INVESTIGASI

Melongok Pemusnahan Sampah Medis COVID-19

Hanya beberapa rumah sakit yang punya instalasi pengolahan limbah medis, termasuk yang terkait dengan COVID-19. Salah satunya RS Sulianti Saroso.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 19 Januari 2021

Satu per satu baju hazardous material (hazmat) bekas pakai, masker bedah, masker N95, sarung tangan, jarum suntik, tisu, perban, hingga botol bekas infus dipunguti petugas cleaning service di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr Sulianti Saroso (RSPI SS), Jalan Sunter Permai Raya, Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis, 7 Januari 2021. Beberapa petugas kebersihan yang lengkap mengenakan pakaian hazmat warna biru muda, kacamata safety, sarung tangan, dan sepatu boot, keluar-masuk ruang-ruang di rumah sakit itu.

Dari pantauan detikX, petugas kebersihan itu mengumpulkan sampah medis yang berada di sejumlah ruangan, seperti ruang isolasi, Intensive Care Unit (ICU), Instalasi Gawat Darurat (IGD), Ruang Radiologi, Instalasi Laboratorium, Poli COVID-19, Poli Medical Check Up (MCU), Poli Umum, pemulasaraan jenazah, sampai ke ruang laundry. Sampah atau limbah yang spesifikasi khusus jenis limbah infeksius dan patologi langsung dibungkus dan dimasukkan ke dalam kantong plastik berwarna kuning yang bertulisan ‘Infeksius Limbah Medis Berbahaya’.

Sementara itu, sampah medis berupa benda tajam, seperti jarum suntik dan peralatan bedah, dimasukkan ke dalam safety box yang kedap air. Sedangkan limbah farmasi dan bahan kimia dimasukkan kantong plastik berwarna cokelat. Semua dimasukkan ke tempat pengumpul sampah yang memiliki tutup, tahan bocor, dan memiliki pedal atau injakan kaku untuk membuka tutup tempat sampah agar mengurangi kontak langsung dengan tangan.

Semua sampah dalam plastik itu dibawa para petugas kebersihan ke tempat penyimpanan sementara (TPS) menggunakan troli khusus berkapasitas 120 liter dan kedap air melalui jalur khusus. TPS itu berjarak sekitar 50 meter dari bangunan utama rumah sakit atau tepatnya berada di samping pintu keluar. Setelah itu, para petugas di TPS langsung menimbang dan mencatat jumlah sampah pada logbook secara berkala. Selanjutnya sampah-sampah dan troli itu langsung disemprot cairan disinfektan.

Petugas RSPI Sulianti Saroso tengah menarik tempat sampah yang digunakan untuk menampung limbah medis
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Tahap selanjutnya membakar sampah medis dengan alat insinerator. Sampah yang sudah dikumpulkan itu dimasukkan ke dalam tungku besar pertama dengan menggunakan lift bucket. Setelah penuh tungku itu, petugas menyalakan tombol pembakaran sampah. Sampah itu dibakar di dalam tungku dengan suhu 800-1.000 derajat Celsius dengan bahan bakar solar.

Selesai pembakaran di tungku pertama, sampah yang sudah dibakar langsung dimasukkan ke tungku kedua untuk dibakar dengan suhu 1.000-1.200 derajat Celsius. Para petugas di tempat insinerator pun diwajibkan mengenakan pakaian APD khusus dan masker respirator. Kegiatan pembakaran limbah medis di RS Sulianti Saroso dilakukan setiap hari pada pukul 19.00 WIB.

“Dalam melakukan pengolahan limbah B3 medis padat COVID-19, RSPI Sulianti Saroso menggunakan sistem insinerasi dengan menggunakan alat insinerator berdasarkan izin operasional penggunaan insinerator dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor: SK.38/MenLHK/Setjen/PLB.3/1/2017 tentang izin pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun," kata Koordinator Limbah Medis RSPI Sulianti Saroso, Mulya Tiardjiono, kepada detikX, Kamis, 7 Januari 2021.

Mulya Tiardjiono, Koordinator Limbah Medis COVID-19
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Mulya menerangkan, setelah tahap pembakaran selesai, setiap satu bulan sekali petugas akan mengambil residu pembakaran berupa abu (bottom ash). Abu tersebut masih dikategorikan sebagai limbah B3, sehingga harus disimpan di TPS limbah B3 nonmedis. Baru setelah enam bulan, residu abu diangkut oleh perusahaan pengolah limbah rekanan RSPI Sulianti Saroso, yaitu PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI), yang sudah mengantongi izin sebagai pengangkut dan pengolah limbah B3 dari KLHK.

Residu abu akan dimusnahkan PPLI di Jalan Raya Narogong, Nambo, Klapanunggal, Bogor, Jawa Barat. PPLI merupakan perusahaan daur ulang, pengolah dan pembuangan limbah B3 yang dibentuk Dowa Eco System Co Ltd (Dowa Holding) dari Jepang dan Kementerian BUMN pada 1994. Volume limbah medis B3 padat di RSPI mengalami peningkatan karena penggunaan APD dan semua yang dihasilkan dari kamar isolasi yang dianggap limbah infeksius.

Hal tersebut menyebabkan periode pembakaran limbah di insinerator membutuhkan waktu lebih lama. Karena yang dibakar juga termasuk sampah basah sisa makanan pasien COVID-19. “Volume limbah medis padat di RSPI ini meningkat. Per hari kita bisa menghasilkan kurang-lebih 250 kilogram rata-ratanya, itu termasuk limbah basah sisa makanan pasien,” jelas Mulya.

Tak hanya mengolah limbah padat, RSPI Sulianti Saroso juga mengolah air limbah tak jauh dari tempat insinerator. Air limbah berupa air kotor pembuangan dari kamar mandi, tinja, urine, dan darah yang dialirkan ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Air limbah itu akan diolah hingga mencapai baku mutu air limbah. Dalam sehari, air limbah yang dihasilkan RSPI Sulianti Saroso bisa mencapai 250 meter kubik.

Insinerator yang berada di dalam kompleks RSPI Sulianti Saroso
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

“Untuk pengolahan air limbah itu, kita mengikuti baku mutu sesuai Peraturan Menteri LHK Nomor 68 Tahun 2016. Pada prinsipnya, kita mengikuti baku mutu tersebut. Setelah mencapai pH yang ditentukan, baru air limbah tersebut akan dibuang ke badan air yang bermuara di Sungai Ancol,” terang Mulya.


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE