INVESTIGASI

Satu Gerbong
Jokowi-Prabowo

Jokowi-Prabowo akhirnya bertemu setelah berkompetisi pada Pilpres 2019. Apakah Prabowo akan ikut gerbong Jokowi?

Foto : Muchlis Jr/Biro Pers Setpres

Senin, 15 Juli 2019

“Jadi enak makan sekarang,” ujar Wakil Ketua Umum Gerindra Edhy Prabowo berkelakar kepada Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto, yang sedang bersantap di Sate Khas Senayan, yang terletak di FX Sudirman, Jakarta, Sabtu, 13 Juli 2019. Menu yang tersaji dalam pertemuan itu adalah sate ayam, sate kambing, pecel, serta cenil.

Hari itu kedua tokoh yang bertarung pada Pilpres 2019 tersebut akhirnya bertemu dan berbincang pertama kali seusai pencoblosan 17 April 2019. Pertemuan dilakukan di stasiun MRT (mass rapid transit) Lebak Bulus. Setelah bersalaman, keduanya lantas naik ke salah satu gerbong MRT yang mengarah ke Stasiun MRT Bundaran HI.

Perbincangan hangat yang diiringi derai tawa keduanya disaksikan beberapa pejabat negara. Sebut saja Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumardi. Ada pula Wakil Ketua Umum Gerindra Edhy Prabowo serta Sekjen Gerindra Ahmad Muzani.

“Yang saya tahu, dalam pertemuan itu, (keduanya) hanya bicara-bicara yang ringan saja. Seperti soal kabar masing-masing, masalah olahraga, dan progres soal proyek MRT. Makanya Pak Edhy sempat guyon ‘sekarang jadi enak makan’ kepada Pak Jokowi dan Pak Prabowo,” jelas Budi Karya kepada detikX, pekan lalu.

Soal lokasi pertemuan yang dilakukan di stasiun MRT, Budi Karya mengaku tidak tahu apa alasannya. Yang pasti, dia diberi kabar rencana itu Jumat malam. Sebab, yang menginisiasi pertemuan itu adalah Budi Gunawan alias BG, Pramono, serta Edhy. “Ketiga orang tersebut saling kenal. Mereka memang bersahabat, ya," kata Budi Karya.

Sedangkan Pramono membenarkan sosok Budi Gunawan sebagai inisiator pertemuan Jokowi-Prabowo hari itu. "Pak Budi Gunawan Kepala BIN. Beliau bekerja tanpa ada suara. Dan alhamdulillah yang dikerjakan hari ini tercapai," ucap Pramono.

Jokowi dan Prabowo saat bertemu di MRT
Foto : Muchlis Jr/Biro Pers Setpres

Soal pertemuan dengan Prabowo, Jokowi kemudian menyampaikan dalam pidatonya. Ia mengatakan pertemuan tersebut adalah pertemuan sahabat yang sudah lama direncanakan. Namun ia dan Prabowo sama-sama sibuk ke daerah dan luar negeri. “Dan alhamdulillah pagi hari ini kita bisa bertemu dan mencoba MRT. Karena saya tahu Pak Prabowo belum pernah mencoba MRT,” jelas Jokowi.

Jokowi pun berharap, setelah pertemuan itu, pendukung masing-masing bisa melupakan istilah 01 atau 02. Tidak ada lagi yang namanya ‘Cebong’, sebutan yang sering disematkan netizen kepada pendukung Jokowi. Tidak ada lagi yang namanya ‘Kampret’, sebutan bagi pendukung Prabowo. Yang ada adalah Garuda Pancasila.

“Kita rajut, kita rajut, kita gerakkan kembali persatuan kita sebagai sebuah bangsa, karena kompetisi global, kompetisi antarnergara sekarang ini semakin ketat, sehingga memerlukan sebuah kebersamaan dalam memajukan negara ini, dalam membangun negara yang kita cintai,” demikian pernyataan Jokowi.

Sementara itu, Prabowo menyampaikan terima kasih kepada Jokowi, yang telah mengajaknya naik MRT. Dia pun bangga bahwa Indonesia sudah memiliki moda transportasi seperti yang dimiliki kota-kota besar di dunia. Tak ketinggalan ia juga mengucapkan selamat atas ditetapkannya Jokowi sebagai Presiden RI 2019-2024.

“Saya ucapkan selamat bekerja. Saya juga ucapkan selamat, tambah rambut putih, Pak. Saudara-saudara, menjadi presiden itu adalah mengabdi. Jadi masalah yang beliau pikul besar. Kami siap membantu kalau diperlukan, Pak. Untuk kepentingan rakyat,” ucap Prabowo.

Pertemuan Jokowi-Prabowo mendapat sambutan meriah dari masyarakat yang ada di sekitar lokasi pertemuan. Teriakan ‘Jokowi’ dan ‘Prabowo’ silih berganti terdengar. Pascapilpres, memang banyak kalangan yang berharap kedua capres itu segera bertemu untuk mendinginkan suasana. Rekonsiliasi pun digaungkan sejak saat itu.

Pertemuan di Stasiun MRT itu adalah pertamakali sejak pencoblosan Pilpres 2019 berlangsung 17 April 2019
Foto : Muchlis Jr/Biro Pers Setpres

Juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syadzily, bilang Jokowi ingin menjaga suasana yang kondusif seusai hari pemungutan suara, yang digambarkan Ace sudah membuat masyarakat terpolarisasi lantaran sikap berbagai elite politik dalam menanggapi hasil quick count atau hitung cepat.

Menurut Ace, Jokowi berinisiatif mengirimkan utusan untuk bertemu dan bersilaturahmi dengan Prabowo melalui Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Luhut dipilih karena dianggap memiliki kedekatan dengan Prabowo. “Sesama mantan militer yang memiliki hubungan kedekatan yang panjang," kata Ace, 22 April lalu.

Namun upaya Luhut bertemu dengan Prabowo tidak pernah berhasil. Pasalnya, pada hari pertemuan yang disepakati, Minggu, 21 April 2019, Prabowo mendadak membatalkannya lantaran menderita flu. Meski begitu, Luhut sempat berbincang sedikit dengan Prabowo lewat telepon.

Batalnya pertemuan Luhut dengan Prabowo membuat ketegangan pascapencoblosan semakin menjadi. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko sempat memprediksi Jokowi dan Prabowo bisa bertemu setelah penghitungan suara selesai dilakukan Komisi Pemilihan Umum pada 22 Mei. “Pada dasarnya dari pihak Pak Jokowi kapan pun setiap saat (siap bertemu). Intinya adalah beliau menginisiasi terjadinya sebuah hubungan yang harmonis kembali," kata Moeldoko di kantornya, Jumat, 26 April.

Sayangnya, setelah pengumuman KPU, situasi justru semakin panas. Ribuan pendukung Prabowo-Sandi menggelar aksi demonstrasi menentang hasil keputusan KPU di depan Bawaslu, Jalan Muhammad Husni Thamrin, Jakarta. Aksi itu berujung kerusuhan yang menewaskan sembilan orang dan melukai ratusan lainnya.

Melihat kegentingan tersebut, Jokowi mengutus Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk menemui Prabowo. Pertemuan keduanya terjadi di salah satu hotel di Dharmawangsa, Jakarta. Juru bicara JK, Husein Abdullah, saat dimintai konfirmasi detikX beberapa waktu lalu memaparkan pertemuan JK dengan Prabowo terjadi pada Rabu, 23 Mei, sore.

Perjalalan Jokowi-Prabowo menaiki MRT dilanjutkan dengan makan siang bersama di Senayan.
Foto : Muchlis Jr/Biro Pers Setpres

JK ingin bertemu dengan Prabowo setelah menyaksikan di televisi terkait demonstrasi yang berakhir rusuh dan menelan korban jiwa. JK pun diminta Jokowi segera bertemu dengan Prabowo untuk berkomunikasi dan bersilaturahmi agar bisa mendinginkan suasana.

“Pak Jokowi meminta hal itu kepada Pak JK mungkin karena menganggap Pak JK bisa berkomunikasi dengan Pak Prabowo. Keduanya punya hubungan yang sangat baik. Dan semua poin pembicaraan telah dilaporkan ke Pak Jokowi,” ujar Husein.

Namun pertemuan Jokowi dengan Prabowo yang diharap tidak juga terwujud. Padahal Jokowi berkali-kali menyatakan siap bertemu, tergantung kesediaan waktu Prabowo. Bahkan, saat penetapan sebagai presiden terpilih untuk periode 2019-2024 oleh KPU, 30 Juni 2019, Jokowi membuka tangan untuk Prabowo-Sandiaga Uno dan mengajak membangun bangsa bersama-sama.

"Saya mengajak Pak Prabowo Subianto dan Pak Sandiaga Uno untuk bersama-sama membangun negara ini supaya kuat, maju, adil, dan makmur," kata Jokowi di gedung KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat.

Di tengah ketidakpastian tersebut, kemudian berembus kabar Budi Gunawan bertemu dengan Prabowo pada akhir Juni 2019. Pertemuan itu diamini anggota Dewan Pembina Gerindra Maher Algadri. Namun Maher tak menjelaskan secara terperinci apa yang melatarbelakangi pertemuan itu. "Pertemuan itu biasa saja, normal. Tapi (pertemuan) tidak menyangkut rekonsiliasi," kata Maher, Jumat, 28 Juni.

Sementara itu, sumber detikX yang merupakan orang dekat Budi Gunawan menyebut komunikasi Budi Gunawan dengan Prabowo terjalin sejak lama, bahkan selama proses kampanye berlangsung. Terlebih Prabowo sebelumnya pernah berduet dengan Megawati pada Pilpres 2009, sehingga sering berinteraksi dengan Budi Gunawan, yang pernah menjadi ajudan Megawati.

Prabowo-Sandiaga saat mengklaim kemenangan pasca pemungutan suara 17 April
Foto : Lamhot Aritonang/detikcom

“Keduanya kan sudah kenal lama. Dan yang saya tahu Pak Budi punya kemampuan komunikasi yang baik dan berkomitmen. Mungkin itu yang membuat Prabowo percaya dan akhirnya mau bertemu Jokowi,” ujar salah ketua umum salah satu ormas kepemudaan tersebut.

Ditambahkan sumber itu, lobi yang dilakukan Budi Gunawan terhadap Prabowo memang ada beberapa poin kesepakatan. Namun dia enggan membeberkan apa saja kesepakatan yang terucap dalam lobi tersebut. “Tidak etis kalau disebut poin-poinnya. Yang pasti, dalam lobi tersebut, Pak Budi menyampaikan pesan Pak Jokowi untuk mengajak Prabowo kerja bersama membangun negara.”

Namun, bagi kubu Prabowo, bersama membangun bangsa tidak harus bergabung dengan pemerintah. Hal ini dikatakan Sandi. Menurutnya, Prabowo memang sepakat mengabdi kepada bangsa dan negara, namun tidak harus tergabung dalam pemerintahan.

Mantan Wagub DKI Jakarta itu bilang, dalam rekonsiliasi juga harus dipastikan apakah Prabowo dan Jokowi memiliki visi yang sama. Untuk mewujudkan visi tersebut, tak melulu harus bergabung dalam pemerintahan. Dia kemudian menjelaskan soal visinya bersama Prabowo, yang punya agenda besar ingin memperjuangkan swasembada pangan dan energi.

Selain pertemuan Jokowi dengan Prabowo, kepastian sikap Prabowo dan Gerindra ikut di dalam pemerintahan atau berada di posisi oposisi juga banyak ditunggu. Menurut Mahfud Md, secara konstitusional tidak ada larangan bagi Gerindra untuk bergabung dengan Jokowi. Namun mayoritas masyarakat, kata Mahfud, lebih menghendaki Gerindra menjadi oposisi.

"Kalau kita mendengar dari masyarakat, kayanya masyarakat lebih ingin berbagi peran. Yang satu (Gerindra dan Prabowo) di legislatif menjadi pengontrol di parlemen, di DPR, yang satu (Jokowi) di eksekutif," tuturnya di sela diskusi publik 'Merajut Persatuan Nasional Pascapemilu' di Ruang Adipati lantai 6 D'Senopati Hotel, Jalan Panembahan Senopati Nomor 40, Yogyakarta, Sabtu, 13 Juli.

Tapi Mahfud mempersilakan Jokowi dan Prabowo memutuskan apa yang terbaik buat bangsa. Baginya, pertemuan keduanya sudah cukup membantu meredakan ketegangan yang terjadi selama kontestasi pilpres.


Reporter/Penulis: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawans
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE