INVESTIGASI

Pilah-pilih Sampah Medis COVID-19

Kesadaran masyarakat terhadap tata cara membuang sampah medis terkait COVID-19 masih rendah. Di Jakarta, sampah masker sedikitnya mencapai 1,5 ton.

Foto: Sampah masker di Kali Ciliwung (Dok Suparno)

Selasa, 19 Januari 2021

Plastik, pakaian, botol, ranting pohon, kasur, bahkan gerobak. Itulah macam-macam sampah yang lazim ditemukan di Kali Ciliwung, sungai besar yang mengalir dari Puncak Bogor hingga Ibu Kota Jakarta. Namun, sejak pandemi COVID-19 melanda negeri ini, Suparno, 48 tahun, kerap menemukan jenis sampah ‘baru’ yang hanyut di aliran Sungai Ciliwung. Sampah tersebut berupa bekas alat-alat kesehatan, seperti hazmat (baju pelindung diri), selang infus, sarung tangan, dan—ini yang volumenya paling banyak—masker.

Suparno saban hari menghabiskan sebagian besar waktunya di Kali Ciliwung. Maklum, ia adalah Ketua Satgas Naturalisasi Ciliwung. Satgas ini dibentuk Wali Kota Bogor Bima Arya beberapa waktu lalu. Suparno membawahi tim Satgas Naturalisasi yang bekerja di enam area Sungai Ciliwung di Kota Bogor. Sebelumnya, pria asal Purwokerto, Jawa Tengah, tersebut telah mendedikasikan hidupnya untuk membersihkan Ciliwung melalui Komunitas Peduli Ciliwung (KPC).

Suparno mengajak detikX dan 20Detik turun ke Kali Ciliwung dan melihat sendiri  sampah-sampah medis yang ada di sungai tersebut dua pekan lalu. Pemantauan dilakukan di aliran Ciliwung yang melintas di Kelurahan Sukaresmi, Tanah Sareal, Kota Bogor. Benar saja, belum lama penelusuran dilakukan, ditemukan sejumlah masker yang tersangkut bersama sampah-sampah lainnya di tepian sungai. “Setiap hari, sampah rumah tangga saja, sudah keteteran kita mengatasinya. Apalagi sekarang dengan adanya limbah medis ini. Saya merasa makin keteteran,” ucap Suparno.

Ketika melakukan patroli sungai, dalam sehari, Suparno dan timnya mengaku dapat mengumpulkan sampah masker sebanyak 5-7 helai. Penemuan sampah masker ini saja tidak disengaja. Apabila sudah dirasa cukup menumpuk, sampah-sampah itu lantas diserahkan kepada pengangkut sampah. Sayangnya, sampah masker tersebut kemudian dicampur kembali dengan berbagai jenis sampah lainnya. Padahal seharusnya sampah medis dipisah karena tergolong sebagai limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya) dan infeksius sebelum sampai ke tempat pengolahan limbah B3.

Sampah masker di aliran Kali Ciliwung

Foto : Dok Suparno

Sampah masker yang hanyut di Ciliwung

Foto : Suparno

Sampah masker di antara sampah lainnya di salah satu tempat pembuangan sampah di Bokor

Foto : Dok Suparno

Suparno merasa prihatin terhadap perilaku masyarakat yang membuang sampah medis sembarangan. Perilaku itu mencerminkan kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan bahaya limbah medis COVID-19. Ia juga menyayangkan pemerintah yang kurang menyediakan tempat-tempat untuk menampung limbah medis dari rumah tangga atau masyarakat umum. “Saya sendiri juga sebetulnya menanyakan, seharusnya sampah-sampah ini dikemanakan,” tanya Suparno.

Kita akan sangat terbantu ketika masyarakat itu memilah khusus, melakukan disinfeksi sederhana, dirusak sedikit, dan dikumpulkan dalam satu wadah yang sudah ditandai."

Tata cara pengelolaan sampah medis dari rumah tangga sebetulnya sudah diatur oleh dua kementerian. Pada Maret 2020, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengeluarkan Surat Edaran Nomor SE. 2/MenLHK/PSLB3/PLB.3/3/2020 yang mengatur limbah infeksius terkait COVID-19 dari fasilitas pelayanan kesehatan dan rumah tangga. Untuk rumah tangga, limbah medis, seperti masker, sarung tangan, dan baju pelindung diri, harus dikumpulkan dan dikemas dalam wadah tertutup. Petugas dari dinas yang bertanggung jawab mengangkut sampah itu ke lokasi pengumpulan sebelum diserahkan ke pengolah limbah B3.

Aturan dari Kementerian Kesehatan bahkan lebih rinci lagi. Sarung tangan dan masker bekas guna atau pakai ulang harus didisinfeksi, dipanaskan dengan air rebusan bersuhu 60 derajat Celsius, dan dikeringkan sebelum dipakai kembali. Kemudian sampah masker dan sarung tangan sekali pakai harus didisinfeksi dengan kadar klorin 1 persen. Sampah itu kemudian dirusak/disobek, dimasukkan kantong khusus, dan didisinfeksi kembali. Kantong sampah tersebut lalu wajib dimasukkan dalam drop box yang disediakan di tempat masing-masing untuk diangkut ke tempat pengolahan limbah B3.

Petugas kebersihan menemukan baju pelindung diri di Kali Item, Jakarta Pusat
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Namun aturan tersebut belum dijalankan sebagaimana mestinya hingga sekitar satu tahun pandemi COVID-19 berlangsung. Masih banyak sampah masker yang dibuang bercampur dengan sampah biasa atau dibuang secara sembarangan. Seperti contohnya yang terlihat di Stasiun Pompa Kali Item, Jalan Serdang 3, Kemayoran, Jakarta Pusat, dua pekan lalu. Sejumlah sampah masker dan baju pelindung diri terlihat mengambang di aliran air yang keruh. Beberapa petugas kebersihan mengangkat sampah tersebut untuk dibawa ke penampungan.

Kendati demikian, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta mengatakan sudah tidak banyak warga yang membuang sampah masker secara sembarangan. Hanya, memang masyarakat kurang mengikuti langkah-langkah membuang sampah medis, seperti masker yang harus dipilah-pilah lebih dulu dari sampah umum. Jika itu sudah dilakukan, akan sangat membantu tugas personel kebersihan. “Kita akan sangat terbantu ketika masyarakat itu memilah khusus, melakukan disinfeksi sederhana, dirusak sedikit, dan dikumpulkan dalam satu wadah yang sudah ditandai,” kata Kepala Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Yogi Ikhwan kepada detikX dua pekan lalu.

detikX lantas mengunjungi Depo Ramah Lingkungan Dakota di Jakarta Pusat. Depo itu menyediakan penampungan khusus limbah infeksius dari rumah tangga. Seorang petugas bernama Bimby menjelaskan, limbah infeksius itu dikumpulkan dari hasil pemilahan yang dilakukan oleh satuan pelaksana (satpel). Petugas satpel yang melakukan pemilahan itu diwajibkan mengenakan masker dan sarung tangan. Setelah dipilah, sampah itu kemudian diantar ke depo untuk ditimbang. Proses selanjutnya adalah mengirim sampah medis itu ke tempat pengolahan limbah B3 yang sudah ditunjuk oleh pemerintah. “Di sini kita ada tempat penampungannya. Ada tempat khusus, limbah infeksius kita nyebutnya, dan kita khusus untuk masker saja,” kata Bimby.

Petugas memilah sampah masker untuk dikirimkan ke instalasi pengolahan limbah B3
Foto : Dinas LH DKI Jakarta

Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, limbah medis berupa masker yang terhimpun selama April-Desember 2020 mencapai 1,5 ton. Limbah masker itu khusus yang berasal dari masyarakat dan telah dimusnahkan di instalasi pengolahan limbah B3. Yogi mengimbau masyarakat membuang masker dengan cara yang sudah dianjurkan. Terlebih bagi masyarakat yang menjalankan isolasi mandiri di rumah karena terserang COVID-19. “Limbah medisnya bisa dikumpulkan di puskesmas terdekat. Bisa di kantong atau wadah khusus dengan dikasih label khusus. Paling bagus lagi dilakukan disinfeksi sederhana sesuai dengan protokol penanganan. Jadi petugas kebersihan yang menangani terhindar dari risiko,” ujar Yogi meminta.


Reporter: Isfari Hikmat, Syailendra Hafiz Wiratama
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE