INVESTIGASI

Limbah Paracetamol

Janggal Sanksi Pabrik Pencemar Paracetamol

PT Bison, yang dituding DLH DKI Jakarta mencemarkan paracetamol, membantah. Mereka mengklaim tak pernah memproduksi paracetamol. Sejauh ini belum ada data hasil laboratorium yang menunjukkan, ada kandungan paracetamol di IPAL PT Bison.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 29 November 2021

Air di muara sungai Angke dan Ancol, Teluk Jakarta, terdeteksi mengandung paracetamol. Perusahaan yang dituding menjadi biang pencemaran ini ternyata belum bisa dipastikan membuang limbah paracetamol. Namun Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta sudah menjatuhkan sanksi administratif.

Geger kandungan paracetamol ini bermula dari riset yang dimuat di jurnal Marine Pollution Bulletin edisi 169 tahun 2021. Judulnya ‘High concentrations of paracetamol in effluent dominated waters of Jakarta Bay, Indonesia’. Para penelitinya Wulan Koagouw, Zainal Arifin, George WJ Olivier, dan Corina Ciocan.

Berdasarkan sampling yang diambil pada 2017 dan 2018, ternyata ditemukan kontaminasi paracetamol. Di antaranya, di muara Sungai Angke 610 ng/L dan muara Sungai Ancol 420 ng/L. Di Indonesia sendiri, tak ada standar baku mutu paracetamol. Namun kandungan di dua titik itu melebihi temuan di perairan Teluk Santos, Brasil, (34,6 ng/L) dan muara perairan Sydney, Australia (67 ng/L).

Atas dasar temuan itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memerintahkan bawahannya bertindak. Temuan DLH DKI Jakarta dari hasil uji laboratorium, ditemukan 222,77 ng/L kandungan paracetamol di Dermaga Angke dan 258,50 ng/L di Dermaga Ancol, Marina. Ini ada selisih sekitar 387.23 ng/L dan 161.5 ng/L dari temuan Wulan Koagouw.

DLH DKI Jakarta lantas memeriksa 38 perusahaan farmasi di seluruh Jakarta. Hasilnya, ditemukan dua perusahaan, yaitu PT MEF dan PT B, yang mereka tuding mencemari lautan Jakarta.

Outlet IPAL PT Bison. Jakarta Utara. 26 November 2021.
Foto : Rani Rahayu/detikX


Pada titik outlet limbah mereka ditemukan banyak sekali kandungan paracetamol. Dan dari sisi lingkungan hidup, banyak sekali yang melampaui baku mutu.”

detikX melakukan penelusuran, ternyata salah satu dari dua perusahaan tersebut adalah PT Bison. Dari hasil verifikasi lapangan DLH DKI Jakarta per 5 Oktober, PT Bison belum memiliki izin pembuangan air limbah ke lingkungan. Ditambah lagi, berdasarkan dokumen hasil uji laboratorium lingkungan hidup daerah DLH DKI Jakarta yang detikX dapatkan, parameter chemical oxygen demand (COD) di lokasi outlet PT Bison sebesar 160 mg/L dan dinyatakan melewati baku mutu.

Dalam dokumen lain berupa hasil uji laboratorium yang dilakukan DLH DKI Jakarta yang detikX dapatkan, parameter inlet instalasi pengolahan air limbah (IPAL) PT Bison melebihi baku mutu, yaitu 104 mg/L. Sedangkan parameter pH, biological oxygen demand, dan fenol masih di bawah baku mutu.

Meski sejauh ini belum ada satu pun temuan kandungan paracetamol dari hasil uji laboratorium, Kepala Bidang Pengawasan dan Penataan Hukum DLH DKI Jakarta Dedy Setiono mengklaim hal yang berbeda.

“Pada titik outlet limbah mereka ditemukan banyak sekali kandungan paracetamol. Dan dari sisi lingkungan hidup, banyak sekali yang melampaui baku mutu,” ujar Dedy Setiono pekan lalu kepada reporter detikX. Namun Dedy mengakui, tak ada data terkait kandungan paracetamol yang disertakan dalam surat sanksi ke PT Bison.

Dedy menuturkan limbah dari IPAL outlet PT Bison diendapkan ke dalam tanah. Ini tak sesuai dengan standar. Dia juga bingung, kandungan paracetamol muncul dari mana. Sebab, PT Bison hanya memproduksi obat-obatan luar.

"Saya nggak ngerti mereka kan produksi salep, tapi kok ada paracetamol di dalamnya, itu yang perlu didalami,” tuturnya.

Akhirnya, pada 29 Oktober, DLH DKI Jakarta menjatuhkan sanksi administratif kepada PT Bison. Ini melalui Keputusan DLH 671/2021 tentang Penerapan Sanksi Administratif Paksaan Pemerintah. PT Bison diminta melakukan pengurusan persetujuan lingkungan dan teknis pembuangan air limbah untuk IPAL produksi serta domestik paling lambat 90 hari kerja. Selebihnya, DLH DKI Jakarta menolak memberikan detail kedua SK ini.

“Kami belum menemukan perusahaan lain lagi. Ada suspect satu lagi di Kelapa Gading, tapi dia pengemasan ya, bukan produksi,” ujarnya.

Bak Resapan 3 Outlet IPAL. Jakarta Utara. 26 November 2021.
Foto : Rani Rahayu/detikX

Tim detikX kemudian menyambangi PT Bison dan PT MEF. Keduanya sama-sama berlokasi di Jalan Raya Kapuk Kamal, Jakarta Utara. Manajer Penanggung Jawab Lingkungan PT Bison Dicky Darmali mengaku bingung musabab pemerintah menyasar perusahaannya. Sebab, sejak 1988 PT Bison berdiri, tak pernah sekali pun memproduksi paracetamol.

“Kami produksi paracetamol saja nggak, bagaimana cara kami mencemarkan paracetamol?” ujar Dicky kepada reporter detikX.

Produk yang PT Bison pasarkan hanyalah obat-obatan luar, seperti minyak gosok, obat gatal, dan mentol inhaler. Namun, kata Dicky, perusahaan keluarganya itu dulu memang pernah memproduksi obat minum, seperti obat cacing, multivitamin, dan sirop obat batuk. Tetapi tidak ada yang mengandung paracetamol, lagi pula sudah lebih dari satu dekade PT Bison hanya berfokus pada produksi obat kuasi saja.

Sebelumnya, 5 Oktober lalu, DLH DKI Jakarta didampingi polisi memeriksa PT Bison. Dicky menjelaskan saat itu PT Bison memang tidak mengantongi izin karena sedang dalam proses pengurusan perizinan. Oleh karena itu, DLH DKI Jakarta merekomendasikan agar PT Bison menutup saluran IPAL.

Dicky mengklaim tak ada yang salah dengan air limbah PT Bison karena dalam komposisi produknya tak membutuhkan banyak air. Air hanya dibutuhkan untuk membersihkan alat-alat bekas produksi.

“Kami produksi hanya empat hari dalam sebulan. Air limbah kami dikit banget, makanya nggak perlu dibuang ke saluran umum pembuangan. Kami tampung di bak kami untuk pelihara ikan,” katanya.

PT Bison juga menunjukkan hasil uji Labkesda terhadap limbahnya. Isinya, memenuhi baku mutu.

“DLH bilang kok sama kami, kami bebas paracetamol dan hasil labnya bagus. Tetapi kami juga sebenarnya bingung mau menerjemahkan perintah mereka gimana, karena nggak ada penjelasan lebih lanjut,” keluhnya.

Dari hasil pemantauan detikX di lapangan pada Jumat, 26 November 2021, filter inlet dan outlet IPAL PT Bison telah ditutup. Ini sesuai dengan rekomendasi DLH DKI Jakarta. Namun memang tak ada yang janggal di bak pembuangan outlet IPAL PT Bison. Meski airnya keruh, baunya seperti kopi, bahkan ikan-ikan peliharaan PT Bison hidup di bak tersebut.

detikX telah berupaya mengkonfirmasi terhadap perusahaan lain, yaitu PT MEF. Kami telah menghubungi PT MEF melalui telepon, menyurati, bahkan datang langsung ke industri farmasi yang memang menjual paracetamol ini. Namun surat permohonan wawancara kami malah dikembalikan. 

“Atasan kami menolak untuk berkomentar soal isu ini,” ujar personel satpam PT MEF kepada reporter detikX. Informasi terbaru yang detikX dapatkan, hari ini DLH DKI Jakarta telah menutup paksa saluran outlet ait limbah PT MEF.

Sedangkan penelitian lainnya terkait paracetamol ini dilakukan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta pada 7 Oktober 2021. Dari hasil uji laboratorium, tidak ditemukan kandungan paracetamol dalam ikan, kepiting, udang, dan kerang. Detailnya di Kali Adem, Muara Angke: ikan samge kecil, udang, ikan grote, ikan petek, ikan tembang, dan ikan kapasan. Kemudian di intake Pantai Ancol: kepiting serta kerang hijau kecil dan besar.


Reporter: May Rahmadi, Fajar Yusuf Rasdianto, Rani Rahayu
Penulis: Rani Rahayu
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE