INVESTIGASI

Bantargebang Menunggu Tumbang

“Kalau pengurangan sampah di sumbernya dimaksimalkan, pembangunan ITF dilaksanakan, ya insyaallah masa pakai Bantargebang bisa diperpanjang lagi.”

Gunung sampah di Bantargebang, Bekasi (Syailendra Hafiz Wiratama/detikX)

Rabu, 20 November 2019

Iring-iringan truk sampah berwarna oranye bertulisan ‘Dinas Kebersihan Pemprov DKI Jakarta’ melintas di Jalan Raya Narogong dan Jalan Pangkalan 5 menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Desa Ciketing Udik, Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. Truk-truk itu berjalan pelan begitu memasuki pintu gerbang utama TPST sebelum antre satu per satu untuk ditimbang beratnya di pos penimbangan.

Jalan utama menuju TPST Bantargebang relatif bersih. Di bahu kiri dan kanan jalan selalu ada petugas yang siap siaga mengangkut ceceran sampah yang terjatuh dari bak truk. Semilir angin yang mengembuskan bau tak sedap mulai terasa menggelitik hidung ketika detikX berjalan melewati pintu gerbang TPST pada Kamis, 14 November 2019.

Tulisan ‘Green TPST Bantar Gebang’ terlihat di sebuah bukit kecil bekas gundukan sampah lama. Setelah itu, dari kejauhan terlihat beberapa timbunan sampah lama yang sudah menjadi beberapa gunungan sampah setinggi 30-40 meter. Di antara gunungan sampah itu juga ada yang sudah ditanami pepohonan dengan tinggi 3-5 meter, yang disangga beberapa bilah kayu.

Antrean truk Dinas Kebersihan Pemprov DKI memasuki TPST Bantargebang
Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikX


Kita fokus di dua zona itu dulu buat menghabiskan sampahnya pelan-pelan. Ada sekitar 20 hektare luasnya yang akan kita mulai tahun depan di 2020. Mudah-mudahan, dari gunungan sampah yang 10 atau 5 hektare itu, bisa kita kurangi lagi sehingga ada space baru. Itu targetnya di 2020 kita laksanakan.”

Sementara itu, di dalam TPST, sejumlah truk memuntahkan sampah yang baru datang. Alat berat buldoser dan ekskavator siap memindahkan dan meratakan sampah. Ratusan pemulung berebut mengais rezeki, memunguti barang-barang yang dianggap bernilai dari sampah itu untuk didaur ulang. Mereka sepertinya tak terpengaruh oleh kabar penampungan sampah itu terancam tutup pada 2022.

“Setiap hari ada 1.500 truk dari Jakarta yang datang mengirim sampah ke sini. Selain dari Jakarta, dari wilayah Bekasi, tapi berbeda zona pembuangannya,” ujar Dewi, salah seorang security TPST Bantargebang yang mengantarkan detikX melihat-lihat TPST Bantargebang.

Seperti diketahui, kapasitas TPST Bantargebang diperkirakan tinggal tersisa untuk dua tahun lagi. Tempat pengelolaan sampah yang sudah berusia 30 tahun itu, sejak dibangun pada 1989 itu, memiliki total luas 110 hektare. Daya tampung TPST mencapai 49 juta ton. Pada 2019 ini tercatat sudah 90 hektare terisi sampah dengan volume 39 juta ton. Itu artinya sisa 20 hektare lahan akan penuh kapasitasnya dalam dua tahun ke depan.

“Jadi, terkait informasi bahwa TPST Bantargebang akan penuh pada 2022, itu betul. Bahkan bisa lebih cepat di tahun 2021. Dari hasil kajian dan hitungan kita, kapasitas yang ada di Bantargebang itu tinggal sisa 10 juta ton,” ungkap Kepala Unit Pengelolaan Sampah Terpadu (UPST) Bantargebang Asep Kuswanto kepada detikX di kantor Dinas Lingkungan Hidup Pemprov DKI Jakarta, Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis, 14 November 2019.

Bila Pemprov DKI Jakarta tak melakukan apa-apa, lanjut Asep, dengan jumlah sampah yang diperkirakannya 7.900 ton per hari, kapasitas maksimum lahan di Bantargebang bakal penuh pada 2022. Dan, bila Bantargebang terus dipaksakan menerima kiriman sampah, bakal berdampak buruk bagi lingkungan warga desa yang mengitari lahan TPST Bantargebang.

“Yang terjadi maka gunungan sampahnya sudah nggak bisa ditinggikan lagi. Kalau ditinggikan lagi akan berdampak buruk bagi sekitar, entah longsor atau bagaimana, itu kan bahaya. Makanya pada 2021 sudah kami prediksikan sebagai titik warning (peringatan) supaya Jakarta, ayo perbaiki pengelolaan sampahnya, supaya kami yang mengelola Bantargebang bisa napas dan menambah usia pakai Bantargebang itu sendiri,” terang Asep lagi.

Proses pembuangan sampah di TPST Bantargebang
Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebetulnya telah mengeluarkan tiga kebijakan strategis terkait sampah DKI. Pertama, membangunan intermediate treatment facility (ITF) yang saat ini berada di lokasi kawasan Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Target ITF Sunter selesai dan segera dioperasikan pada 2022. Kedua, mengoptimalkan lahan di Bantargebang. Ketiga, mengurangi sampah di hulu dan sumbernya, mulai lingkungan dan rumah. “Kalau pengurangan sampah di sumbernya dimaksimalkan, pembangunan ITF dilaksanakan, ya insyaallah masa pakai Bantargebang bisa diperpanjang lagi,” ucap Asep.

Untuk optimalissi TPST Bantargebang, bakal dilakukan landfill minning, yaitu menambang timbunan sampah-sampah yang berusia tua agar bisa dikurangi jumlahnya sehingga akan menambah ruang baru. Lahan TPST Bantargebang terbagi menjadi lima zona. Zona 1, 2, dan 5 saat ini sudah menyatu jadi satu zona yang membentuk timbunan  sampah yang menggunung setinggi 50 meter dari permukaan tanah. Kondisinya memang sangat memprihatinkan, karena sudah tak bisa ditambah lagi ketinggiannya. Landfill minning atau mengeruk sampah hanya bisa dilakukan di zona 3 dan 4 seluas 20 hektare.

“Kita fokus di dua zona itu dulu buat menghabiskan sampahnya pelan-pelan. Ada sekitar 20 hektaran luasnya yang akan kita mulai tahun depan di 2020. Mudah-mudahan dari gunungan sampah yang 10 atau 5 hektare itu, bisa kita kurangi lagi sehingga ada space baru. Itu targetnya di 2020 kita laksanakan,” kata Asep.

Untuk landfill minning, TPST Bantargebang bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta dan Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Sementara itu, di lahan itu memiliki fasilitas power horse untuk pengolahan sampah menjadi gas metana, yang akan diubah menjadi listrik. Juga fasilitas insinerator atau tempat pembakaran yang akan digunakan sebagai sumber pembangkit listrik tenaga sampah. Fasilitas insinerator masih bersifat pilot project yang dikerjakan bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Saat ini insinerator masih diuji coba dengan 100 ton sampah.

Di sisi lain, Pemprov DKI Jakarta sudah melakukan kampanye untuk mengurangi sampah yang akan masuk ke Bantargebang. Salah satunya kampanye program ‘Samtama’ atau ‘Sampah Tanggung Jawab Bersama’ yang telah diluncurkan Anies. Program itu bagaimana mengolah sampah sejak dari hulu atau sumbernya dimulai dari rumah. Bagaimana warga bisa memilah mana sampah organik dan nonorganik dan sebagainya. Organik bisa dikelola menjadi kompos atau pupuk dan non-organik bisa dijual melalui Bank Sampah atau pengepul.

Gunungan sampah di TPST Bantargebang
Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Sayang, kampanye itu belum dilakukan secara masif. Artinya, dari total produk sampah di Jakarta yang berjumlah 7.700 ton per hari itu, baru 600 ton sampah yang terolah di hulu. Sebagian besar masih masuk Bantargebang. “Maka dari itu, kita harapkan gerakan atau penyuluhan ini dapat lebih masif lagi. Dan kesadaran masyarakat akan pengelolaan dan dampak dari sampah pun juga harus perlu ditingkatkan lagi,” pungkas Asep.

Peneliti Indonesian Centre for Environmental Law (ICEL) Fajri Fadhilah mengatakan, sebenarnya beban TPST Bantargebang tidak akan berkurang dengan dibangunnya ITF Sunter walau diakui ada pengurangan kuantitasnya. Tetapi justru pembangunan ITF akan memuncullkan masalah baru di Jakarta, yaitu pencemaran udara. “Di sisi lain beban tak akan hilang begitu saja, itu akan beralih ke masalah lainnya. Pertama, pembakaran sampah itu tidak membakar 100 persen. Sampahnya itu masih ada sekian persen yang akan menjadi fly and bottom ash yang akan menjadi limbah B3,” kata Fajri kepada detikX, Selasa, 12 November 2019.

Pembakaran melalui insinerator dengan temperatur suhu tinggi menghasilkan uap untuk menggerakkan turbin yang akan diubah menjadi listrik. Masalahnya, abu hasil pembakaran berupa gas dan partikel yang terbuang melalu cerobong melayang ke udara. Inilah yang disebut fly and bottom ash. “Itu adalah salah satu residu yang berbahaya, karena sifatnya ada radioaktif di situ. Di Indonesia pun sampai detik ini masih dianggap sebagai limbah B3,” terang Fajri.

ICEL merekomendasikan akselerasi pengelolaan sampah dari dua sisi, yaitu mulai hulu sampai hilir. Pengelolaan sampah juga harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan terkait pengelolaan sampah yang berwawasan dan perlindungan terhadap lingkungan. Perlunya mendorong lebih cepat edukasi kepada masyarakat di perumahan untuk bisa memilah sampah organik dan nonorganik. Edukasi dengan cara door to door.

“Di Indonesia dari 100 persen sampah, 60 persennya berupa sampah organik. Maka, anggaplah 7.000 ton sampah itu 60 persen sampah organik, ya sudah bisa selesai di rumah tangga masing-masing, itu yang di hulunya,” terang Fajri lagi.

Indonesian Center for Enviromental Law Fajri Fadhillah
Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Seharusnya sejak dulu semua pemkot atau pengelola kawasan, seperti perumahan, apartemen, hotel, serta pusat perbelanjaan dan lainnya membuat pengelolaan sampah teknik sanitary landfill, bukan lagi open landfill seperti saat ini. Bukan lagi mengejar pembangunan insinerator, tapi membangun tempat penampungan sampah (TPS) yang menggunakan sistem reuse, reduce, and recyle atau TPS3R. “Saya jarang mendengar ada TPS yang menggunakan sistem 3R ini. Jadi seharusnya, sebelum dibawa ke Bantargebang, ada dulu di TPS3R yang dekat permukiman warga masing-masing,” jelas Fajri lagi.

Limbah sampah nonorganik, seperti plastik, juga menjadi problema terbesar dalam masalah sampah. Sebenarnya, di dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 81/2012 sudah mendelegasikan kepada Kementerian Lingkungan Hidup untuk membuat aturan pengurangan sampah nonorganik. Sayangnya, aturan yang dibuat itu dikabarkan baru akan ditandatangani Menteri Lingkungan Hidup pada akhir 2019 ini. “Itu sudah memakan waktu tujuh tahun. Bisa kita bayangkan, jika peraturan tersebut bisa dibuat lebih awal, pada 2014 misalnya, mungkin akan banyak perubahan positif yang bisa dicapai dari 2014 sampai 2019 ini,” tandas Fajri.


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE