokrasi kita, masih bertahan sampai saat ini. Apalagi Satgas COVID-19, dalam evaluasinya selama ini, tidak pernah melibatkan pihak luar yang memang memberi perhatian pada isu ini,” kata Anis kepada reporter detikX pekan lalu.

Anis menjelaskan Migrant Care belum lama ini mendapatkan laporan serupa kasus Rachel. Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang pulang dari Hong Kong dimintai uang Rp 4 juta agar tidak perlu karantina.

Setelah membayar, PMI itu langsung dicarikan transportasi ke daerah asalnya oleh Satgas COVID-19, tetapi paspornya ditahan. Namun, setelah mendapat pendampingan Migrant Care, paspor tersebut sudah dikembalikan.

“Dia lapor ke kita agar paspornya bisa diambil. Jadi, dia bilang, banyak temannya mengalami hal seperti itu. Di Bandara sudah diarahkan, nanti bisa tanpa karantina tapi membayar,” ujarnya.

Kendati demikian, tak banyak PMI yang mau melaporkan kejadian itu. Sebab, kata Anis, mereka takut dikriminalisasi.


Reporter: Rani Rahayu, May Rahmadi
Penulis: May Rahmadi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE