INVESTIGASI

Memburu
(Penimbun) Masker

“Saya lihat sendiri itu orang Korea beli di sini dibikin bonnya Rp 500 ribu per boks, padahal saya cuma jual Rp 320 ribu.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 7 Maret 2020

Di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, tepat pukul 11.00 WIB, Senin 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama warga di Indonesia terjangkit Novelcorona virus (2019-nCov). Virus menular itu menyerang seorang ibu dan anak warga Depok, Jawa Barat. Keduanya telah diisolasi di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta Utara. Setelah dua bulan menjalar ke berbagai negara, virus Corona akhirnya ‘singgah’ di Indonesia.

Di Pasar Pramuka, Matraman, Jakarta Timur, tak lama setelah Jokowi menyatakan adanya infeksi virus Corona pada warga Indonesia, suasana makin penuh sesak. Parkir kendaraan di sekitar pasar membeludak. Warga yang panik berdatangan untuk memborong masker. Meski harga masker sudah naik berkali-kali lipat, ditambah suasana pasar yang pengap siang itu, tekad mereka mendapatkan masker tak surut.

“Saya mendapat kabar dari grup WhatsApp terkait terdapat WNI yang sudah positif Corona di Jakarta ini. Berhubung rumah saya dekat dengan Pasar Pramuka, saya langsung saja ke sini untuk beli masker. Di apotek dekat rumah saya sudah habis dari minggu lalu katanya. Tapi pas ke sini ternyata harganya mahal sekali. Tapi ya mau bagaimana lagi, virusnya sudah nyebar di sini," kata Tari, 57 tahun, kepada detikX.

Tumpukan masker di Pasar Pramuka, Jakarta Timur
Foto: Vadhia Lidyana/detikcom

Seorang pembeli lainnya terlihat memborong sebuah merek masker seharga Rp 350 ribu per boks untuk dijual kembali. Dia terus mencoba menawar untuk mendapatkan harga miring. Namun usahanya tampak sia-sia. "Kalau harganya segini (Rp 350 ribu per boks), saya jual keluarnya lagi berapa, dong?" tanya dia di tengah bisingnya transaksi di Pasar Pramuka. Namun para pedagang menolak menurunkan harga maskernya. Sebab, untuk modalnya saja sudah di atas Rp 250 ribu per boks.

Saya juga sudah memerintahkan Kapolri untuk menindak tegas pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan momentum seperti ini dengan menimbun, masker terutama ini masker dan menjualnya lagi dengan harga yang sangat tinggi."

Di pasar obat terbesar di Indonesia itu, masker beraneka merek dalam kondisi normal dijual Rp 20-30 ribu per boks. Tapi saat ini masker dijual dari Rp 250-400 ribu per boks. Belum lagi jenis masker N95, yang dirumorkan paling bagus untuk menghadang virus Corona. Harga masker itu dapat menyentuh Rp 1,5 juta per boks atau Rp 70 ribu per buah. Harga masker terpantau turun sekitar 50 persen pada pekan terakhir Februari, tapi naik kembali setelah muncul kabar adanya warga yang terjangkit virus Corona.

Seorang pedagang masker dan obat-obatan di lantai dasar mengatakan kenaikan harga masker terjadi sejak awal Januari 2020. Ketika itu virus Corona baru muncul pertama kali di Wuhan, China. Banyak orang memborong masker dalam jumlah besar untuk dikirimkan ke China. Pedagang lainnya, Yuli Nurfalah, mengungkapkan para pemborong masker dari luar negeri bahkan meminta agar bon pembelian ditulis lebih tinggi daripada harga yang ditetapkan pedagang.

“Di luar negeri merek Sensi ini berapa coba harganya? Saya lihat sendiri itu orang Korea beli di sini dibikin bonnya Rp 500 ribu per boks, padahal saya cuma jual Rp 320 ribu. Makanya orang-orang dari luar negeri banyak nyari ke sini karena di sini lebih murah,” kata Yuli kepada detikX, Senin, 2 Maret 2020.

Antrean pembeli masker di Pasar Pramuka
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom

Ketua Asosiasi Pedagang Farmasi Pasar Pramuka Edi Haryanto mengatakan naiknya harga masker dipicu oleh makin sedikitnya stok, sementara permintaan melonjak. Juga karena banyaknya penimbunan oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab. Tingginya permintaan masker juga memicu percaloan, yang membuat rantai distribusi makin panjang dan harga naik tak terkendali. “Saya sampaikan bahwa harga Rp 300 ribu itu sudah tangan kedelapan. Setiap tangan ambil untung,” katanya di Pasar Pramuka.

Tingginya harga masker membuat Pemprov DKI Jakarta dan PD Pasar Jaya Turun tangan menggelar operasi pasar. Sebanyak 1 juta masker dijual dengan harga satuan Rp 2.500. Syaratnya, masyarakat yang membeli masker hanya diperbolehkan membeli satu boks dengan menunjukkan kartu tanda penduduk. Satu boks masker berisi 125 lembar masker. Dirut PD Pasar Jaya Arief Nasrudin berharap harga yang sudah ditetapkan stabil. Ia optimistis penjualan akan melampaui 1 juta masker setelah operasi pasar.

“Untuk menangani melonjaknya harga masker ini, kami di PD Pasar Jaya melakukan kerja sama dengan aparat kepolisian untuk mengecek agar tidak ada penimbunan. Yang kedua, memohon kepada pedagang untuk tidak membeli barang kepada mereka (penimbun). Saya tidak tahu agen resmi atau tidaknya, untuk kemudian dibeli dengan harga mahal,” kata Arif kepada detikX.

Hingga Kamis, 5 Maret 2020, Polda Metro Jaya telah menggerebek beberapa lokasi penimbunan masker di Jakarta dan sekitarnya. Jumlah masker yang diamankan pun tak tanggung-tanggung. Di Tangerang, misalnya, polisi menyita 700 ribu masker. Kemudian di Jakarta Pusat dan Utara, polisi mengamankan 40 ribu masker yang kemudian dijual murah kepada warga. Sedangkan dari Jakarta Barat diamankan 350 dus masker. Dari penggerebekan itu, 22 orang sudah diamankan petugas.

Kabid Humas Polda Metro Kombes Yusri Yunus mengatakan para pelaku disangkakan dengan Pasal 107 UU Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Menurutnya, penindakan ini sebagai upaya memberikan shock therapy kepada penimbun lainnya. Mereka diancam hukuman 5 tahun penjara dan denda paling tinggi Rp 50 miliar. “Siapa pun pelaku-pelaku yang untungkan diri sendiri dan bermain di saat masyarakat sedang membutuhkan, lalu menimbun, naikkan harga, maka akan kita tindak," jelasnya.

Polisi melakukan sidak ke distributor masker di Glodok, Jakarta
Foto: Pradita Utama/detikcom

Di daerah, pada Selasa, 3 Maret, dua mahasiswa di Makassar ditetapkan sebagai tersangka karena menimbun 10 ribu masker yang akan dijual ke Selandia Baru. Sebelum tertangkap, keduanya juga telah mengirimkan ribuan masker ke Bali dan Kalimantan sebanyak 30 dus. Dari setiap pengiriman masker, kedua mahasiswa itu meraup untung Rp 10-20 juta. Ribuan lembar masker juga diamankan di Makassar dari tiga tersangka, yang salah satunya merupakan aparatur sipil negara.

Selain penimbunan masker, terdapat pabrik masker rumahan yang digerebek polisi. Pabrik itu persisnya berada di Jalan Kalibaru, Senen, Jakarta Pusat. Di pabrik yang tak berizin itu, polisi menemukan bahan baku pembuat masker dalam bentuk gulungan. Dari bahan baku tersebut, diperkirakan pelaku bisa membuat 1 juta masker. Pemilik pabrik dan 12 karyawannya pun diamankan personel Polres Jakarta Pusat.

Presiden Jokowi memang telah memerintahkan Kapolri Jenderal Idham Aziz menindak tegas siapa pun yang melakukan penimbunan, terutama masker. Ia juga memperingatkan kepada para pedagang dan penimbun masker agar tidak mengambil keuntungan dalam kesulitan. "Saya juga sudah memerintahkan Kapolri untuk menindak tegas pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan momentum seperti ini dengan menimbun masker, terutama ini masker, dan menjualnya lagi dengan harga yang sangat tinggi," kata Jokowi.


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE