INVESTIGASI

Teledor Menghadang Mutan

Masuknya mutan virus Corona asal Inggris ke Indonesia berbuah kritik terhadap pemerintah. Pemerintah dinilai tak serius mencegah masuknya varian baru virus Sars-Cov-2 dari luar negeri.

Foto Ilustrasi: Getty Images

Senin, 8 Maret 2021

Para peneliti genom virus Sars-Cov-2 di laboratorium biomolekuler mendapatkan kabar baru pada Februari lalu. Bekerja sejak awal pandemi, beberapa peneliti menemukan varian virus Corona yang sedang menjadi masalah di 93 negara. Varian virus itu bernama B117 atau dikenal dengan virus ‘Corona Inggris’.

Dari 495 sekuens genom virus Corona yang dikirimkan Indonesia ke GISAID—sebuah lembaga nirlaba yang menjadi tempat berbagi data virus di seluruh dunia—dua di antaranya adalah varian virus B117. Genom adalah keseluruhan informasi genetik yang dimiliki suatu sel atau organisme. Sebanyak 495 urutan genom itu diperiksa di 13 laboratorium menggunakan metode whole genome sequencing atau kegiatan pengurutan genom secara menyeluruh.

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman adalah satu dari 13 laboratorium itu. Peneliti LBM Eijkman Herawati Sudoyo mengatakan dua varian virus B117 di Indonesia itu terdeteksi oleh para peneliti di laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan. Sebanyak 138 sekuens genom yang Eijkman kirim ke GISAID bukanlah sekuens genom yang memuat informasi varian virus tersebut. “Kita hanya mendengar saja. Itu bukan kasus kita. Itu temuan Balitbangkes,” kata Herawati kepada detikX, Kamis, 4 Maret 2021.

Informasi mengenai temuan virus B117 ini mulanya muncul ke publik dari Kemenkes. Pada Selasa, 2 Maret 2021, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyampaikan sudah ada dua mutasi virus Corona yang berasal dari Inggris ini. “Ini fresh from the oven,” kata Dante kala itu. “Baru tadi malam ditemukan dua kasus.”

Belakangan diketahui, dua mutasi virus Corona B117 itu berasal dari pekerja migran Indonesia dari Arab Saudi berinisial A dan M. Belum lama ini, keduanya pulang bersama rombongan pekerja migran lainnya ke Indonesia. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kemudian mengumumkan empat tambahan kasus positif corona Inggris pada Senin 8 Maret 2021 ini.

Menkes Budi Gunadi Sadikin
Foto: Amir Baihaqi/detikcom

Pentingnya Whole Genome Sequencing

Epidemiolog dari Universitas Indonesia Pandu Riono menjelaskan mutan virus Corona dengan kode B117 ini memang sudah menyebar ke seluruh dunia. Virus ini memiliki karakter dapat menular lebih cepat daripada mutan virus lainnya. Itu sebabnya, varian virus ini perlu mendapat perhatian serius. Ada kemungkinan, kata dia, penyebaran mutan virus B117 bahkan sudah lebih dari dua kasus. Sebab, virus-virus tersebut bisa bermutasi secara lokal bila sudah tertular. “Mungkin yang nggak ketahuan juga sudah banyak. Kan, ada juga yang bermutasi lokal. Kita tidak tahu saja,” kata Pandu.

Itu sebabnya, whole genome sequencing menjadi sangat penting sebagai pengawasan terhadap perkembangan mutan virus Corona. Menurut Pandu, pemerintah seharusnya membuat sistem genomic surveillance dengan whole genome sequencing secara periodik. Pengawasan terhadap genom itu dilakukan oleh 13 laboratorium yang sudah ada. “Harusnya ada target satu minggu berapa kali sequencing supaya cepat menemukan adanya mutasi-mutasi virus,” kata dia.

"So far masih itu. Kita belum di-support mengenai finansialnya. Kita carikan berbagai sumber dana untuk bisa men-support aktivitas ini."

Senada dengan Pandu, epidemiolog Universitas Airlangga (Unair) Windhu Purnomo mengatakan tidak tersistemnya genomic surveillance itu membuat negara kehilangan kontrol terhadap mutasi virus Corona. Memang, problemnya, genomic surveillance membutuhkan biaya besar. “Tapi surveillance itu tidak dilakukan kalau kita tidak punya duit,” kata Windhu. “Lembaga riset itu harus mendapat anggaran khusus dari pemerintah pusat untuk melakukan surveillance. Kalau tidak diberi anggaran, ya, tidak bisa, dong.”

Unair, Windhu melanjutkan, selama ini melakukan kegiatan whole genome sequencing tidak dalam rangka surveillance, melainkan hanya untuk kebutuhan diagnostik. Meskipun laboratorium Unair mampu mengerjakan whole genome sequencing, pemerintah tidak memberi dana untuk melakukan kegiatan tersebut. “Bukan khusus untuk surveillance. Itu sebabnya, harus mendapatkan anggaran karena surveillance itu harus rutin. Pemerintah pusat harus berkomitmen untuk melakukan ini karena, kalau tidak, kita tidak pernah tahu peta varian baru. Kecuali kalau kebetulan (menemukan), begitu,” katanya.

Selain Indonesia, enam negara lainnya juga melaporkan adanya penyebaran virus Corona B117
Foto Ilustrasi: Getty Images

Kepala Lembaga Penyakit Tropis Unair Maria Inge Lusida membenarkan hal tersebut. Selama ini memang tidak ada kewajiban dari pemerintah kepada Unair untuk melakukan kegiatan whole genome sequencing. Meski semula Unair melakukan kerja penelitian tersebut hanya untuk kepentingan diagnostik, tetapi sebenarnya juga ingin berkontribusi untuk kepentingan surveillance.

“Kita sebagai lembaga penelitian tentu tertarik juga untuk mengembangkan ini menjadi analisis surveillance, analisis genomnya,” kata Inge. “Itu memang tidak mudah karena alatnya mahal, reagennya mahal, dan butuh keahlian.” Karena kendala ini, Unair harus memutar otak mencari pihak yang hendak mendukung kegiatan itu. Pihak-pihak itu dari lembaga negara maupun lembaga internasional.

Yang ada sejauh ini, para peneliti genom membuat grup untuk saling melaporkan temuan. Di dalam grup itu, ada pula pihak dari pemerintah. Namun tidak ada regulasi serta biaya yang diberikan pemerintah kepada para peneliti untuk melakukan whole genome sequencing secara periodik. "So far masih itu. Kita belum di-support mengenai finansialnya. Kita carikan berbagai sumber dana untuk bisa men-support aktivitas ini," kata dia.

Inge mengatakan sebenarnya 495 urutan genom yang dilaporkan 13 laboratorium di Indonesia kepada GISAID adalah jumlah yang sedikit. Sebab, Indonesia memiliki banyak penduduk. “Apa yang dilaporkan Indonesia ke GISAID itu masih termasuk sedikit dibandingkan dengan negara-negara maju lain,” kata dia.

Pintu Luar Negeri Tak Rapat

Pandu dan Windhu juga mempermasalahkan longgarnya pengawasan terhadap pintu kedatangan dari luar negeri ke Indonesia. Pasalnya, dua kasus mutan virus B117 berasal dari pekerja migran yang datang dari luar negeri. Dulu, kata Pandu, warga negara asing maupun warga negara Indonesia yang datang dari luar negeri akan mendapat pengawasan ketat. “Sekarang saya heran, seolah-olah ada perubahan: kalau sudah membawa hasil PCR negatif dari luar, itu bisa langsung keluar dari bandara. Ini kan menunjukkan kita tidak hati-hati,” kata dia.

"Harusnya kan semuanya dikarantina terlebih dulu selama lima hari dan diperiksa PCR ulang. Kalau itu dilakukan, saya kira bisa menampik virus-virus yang beredar di luar," lanjutnya.

Ilustrasi Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang
Foto: Grandyos Zafna/detikcom 

Sementara itu, menurut Windhu, pemerintah sebenarnya sudah mengantisipasi masuknya mutan virus Corona yang berasal dari Inggris ini sejak Desember 2020. Namun, kata dia, implementasinya tidak benar. “Kita kebobolan begini berarti kan kita teledor,” kata dia. “Ini kok bisa masuk sekarang? Ini kan artinya apa yang kita lakukan itu tidak serius. Penutupan pintu masuknya tidak serius.”

Pada 28 Desember 2020, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sempat menyampaikan adanya larangan sementara untuk WNA dan WNI dari luar negeri ke Indonesia. Pernyataan Retno itu untuk mencegah masuknya varian baru virus Corona ke dalam negeri. Larangan itu berlaku pada 1-14 Januari 2021.

Pemerintah kemudian memperpanjang larangan tersebut 14 hari, menjadi sampai 28 Januari. Lalu, pemerintah memperpanjang lagi sampai 8 Februari. Bagi WNI di luar negeri yang ingin pulang ke Indonesia, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Salah satunya menunjukkan hasil negatif tes RT-PCR di negara asal yang sampelnya diambil kurun waktu maksimal 3 x 24 jam sebelum keberangkatan.

Sementara itu, dari temuan detikX, satu dari dua TKI yang dalam tubuhnya ditemukan B117 tidak membawa hasil PCR yang dilakukan tiga hari sebelum keberangkatan ke Indonesia. Dia tetap diterima meskipun sama dengan yang lainnya, harus menjalani karantina dan serangkaian tes terlebih dahulu sebelum akhirnya dinyatakan negatif. Kemenkes sempat mengklaim pemerintah akan memperketat pintu masuk negara, baik dari udara maupun laut, setelah ditemukannya mutan virus Corona asal Inggris yang berasal dari TKI dari luar negeri. Juru bicara Kemenkes Nadia Wiweko mengatakan pemerintah akan menggencarkan upaya testing dan tracing di pintu masuk kedatangan luar negeri.

“Pemerintah akan terus memperketat pencegahan di pintu masuk negara, baik bandara maupun laut untuk mencegah mutasi ini, dan juga penguatan testing, pelacakan kasus dengan menambah tracer, dan penguatan untuk segera isolasi bila ada gejala,” kata Nadia, Jumat, 5 Maret 2021.


Penulis: May Rahmadi
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE