INVESTIGASI

Kursi Panas Menteri Investasi

Posisi pucuk di Kementerian Investasi menjadi komoditas panas yang mempersaingkan sejumlah nama. Politikus, profesional, hingga menantu Ma’ruf Amin ikut bersaing dalam perebutan jabatan strategis ini.

Ilustrasi: Dok Detikcom

Selasa, 20 April 2021

Matahari belum terbenam seutuhnya saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) tiba di Hotel The Ritz-Carlton Jakarta, Ahad, 26 Mei 2019. Hari itu, Jokowi diundang hadir dalam acara buka puasa bersama dengan Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), yang masih dipimpin Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Umum.

Acara turut dihadiri mantan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, mantan Ketua DPR Bambang Soesatyo, dan Menteri Tenaga Kerja era Soeharto, Abdul Latief. Di depan para pejabat dan ratusan pengurus Hipmi, Jokowi pun berkelakar soal sosok ideal calon menteri di kabinet barunya setelah terpilih lagi sebagai presiden 2019-2024 versi hitung cepat.

“Saya lihat dari bawah ke atas kayaknya cocok ini. Pintar bawa suasana dan juga, ya, sangat cerdas,” canda Jokowi sembari melirik Bahlil. Jangan kaget, lanjut Jokowi kepada hadirin, kalau nanti putra Maluku itu bakal menjadi menteri di kabinet barunya. “Pas kan? Siapa yang setuju?”

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia
Foto: Mohammad Wildan

Mendengar pernyataan itu, Bahlil tersipu dan kikuk. Tak pelak, ketika disambangi wartawan seusai acara, Bahlil jadi sedikit bicara. “Itu Bapak punya kewenangan prerogatif-lah. Saya nggak boleh menanggapi-lah. Saya kembalikan pada Bapak (Jokowi) saja,” kata Bahlil.

Bahlil adalah eksekutor yang bagus, dan ini sangat layak untuk mendapat kesempatan menjadi pemutus kebijakan di republik ini.”

Pada Rabu, 23 Oktober 2019, Jokowi menunjuk Bahlil sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang baru, menggantikan Thomas Trikasih Lembong. Isu bagi-bagi kursi kepada Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin pun mencuat waktu itu.

Pengangkatan Bahlil sebagai Kepala BKPM dinilai sebagai imbal jasa atas loyalitasnya membantu Jokowi memenangi kursi presiden untuk kedua kalinya. Pada kontestasi politik 2019, Bahlil memang sempat memainkan peran penting di TKN Jokowi-Ma’ruf sebagai Direktur Penggalangan Pemilih Pemuda.

Tetapi Jokowi berkilah. Dengan kapasitasnya, menurutnya, Bahlil memang layak menempati jabatan strategis itu. Walhasil, Bahlil pun kokoh menjabat Kepala BKPM hingga sekarang. Walau demikian, posisi itu masih belum selevel menteri seperti yang disampaikan Jokowi sebelumnya.

Dua tahun berselang setelah hari itu, isu kocok ulang alias reshuffle Kabinet Indonesia Maju mulai santer terdengar. Isu itu pertama kali diembuskan oleh Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin. Ali bilang Jokowi bakal mengocok ulang kabinet setelah DPR menyetujui Surat Presiden NomorR-14/Pres/03/2021 perihal Pertimbangan Pengubahan Kementerian. Surat itu merujuk pada pembentukan kementerian baru, yakni Kementerian Investasi, dan penggabungan Kemenristek dengan Kemendikbud.

Di sela-sela waktu tunggu kepastian reshuffle, bursa calon Menteri Investasi pun memanas. Sosok-sosok ternama dan berpengalaman mulai dikait-kaitkan dengan posisi yang nantinya bakal berada di bawah Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) itu. Bahlil menjadi sosok paling kuat yang digadang-gadang bakal menjabat posisi itu. Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan Hipmi Ajib Hamdani menilai keberhasilan Bahlil memimpin BKPM selama dua tahun terakhir sudah membuktikan dirinya layak menjabat Menteri Investasi.

Terbukti, kata Ajib, kinerja Bahlil kerap dipuji-puji oleh Jokowi dan Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan. Pernah, dalam suatu kesempatan kunjungan Hipmi ke kantor Kemenko Marves, Ajib berkisah, Luhut menyebut Bahlil sebagai sosok yang layak mengisi jabatan menteri. Bahlil, kata Ajib menirukan Luhut, merupakan sosok eksekutor yang luar biasa. “Bahlil adalah eksekutor yang bagus, dan ini sangat layak untuk mendapat kesempatan menjadi pemutus kebijakan di republik ini,” kata Luhut sebagaimana disampaikan Ajib kepada detikX. “Bahasanya kira-kira begitu.”

Wakil Presiden Ma'ruf Amin
Foto: Dok Setwapres

Walau begitu, kans bagi sosok lain untuk menempati jabatan strategis ini juga masih terbuka lebar. Apalagi, dalam sepekan terakhir ini, sejumlah nama sempat disebut-sebut datang ke Istana atas panggilan Jokowi. Anggota DPR Fraksi NasDem Muhammad Rapsel Ali salah satu di antaranya. Menantu Wakil Presiden Ma'ruf Amin itu dipanggil Jokowi pada Rabu, 14 April 2021, pagi ke Istana Negara.

Menurut Rapsel, dia datang memenuhi panggilan Jokowi untuk membicarakan seputar Tim Balap Mandalika. Rapsel memang merupakan Presiden Pertamina Mandalika SAG Racing Team, yang berhasil berpartisipasi dalam kejuaraan dunia Moto2. Namun, ketika ditanya soal apakah ada juga pembahasan terkait Kementerian Investasi, Rapsel tidak membantahnya. “Nggak spesifik sih. Ya, alhamdulillah,” imbuh tokoh muda Sulawesi Selatan itu.

Selain dua sosok itu, bursa calon Menteri Investasi pun memunculkan nama lain, termasuk Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dan Komisaris PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Namun kans kedua nama ini dinilai tidak jauh lebih besar dibandingkan Rapsel dan Bahlil.

Muhammad Lutfi misalnya. Dia baru saja diangkat Jokowi sebagai Mendag pada Desember 2020, sehingga kecil kemungkinan bagi Jokowi untuk menggeser pos Lutfi dari Kemendag ke Kementerian Investasi. Sementara itu, Ahok, sosok ini memang punya rekam jejak yang mentereng saat menjabat Gubernur DKI Jakarta pada 2014. Ahok dinilai berhasil menggantikan Jokowi, yang naik sebagai presiden kala itu. Tetapi kontroversi penistaan agama yang sempat mendera Ahok dinilai bakal menyulitkannya untuk bisa mengisi jabatan strategis selevel menteri.

Praktis, saat ini hanya ada dua nama yang paling kuat untuk mengisi kursi menteri investasi, yakni Bahlil dan Rapsel Ali. Pertanyaannya sekarang, seperti apa sebetulnya sosok yang dibutuhkan mengisi posisi Menteri Investasi? Ajib Hamdani menilai sosok yang pantas menjabat Menteri Investasi adalah orang yang paham betul bagaimana iklim investasi di Indonesia. Sosok ini mesti berasal dari kalangan pengusaha yang paham betul situasi lapangan dan punya kemampuan menyelesaikan masalah. Seorang eksekutor yang mengerti tugas dan tanggung jawab dari kementerian baru ini.

Ilustrasi pabrik pembuatan pakaian
Foto: detik

Menurut Ajib, tugas Menteri Investasi ini sangat berat karena mesti menjadi salah satu pemberi sumbangsih terbesar pada produk domestik bruto (PDB) nasional. Seperti pada 2020, lini investasi secara kumulatif berhasil menyumbangkan 30 persen pendapatan dari PDB. Dari total Rp 817 triliun yang ditargetkan, Indonesia berhasil menggaet Rp 823 triliun investasi masuk ke Tanah Air atau setara dengan 101 persen dari target. Tahun depan, Kementerian Investasi diberi target untuk menarik investasi Rp 900 triliun masuk ke Indonesia. Tugas itu, menurut Ajib, tidak bisa dilakukan oleh orang yang belum berpengalaman. “Dan untuk eksekusi-eksekusi investasi, saya pikir Bang Bahlil masih tepat,” tegas Ajib.

Di sisi lain, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati menilai posisi Menteri Investasi mesti diisi oleh orang yang tidak hanya mengerti bisnis dalam skala besar. Orang yang menjabat Menteri Investasi juga mesti memahami bagaimana pola bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah. Pasalnya, menurut Enny, ekonomi Indonesia saat ini masih bergantung pada keberadaan UMKM. Maka sosok yang menjadi Menteri Investasi nantinya mesti bisa menjadi orang paling keras dalam memperjuangkan keberlangsungan bisnis UMKM.

Selain itu, Enny menekankan Menteri Investasi yang akan datang mesti memfokuskan investasi masuk untuk pembukaan lapangan kerja. Sebab, selama pandemi COVID-19, Bappenas mencatat ada setidaknya 3,7 juta lebih tenaga kerja yang dirumahkan. Orang-orang ini mesti diselamatkan dengan masuknya investasi ke Indonesia.

Terlepas itu, Enny menilai sosok Menteri Investasi boleh dari kalangan apa pun, termasuk politikus, akademikus, maupun profesional. Tetapi satu yang ditekankan oleh Enny, ketika sudah menjadi menteri, orang itu harus bersikap sebagai negarawan yang mencintai rakyatnya dan bukan bekerja berdasarkan kepentingan golongannya. “Ketika mereka sudah ditunjuk sebagai menteri, dia sudah sebagai seorang negarawan gitu, melepaskan seluruh kepentingannya, termasuk kepentingan akademisi,” jelas Enny kepada detikX pekan lalu.

Sementara itu, pengamat komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing beranggapan sosok yang paling tepat mengisi jabatan Menteri Investasi adalah yang punya jaringan luas, baik di kancah internasional maupun lokal. Sosok ini mesti memiliki kemampuan membujuk negara-negara kaya yang belum memiliki hubungan dagang dengan Indonesia supaya mau masuk ke Tanah Air. Negara-negara jazirah Arab, menurutnya, harus jadi prioritas utama Menteri Investasi dalam rencana kerjanya sejak awal. Sedangkan negara-negara seperti Jepang dan Amerika Serikat sudah tidak perlu jadi prioritas utama karena mereka sudah memiliki pengalaman investasi di Indonesia.

Ahok pun disebut-sebut menjadi kandidat menteri investasi
Foto : Rifkianto Nugroho/detikcom

Selain bisa membujuk negara kaya, Menteri Investasi mesti memiliki kemampuan mempersuasi para konglomerat dalam negeri untuk menambah investasinya di Indonesia. Menteri investasi harus mampu membujuk para konglomerat itu mengembalikan kekayaannya yang berada di luar negeri untuk diinvestasikan di Bumi Pertiwi. Tetapi sosok seperti ini, menurut Emrus, tidak ditemukannya dari nama-nama yang belakangan mencuat sebagai calon kuat Menteri Investasi. Sosok ini, kata Emrus, tidak bisa didapatkan Jokowi hanya dengan cara penunjukan langsung.

Karena itu, dia pun mengusulkan agarJokowi menggunakan hak prerogatifnya untuk membuka bursa calon MenteriInvestasi kepada publik. Usulnya, Jokowi membentuk suatu tim untuk memilihsosok yang betul-betul memiliki kriteria sebagai Menteri Investasi melaluilelang jabatan. “Keempat sosok ini belum memenuhi kemampuan jaringaninternasional dan dalam negeri, termasuk kemampuan persuasi. Oleh karena itu,saya lebih memilih untuk open to publicdan masyarakat bisa mengikuti proses pemilihan menteri nanti,” pungkas Emrus.


Penulis: Fajar Y Rasdianto
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE