INVESTIGASI

Menelisik Peta Corona Jemaah Tabligh

Sejauh ini 18 WNI anggota Jemaah Tabligh (JT) di Indonesia dan India positif virus corona. JT sendiri terpecah menjadi dua faksi, apa saja?

Ilustrasi: Edi Wahyono

Minggu, 05 April 2020

Sejumlah anggota polisi, TNI, dan Satpol PP terlihat berjaga-jaga di pintu gerbang Masjid Jami Kebon Jeruk, Jalan Hayam Wuruk No. 85, Maphar, Tamansari, Jakarta Barat. Polisi mendirikan tenda posko di depan masjid yang telah berusia 234 tahun itu. Pintu gerbang ditutup rapat dan tak satu pun orang diizinkan ke luar dan masuk masjid yang dibangun oleh muslim Tiongkok, Chau Tsien Hwu alias Tschoa, pada tahun 1786 itu.

Tak jauh dari Masjid Jami, terpasang spanduk berwarna biru dengan tulisan merah dengan huruf kapital, “MOHON PERHATIAN!!! MASJID INI DALAM ISOLASI KESEHATAN UNTUK SEMENTARA DITUNDA SHOLAT BERJAMAAH. Camat Tamansari”. Penutupan sementara dilakukan setelah tiga jemaah masjid dinyatakan positif terinfeksi virus corona atau coronavirus disease 2019 (COVID-19) oleh Suku Dinas (Sudin) Kesehatan Jakarta Barat, Kamis, 26 Maret 2020, lalu.

Baca Juga : Jurus Baru Jokowi

Masjid Jami Kebon Jeruk
Foto : Dok DMI

Tiga jemaah itu adalah anggota Jamaah Tabligh (JT) asal Sumatera Utara dan Aceh. Ketiganya kini tengah menjalani isolasi di rumah sakit darurat untuk pasien virus corona, Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat. Di hari yang sama, Sudin Kesehatan Jakbar juga melakukan Rapid Tes COVID-19 kepada 150 orang yang berhubungan dengan ketiga jemaah itu. Hasilnya semua dinyatakan negatif, tapi harus menjalani isolasi selama selama 14 hari di dalam masjid. Mereka pun masuk daftar Orang Dalam Pemantauan (ODP). “Tiga orang itu sudah kita evakuasi ke Rumah Sakit Wisma Atlet di Kemayoran. Kurang lebih 150 orang diisolasi di masjid,” kata Camat Tamansari, Risan Mustar, Sabtu, 28 Maret 2020.

Memang Jamaah Tabligh ini sudah terpecah dua, ya. Yang merujuk ke Nizamuddin (India) dan Syuro Alami (Ahli Syuro) seluruh dunia."

Risan mengatakan, selama masa isolasi mereka mendapatkan suplai makanan dari warga sekitar dan Sudin Sosial Jakbar. Tempat tidur diatur agar mereka tak saling berdekatan. Begitu juga ketika menjalankan sholat lima waktu, setiap jemaah diberi jarak satu meter. Dari total 150 ODP ini, 78 orang adalah warga negara asing berasal dari Thailand, Pakistan, Bangladesh dan Malaysia.

Masjid Jami Kebon Jeruk merupakan markas dan pusat dakwah JT Indonesia. Anggota JT dari berbagai daerah termasuk luar negeri sering datang ke masjid ini, seperti dari Mesir, Maroko, Arab Saudi, Pakistan, Bangladesh, India, Cina, dan Australia. Ketiga orang jamaah JT yang terinfeksi COVID-19 diketahui sempat mengikuti Tabligh Akbar di Masjid Jamek Sri Petaling, Petaling Jaya, Selangor, Malaysia, 27 Februari-1 Maret 2020 lalu.

Dilansir the Stars pada 13 Maret 2020 lalu, acara itu diikuti 16.000 anggota JT. 15.000 orang merupakan warga Malaysia, 1.500 orang dari negara lain, termasuk 696 orang dari Indonesia. Sementara, The Strait Times, 14 Maret 2020, menyebutkan ada 700 kasus COVID-19 yang sebagian besar dari kluster tabligh akbar ini. Mereka berasal dari Singapura, Brunei, Kamboja, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Para peserta Ijtima Dunia Zona Asia saat sudah berada di Palu 
Foto : Muhammad Qodri/detikcom

Tabligh akbar JT di Petaling digelar oleh JT faksi Amir Maulana Saad (AMS)/faksi Nizamuddin India. Berbeda dengan pertemuan Ijtima Dunia Zona Asia di Pesantren Darul Ulum, Pakatto, Gowa, Sulawesi Selatan, yang rencananya digelar 19-22 Maret 2020 namun dibatalkan. Kelompok ini adalah JT faksi Syuro Alami (SA)/faksi Pakistan. Di Indonesia, faksi ini bermarkas di Masjid Al Muttaqin, Ancol, Jakarta Utara. Tapi sejak ditemukannya pasien positif corona pertama di Depok, Jawa Barat, 2 Maret 2020 lalu, kegiatan Masjid Al Muttaqin Ancol ditutup.

Ijtima Dunia Zona Asia JT di Pakatto, Gowa, sempat dihadiri 19.163 orang. 18.698 orang dari berbagai daerah di Indonesia dan 465 orang dari luar negeri (10 negara). Acara dibatalkan atas inisiatif panitia dan Pemprov serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulsel. Dari pertemuan ini, satu orang dinyatakan terinfeksi COVID-19, yaitu peserta dari Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 3 April 2020. Ratusan peserta lainnya mulai memeriksakan diri ke Dinas Kesehatan setempat setelah mereka pulang ke daerah masing-masing.

“Memang Jamaah Tabligh ini sudah terpecah dua, ya. Yang merujuk ke Nizamuddin (India) dan Syuro Alami (Ahli Syuro) seluruh dunia. Jadi yang di Petaling (Malaysia) merujuk ke Nizamuddin dan yang di Pakatto (Gowa, Sulsel) merujuk ke Syuro Alami. Saya hadir di sana (Pakatto),” ungkap Ustadz Yani, salah satu pengurus JT kubu Ancol, kepada detikX, Kamis, 2 April.

Hal itu juga diakui Ustadz Bani, salah satu pengikut JT kubu India di Masjid Jami Kebon Jeruk. Pertemuan di Masjid Jamek Petaling merupakan pertemuan rutin JT Malaysia, tapi anggota JT dari negara lain sering ikut acara tersebut, termasuk dari Indonesia yang berjumlah kurang lebih 700 orang. “Saya datang karena faktor menjenguk anak saya yang mondok di sana. Ya, jadi sekalian lah. Dulu saya nggak pernah datang,” kata Bani yang menjadi pengurus Jamaah Tabligh di Cikarang, Bekasi, ini, kepada detikX, Kamis, 2 April.

Peserta Ijtima Ulama di Gowa
Foto : Hermawan Mappiwali/detikcom

Bani mengaku, sebenarnya ia sudah tinggal di Malaysia selama sebulan. Tapi, karena wabah COVID-19 mulai menyerang negara itu, ia pulang. “Alhamdulillah, nggak ada gejala-gejala itu, sudah ngecek ke rumah sakit juga nggak ada masalah itu. Yang penting kan di atas 14 hari sudah nggak ada gejala lagi. Ya, amanlah ya. Sudah lebih dari dua kali 14 hari itu sudah lewat lah,” ucapnya.

Menurut Bani, sebelum Masjid Jami Kebon Jeruk ditutup, ada sekitar 80 jemaah dari luar negeri dan ratusan dari dalam negeri. Yang dari luar negeri rata-rata habis ikut pertemuan JT di Malaysia. Hanya saja sudah banyak yang pulang ke daerah dan ke negara masing-masing. “Sebenarnya jemaah yang datang ke sana (Malaysia) itu sudah mau pulang ke negaranya, tapi karena negaranya kaya India sudah lockdown, nggak ada pesawat di sana, ya terpaksa mereka overstay lah di sini,” jelasnya.

Kondisinya sama dengan anggota JT dari Indonesia yang sekarang yang tak bisa pulang gara-gara di India sedang lockdown. Sebenarnya, banyak jemaah JT yang akan datang ke Masjid Kebon Jeruk atau ke Indonesia, tapi sudah ditahan dan dilarang datang oleh para pengurus JT Indonesia. “Dari Bangladesh mau datang kita larang, karena masjid-masjid juga disuruh tutup. Mau ditaruh di mana? Ya kita akhirnya tahan-tahanin jangan sampai hadir,” jelas Bani lagi.

Bani menjelaskan, sejak semua jemaah JT yang berada di Masjid Jami Kebon Jeruk diperiksa, sebenarnya hasilnya tak ada yang positif corona, termasuk tiga orang asal Sumut dan Aceh. Tapi karena terlihat demam dan kurang sehat, ketiganya akhirnya dibawa ke RS darurat Wisma Atlet. Ia meyakini, semua jemaah di masjid tidak ada yang terindikasi positif COVID-19. “Tiga orang yang dibilang positif itu, ternyata sama petugas itu hasilnya (negatif) dibuang begitu saja. Padahal itu ada yang ngeliat negatif tiga-tiganya,” kata Bani.

Sementara Ustadz Yani juga mengungkapkan, jemaah JT yang dipulangkan dari Pakatto sementara dinyatakan sehat sebelum dipulangkan ke daerah masing-masing. Mereka di-screening sebelum naik kapal laut, pesawat dan bus. Sampai saat ini, ia sendiri belum tahu perkembangan kondisi jemaah lainnya. “Ya itukan baru pemeriksaan sementara ya, tapi kemudian ketika mereka sampai rumah masing-masing belum ada yang saya dengan mereka mengalami gejala-gejala itu. Saya sendiri, ya sampai saat ini aman nggak ada masalah, teman-teman saya yang ke sana juga aman,” ujar Yani.

Jemaah Tabligh di Delhi, India
Foto : Getty Images

Yani menjelaskan, sebelum heboh wabah COVID-19 sebenarnya Ijtima Dunia Zona Asia di Pakatto, Gowa, telah disiapkan selama lima bulan lebih. Makanya banyak jemaah JT seperti dari Arab Saudi, Abu Dhabi dan negara lainnya melakukan safari. Tapi begitu heboh COVID-19, banyak yang membatalkan datang dan banyak lockdown di sejumlah negara, kecuali dari Pakistan. “Kalau jemaah saya sendiri dari Jakarta itu kurang lebih 1.000 lah ya. Pastinya saya kurang tahu. Datanya berubah-ubah. Karena ada yang datang kemauan sendiri itu di luar sepengetahuan kita,” pungkas Yani.

Selain empat anggota JT di Indonesia dinyatakan positif COVID-19, ada 14 jemaah JT asal Indonesia lainnya di luar negeri yang juga positif terpapar virus corona. Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha, mengatakan, ke-14 anggota JT itu berada di India. “Tercatat ada 14 jamaah tabligh Indonesia yang positif terinfeksi COVID-19. Di mana 10 sudah dinyatakan sembuh dan empat lainnya masih dalam perawatan dan kondisi stabil,” kata Judha dalam video conference, Rabu, 1 April.

Pemerintah India mengidentifikasikan sebanyak 7.688 warganya dan 1.306 warga asing berisiko terinfeksi COVID-19 setelah mengikuti kegiatan Jamaah Tabligh di Masjid Nizamuddin, New Delhi bulan Maret lalu. Kementerian Dalam Negeri India seperti dilansir New Delhi Television (NDTV) pada 1 April 2020 menyatakan, 1.051 jamaah tabligh telah dikarantina, 21 dinyatakan positif corona dan dua orang meninggal dunia..


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE