INVESTIGASI

Kerangka Manusia Punya Siapa (2)

Lelaki yang ditemukan tinggal tulang di rumah kosong di Bandung diperkirakan tewas 6-12 bulan lalu. Tetangga tak mencium sedikit pun bau busuk dari rumah itu.

Ilustrasi: Denny Putra

Rabu, 29 Januari 2020

Identitas manusia yang ditemukan tinggal kerangka di rumah kosong milik Johan Rismana di Kompleks Perumahan Sukamenak Indah Blok I-61, RT 06 RW 04, Desa Sayati, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, pada 14 Januari 2020 hingga kini masih gelap. Sejauh ini yang baru diketahui adalah jenis kelaminnya, yakni laki-laki, dengan usia dewasa sampai paruh baya. Selain itu, diperkirakan lelaki itu meninggal 6-12 bulan sebelumnya.

Hal tersebut diketahui setelah polisi mengirimkan kerangka “Mr X” kepada tim forensik Rumah Sakit Bhayangkara (RSB) Sartika Asih di Jalan Moh Toha, Cisereuh, Regol, Kota Bandung. Sebelum diperiksa, tulang-belulang yang masih lengkap itu dibersihkan dari sisa daging, jaringan otot, dan jaringan lunak yang masih menempel. Setelah bersih, tulang-tulang itu kemudian dirangkai menjadi kerangka manusia utuh.

Meski jenis kelamin dan perkiraan meninggalnya dapat diketahui, penyebab kematian Mr X cukup sulit diidentifikasi. Sebab, tak ditemukan kerusakan atau keretakan pada tulang dan tengkorak kepalanya. “Nah, di kasus ini kita tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan tersebut, baik luka bacok dan sebagainya di tulang. Jadi kita belum bisa menyimpulkan penyebab kematiannya,” kata dokter forensik dari RSB Sartika Asih, dr Nurul Aida Fathya, saat ditemui detikX di ruang kerjanya, Rabu, 22 Januari 2020.

dr Nurul Aida Fathya 
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Nurul menambahkan, bisa saja Mr X merupakan korban pencekikan atau pembekapan. Tetapi kekerasan jenis tersebut tak berefek pada kerusakan tulang, khususnya di bagian leher. Selain itu, dari penelitiannya, pada tulang panjang lelaki misterius itu tak ditemukan penyakit, seperti  osteosarcoma (nyeri atau pembengkakan tulang) atau tumor tulang. Bila Mr X menderita sakit tulang dengan stadium tinggi, akan mengubah bentuk tulang dan menyebabkan kematian. “Tapi kalau ini secara keseluruhan tidak ada. Bentuk tengkorak bagus, tidak ada perubahan bentuk,” ucap Nurul lagi.

Kalau ada kucing atau tikus mati saja pasti kecium ya, apalagi ini manusia ya, pasti tercium baunya. Ini mah nggak.'

Sedangkan proses pembusukan pada jenazah, menurut dia, berlangsung cepat, karena jenazah berada di udara bebas, bukan di dalam tanah atau air. Proses pembusukan tubuh manusia di udara bebas delapan kali lebih cepat daripada di dalam tanah dan empat kali lebih cepat daripada di dalam air. “Pembusukannya lebih cepat sehingga penguraian dari jaringan lunaknya juga lebih cepat juga. Perkiraan ya sekitar enam bulan sampai satu tahun itu (sejak meninggal sampai ditemukan),” ujar Nurul.

Tim forensik RSB Sartika Asih juga telah mengambil sampel deoxyribonucleic acid (DNA) dari potongan rambut, gigi, dan tulang panjang jenazah. Tim juga bekerja sama dengan Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri. Hasilnya akan bisa diketahui dua pekan ke depan atau mungkin lebih. Setelah data postmortem, yaitu data ciri fisik dan DNA diketahui, akan dicocokkan dengan data antemortem berupa data fisik khas korban sebelum meninggal dunia. Data antemortem ini nantinya diketahui dari laporan kehilangan orang dari keluarga korban atau masyarakat.

Kerangka manusia di rumah kosong di Kabupaten Bandung saat diperiksa polisi di TKP
Foto: dok. Istimewa

Saat ditemukan, kerangka Mr X dalam posisi 'duduk' di sofa yang lusuh. Tak ditemukan bercak darah, juga identitas, seperti kartu tanda penduduk (KTP). Berdasarkan keterangan polisi dari hasil olah TKP, Mr X juga tidak menggunakan pakaian sehelai pun, kecuali jas hujan ponco warna biru muda telur asin yang membalut tubuhnya. Polisi sudah membuat nomor hotline 081343520327 agar masyarakat yang merasa kehilangan keluarga dengan cirri-ciri di atas segera melaporkannya.

“Karena data sudah ada pada kami, kalau seandainya orang yang mengaku kehilangan tersebut, bisa memberikan ciri-ciri yang cocok dengan Mr X ini, maka akan ditindaklanjuti dengan mencocokkan DNA, apakah ada kecocokan hubungan kekeluargaan dengan Mr X,” ungkap Kapolres Kota Bandung Kombes Hendra Kurniawan kepada detikX di ruang kerjanya di Jalan Bhayangkara, Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa, 21 Januari 2020.

Berdasarkan pemeriksaan polisi atas pemilik rumah, penemu kerangka, juga penduduk di sekitar rumah kosong itu, tak ditemukan kejanggalan yang bisa menjadi petunjuk awal penyebab kematian Mr X. Namun polisi tetap berupaya melakukan penyelidikan secara maksimal. “Kami tinggal menunggu barangkali ada yang merasa kehilangan dan berkaitan dengan korban ini,” imbuh Hendra.

detikX pun berupaya menanyakan kepada tetangga terdekat rumah kosong milik Johan Risman di kiri dan kanannya. Sayangnya, banyak yang tak mau memberikan kesaksian. Tetangga di luar Kompleks Sukamenak tapi hanya berjarak 15 meter dari rumah penemuan mayat mengatakan selama ini tidak ada hal yang mencurigakan di sekitar rumah Johan. “Bau nggak enak, bau busuk gitu nggak ada, sama sekali nggak ada. Kalau ada kucing atau tikus mati saja pasti kecium ya, apalagi ini manusia ya, pasti tercium baunya. Ini mah nggak,” kata Tatang di rumahnya,  Senin, 20 Januari 2020.

Tatang, warga di dekat Kompleks Perumahan Sukamenak Indah
Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Ia mengatakan selama ini di sekitar lokasi juga tak pernah ada hal-hal yang mencurigakan, seperti orang nongkrong. Apalagi rumah yang kosong bukan hanya milik Johan. Ada tiga rumah kosong lainnya milik warga. Seingat Tatang, dulu memang ada orang gila mondar-mandir di sekitar lokasi, tapi jenis kelaminnya perempuan. “Dulu saya pernah melihat orang gila di sekitar rumah itu, tapi cewek. Tapi juga itu sudah pergi orang gilanya sekitar tahun 2018 itu,” terangnya.

Tatang mengatakan seharusnya rumah-rumah kosong itu dicek pemiliknya secara periodik agar tak digunakan pihak yang tak bertanggung jawab. Tatang sempat melihat Suherman membersihkan rumah kosong milik Johan itu. Tapi Suherman jarang berkomunikasi karena bukan warga perumahan. Tatang mengaku dirinyalah yang memasang lampu agar terang pada proses penyelidikan polisi di TKP.

Tatang tak merasa heran bila warga di Kompleks Sukamenak, khususnya yang berdekatan dengan TKP, tak melihat kejanggalan dan keanehan. Pasalnya, kehidupan di kompleks selama ini terlihat individualistis dan jarang warganya bertegur sapa dan berkomunikasi. Berbeda dengan tempat tinggal Tatang, yang sudah masuk wilayah perkampungan biasa. “Kalau di kampung kan ada ronda siskamling, ngeliwet bareng. Ya kalau di kompleks itu kan lebih individualistis, ya hare-hare wae (cuek-cuek saja),” pungkas Tatang.


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE