INVESTIGASI

Para Jenderal
di Belakang
Pangeran Cendana

Tommy menggaet Tedjo Edhy dan Muchdi Pr di partai barunya, Berkarya. Beberapa jenderal kabarnya bakal menyusul.

Ilustrasi: Nadia Permatasari

Jumat, 20 Oktober 2017

Seperti beberapa partai politik lainnya di Indonesia, Partai Berkarya bentukan Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto pun merekrut sejumlah pensiunan jenderal, baik TNI maupun Polri. Partai Berkarya kini masih menunggu hasil verifikasi faktual KPU yang akan dilakukan sampai 15 November 2017.

Setidaknya partai politik termuda yang baru terbentuk pada 15 Juli 2016 ini sudah mengantongi Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor M.NH-21.AH.11.01 Tahun 2016 pada 13 Oktober 2016. Dalam kepengurusan DPP Berkarya periode 2016-2021, Tommy Soeharto menjabat sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai sekaligus Ketua Dewan Pembina.

Sejumlah purnawirawan TNI masuk dalam jajaran kepengurusan partai, di antaranya Laksamana TNI (Purnawirawan) Tedjo Edhy, yang menjabat Ketua Dewan Pertimbangan. Tedjo adalah Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan yang terkena reshuffle Kabinet Kerja setahun setelah pemerintahan Presiden Joko Widodo berjalan, persisnya pada 12 Agustus 2015.

Mantan Kepala Staf Angkatan Laut ini dicopot jabatannya sebagai Menko Polhukam akibat pernyataannya yang blunder dan kontroversial. Pertama, pernyataan sikapnya atas demonstrasi dukungan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi yang berasal dari ‘rakyat tak jelas’ dalam kasus ‘KPK vs Polri’.

Tommy Soeharto
Foto: dok. Istimewa

Kedua, pernyataannya tentang penyelenggaraan musyawarah nasional Partai Golkar kubu Aburizal Bakrie yang dianggap akan merusak pariwisata di Bali, dan meminta polisi tidak memberikan izin untuk munas itu. Setelah dicopot dari kabinet, pria kelahiran Magelang, Jawa Tengah, 20 September 1952, ini pun mengajukan pengunduran diri dari DPP Partai Nasional Demokrat.

Sementara itu, mantan Komandan Jenderal Korps Pasukan Khusus TNI AD Mayjen TNI (Purnawirawan) Muchdi Purwoprandjono menjabat Ketua Dewan Kehormatan Partai Berkarya. Muchdi juga dinilai sangat kontroversial. Ketika masih menjabat Danjen Kopassus, Muchdi sempat membebaskan sejumlah aktivis yang diculik pada 1997-1998. Tapi ia juga dituduh sejumlah aktivis terlibat dalam penculikan itu.

Ketika terjadi kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Thalib, lagi-lagi Muchdi kena getahnya. Pasalnya, ketika menjabat Deputi V Badan Intelijen Negara, ia disangkutkan dengan pembunuhan Munir pada akhir 2004 itu. Tapi pada 31 Desember 2008, dia divonis bebas oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Pria kelahiran Yogyakarta pada 1949 ini sempat masuk Partai Gerindra besutan mantan komandannya, Prabowo Subianto. Saat di Gerindra, Muchdi sempat menjabat Wakil Ketua Umum. Tapi ia akhirnya memutuskan mundur dari partai itu sejak 21 Februari 2011 dan masuk Partai Persatuan Pembangunan. Dalam Pilpres 2014, Ketua Umum Tapak Suci Putra Muhammadiyah ini pun bermanuver dengan merapat ke kubu Jokowi-JK.

Selain Tedjo dan Muchdi, Mayjen TNI (Purnawirawan) Syamsu Djalal mendapat posisi penting di Berkarya. Ia menjabat Ketua Dewan Penasihat. Saat menjabat Komandan Pusat Polisi Militer TNI, ia sempat menangani kasus penculikan aktivis 1997-1998. Selepas dari kedinasan militer, pada 2000, pria kelahiran Padang Pariaman, Sumatera Barat, 22 Desember 1943, ini ditempatkan di Kejaksaan Agung menduduki jabatan Jaksa Agung Muda Intelijen.

Setelah pensiun, Syamsu lebih aktif sebagai pengacara. Juga dipercaya sebagai Ketua Umum Forum Bersama Laskar Merah Putih, Ketua Dewan Pembina National Corruption Watch, Ketua Dewan Pembina Koperasi Taksi, dan Ketua Dewan Penasihat DPP Persatuan Keluarga Daerah Pariaman.

Tedjo Edhy Purdijatno (Kanan) bersama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo 
Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Bukan hanya tiga mantan jenderal itu yang masuk Berkarya, tapi ada juga beberapa mantan jenderal di lingkungan TNI maupun Polri yang akan berada di belakang Partai Berkarya. Namun belum terkonfirmasi siapa saja nama-nama mereka yang masuk itu.

“Ada yang dari (TNI Angkatan) Darat, Laut, dan Udara. (Jenderal) polisi juga ada. Dari bintang satu, dua, tiga ada. Bintang empatnya kan saya. Tapi saya tahan dulu. Saya simpan dulu. Nanti, kalau (partai) lolos, baru kita munculkan,” ucap Tedjo dalam wawancara dengan detikX di Gedung Granadi, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 18 Oktober 2017.

Tedjo mengisahkan pertemuannya dengan Tommy dan bersedia masuk Berkarya. Pada pertengahan 2016, ia didatangi utusan Tommy, yang mengajaknya bergabung dengan Berkarya. Ia akhirnya dipertemukan dengan Tommy di kantornya, Gedung Granadi lantai sembilan.

“Pak Tedjo, tolong dibantu anak-anak muda ini memimpin partai politik baru,” kata Tedjo menirukan permintaan putra bungsu mantan Presiden RI Soeharto itu.

Setelah mendengarkan penjelasan Tommy, terutama tentang gagasan dan visi serta misinya, Tedjo menyatakan siap membantu mendirikan Berkarya. Tapi ia tak minta langsung menduduki jabatan struktural di kepartaian. Karena itu, ia ditempatkan sebagai Ketua Dewan Pertimbangan. Tugasnya adalah memberikan arahan, pertimbangan, dan saran kepada Tommy maupun kader partai.

Tommy, menurut Tedjo, sebenarnya tidak secara khusus meminta para purnawirawan TNI dan Polri untuk bergabung. Tommy meminta agar semua komponen bangsa bisa bergabung, baik dari kalangan politikus, akademisi, maupun pengusaha. Tommy meminta semua kalangan bisa dirangkul.

Muchdi Purwoprandjono
Foto: Yulida/detikcom

“Dia lebih muda dari saya, tapi pemikirannya terbuka, egaliter. Dia memilih yang baik, yang jelek nggak dia pilih. ‘Kalau ada yang salah pun jangan disikat. Kalau masih dibina dengan baik, ya tolonglah dirangkul.’ Bagus kok itu,” ucap Tedjo lagi mengulang permintaan Tommy.

Tedjo mengaku tertarik bergabung dengan Berkarya setelah melihat visi dan misinya, yang bekerja untuk membangun ekonomi kerakyatan. Partai ini juga telah menyiapkan sejumlah program nyata untuk rakyat. Yang jelas, program ini bukan hanya slogan dalam kampanye.

“Banyak, ya. Kan kita sekarang melihat, apakah ada intensifikasi pertanian, irigasi, terus penyuluhan? Saya sudah jarang mendengar itu. Subsidi pupuk, transportasi hasil pertanian. Ini yang saya lihat di Pak Tommy, bagus dan saya cocok,” pungkas Tedjo.

Selain purnawirawan TNI dan Polri yang berminat masuk partai politik ini, banyak juga dari kalangan sipil yang bergabung. Hanya, nanti setelah partai lolos verifikasi di KPU, pihaknya akan memilih mana yang bisa bergabung dan mana yang tidak. Mantan Gubernur Aceh Abdullah Puteh juga berniat masuk, bahkan sudah sering ikut dalam pertemuan internal partai.

“Pak Abdullah Puteh juga ada, sudah bergabung kemarin, ikut serta pertemuan-pertemuan,” tutur Ketua Umum DPP Partai Berkarya Neneng A Tutty kepada detikX.


Reporter: Gresnia Arela F, Ratu Ghea Yurisa
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE