INVESTIGASI

Nyanyi Sunyi Santriwati Korban Pemerkosaan

Tim detikX menjumpai para korban pemerkosaan Herry Wirawan di sebuah vila di bilangan Lembang, Bandung. Di sana getir trauma masih terasa. Salah satu orang tua korban menangis dan kecewa karena jaksa hanya mendakwa Herry dengan hukuman ringan.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Rabu, 22 Desember 2021

Entakan musik terdengar meriah dari dalam aula sebuah vila di kawasan Lembang, Bandung. Malam itu, Rabu, 15 Desember 2021, para santriwati korban pemerkosaan Herry Wirawan, pemimpin Madani Boarding School, berkumpul untuk proses pemulihan trauma. detikX berkesempatan menjumpai mereka.

Hari itu Bandung didera hujan deras sejak sore. Udara malam di dataran tinggi Lembang menjadi sangat dingin. Namun, di dalam aula tempat para santriwati yang masih berusia remaja itu berkumpul, dinginnya malam menjadi tidak begitu terasa. Senda gurau mereka membuat malam yang dingin menjadi hangat.

Yudi Kurnia, pengacara korban pemerkosaan yang dilakukan Herry Wirawan.
Foto : Isfari Hikmat/detikcom


Karena mereka masih anak-anak dan dalam kondisi trauma. Bagaimana nanti kalau anak-anaknya sudah besar, bagaimana nanti mereka bicara dengan anak-anaknya soal siapa bapaknya, misalnya. Ini yang saya juga khawatir.”

Mereka bernyanyi, berjoget, dan tertawa. Mereka berupaya melupakan kejadian buruk yang menimpa pada masa lalu. Sebagian santriwati lainnya bermain dengan anak-anak mereka yang masih berusia satu hingga tiga tahun. Anak-anak itu lahir akibat pemerkosaan yang dilakukan guru mereka sendiri, yaitu Herry.

Itulah mengapa, meski suasana di aula terlihat ceria, kegetiran bayang-bayang masa lalu dari mata mereka masih begitu terasa. Psikolog korban Yuli Suliswidiawati mengatakan para korban masih dalam kondisi trauma berat. Hasil asesmen psikologis dengan metode deep psych tapping technique (DEPTH) yang dilakukan Yuli memperlihatkan korban masih terus merasa jijik ketika melihat wajah Herry.

“Saya melihat sekali mereka marah, mereka menolak, mereka jijik, dan yang paling parah, saat itu mereka dalam kondisi tidak berdaya,” tutur Yuli kepada reporter detikX saat dijumpai di Lembang, Bandung, Rabu, 13 Desember 2021.

Trauma ini, sambung Yuli, bakal berdampak terhadap kesehatan mental para korban pada masa depan. Jika tidak disembuhkan, mereka boleh jadi bakal membenci laki-laki, siapa pun orangnya. Bahkan mungkin, mereka bakal balas dendam kepada laki-laki. Parahnya lagi, kondisi mental akibat trauma ini juga bisa berdampak pada nasib anak-anak yang telah mereka lahirkan.

“Karena mereka masih anak-anak dan dalam kondisi trauma. Bagaimana nanti kalau anak-anaknya sudah besar, bagaimana nanti mereka bicara dengan anak-anaknya soal siapa bapaknya, misalnya. Ini yang saya juga khawatir,” ujarnya.

Selain pada korban, kondisi trauma turut dialami orang tua para santriwati itu. Salah satu orang tau santriwati Sutinah—bukan nama sebenarnya—mengaku masih tidak percaya bahwa kejadian ini nyata. Dia tidak menyangka Herry Wirawan, yang merupakan saudaranya sendiri, ternyata memperkosa anaknya berkali-kali.

Kuasa hukum santriwati dilarang masuk ruang sidang Herry Wirawan.
Foto : Wisma Putra/detikcom

Sutinah masih ingat betul pada 2016, ketika salah seorang kerabat dekat memintanya menyekolahkan anaknya di pesantren milik Herry. Waktu itu, ia dijanjikan anaknya bakal dibiayai hidupnya sampai jenjang pendidikan tinggi. Awalnya Sutinah tak mau, tetapi pada akhirnya ia mengiyakan karena saudaranya itu meyakinkannya berkali-kali. Apalagi ia juga kenal Herry Wirawan sebagai sosok ustaz yang berpendidikan.

“Kan dia mah udah ke Mekah segala. Si nu gelo eta (si orang gila itu). Masa saya nggak percaya. Sudah jadi ustaz, kan kayaknya lugu gitu,” ungkap Sutinah kepada detikX pekan lalu.

Saat itu, kata Sutinah, usia anaknya masih 12 tahun. Masih kelas V sekolah dasar. Dia anak bungsu dari lima bersaudara dan termasuk yang paling cerdas. Anaknya itu selalu mendapat juara pertama di kelas.

Sebagai seorang buruh tani, bagi Sutinah, memiliki anak berprestasi adalah sebuah berkah. Apalagi anaknya ini selalu bilang ingin menjadi perawat. Harapan Sutinah melambung bersama cita-cita anak bungsunya.

Namun ia sadar, penghasilannya sebagai buruh tani begitu rendah. Begitu pula penghasilan suaminya sebagai pedagang keliling buku kitab di Jakarta. Mereka merasa tak mampu menyekolahkan anaknya sampai menjadi perawat.

Kalau dihitung, rata-rata penghasilan Sutinah hanya Rp 500 ribu per bulan. Sedangkan suaminya hanya bisa memberi uang tambahan seadanya. Terbesar pernah sampai Rp 2 juta, tapi kadang juga tak ada sama sekali.

Faktor lainnya, di wilayah tempat tinggal Sutinah dan keluarga, sekolah jenjang menengah pertama (SMP) masih sulit diakses. Jarak SMP terdekat dari rumahnya sekitar 12 kilometer. Di kampung itu, hanya orang-orang yang memiliki sepeda motor yang bisa menyekolahkan anaknya sampai SMP. Sedangkan Sutinah dan keluarga tidak punya kendaraan sama sekali.

Makanya, ketika mendapat tawaran sekolah gratis hingga lulus kuliah bagi anaknya, sulit bagi Sutinah untuk menolaknya. Waktu itu, ia berharap, dengan bersekolah di Madani Boarding School milik Herry, anaknya bisa menggapai cita-cita yang diimpikan. Namun sayangnya, semua mimpi itu sirna ketika pada pertengahan Mei lalu ia diberi tahu bahwa anaknya telah diperkosa oleh Herry.

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Livia Istiana Iskandar.
Foto : Detikcom Free Watermark

Sutinah dan anaknya mengalami trauma berat atas kelakuan bejat Herry itu. Orang-orang di kampungnya bahkan sampai mengasingkan dia dan anaknya. Penyebabnya, mereka tahu Sutinah masih memiliki hubungan keluarga dengan Herry. Beberapa anak di kampung tempat Sutinah tinggal juga diperkosa oleh Herry.

“Jadi saya yang disemprot. Jadi sakitnya saya mah berlipat,” kata Sutinah sembari mengusap air mata yang menetes di pipinya.

Asisten Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Jawa Barat Riyono mengatakan total ada 13 santriwati yang menjadi korban pemerkosaan Herry. Delapan di antara para santriwati itu telah melahirkan anak. Satu di antaranya ada yang sampai melahirkan dua kali. Total ada sembilan anak yang lahir akibat aksi bejat Herry Wirawan.

Kasus pemerkosaan itu telah disidangkan di Pengadilan Negeri Bandung. Sidang sudah dilakukan enam kali sejak November hingga sekarang. Dalam surat dakwaan yang detikX terima, jaksa hanya mendakwa Herry dengan Pasal 81 ayat (1) dan (3) juncto Pasal 76D UU 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP. Dalam ketentuan pasal tersebut, ancaman hukuman maksimalnya hanya 20 tahun penjara.

Salah satu orang tua korban, Abdi—bukan nama sebenarnya—menyesalkan dakwaan jaksa yang terlalu ringan. Menurut Abdi, hukuman 20 tahun bagi Herry tidak sebanding dengan rasa sakit yang dia rasakan.

“Sakitnya saya ini seumur hidup. (Harapannya) agar predator ini bisa dikebiri, jangan hanya 15 tahun atau 20 tahun,” tegas Abdi kepada detikX dengan suara yang bergetar lantaran kesal dan trauma yang membayangi.

Dakwaan jaksa memang lebih ringan dibandingkan tuntutan para korban. Dalam surat laporan kepolisian bernomor LPB/480/V/2021/Jabar yang salinannya detikX dapatkan, para orang tua korban melaporkan pemerkosaan yang menimpa anaknya dengan dugaan pelanggaran Pasal 81 dan 82 UU 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perpu Nomor 01 Tahun 2016 tentang Perubahan Ke-2 UU 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 289 KUHP.

Dalam perubahan terbaru UU Perlindungan anak itu, bobot hukuman di Pasal 81A dan Pasal 82 telah diubah menjadi lebih berat. Salah satu beleidnya menyebut pelaku pencabulan anak dapat dihukum kebiri kimia atau maksimal hukuman mati. Syaratnya, korban lebih dari satu atau korban mengalami luka berat, sakit jiwa, dan terganggu fungsi reproduksinya.

“Dan si Herry ini kan korbannya sudah lebih dari dua. Jadi seharusnya dia sudah layak mendapat hukuman yang disesuaikan dengan perubahan terbaru itu,” kata pengacara korban Yudi Kurnia kepada reporter detikX saat ditemui di sebuah kafe di wilayah Garut, Kamis, 14 Desember 2021.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Susanto juga berharap penegak hukum memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku. Menurut Susanto, Pasal UU 17 Tahun 2016 lebih tepat digunakan karena korban Herry Wirawan lebih dari satu.

“Apalagi yang bersangkutan oknum guru. Di dalam UU itu diatur, kalau pelakunya guru, orang tua, pengasuh, aparat yang bekerja di perlindungan anak, itu memang pidananya ditambah sepertiga,” ungkap Susanto kepada reporter detikX di salah satu hotel di Kota Bandung, Selasa, 14 Desember 2021.

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Livia Istiana Iskandar juga mendorong agar penegak hukum menerapkan pasal berlapis kepada Herry Wirawan. Pasalnya, di luar dugaan pemerkosaannya, Herry juga diduga memanfaatkan para anak didiknya untuk mendapatkan sumbangan dari pemerintah dan donatur. Herry diduga juga menyalahgunakan dana Bantuan Operasional Sekolah dan Program Indonesia Pintar untuk urusan pribadinya.

Selain itu, kini LPSK tengah mengupayakan penuntutan restitusi alias ganti rugi dari Herry Wirawan kepada para korban. Anggota LPSK Abdanev Jopa mengatakan nilai ganti ruginya diperkirakan Rp 350 juta. Nilai ini bakal dibagikan kepada 12 korban yang ada dalam perlindungan LPSK. Namun salah satu korban lainnya tidak masuk dalam perlindungan LPSK lantaran orang tuanya menolak.

“Soal restitusi sih, dia (Herry) bilang punya iktikad untuk membayar. Tapi masalah teknisnya dan lain-lain, nanti di pengadilan,” pungkas Abdanev.

Ira Mambo, pengacara Herry, menuturkan setiap keterangan saksi dalam persidangan, tentu dikonfrontir ke kliennya. Namun, ia tak bisa menjelaskan Herry membantah atau tidak. "Masih belum bisa kami sebutkan saat ini karena nanti konotasinya akan berbeda ketika ditangkap khalayak ramai," kata Ira kepada reporter detikX.


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Syailendra Hafiz Wiratama
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE