INVESTIGASI

Evakuasi WNI,
Kisah yang Belum Terungkap

“Brazil dan Brunei itu mau sewa pesawat kami juga. Kalau menurut saya coba urus diri sendiri dulu lah pakai pesawat negaranya sendiri dulu.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 13 Februari 2020

Dua hari lagi, tepatnya Sabtu, 15 Februari 2020, mendatang, 238 orang warga negara Indonesia (WNI) dan 18 kru pesawat Batik Air akan selesai menjalani observasi kesehatan di karantina Lanud Raden Sadjad, Natuna, Kepulauan Riau. Sejak tiba dari Wuhan, Provinsi Hubei, China, Minggu, 2 Februari 2020 lalu, mereka langsung menjalani pemantauan kesehatannya selama 14 hari.

Sampai saat ini, di antara mereka tak ada satu pun yang terindikasi terjangkit virus corona atau 2019-nCov yang ganas itu. Selama hampir dua pekan, para WNI dan kru Batik Air tinggal di tenda-tenda yang dibangun di dalam hanggar lapangan udara milik TNI Angkatan Udara. Setiap hari, mulai dari pagi, siang, dan malam, mereka menjalani tes kesehatan. Mereka juga melakukan aktivitas olahraga, permainan, hingga makan bersama. Mereka pun tak pernah lepas dari masker.

Kesehatan mereka dipantau secara rutin oleh dokter ahli Tim Observasi Wuhan-Natuna, yang terdiri dari dokter ahli penyakit paru, penyakit dalam, jantung, anastesi, kebidanan, dan psikolog. Para dokter itu berasal dari Kementerian Kesehatan dan Kantor Kesehatan Pelabuhan Tanjung Pinang. “Perkembangan kesehatan mereka setiap hari dipantau, baik suhu dua kali sehari, di pagi dan malam hari. Dan kondisinya saat ini tak ada yang melebihi 38 derajat,” kata Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Vensya Sihotang dalam keterangannya di Kantor Staf Presiden, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Rabu 12 Februari.

Sebanyak 250 WNI yang dievakuasi dari Kota Wuhan, China turun dari pesawat setibanya di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau.
Foto : M N Kanwa/ANTARA FOTO


Jadi, penunjukkan Batik Air sebagai maskapai untuk proses evakuasi itu cukup mendadak. Dua hari sebelum hari evakuasi, kami dihubungi oleh Kemenlu dan Kemenhub, apakah kami siap untuk berangkat melakukan misi evakuasi ini, dan kami jawab siap.”

Tak hanya 238 WNI, 18 orang kru pesawat Airbus 330-300CEO Batik Air dengan nomor register PK-LDY dan nomor penerbangan ID-8618 juga menjalani hal serupa di tempat itu. Selepas menjalankan misi penjemputan WNI dari Wuhan, mereka langsung dikarantina dan diobservasi kesehatannya. Hanya saja, 18 kru pesawat milik Lion Air Group ini ditempatkan di hanggar yang berbeda dengan para WNI lainnya, walau masih dalam satu areal. “Kru kita masih menjalani protokol kesehatan di Natuna. Masih proses karantina,” kata Head Public Relation Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, kepada detikX, Rabu 12 Februari.

Tak hanya itu, pesawat Batik Air sempat menjalani karantina selama tiga-empat hari di Bandara Hang Nadim, Batam. Pesawat itu menjalani pembersihan, sterilisasi, penyemprotan cairan multiguna, dan penggantian saringan udara kabin dan perawatan berkala. Pembersihan dan sterilisasi merupakan kerjasama Pusat Perawatan Batam Aero Technic (BAT) milik Lion Air Group dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Batam dan TNI Angkatan Udara. “Updatenya, pesawat sudah diterbangkan,” jelas Danang tanpa merinci kapan pesawat itu mulai dioperasikan kembali.

Menurut Direktur Utama Batik Air, Achmad Luthfie, baju seluruh awak pesawat ikut diisolasi selepas dari Wuhan. Bahkan, sepatu dan kacamata mereka pun ikut diisolasi. Sebaliknya, seluruh kebutuhan yang diinginkan oleh para kru selama karantina dipenuhi, seperti snack, sepatu olahraga, gitar, papan catur dan lain sebagianya. Selesai dari karantina nanti, manajemen Batik Air rencananya akan memberikan penghargaan dan intensif kepada 18 orang kru-nya itu, yang dinilai telah berani mengikuti misi kemanusiaan Pemerintah Indonesia. “Kita juga berharap pemerintah memberikan tanda jasa Satya Lencana atau penghargaan kepada awak pesawat kami,” kata Achmad.

Ada sejumlah cerita yang belum terungkap terkait proses evakuasi yang melibatkan pesawat dan kru Batik Air itu. Kamis, 30 Januari 2020, telepon kantor Batik Air di Lion Air Tower, Jalan Gajah Mada No 7, Jakarta Pusat, tiba-tiba berdering. Terdengar suara di seberang sana menanyakan kesiapan pesawat untuk mengangkut WNI yang berada di Wuhan. Penelepon itu adalah pejabat Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perhubungan. Pemerintah khawatir dengan nasib WNI yang berjumlah 245 orang terperangkap di Wuhan. Semua akses menuju dan dari kota itu ditutup serta diisolasi pasca penyebaran virus corona. Khawatir akan nasib para WNI yang didominasi mahasiswa itu, pemerintah mengambil langkah untuk menjemput mereka.

Direktur  Utama Batik Air, Achmad Luthfie
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama

Pemerintah membentuk tim evakuasi pada 30 Januari 2020. Tim yang berjumlah 42 orang tersebut terdiri dari relawan dari Kementerian Kesehatan dan Tentara Nasional Indonesia. “Jadi, penunjukkan Batik Air sebagai maskapai untuk proses evakuasi itu cukup mendadak. Dua hari sebelum hari evakuasi, kami dihubungi oleh Kemenlu dan Kemenhub, apakah kami siap untuk berangkat melakukan misi evakuasi ini, dan kami jawab siap,” kata Achmad.

Menurut dia, Batik Air selama ini memang satu-satunya maskapai yang memiliki rute penerbangan ke Wuhan. Pemerintah China pun mensyaratkan pesawat penjemput warga negara asing dari Wuhan harus pesawat sipil yang mempunyai rute ke Wuhan. Selain Indonesia yang menggunakan Batik Air, Australia menjemput 100 warganya menggunakan pesawat jet Qantas 747. Jepang menyewa pesawat All Nippon Airline (ANA) untuk menjemput 400-an warganya. Amerika Serikat mengerahkan pesawat Boeing 737 dan 747 untuk mengevakuasi 1.000 orang warganya.

Setelah menyanggupi evakuasi WNI, manajemen Batik Air lalu meminta slot untuk mendarat di Wuhan pada hari yang ditentukan. Slot pendaratan itu diperlukan, sebab pada 1 Februari itu ada lima negara yang juga mengevakuasi warganya masing-masing, salah satunya Maroko. Selain itu, manajemen harus mencari kru yang berani dan bersedia untuk menjalankan misi kemanusian itu. Di luar dugaan, banyak pilot dan pramugari yang mengajukan diri untuk berperan serta. Akhirnya dipilihlah 18 orang yang akan mengawaki pesawat ke Wuhan. Mereka terdiri dari dua pilot (Kapten Destyo Usodo dan Kapten Suyono Suwito), dua ko-pilot, 11 awak kabin, 2 teknisi, dan 1 flight operation officer. “Tugas yang dilakukan sama saja seperti biasanya sesuai SOP, cuma dari saya pribadi saya hanya minta mereka lebih care terhadap saudara kita dalam melaksanakan misi evakuasi ini,” ucap Achmad.

Proses Evakuasi WNI dari Wuhan akibat VIRUS CORONA
Foto : Dok. Kemenlu

Selain menyiapkan semua prosedur administrasi, ke-18 kru Batik Air itu juga menjalani cek kesehatan di poliklinik perusahaan untuk dinilai apakah layak terbang atau tidak. Mereka juga diberi vitamin dan suntik anti-influenza supaya badan mereka lebih kuat. Pada malam H-1 mereka bergabung dengan tim evakuasi lainnya dari TNI dan Kemenkes untuk proses isolasi di Swiss-Bel Hotel dekat Bandara Internasional Soekarno-Hatta .

Sebelum berangkat, pesawat berkelir merah itu diisi bahan bakar penuh. Hal itu dilakukan supaya bahan bakar cukup untuk pulang-pergi Jakarta-Wuhan-Batam. Sebab, apabila harus transit di suatu negara, belum tentu negara tempat transit itu bakal menerima pendaratan pesawat. Yang lebih penting lagi, pengisian bahan bakar penuh itu adalah untuk meminimalisasi kontak kru pesawat selama berada di Wuhan.

Selama penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Wuhan seluruh kru pesawat dan tim evakuasi mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap dengan masker dan kacamata google. Tiba di Wuhan setelah menempuh perjalanan sekitar enam jam, mereka tidak turun dari pesawat dan harus menunggu selama delapan jam lamanya di dalam kabin pesawat. Pintu pesawat selalu dalam keadaan tertutup. Selama menunggu, mesin bagian belakang pesawat terus dinyalakan untuk menghidupkan AC, lampu, serta berkomunikasi. Pintu pesawat baru dibuka begitu para WNI siap naik ke pesawat. “Pesawat didorong mundur di Wuhan itu pukul 04.30 pagi (2 Februari) dan perjalanan menuju Batam itu kurang lebih lima jam,” terang Ahmad.

Begitu tiba di Batam, pesawat langsung parkir di tempat khusus di Bandara Internasional Hang Nadim, Batam. Seluruh penumpang dan kru Batik Air disemprotkan cairan disinfektan. Kemudian semuanya ditransfer menggunakan tiga pesawat milik TNI Angkatan Udara, yaitu dua jenis Boeing dan satu Hercules C-130 menuju Bandara Raden Sadjad, Natuna. Ahmad menyebutkan, pasca evakuasi, beberapa negara menghubungi pihaknya untuk menyewa pesawat untuk keperluan evakuasi, namun ditolak.

Proses Evakuasi WNI dari Wuhan akibat VIRUS CORONA
Foto : Indonesian Foreign Ministry via AP

“Brazil dan Brunei itu mau sewa pesawat kami juga, sudah nanya-nanya. Kalau menurut saya coba urus diri sendiri dulu lah pakai pesawat negaranya sendiri dulu. Kita kalau hitung hitungan, ya, rugi besar, karena pesawat kita harus stay juga nanti, harus ganti ini-ganti itu lagi kan. Pesawat kita dikarantina juga soalnya. Belum lagi kru saya ini selama lebih 14 hari tidak bisa dipergunakan dengan efisien. Ya, kasarnya saya menolak lah permintaan dari Brunei dan Brazil ini,” pungkasnya.


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE