INVESTIGASI

Buwas: Bulog Komitmen Produksi Beras Berkualitas 

“Bulog sekarang sudah membuat SOP bagaimana penyaluran beras Bulog kepada masyarakat ditambah kita membangun pakta integritas ke internal.”

Ilustrasi : Fuad Hashim

Selasa, 17 Agustus 2021

Seragam Pramuka masih membalut badan Direktur Umum Perum Bulog Komjen (Purn) Budi Waseso saat detikX menemuinya, Sabtu, 14 Agustus 2021. Pria yang akrab disapa Buwas ini baru saja memimpin upacara Hari Jadi Pramuka ke-60 di Taman Rekreasi Wiladatika Cibubur, Depok, Jawa Barat. Maklum, Buwas adalah Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

detikX berupaya mengkonfirmasi Buwas terkait banyaknya laporan beras bansos berkualitas buruk di masyarakat. Sebelumnya, beras tak layak konsumsi dikeluhkan oleh sejumlah warga di berbagai wilayah. Penerima beras bansos dari Bulog di Pandeglang, Banten, misalnya, mengaku beras yang diterima menggumpal seperti batu dan berbau. Kejadian serupa juga dialami oleh 19 warga Desa Kedungrejo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Apa tanggapan Buwas mengenai kualitas beras bansor yang disalurkan kepada masyarakat dalam rangka pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) tersebut? Berikut ini wawancara reporter Fajar Yusuf Rasdianto dengan Buwas di Taman Rekreasi Wiladatika selengkapnya.

Bagaimana awal mula proyek 28,8 juta keluarga penerima manfaat (KPM) sampai ke Bulog?

Terkait dengan penanganan pandemi COVID-19, Bulog mendapatkan penugasan melalui program Kementerian Sosial. Melalui rapat kabinet yang dipimpin langsung oleh Presiden. Presiden membuat program itu (bansos) kepada 28,8 juta KPM (keluarga penerima manfaat). Pertama itu (disalurkan) untuk 20 juta dulu, baru berikutnya 8,8 juta. Bulog ditugaskan untuk menyalurkan beras pemerintah karena cadangan beras pemerintah (CBP) memang di Bulog. Sebelum ada perintah, beras Bulog CBP jumlahnya hampir 1,5 juta ton.

Berarti kan (upaya) kita sudah maksimal. Sekitar 280 ribu ton itu dari 1,5 juta artinya masih tersisa cadangan 1,2 juta ton. Kita sesuaikan dengan perintah negara. CBP itu stok untuk kejadian emergency. Itulah akhirnya masuk perintah ke kita untuk menstabilisasi harga di petani dan di konsumen. 

Berapa harga per kilogram bera CBP yang diserap oleh Bulog?

Itu ditentukan oleh negara. Kering panen itu Rp 4.000, kering giling Rp 4.500, dan kalau beras Rp 8.300

Berapa margin keuntungan yang didapatkan Bulog dari penyaluran beras tersebut?

Bulog ini tidak komersial. (Penyaluran) beras ini tidak ada komisi untuk Bulog, karena ini berasnya pemerintah. Jadi kita tidak jualan, tapi kita menyalurkan. Nanti kan diaudit oleh BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) dan BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) karena uangnya itu dipinjam dulu dari bank, maka Kementerian Keuangan melalui Kemensos itu mengganti biaya itu semua. Jadi kita nggak ada margin-margin. Yang tanggung jawab negara.

Beras bansos Bulog yang ditemukan di Angke, Tambora, Jakarta Barat (Foto: Fajar Yusuf Rasdianto/detikX)

Artinya, dana Rp 3,5 triliun itu hanya disiapkan, dan belum disalurkan?

Iya. Menteri Keuangan menyiapkan dana Rp 3,5 triliun untuk kegiatan ini. Tapi kan nanti hasil auditnya (dilihat) menghabiskan berapa? Kita tidak mengada-ada. Harga itu ditentukan oleh pemerintah. Jadi nggak bisa bayar lebih, terus kemudian main di bawah, nggak bisa.

Beras yang akhirnya dikirim kepada 28,8 juta KPM itu stok sejak kapan?

Itu stok baru. Tidak ada beras lama. Stok tahun 2020 saja tidak ada. Kecepatan dalam pendistribusian, saya memanfaatkan beras-beras yang masih ada di mitra-mitra kita. Seperti di Pandeglang, beras kita belum sempat kita tarik dari gudang, itu baru pengadaan di mitra.  Sudahlah, digiling saja yang ada di mitra. Itu kan masih berupa gabah. Di proses itu, mereka menggiling padi tidak melalui (proses) rice to rice karena baru dari gabah langsung dibuat beras. Yang rice to rice yang ada di gudang Bulog.

Kalau yang di Pandeglang itu tidak melalui rice to rice artinya secara kualitas beras yang sampai ke KPM itu tadi boleh dikatakan memang kurang baik?

Tidak bisa, itu bagus. Kan mesinnya standar. Dilihat (langsung prosesnya) sama Menteri PMK (Menteri Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy). Itu kan (yang mengoperasikan)  mitra. Kita menjadikan mitra mesti punya standardisasi. Rice to rice  itu yang kita simpan dari karung sudah dalam bentuk beras. Kalau itu kan gabah. Maka, ketika diproses menjadi beras, sangat bagus (kualitasnya). Itu beras baru. 

Kejadian beras buruk yang diterima warga bagaimana ceritanya?

Coba dicek Menteri PMK sendiri kan turun, Kemensos juga, BPKP mendampingi dari awal (sejak) dari mitra transportasinya. Artinya sudah ada pengawasannya. Itu ada 464 paket yang didrop di Kelurahan Pandeglang, gudang di desa itu bocor.

Kami ke Petamburan, Muara Angke. Sekitar 20 keluarga mengeluh berasnya menggumpal. Terus kami ngobrol dengan tukang angkut truknya bilang bahwa truknya sudah berbau seperti kencing tikus. Bagaimana tanggapan Anda?

Itu nggak mungkin. Percaya sama saya. Dari mana bau air kencing tikus? Udah pernah lihat prosesnya? Rice to rice? Itu kutu, bahkan telur saja, nggak mungkin. Karena melalui delapan tahapan. Mau ada perubahan warna juga pasti terlempar. Maka sangatlah tidak mungkin. Hanya, kita waspadai ada kepentingan orang tertentu yang menginginkan citra Bulog jelek karena yang lalu (bansos) diberikan kepada kelompok-kelompok tertentu yang bisa menyuplai. Itu mereka tentunya mendapatkan keuntungan. Sekarang Mensos bisa saja menunjuk siapa saja karena BPNT (Bahan Pangan Non-Tunai) itu tak lagi kepada Bulog. Program ini (bansos) Presiden menunjuk Bulog untuk mempersiapkan. Tentunya orang-orang yang dulu biasa dapet jadi nggak dapet. Nah, makanya dicari kesalahan Bulog supaya image Bulog negatif, masyarakat nggak mau nerima lagi beras Bulog. Bantuan pemerintah nggak mau ke Bulog lagi, itu saja intinya.

Kalau benar-benar mau menyikapi, itu bisa saya pidanakan, berita bohong, bisa saja. Ada orang atau oknum yang memviralkan, kan bisa ditelusuri. Dan kemarin beras yang dibilang jelek itu saya ambil, saya periksa ke laboratorium. Apakah betul itu beras dari Bulog karena kan satu pintu. Kita tidak serta-merta mengganti, kita harus cek kebenaran dan memikirkan jika ada indikasi permainan orang yang ingin menjatuhkan Bulog.

Sudah dilaporkan pihak Kepolisian?

Polisi sudah turun. Kapolda Banten turun, Direktur Intel turun.

Berarti ada dugaan persaingan bisnis? 

Itu dari dulu sudah ada. Tahun 2020 ditemukan ada tiga hingga empat tempat beras yang ditukar. Kalau sekarang 264 sak , apakah 3 sak yang ditemukan identik dengan 264 sak yang lainnya? Kan tidak. 

Uji pemeriksaan beras bansos Bulog (Foto: Fajar Yusuf Rasdianto/detikX)

Contoh di Petamburan tanggal 5 Agustus 2021 dimasukkan ke dalam truk, tanggal 5 Agustus 2021 masih diinapkan di Pos Indonesia, lalu tanggal 6 Agustus 2021 sudah diantarkan ke masyarakat. Tapi tanggal 6 Agustus 2021 ada laporan warga langsung ada beras yang menggumpal. Bagaimana tanggapan Anda?

Sudah ditangani oleh PT Pos bahwa penyebabnya tetesan air dan sudah diganti. Yang diterima dan ditumpuk oleh PT Pos tidak semua rusak.

Artinya yang di Petamburan tidak terjadi upaya oknum pebisnis?

Saya tidak bisa bicara seperti itu. Yang jelas, mekanisme produksi Bulog pada saat di transporter ada serah-terima dan berita acaranya. Sebenarnya, dalam kontrak, jika dinyatakan oleh transporter clear, sudah beralih tanggung jawabnya ke transporter. Seperti tadi berarti sudah alih tanggung jawab ke PT Pos hingga diterima ke alamat masyarakat.

Jadi yang mengganti beras itu PT Pos Indonesia atau Bulog?

PT Pos yang mengganti, tetapi meminta barang dari Bulog. Nanti hitung-hitungannya belakangan.

(detikX menunjukkan foto kondisi beras hitam menggumpal) Apakah benar beras seperti ini karena terkena air?

Iya. Tetesan air kan bisa saja bukan air bersih. Nanti, tenang saja, kan ada pemeriksaan laboratorium apakah benar beras Bulog. Seperti kejadian di Matraman itu bukan beras Bulog, lalu pelakunya telah ditangkap polisi. Jadi tidak tertutup kemungkinan ada oknum yang menukar. Walaupun karung Bulog, tapi bisa saja ditukar karena pembuatan karung saja mudah.

Apa pertimbangan Bulog dalam memilih PT Pos dan DNR?

Tidak ada pertimbangan. Pemilihan berdasarkan lelang, tapi ada syarat-syarat teknis bahwa pengiriman harus memiliki jaringan seluruh Indonesia serta sistem distribusi yang memiliki jaminan akan diterima oleh orang perorangan. Kalau harga (distribusi) rata-rata sama.

Kami lihat kondisi truk terbuka tapi atasnya ditutup terpal, apakah tidak mempengaruhi keamanan kualitas beras? 

Itu tanggung jawab transporter. Jika ada kelalaian, tanggung jawab transporter. Tapi kita tidak semena-mena lepas tangan. Kita tetap membantu untuk masalah hitung-hitungan belakangan. Yang penting kecepatan dalam penyaluran.

Bagaimana nasib sekitar 100 ribu ton beras impor dari Thailand yang sudah turun mutu? 

Sifat beras setiap empat bulan pasti turun mutu. Kita terus melakukan laporan secara rutin. Kan ada pengecekan oleh laboratorium. Maka, jika turun-turun terus, kita menyiapkan laporan apakah akan dijual murah atau diubah menjadi tepung. Nah, itu bukan kewenangan Bulog, itu  pemerintah yang menentukan. Jika ingin dijadikan tepung, nanti kita serahkan seperti ke Kementerian Perindustrian dengan jaringannya. Untuk sisa beras impor, kita laporkan saja sesuai kondisinya.

Beras bantuan Bulog di masa PPKM (Foto: Fajar Yusuf Rasdianto/detikX)

Beras yang sisa 100 ribu ton turun mutu, apakah sudah dilaporkan?

Sudah dilaporkan dalam rapat kabinet. Kita tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama lagi, makanya beras ada batas waktunya dan sudah diatur dalam peraturan Kemendagri.

Jika sesuai aturan kan selama 4 bulan harus sudah dilepas ke masyarakat, apakah beras dari Thailand masih bisa dimanfaatkan?

Tergantung hasil lab karena semua keputusan berdasarkan rekomendasi dari lab. Seperti jika ditemukan banyak kutu, kita laporkan, lalu difumigasi, lalu kita random test. Jika beras ada perubahan, kita olah jadi bagus lagi, dan yang jelek kita singkirkan. Nanti kita laporkan penyusutannya berapa.

Untuk yang akan datang katanya mau buat beras premium, ya? Berapa dana membangun infrastrukturnya?

Iya, untuk yang akan datang beras akan premium Rp 2 triliun.

Dengan tidak ada rastra tahun 2018, artinya seberapa besar pangsa pasar Bulog yang hilang?

Untuk distribusi beras kita kehilangan 2,6 juta ton. Tapi tidak ada masalah buat saya karena itu keputusan pemerintah.

Apakah tidak ada tuntutan dari pemerintah agar Bulog menguntungkan?

Tidak, kan kita perpanjangan tangan pemerintah untuk menjalankan misi pemerintah

Gudang Bulog berarti aman, ya? Tidak ada kemungkinan mutu berasnya kurang baik sampai ke transporter?

Insyaallah. Komitmen Bulog harus bisa melayani yang terbaik dengan produksi beras yang berkualitas. Oleh sebab itu, Bulog sekarang sudah membuat SOP bagaimana penyaluran beras Bulog kepada masyarakat ditambah kita membangun pakta integritas ke internal. Makanya saya tenang-tenang saja. Jadi, kalau ada oknum yang melakukan pelanggaran, konsekuensinya berat, dipecat dan langsung masuk dalam ranah hukum. 

Apakah ada evaluasi ke internal?

Oh, pasti. Saya sekecil apa pun masalahnya saya evaluasi tiap hari. Saya nggak menunggu-nunggu, terus saya abaikan berita, nggak ada. Ada berita saya jadikan evaluasi kok. Jangan khawatir sama saya

Apa pesan Anda untuk masyarakat yang menerima beras kurang baik?

Jika ada pembagian beras, entah dari Bulog atau dari (pihak) siapa yang kurang baik, tolong segera dilaporkan. Soalnya, tidak tertutup kemungkinan ada oknum. Itu yang harus kita cari. Seperti BPNT ketentuannya beras premium, lalu yang diterima masyarakat apakah premium? Masyarakat harus jeli. Jika ada beras yang tidak baik, harus dilaporkan ke RT.


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto
Penulis: Rani Rahayu
Editor: Irwan Nugroho 
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE