INVESTIGASI

Ayah Korban: Kenapa Dia Tega?

Kasus yang melibatkan mantan Kapolsek Parigi ditangani dengan sigap oleh Polda Sulawesi Tengah. Ayah korban samar mendengar kabar ini. Sedangkan terduga pelaku membantah tudingan yang diarahkan kepadanya.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 27 Oktober 2021

Sudah 105 hari atau sekitar 3,5 bulan Dadu—bukan nama sebenarnya—mendekam di balik jeruji besi Polsek Parigi. Samar, ia mendengar kabar anak perempuannya, Dei—bukan nama sebenarnya—yang berdasarkan dugaan Komnas Perempuan, diduga diperkosa Kapolsek Parigi Iptu I Dewa Gede Nurate. Dia belum betul-betul percaya apa yang didengarnya. Sebab, belum ada yang bercerita secara terang kepadanya.

“Saya sendiri belum tahu kronologinya seperti apa. Sebab, saya di dalam penjara,” ungkap Dadu.

Di luar sana, Nurate memberondong Dei dengan janji palsu pembebasan ayahnya asalkan Dei mau disetubuhi. Korban tetap menolak, tapi Nurate memaksa dengan cara membuka baju Dei. Peristiwa itu terasa jauh dan tak bisa diawasi oleh Dadu.

“Kenapa dia (Nurate) tega?” kata Dadu lirih sembari terus mengelus dada. “Dia kan tahu hukum.”

Ayah korban dugaan perkosaan oleh Kapolsek Parigi
Foto: M Qadri/detikcom

“Kalau rakyat biasa melakukan itu, habis dihajar habis-habisan. Tapi kalau dia, tidak mungkin kita masyarakat ini mau hajar,” imbuhnya.

Kalau rakyat biasa melakukan itu, habis dihajar habis-habisan. Tapi kalau dia, tidak mungkin kita masyarakat ini mau hajar.”

Dadu mengaku sempat bersiasat untuk menyogok jaksa agar hukumannya diringankan. Dia tidak meminta uang kepada siapa pun. Dia mendapatkan dana dari hasil menjual dua sapi peliharaannya. Namun ini tak ada hubungannya dengan kepolisian. Sebab, kasusnya sudah di ranah kejaksaan. Pada akhirnya Dadu mengurungkan sendiri niatnya.

“Itu saya usaha sendiri. Saya menjual sapi saya untuk membayar. Tidak ada paksaan saya minta uang,” tuturnya.

Dadu menuturkan betapa sakit hati dia terhadap kelakuan Nurate. Menurutnya, Nurate sebagai penegak hukum seharusnya mengayomi masyarakat. Bukan malah memanfaatkan jabatan demi memuaskan hasrat seksualnya.

Sehari sebelum Nurate dibebastugaskan dari institusi Polri pada 16 Oktober, Dadu menerima tuntutan jaksa. Dadu dituntut menjalani 1 tahun 6 bulan kurungan penjara. Dia dijerat dengan Pasal 363 Ayat (1) ke-1 dan ke-4 KUHP.

Dadu harus bertanggung jawab atas tindakannya. Berdasarkan surat dakwaan, ia dan dua rekannya mencuri dua ekor sapi yang diikat di kebun pemiliknya tanpa pengawasan. Peristiwa itu terjadi pada 18 Agustus tahun lalu, pada sore hari.

Dadu mendekati sapi-sapi itu dan melepas ikatan seekor sapi yang diketahui belakangan merupakan milik Nazar—bukan nama sebenarnya. Begitu pula dengan rekan Dadu, yang melepas ikatan seekor sapi lainnya. Keduanya kemudian sama-sama menelusuri area perkebunan untuk membawa kabur sapi-sapi itu.

Kapolda Sulawesi Tengah, Irjen Rudy Sufahriadi
Foto: M Qadri/detikcom

Seorang kawan Dadu lainnya menunggu dengan mobil pikap putih berjenama Suzuki. Kedua sapi yang digondol Dadu dan kawannya itu langsung dibawa kabur dengan mobil pikap itu. Sejak awal, rekannya itulah yang meminta tolong kepadanya untuk mencuri sapi. Rekannya itu mengaku butuh uang untuk membayar utang. Dadu dan satu rekan lainnya pun akhirnya pulang ke rumah hanya dengan berjalan kaki.

“Setelah itu, kami tidak tahu itu sapi tersebut dibawa ke mana,” jelas Dadu kepada detikX saat ditemui di sel tahanan.

Sekitar pukul 20.00 Wita, Nazar datang ke kebun miliknya. Saat itu pula dia menyadari satu sapi betina miliknya dan satu sapi jantan milik tetangganya telah hilang. Kebetulan saja tetangganya itu tengah menitipkan sapi miliknya di sawah Nazar. Keduanya pun melaporkan kejadian itu ke kepolisian.

Sembari menunggu kabar dari aparatur hukum, Nazar berinisiatif mencari saksi-saksi yang bisa menunjukkan siapa pencuri ternak miliknya. Benar saja, seorang ibu yang tidak disebutkan namanya mengaku melihat sapi ternak Nazar dicuri. Malam itu dia melihat mobil pikap berwarna putih masuk ke kebun Nazar. Saat masuk, mobil pikap itu tidak membawa apa-apa. Tetapi, ketika mobil pikap itu keluar, ada dua sapi berdiri di bak mobil. Sayangnya, kesaksian ibu itu tidak cukup untuk menunjukkan siapa pencuri ternak milik Nazar.

Tiga pekan berlalu setelah hari itu, saat Nazar berada di sebuah tempat pencucian motor di Kelurahan Sampai, Parigi, seorang rekannya tiba-tiba saja menghampiri Nazar. Rekannya itu kemudian berbisik kepadanya.

“Sudah tahu yang ambil sapinya Ustaz?” tutur rekan Nazar sebagaimana dinukil dari notulensi sidang perkara yang menjerat Dadu di Pengadilan Negeri Parigi.

Peta Sulawesi Tengah
Foto: Screenshoot

Rekan Nazar itu kemudian memberi tahu bahwa Dadu dan kawan-kawanlah yang mencuri sapi miliknya. Nazar bergegas menyambangi Dadu dan rekan-rekannya untuk mencari pembuktian. Awalnya, mereka tidak mau mengaku. Tetapi, setelah diajak bicara baik-baik oleh Nazar, mereka akhirnya mengaku juga.

Kini Dadu mendekam di penjara. Majelis hakim Pengadilan Negeri Parigi, pada 21 Oktober lalu, memvonisnya lebih rendah daripada tuntutan jaksa, yaitu 10 bulan kurungan penjara. Sementara itu, terkait Nurate, kasusnya ditangani dengan sigap oleh Polda Sulawesi Tengah. Nurate juga membantah semua tudingan yang diarahkan kepadanya, kecuali soal chat dengan korban.


Reporter: Mohammad Qadri (kontributor Sulteng), Fajar Yusuf Rasdianto, Syailendra Hafiz Wiratama
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE