INVESTIGASI

Dunia Berburu
Vaksin Anticorona

“Antivirusnya memang ada beberapa calon, tetapi untuk vaksinnya itu bisa 10 bulan, bahkan bisa setahun, sebelum bisa di-approve oleh WHO.”

Ilustrasi: Fuad Hashim

Kamis, 19 Maret 2020

“Saya merasa terhormat melakukan ini. Saya berharap bahwa kita bisa mengerjakan vaksin ini dengan cepat dan dapat menyelamatkan nyawa orang lain, serta orang-orang bisa kembali ke kehidupan sebelumnya,” ungkap Jennifer Haller, 43 tahun, warga asal Seattle, Washington, Amerika Serikat, setelah menjalani uji coba pertama vaksin antivirus corona atau Coronavirus Disease of 2019 (COVID-19) seperti dikutip dalam wawancaranya dengan CNN, Rabu, 18 Maret 2020.

Haller, yang tercatat sebagai karyawan di sebuah perusahaan teknologi, mengakui sudah mengantongi restu dari keluarga dan anak-anaknya untuk menjalani percobaan vaksin itu. Selain Haller, Neal Browing, 46 tahun, seorang insinyur jaringan Microsoft yang tinggal di Bothle, Washington, juga menjalani percobaan yang sama. Keduanya telah disuntik vaksin anti-COVID-19 di laboratorium Kaiser Permanente Washington Health Research Institute, Seattle, Senin, 16 Maret 2020.

Proyek ini didanai oleh Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (National Institute of Allergy and Infectious Diseases/NIAID) di bawah kendali Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS. “Ini adalah kesempatan besar bagi kita untuk keluar dari masalah itu (penyebaran COVID-19). Kita harus mulai memikirkan orang lain dan memiliki kepedulian terhadap orang lain atas apa yang mereka alami saat ini,” ungkap Browning.

Haller dan Browning menjalani fase pertama percobaan untuk memastikan vaksin itu aman dan menginduksi respons yang diinginkan untuk sistem kekebalan tubuh manusia. Juga guna memastikan apakah vaksin ini efektif untuk mencegah infeksi COVID-19 atau tidak. “Kami diambil darahnya, untuk melihat dan memastikan tubuh bereaksi seperti yang mereka harapkan, menghasilkan antigen yang diharapkan akan memungkinkan kita memerangi virus corona jika kita terkena virus itu,” jelas Browning.

Warga Amerika Serikat Jennifer Haller menjadi relawan uji coba vaksin antivirus corona. 
Foto: Ted S Warren/AP Photo

Dikutip dari laman Associated Press dan USA Today, Senin, 16 Maret 2020, bakal vaksin anti-COVID-19 ini diberi nama dengan kode RNA-1273. Vaksin ini dikembangkan para ilmuwan dari NIAID dan perusahaan bioteknologi Moderna Inc. Vaksin ini dibuat setelah para ilmuwan saling berbagi informasi mengenai genetika virus corona lainnya di Timur Tengah. Juga setelah menerima informasi dari para ilmuwan China yang menemukan urutan genetika virus COVID-19. Vaksin ini akan diujicobakan pada 45 orang relawan yang berusia 18-55 tahun. “Kami tidak tahu apakah vaksin ini akan memicu respons kekebalan atau apakah itu aman. Itu sebabnya, kami melakukan uji coba,” ungkap Dr Lisa Jackson, pemimpin penelitian dari Kaiser Permanente Washington Health Research Institute.

Bukan hanya AS, pemerintah China telah melakukan percobaan vaksin. Seperti dilansir Reuters, Rabu, 18 Maret 2020, para peneliti di Akademi Sains Medis Militer China dan perusahaan bioteknologi asal Hong Kong, Cansino Biologics, melakukan uji coba vaksin yang dimulai pada 16 Maret hingga 31 Desember 2020 dengan melibatkan 108 orang relawan. Para ilmuwan Israel dari Galilee Research Institute (MIGAL) tengah menguji vaksin virus bronchitis avian coronavirus atau infectious bronchitis virus (IBV).

Sementara itu, Inggris melalui perusahaan layanan pengembangan klinis, Hvivo, berupaya melakukan hal yang sama. Malah perusahaan ini rela membayar Rp 67 juta kepada relawan yang siap menjadi ‘kelinci percobaan’. Mereka akan disuntik virus dan dikarantina selama dua pekan di Queen Mary BioEnterprises Innovation Centre, Whitechapel, London. Rencananya, Hvivo akan melakukan uji coba vaksin kepada 24 oran relawan yang akan disuntik strain virus 0C43 dan 229E.

Jumlah total korban virus corona di Korea Selatan telah mencapai 7.513 kasus.
Foto: Cung Sung-Jun/Getty Image

Lalu, bagaimana dengan upaya Indonesia? Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) ternyata sudah ditugasi oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Bambang Brodjonegoro memimpin konsorsium terkait membuat penawar virus corona itu. “Kami sudah menginisiasi untuk penelitian ke arah vaksin, karena Eijkman memang sudah ditugasi Menristek untuk memimpin konsorsium virus corona,” ungkap Direktur LBME Prof Amin Soebandrio kepada detikX, Sabtu, 14 Maret 2020.

Sampai saat ini, LBME tengah mengkaji dan menyiapkan strategi guna mengidentifikasi institusi atau pihak yang akan dilibatkan dan bisa bekerja cepat dalam konsorsium ini. Memang selama ini LBME menyebutkan akan menggandeng sejumlah lembaga, seperti Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Kesehatan, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. “Karena kalau terlalu banyak yang terlibat dan yang aktif hanya sedikit, nanti akan menjadi hambatan juga,” ucap Amin lagi.

Amin mengakui, untuk membuat vaksin, memang dibutuhkan waktu lama. Tapi, karena vaksin ini untuk kasus pandemi COVID-19, bisa saja beberapa proses prosedur dan perizinan dipersingkat, termasuk penelitian yang tak terlalu luas. “Antivirusnya memang ada beberapa calon, tetapi untuk vaksinnya itu bisa 10 bulan, bahkan bisa setahun, sebelum bisa di-approve oleh WHO. Tapi, sebelum itu, yang bisa kita lakukan adalah membangkitkan kekebalan tubuh,” jelasnya.

Mobil ambulans datang ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso sebagai rujukan pasien virus corona. 
Foto: Eva Savitri/detikcom

Sementara itu, Universitas Airlangga (Unair) melalui Institute of Tropical Disease (ITD) mengklaim sudah mengantongi enam sampel spisemen virus corona yang siap diproduksi menjadi vaksin. Tapi tim itu masih menyelesaikan penyusunan proposal agar mendapatkan izin dari Balitbang Kemenkes. “Kami siap melanjutkan untuk ke produksi antivirus atau vaksinnya. Kami sudah siapkan berbagai metode yang sudah kami diskusikan. Saat ini kami dalam tahap penyusunan proposal,” kata Rektor Unair Prof Mohammad Nasih di Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Unair, Rabu, 18 Maret.

Masyarakat berharap para ahli, pakar, dan ilmuwan segera menemukan obat penawar atau vaksin antivirus COVID-19 ini. Pasalnya, jumlah orang yang terjangkit virus itu semakin banyak. Kamis, 19 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mencatat 207.860 orang terinfeksi virus pandemik ini. Dari jumlah itu, 8.657 orang meninggal dunia di 166 negara. Sementara itu, di Indonesia, jumlah orang yang terjangkit COVID-19 sebanyak 227 kasus. Dari jumlah itu, 25 orang meninggal dunia dan 11 orang dinyatakan negatif dan sembuh.


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE