INVESTIGASI

Horor Ninoy
di Masjid Pejompongan

“Ada seorang yang dipanggil habib itu memberi ultimatum kepada saya bahwa waktu saya pendek, karena saya akan dibelah kepala saya.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 8 Oktober 2019

Ribuan demonstran kembali menyambangi gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat (MPR/DPR) di Senayan, Jakarta, pada Senin, 30 September 2019. Para pedemo sejak pagi melakukan aksi untuk menolak pengesahan rancangan revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi. Demo itu buntut dari beberapa aksi sebelumnya yang dilakukan mahasiswa dan pelajar yang berujung bentrokan dengan aparat.

Momen demo itu menjadi perhatian Ninoy Karundeng, pegiat media sosial yang juga bergabung di 'Relawan Jokowi App'. Senin, 30 September 2019, pukul 14.00 WIB, Ninoy pamit dari rumahnya di Tangerang, Banten. Tak lupa ia membawa tas ransel hitam berisi laptop di punggungnya. Lantas ia memacu sepeda motor Honda Scoopy berwarna putih menuju seputaran Senayan, Jakarta.

Sore hari, Ninoy tiba di kawasan Senayan. Suara teriakan para demonstran masih terdengar keras. Ninoy lantas mengabadikan momen-momen para demonstran dengan kamera ponselnya. Hingga matahari tenggelam, Ninoy masih berada di lokasi. Ketika hari mulai beranjak malam, Ninoy lantas meninggalkan tempat itu menuju arah Pejompongan, Tanah Abang.

Tangkapan layar video penganiayaan Ninoy Karundeng
Foto: screenshot 


Ada seorang yang dipanggil habib itu memberi ultimatum kepada saya bahwa waktu saya pendek, karena saya akan dibelah kepala saya.”

Sekitar pukul 20.00 WIB, Ninoy melihat sebagian pedemo berkerumun di dekat kantor Bank Negara Indonesia (BNI) Pejompongan. Sebagian lagi terlihat kerumunan orang tengah memapah sejumlah orang yang terkena gas air mata. Ninoy pun berhenti dan turun dari motornya. Kemudian ia mengikuti massa itu masuk ke sebuah jalan sejauh 50 meter hingga ke depan Masjid Jami’ Al-Falaah, Jalan Masjid 1 No 12 atau Jalan Pejompongan Dalam.

“Woiii…! Ngapain lo ngambil gambar?!” bentak seorang pria kepada Ninoy. Teriakan orang itu pun memancing perhatian sejumlah orang. Mereka lalu memepet Ninoy dan ada yang berusaha merampas ponselnya. Massa pun mengerubuti dan memukuli Ninoy secara bertubi-tubi. Tak lama, Ninoy dibawa ke dalam masjid. Di dalam masjid, ia diinterogasi sejumlah orang. Kartu tanda penduduk (KTP) dan isi tasnya, termasuk laptopnya, diperiksa.

“Jadi peristiwa awalnya itu yang di luar itu diperiksa identitas saya, dan tas saya. Terus saya dipukulin dan dimasukin ke masjid. Jadi peristiwa ini di luar dan di dalam masjid,” kata Ninoy dalam keterangannya di Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin, 7 Oktober 2019.

Ia tak tahu pasti siapa saja pelaku penganiayaan itu, dari kelompok organisasi kemasyarakatan (ormas) atau bukan. Ia hanya ingat wajah-wajah pelaku. Tapi, yang jelas, jumlah pelaku puluhan orang. Pasalnya, setiap orang yang datang langsung menginterogasi dan memukul. Kemarahan orang-orang itu makin menjadi saat isi laptop, termasuk akun Facebook, Ninoy diperiksa dan ditemukan banyak tulisannya yang dianggap menjelek-jelekkan tokoh tertentu. Apalagi ditemukan kartu pers ‘Relawan Jokowi App’.

Di sela-sela interogasi, ada beberapa orang yang memberikan obat untuk menghentikan pendarahan pada mulut Ninoy. Ninoy juga diberi roti dan air. Ninoy berulang kali memohon dipulangkan, tapi tidak dikabulkan. Petugas medis menyatakan dia tidak boleh pulang. Tim medis menyatakan dia bertanggung jawab atas keselamatan Ninoy hanya di dalam masjid. Selepas keluar dari masjid bukan tanggung jawabnya. Ninoy pun meminta lagi agar dilepaskan dari penculikan.

Video: Dwi Putri Aulia

Ninoy juga dicecar untuk menyebutkan siapa yang mengirimkan Ninoy. Siapa kelompoknya? Apakah Ninoy bagian dari kelompok para buzzer Jokowi? Ninoy menjawab dia independen. Tidak ada yang mengirim. Ninoy memang relawan Jokowi. Mereka menanyakan apakah Ninoy bagian dari kelompok Denny Siregar, Eko Kuntadi, Abu Janda, Kajitow Elkayani, Manuel Mawengkang, Ni Luh Djelantik, dan lainnya.

Ninoy juga menceritakan, ketika ia disekap dan disiksa oleh massa di masjid itu, ada seseorang yang dipanggil ‘habib’ yang memerintahkan orang-orang untuk membunuhnya. “Ada seorang yang dipanggil 'habib' itu memberi ultimatum kepada saya bahwa waktu saya pendek karena saya akan dibelah kepala saya,” ucap Ninoy lagi. Ia menggambarkan ancaman-ancaman itu mirip yang terlihat dalam adegan intimidasi oleh anggota Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Setelah itu, orang yang dipanggil ‘habib’ tersebut meminta disiapkan ambulans kepada tim medis yang berada di masjid. Ambulans itu, menurut Ninoy, akan digunakan untuk membuang mayatnya di tengah kerusuhan. Rencananya, ia akan dibunuh memakai kapak sebelum Subuh tiba. Namun hingga hari berganti, Selasa, 1 Oktober 2019, pagi, ancaman itu tak terjadi. Ambulans yang diminta sang habib pun tak kunjung datang.

Pagi harinya, sekitar pukul 07.00 WIB, Ninoy dibebaskan. Sebelum dilepas, ia diminta meneken surat perjanjian agar tidak menuntut dan apa yang menimpa dirinya merupakan kesalahpahaman belaka. Ninoy dibebaskan dan diantar pulang dengan menumpang mobil yang dipesan melalui GoBox. Beberapa jam kemudian, video penyiksaan dirinya pun viral.

Keesokan harinya, Rabu, 2 Oktober 2019, Ninoy melaporkan kejadian yang menimpanya itu ke Polda Metro Jaya. Polisi bergerak cepat melakukan penyelidikan dan penyidikan. Penyelidikan awal dilakukan terhadap video rekaman penganiyaan Ninoy. Malam harinya, polisi menangkap dua orang tersangka, yaitu RF dan S. Dari pengembangan penyidikan, polisi menangkap 11 orang pelaku, yang kini sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Masjid Jami' Al-Falaah, tempat Ninoy Karundeng dianiaya.
Foto: Jefrie Nandy Satria/detikcom

Ke-11 orang itu adalah AA, ARS, YY, RF, Baros, S, F, SU, ABK, IA, dan R. Sementara itu, satu orang tersangka berinisial TR tidak ditahan karena sedang sakit. Dari ke-11 orang itu, beberapa berperan sebagai penyebar video dan membuat konten berkaitan dengan ujaran kebencian. “Kami melakukan penyelidikan dan penyidikan. Dari Polda Metro Jaya sudah menetapkan 11 tersangka,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, Senin, 7 Oktober 2019.

Argo menjelaskan, AA, ARS, dan YY menyebarkan video dan membuat konten berkaitan dengan ujaran kebencian melalui grup WhatsApp. Tersangka RF dan Baros berperan mengopi dan mencuri atau mengambil data laptop milik Ninoy. Sedangkan tersangka S, yang merupakan Sekretaris Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Jami’ Al-Falaah, diduga memerintahkan penyalinan data di laptop Ninoy. S jugalah yang melaporkan semua kejadian kepada Munarman, Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI).

Lalu tersangka TR memanggil F untuk memeriksa ponsel Ninoy dan mengopi semua isinya. Tersangka SU diminta memperbanyak kopian data yang dicuri dari laptop Ninoy. ABK berperan merekam dan menyebarkan video sekaligus melakukan pemukulan dan mendukung skenario pembunuhan. Begitu juga IA, yang melakukan penganiayaan dan mengusulkan pembunuhan dengan kapak. R, sebagai anggota DKM yang berada di lokasi kejadian, ikut menganiaya dan mengintimidasi korban.

Saat ini polisi masih memeriksa dua orang lainnya, yaitu BD dan F. BD diketahui adalah Bernard Doni alias Bernard Abdul Jabbar, Sekjen Perhimpunan Alumni (PA) 212. Saat penyiksaan berlangsung, Bernard diduga berada di lokasi dan ikut mengintimidasi Ninoy. Bernard dan F akhirnya juga ditetapkan sebagai tersangka, sehingga jumlah tersangka menjadi 13 orang. Bernard ditangkap saat melaju di Jalan Tol Tomang. Dari 13 tersangka itu, tiga orang adalah perempuan. "Ada perempuan juga," kata Argo.

Polisi juga berencana memeriksa Ketua Media Center PA 212 Novel Bamukmin sebagai saksi pada Kamis, 10 Oktober 2019. Sementara itu, Munarman membantah bila dikatakan meminta S, yang bergelar insinyur, menghapus rekaman CCTV di masjid dan melarang menyerahkannya ke polisi. Justru ia meminta rekaman CCTV itu guna melihat secara jelas situasi yang terjadi, khususnya saat terjadi penganiayaan terhadap Ninoy. “Ngawur dia.... Memang suka ngawur dia kalau ngasih keterangan pers. Yang saya minta rekaman CCTV masjid karena saya ingin lihat situasi masjid saat tanggal 30 (September) malam sampai pagi,” kata Munarman saat dimintai konfirmasi, Senin, 7 Oktober 2019.

Sekjen PA 212 Bernard Abdul Jabbar
Foto: Indra Komara/detikcom

Anggota DKM Masjid Jami’ Al-Falaah, Iskandar, pun angkat bicara. Ia mengatakan, justru jemaah dan para pengurus masjid saat itu menyelamatkan Ninoy dari amukan massa. Iskandar mengaku tidak melihat secara langsung kejadian. Namun, saat itu, Ninoy dipukuli massa di depan masjid. “Kami dari jemaah masjid dan pengurus DKM untuk menyelamatkan beliau. Kita masukkan ke dalam pintu yang terbuka separuh,” kata Iskandar saat ditemui di Masjid Jami’ Al-Falaah, Jumat, 4 Oktober 2019.

Karena massa banyak, setelah Ninoy dimasukkan, pintu pagar ditutup. Ninoy ditempatkan di ruang medis. Saat itu tim medis banyak karena membantu para demonstran. Saat itu para pengurus DKM tak tahu identitas Ninoy yang sebenarnya. Karena itu, Iskandar menampik tuduhan penyekapan di dalam masjid. Yang ada penyelamatan Ninoy dari amukan massa. Terkait video penyekapan Ninoy pun, Iskandar tak tahu karena yang mengambil gambar bukan pengurus DKM. “Kalau soal video, kami tidak tahu, sama sekali tidak tahu. Pokoknya kami ndak tahu video dari mana. Itu tugas polisi atau petugaslah yang mencari informasi lebih lengkap,” kata Iskandar.


Reporter/Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE