INVESTIGASI

Soeharto, Taman Mini, dan Supersemar

“Demi kepentingan negara dan bangsa, ‘Supersemar’ bisa saya pergunakan untuk mengatakan ‘keadaan dalam darurat’,” kata Soeharto.

Foto: mantan Presiden Soeharto (AFP)

Rabu, 14 April 2021

Pertemuan di kediaman mantan Presiden Soeharto di Jalan Cendana Nomor 8 pada 13 Maret 1970 menjadi titik awal dibangunnya Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta Timur. Di dalam pertemuan pengurus Yayasan Harapan Kita itu, Siti Hartinah atau Tien Soeharto selaku Ketua Yayasan menyampaikan ide membangun miniatur Indonesia.

Pada waktu itu, muncul rumor bahwa Tien Soeharto terinspirasi membangun TMII setelah melihat-lihat taman rekreasi Disneyland dalam kunjungannya ke Amerika Serikat pada tahun yang sama. Ada pula versi lainnya yang menyebutkan ide pembangunan TMII muncul setelah Tien Soeharto mengunjungi Timland di Thailand.

Fase-fase awal rencana pembangunan TMII sempat direkam oleh Indonesianis terkemuka dari Universitas Cornell, Amerika, BORG Anderson. Melalui artikelnya berjudul ‘Notes on Contemporary Indonesian Political Communication’ (1973), Anderson menulis TMII adalah monumen yang dibangun Orde Baru untuk menunjukkan kesinambungan sejarah Indonesia. Tujuan yang sama ketika Sukarno membangun Monumen Nasional (Monas).

Tien Soeharto sebagai penggagas mengatakan TMII akan terdiri atas kompleks berpagar dengan area seluas 100 hektare. Di dalamnya akan terdapat danau buatan seluas 8 hektare dengan pulau-pulau yang mencerminkan wilayah Nusantara. Selain itu, akan dibangun 26 rumah adat, yang merupakan representasi dari jumlah provinsi di Indonesia saat itu. TMII juga akan dilengkapi dengan hotel 1.000 kamar, kereta gantung, air terjun tiruan, serta teater dalam dan luar ruang.

Rumah mantan Presiden Soeharto di Jalan Cendana No 8, Jakarta.
Foto: Nur Indah/detikcom

Direktur TMII Achmad Tanribali Lamo menerangkan Tien Soeharto membangun TMII sebagai salah satu bentuk warisan budaya. TMII adalah cita-cita Soeharto dan Tien Soeharto untuk membangun pusat kebudayaan peninggalan nenek moyang, yang akhirnya nanti bisa berfungsi sebagai tempat rekreasi, pendidikan, dan kebudayaan.

Apa pun yang terjadi, saya tidak akan mundur sedikit pun. Proyek ini harus diselesaikan."

“Beliau memiliki dasar pemikiran mewujudkan Taman Mini ‘Indonesia Indah’ sebagai suatu kontribusi bagi rakyat, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam bentuk warisan nasional (national heritage) budaya bangsa Indonesia untuk dilestarikan,” kata Lamo dalam keterangan tertulis yang diterima detikX.

TMII mulai dibangun pada 30 Juni 1972. Bangunan tersebut kemudian diresmikan tiga tahun berselang, tepatnya pada 20 April 1975. Proses pembangunan TMII tak berjalan mulus. Pada akhir 1971, proyek yang awalnya disebut dengan Miniatur Indonesia Indah (MII) itu mengalami penolakan dan kritik dari berbagai kelompok masyarakat dengan isu utama pemborosan anggaran negara.

Anderson mencatat gelombang protes terhadap TMII muncul dari mahasiswa di sejumlah kota. Pada 1 Desember 1971, Tien Soeharto berbicara di depan Konferensi Kerja Gubernur dan mendesak pimpinan daerah berkontribusi terhadap proyek tersebut. Alasannya, TMII akan menjadi panggung daerah di hadapan para turis internasional.

Mantan Presiden Soeharto dan Ibu Tien soeharto
Foto: Repro (Grandyos Zafna/detikcom)

Tien Soeharto juga menyinggung pembangunan Candi Borobudur di Jawa Tengah. Sementara dahulu nenek moyang berhasil membangun Borobudur secara gotong royong, katanya, seharusnya daerah-daerah juga bisa bekerja sama untuk membangun proyek miniatur Indonesia.

“Apa pun yang terjadi, saya tidak akan mundur sedikit pun. Proyek ini harus diselesaikan,” demikian kata Tien Soeharto kepada wartawan pada 15 Desember 1971. Tien Soeharto mengatakan tujuan TMII adalah melayani masyarakat. Waktu pembangunannya juga dirasa tepat. Terlebih, pembangunan itu dilakukan semasa ia masih hidup.

Meski Tien Soeharto sudah menjelaskan maksud dan tujuan baik pembangunan TMII, kritik tajam terus tertuju pada proyek mercusuar tersebut. Akhirnya Soeharto turun tangan. Saat berbicara di depan perusahaan Pertamina pada 6 Januari 1972, Soeharto mengatakan akan menangani para pengkritik, siapa pun itu.

Jika para pengkritik terus membuat masalah, ia akan menindak tegas. Bahkan ia bisa saja menggunakan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), sebuah surat mandat yang diterimanya dari Presiden Sukarno pada 11 Maret 1966 untuk mengatasi krisis sosial-politik pasca-Gerakan 30 September 1965.

Hal itu juga ditegaskan Soeharto dalam buku biografinya: ‘Soeharto Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya’. “Kalau mereka tidak mengerti akan kalimat ‘tidak akan saya biarkan,’ terus terang saja akan saya tindak. Demi kepentingan negara dan bangsa, ‘Supersemar’ bisa saya pergunakan untuk mengatakan ‘keadaan dalam darurat’,” kata Soeharto. “Saya bertanggung jawab kepada rakyat dan Tuhan dalam mempergunakan (Supersemar) itu,” lanjutnya.

Kawasan TMII pada saat dibangun tahun 1972
Foto: YouTube TMII

Pembangunan TMII lantas mendapatkan dukungan dari Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Terbit izin pembangunan dan Izin Penyelenggaraan Usaha Taman Mini Indonesia Indah berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta No: D.III3921/d/4/74, tanggal 22 Agustus 1974, yang isinya tentang Pembentukan Badan Pelaksana Pengelolaan Pengusahaan TMII.

Lamo menjelaskan proyek TMII dibiayai dari kantong Yayasan Harapan Kita. Pertimbangannya adalah agar tidak mengganggu pembangunan atau mengurangi prioritas pembangunan pada saat itu. Selain itu, keputusan tersebut diambil Yayasan Harapan Kita setelah melakukan public hearing dengan Dewan Perwakilan Rakyat.

Setelah selesai, dilakukan proses penyerahan TMII kepada negara melalui naskah pernyataan penyerahan TMII di Jakarta kepada pemerintah pada 20 April 1975. Sebagai bentuk penerimaan oleh negara, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 1977, TMII ditetapkan sebagai milik negara, yang penguasaan dan pengelolaannya diserahkan kepada Yayasan Harapan Kita.

“Sebagai suatu rangkaian peristiwa pembangunan dan dilanjutkan dengan pelestariannya sampai saat ini, Presiden Soeharto dan penggagas TMII Ibu Negara Tien Soeharto tidak pernah memiliki niat untuk melakukan swakelola TMII secara mandiri. Hal ini dapat dilihat pada rentang waktu 3 tahun sejak pembangunan di tahun 1972, TMII langsung dipersembahkan dan diserahkan oleh YHK kepada negara,” ujar Lamo.

Yayasan Harapan Kita mengelola TMII selama 44 tahun. Hingga akhirnya Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2021 tertanggal 31 Maret 2021 tentang Pengelolaan TMII. Secara resmi, negara mengambil alih pengelolaan TMII dari tangan Keluarga Cendana karena tidak menyetorkan pendapatan ke negara. Keluarga Cendana pun tak melayangkan keberatan atas upaya Jokowi tersebut.


Penulis: Syailendra Hafiz Wiratama
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE