INVESTIGASI

'For Jokowi' Dulu,
'For Gibran' Kemudian

Sebagian besar relawan pendukung Jokowi-Ma’ruf di Solo kini bergerak untuk Gibran Rakabuming Raka, putra Jokowi. Antisipasi jika mesin PDIP Solo tak mau bekerja untuk Gibran.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 16 Desember 2019

Antonius Yogo Prabowo kini rajin mengunjungi warung-warung kopi dan wedangan yang ada di berbagai sudut Kota Solo, Jawa Tengah. Selain ingin menikmati kayanya kuliner khas Solo, satu-satunya anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Solo dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini mempunyai misi khusus. Tak lain adalah menyosialisasikan rencana Gibran Rakabuming Raka maju di ajang pemilihan walikota Solo tahun depan.

Sejak bursa Pilwalkot Solo mulai memanas beberapa waktu lalu, putra Presiden Joko Widodo tersebut menjadi salah satu figur yang ikut mengincar kursi AD-1. Gibran mendaftar melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), partai yang juga membesarkan nama Jokowi mulai dari menjadi Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga Presiden RI dua periode. Sayang, pendaftaran melalui Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Solo sudah ditutup dan  DPC menyerahkan pasangan cawali dan cawawali Achmad Purnomo-Teguh Prakosa kepada Dewan Pimpinan Pusat PDIP untuk mendapat rekomendasi.

Gibran Rakabuming Raka saat berangkat mendaftar ke DPP PDIP Jawa Tengah.
Foto : dok. Istimewa


Kemarin ada penolakan mengatasnamakan Paguyuban Warga Solo Peduli Pemilu. Kontennya menyerang Mas Gibran. Tidak sepakat kalau Mas Gibran masuk. Kami kontak Mas Gibran jawabannya. ‘Santuy aja, mas. Kami juga kemudian ikut alur bercandanya Mas Gibran.“

Gibran kemudian mengunjungi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat PDIP Megawati Soekarnoputri pada 24 Oktober 2019 lalu. Namun, rupanya restu tak langsung didapatkan Gibran dari Megawati. Hingga kemudian Gibran menempuh jalur baru, yaitu mendaftar melalui DPD PDIP Jateng di Semarang pada Kamis 12 Desember 2019. Saat mendaftar, Gibran diantar ratusan relawan pendukungnya, termasuk Antonius.

Menurut Antonius, hampir tidak ada warga Solo yang tidak mengenal Gibran sebagai anak Jokowi. Mereka juga mengetahui bahwa Gibran hendak maju menjadi calon walikota Solo. Kendati demikian, masih banyak penduduk kota batik yang mempertanyakan keseriusan Gibran terjun ke dunia politik. Karena itulah dirinya dan relawan Gibran lainnya bertugas meyakinkan warga Solo terkait niat Gibran itu.

“'Bu, Pak, Mas Gibran itu serius. Mas Gibran ingin bangun Kota Solo. Berangkat dari rasa keprihatinan terhadap Kota Solo, Mas Gibran ingin membangun, menyejahterakan warga Solo.' Mulai dari situ pembicaraan bergulir. Harapannya setelah meninggalkan warung, yang punya warung menginformasikan dari mulut ke mulut,” kata Antonius saat berbincang dengan detikX, pekan lalu.

Sampai saat ini, lanjutnya, setidaknya ada 24 simpul relawan di Solo yang blusukan untuk menyosialisasikan langkah politik Gibran berikut dengan visi misinya. Umumnya mereka yang sekarang bergelut sebagai relawan Gibran adalah yang pada Pilpres 2019 lalu menjadi relawan capres-cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin. “Misalnya saya dan teman-teman di relawan Pak Jokowi, Bara JP Solo, saya ketuanya. Sekarang berubah menjadi Bara JP 4 G,” ujar Antonius. G merujuk ke Gibran.

Demikian pula kelompok-kelompok relawan yang berisi anak-anak muda di Solo. Mereka yang dulunya relawan pendukung Jokowi kini bergerak di level akar rumput untuk menyukseskan pencalonan Gibran. Sebut saja misalnya Koncone Gibran Gaes (Kagege),  Relawan Nasional Jokowi 4 G, Teman Jokowi 4 G, dan lain-lain. “Tapi ada juga kelompok relawan yang benar-benar baru. Jadi tidak terbentuk dari zaman Pilpres,” kata Imelda, Juru Bicara Kagege kepada detikX, pekan lalu.

Gibran resmi daftar bakal Cawalkot Solo lewat DPD PDIP Jateng
Foto : Dok. detikcom

Menurut Imelda, masih ada juga relawan Jokowi-Ma’ruf yang menunggu hasil rekomendasi DPP PDIP sebelum menyatakan kembali terjun untuk Gibran. Sebagian tidak mau lagi berkecimpung untuk dukung-mendukung dalam gelaran politik lokal ini. Namun, ada pula relawan Jokowi-Ma’ruf yang menolak untuk bergabung ke Gibran. Mereka rata-rata adalah pendukung Purnomo-Teguh dan relawan dari PDIP Solo.

“Jadi memang dari seluruh relawan Pak Jokowi dulu, katakanlah 100 persen, 1 persen nggak mau terlibat lagi. Yang 90 persen terbagi tiga. Satu dari awal mendukung Gibran, mendukung tapi nunggu rekomendasi, nah yang satu bagian lagi yang mendukung ke kubunya Purnomo-Teguh,” kata Imelda.

Terjadinya faksi dalam pencalonan pilwalkot Solo dari PDIP membuat pendukung masing-masing pihak berpotensi berbenturan. Karena itu, menurut Antonius, Gibran sudah dari jauh-jauh hari menitip pesan kepada relawan untuk menghindari konflik dengan pendukung Purnomo-Teguh. Gibran juga berpesan agar para relawannya tetap menjaga situasi Solo tetap adem. Ketidakmauan mesin PDIP untuk bergerak memenangkan Gibran juga sudah diantisipasi oleh relawan.

“Kemarin ada penolakan mengatasnamakan Paguyuban Warga Solo Peduli Pemilu. Kontennya menyerang Mas Gibran. Tidak sepakat kalau Mas Gibran masuk. Kami kontak Mas Gibran jawabannya, ‘santuy aja, mas.' Kami juga kemudian ikut alur bercandanya Mas Gibran. “Haters itu kadang-kadang diperlukan. Itu menaikkan popularitas, ha-ha-ha,”' ujar Antonius menirukan Gibran.

Antonius merasa optimistis gerakan relawan bakal menyumbang suara sebesar 40 persen untuk Gibran. Namun, bagaimana bila Gibran tak direkomendasikan oleh DPP PDIP untuk maju di Pilkada Solo? Relawan akan mendorong pengumpulan kartu tanda penduduk (KTP) supaya Gibran bisa maju melalui jalur independen. “Kami sudah menabung beberapa ribu KTP.  Jadi kalaupun dengan independen dengan kolaborasi relawan itu tidak sulit,” sebut Antonius.

Presiden Jokowi
Foto : Andhika Prasetia/detikcom

Selain dibantu oleh relawan, Gibran juga mulai rajin menyambangi tokoh-tokoh masyarakat dan ulama di Solo untuk meminta dukungan. Antara lain Gibran telah menemui pimpinan Pondok Pesantren Al Quraniy Azzayadiy di Solo, KH Abdul Karim alias Gus Karim, yang kebetulan juga penyokong Jokowi pada Pilpres yang lalu. Ketika mendaftar ke DPD PDIP Jateng, Gibran juga didampingi oleh Habib Hasan Mulachela, tokoh agama di Solo.


Penulis: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE