INVESTIGASI

Mati Suri Dunia Malam Jakarta

Tempat-tempat hiburan malam di Jakarta masih dilarang beroperasi. Protokol kesehatan jadi masalah yang alot dibahas Pemprov DKI dan para pengusaha hiburan malam.

Dunia malam tidak pernah lepas dari musik dan lighting yang menjadi pendukung untuk memeriahkan malam, Foto: Hasan Alhabshy/detikcom

Selasa, 28 Juli 2020

Hampir lima bulan tempat hiburan malam di wilayah DKI Jakarta tutup total sejak merebaknya Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Tidak ada lagi kerlap-kerlip gemerlapnya lampu di diskotek, dentuman musik disko, atau live music. Belasan ribu karyawan tempat hiburan malam dirumahkan. Bahkan banyak karyawan yang dikenai PHK karena tempat kerjanya tak beroperasi.

Penutupan tempat hiburan malam sesuai dengan Surat Edaran Nomor 160/SE/2020 tentang Penutupan Sementara Kegiatan Operasional Industri Pariwisata dalam Upaya Kewaspadaan terhadap Penularan Infeksi COVID-19 yang ditandatangani Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta Cucu Ahmad Kurnia pada 20 Maret 2020. Surat edaran itu merupakan pelaksanaan dari Instruksi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bernomor 16 Tahun 2020 tentang Peningkatan Kewaspadaan terhadap Risiko Penularan Infeksi COVID-19 pada 25 Februari 2020.

Awal penutupan tempat hiburan malam dan rekreasi ini dimulai sejak 23 Maret hingga 5 April 2020. Termasuk di antaranya kelab malam, diskotek, pub/live music, karaoke, bar, griya pijat, dan SPA. Tapi penutupan tempat hiburan malam terus berlanjut dengan diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) melalui Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 380 Tahun 2020 dan Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 33 Tahun 2020 tentang PSBB dalam Penanganan COVID-19 pada 9 April 2020.

Salah satu tempat wisata hiburan malam di Jakarta Barat
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX


Malam ini ramai banget. Tamu kurang-lebih 155 dan kita habis sudah 58 botol malam ini.”

Keputusan itu sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/239/2020, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020, Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang PSBB, serta Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2020 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Pada masa new normal atau PSBB transisi, tempat hiburan malam itu juga belum diperbolehkan buka.

Alhasil, suasana sepi, gelap, dan muram menjadi pemandangan yang lumrah ketika detikX menyusuri tempat-tempat hiburan malam di Jakarta pada Kamis, 23 Juli 2020, malam. Sebagai contoh di kawasan pusat hiburan malam Taman Hiburan Rakyat (THR) Lokasari di Jalan Mangga Besar, Tamansari, Jakarta Barat. Tempat hiburan malam, mulai kelab malam, diskotek, pub atau live music, hingga griya pijat dan spa, masih tutup. Pada hari biasa, tempat-tempat tersebut selalu ramai oleh pengunjung.

Kondisi yang sama tampak pada tempat-tempat hiburan fenomenal di Jalan Mangga Besar VIII, seperti di Hotel Travel dan Classic. Semuanya masih tertutup rapat dan gelap. Belum ada aktivitas sama sekali di lokasi yang biasanya menjadi tempat pelesiran bagi para pencinta dunia malam Jakarta tersebut. “Bar sudah tutup sejak tiga-empat bulan lalu. Nggak tahu tempat ini akan dibuka, informasi dari pemerintah belum jelas,” ungkap seorang petugas keamanan di hotel itu kepada detikX.

Penelusuran pun dilanjutkan ke sejumlah tempat hiburan malam di kawasan Sawah Besar, Harmoni, Gajah Mada, dan Hayam Wuruk. Aneka griya pijat, bar, dan karaoke, yang sebelum merebaknya COVID-19 selalu dikunjungi para tamu, kini sepi tak terbilang. Sedangkan di Jakarta Selatan, lampu padam dan pintu terali tertutup rapat menjadi pemandangan di beberapa griya pijat yang belum beroperasi. Di Kawasan Blok M, sejumlah tempat karaoke dan pub di Jalan Faletehan dan Jalan Iskandarsyah masih tutup.

Susana live music virtual di sebuah lounge di Jakarta Selatan
Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Yang menarik, memasuki kawasan Senopati, Jakarta Selatan, beberapa restoran, bar, dan lounge yang  berada di sepanjang Jalan Gunawarman terlihat cukup ramai oleh pengunjung. Petugas parkir sibuk mengatur kendaraan tamu yang hendak masuk dan keluar. detikX pun mencoba menyambangi salah satu lounge di kawasan itu pada Sabtu, 25 Juli 2020, pukul 21.00 WIB.

Memasuki lounge berlantai tiga itu, pengunjung wajib diukur suhu tubuhnya dengan menggunakan thermo gun, wajib mencuci tangan di depan pintu masuk, dan wajib mengenakan masker. Terlihat meja-meja tamu yang diberi tanda 'X' alias tidak boleh diisi sebagai tanda jaga jarak antartamu yang akan duduk. Meja-meja itu hanya bisa ditempati empat-enam orang.

Namun, ketika jumlah pengunjung makin banyak, meja-meja bertanda 'X' terpaksa diisi. Malam itu ditaksir pengunjung lounge tersebut mencapai 155 orang. Banyak pengunjung yang umumnya berusia muda tak mengenakan masker. Sebuah live music virtual pun digelar. Para pengunjung berdansa di lantai dansa tanpa mempedulikan imbauan jaga jarak. “Malam ini ramai banget. Tamu kurang-lebih 155 dan kita habis sudah 58 botol malam ini,” ungkap salah satu pelayan saat bincang-bincang dengan detikX.

Pemprov DKI Jakarta berjanji bakal mengecek restoran maupun lounge yang diperbolehkan buka seperti di Senopati itu. Jika terdapat pelanggaran, Pemprov berjanji akan memberikan sanksi tegas. Sesuai ketentuan, dalam masa PSBB transisi ini, restoran dan lounge tetap diperbolehkan buka asalkan tidak menggelar live music.

“Nah, selama pandemi ini, mereka boleh beroperasi, namun nggak boleh ada live music atau DJ-nya, nggak boleh ada live band atau DJ-nya. Maksudnya apa? Supaya orang tidak berlama-lama nongkrong di sana selama pandemi ini,” terang Kepala Disparekraf DKI Jakarta Cucu Ahmad Kurnia saat dihubungi detikX, Senin, 27 Juli 2020.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta Cucu Ahmad Kurnia
Foto: Muhammad Ilman Nafi'an/detikcom

Pada masa pandemi, Pemprov telah memberi sanksi kepada 500-600 tempat hiburan malam yang nekat beroperasi. Sanksi yang diberikan mulai penyegelan hingga pengenaan denda maksimal Rp 25 juta. Salah satu yang kedapatan beroperasi adalah Diskotek Top One di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat. Tempat itu digerebek pada 3 Juli 2020. Saat dirazia, sejumlah pengunjung kedapatan disembunyikan oleh pengelola di sebuah tempat di diskotek tersebut.

Para pekerja hiburan malam telah menggelar demo di depan Balai Kota DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Mereka meminta Pemprov lekas memberi izin operasi kembali terhadap tempat-tempat hiburan malam. Namun Cucu belum bisa menjelaskan kapan hiburan malam secara keseluruhan mulai dibuka. Ia hanya mengatakan masih mendiskusikan masalah itu dengan para pengusaha hiburan malam. Pembahasan masih terpusat pada protokol kesehatan jika tempat-tempat hiburan malam dibuka. “Saya juga menyarankan mereka agar membangun komunikasi dengan tim Gugus Tugas COVID-19,” pungkas Cucu.


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE