INVESTIGASI

Raja Jambret Bandung, Geng Motor, dan Hobi Tarung

Pernah menggondol uang Rp 10 juta dalam sekali menjambret. Namun tak jarang Agun hanya mendapatkan kosmetik.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Kamis, 24 Agustus 2017

“Alhamdulillah, sekarang sudah ketangkap. Saya sudah tenang, suami saya juga sudah tenang di sana,” begitu ucap Rena Hendayanti, 27 tahun, warga Dago, Bandung Wetan, Kota Bandung, ketika mendengar polisi berhasil menangkap si Raja Jambret Agun Saputra alias Tres, 28 tahun, bersama komplotannya pada 9 Agustus 2017.

Rena masih menyimpan duka atas meninggalnya suami tercinta, Muhammad Alfaris Sukmara, 30 tahun, akibat terjatuh dari sepeda motor lantaran ditendang komplotan Agun cs di Jalan Ir H Juanda, Dago, 20 Juni 2017. Saat itu Alfaris terjatuh tak jauh dari pusat belanja Plaza Dago dan Living Plaza. Korban sempat dirawat di Rumah Sakit Borromeus selama dua hari, namun nyawanya tak tertolong akibat mengalami luka pada hati dan perutnya.

Setelah dua bulan peristiwa tragis itu berlalu, polisi menangkap Agun. Rena dan keluarganya berharap pelaku dan kawan-kawannya itu dijatuhi hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka. “Mudah-mudahan pelaku dikasih hukuman yang setimpal. Kalau bisa, dihukum mati sekalian. Korban lainnya juga ingin pelaku dihukum berat,” ujar Rena ketika dihubungi detikX.

Rena Hendayanti (kerudung hitam)
Foto : Dony Indra Ramadhan/detikcom

Agun, yang terpaksa ditembak kaki kanannya oleh polisi, kini mendekam di ruang tahanan Polrestabes Kota Bandung. Ia ditangkap bersama temannya, M. Zamil, 23 tahun, Eko Supriatna (28), Candra Lesmana (27), Nabil (24), dan seorang perempuan bernama Sumini (27).

Agun, yang berperan sebagai joki sekaligus otak komplotan ini, memang terkenal licin. Bahkan pihak kepolisian sampai kewalahan. Apalagi Agun sangat piawai dalam mengendarai sepeda motor. Ia sering menjadi pembalap jalanan di Kota Bandung.

Korban condong ke wanita karena lebih mudah. Sistemnya menarik paksa tas korban yang menonjol'

Maklum, Agun diketahui sebagai anggota geng motor tertua yang menjadi legenda dan disegani di Kota Bandung, Moonraker. Entah benar atau tidak, itulah pengakuan dia. detikX belum bisa meminta konfirmasi keanggotaan Agun itu kepada pengurus klub motor Moonraker.

“Dia latar belakangnya pembalap, sehingga dengan keahliannya menggunakan motor, kita berat melakukan proses pengejaran terhadap kelompok dia,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Kota Bandung M. Yoris Maulana kepada detikX.

Meski Agun mendapat julukan Raja Jambret, sebetulnya tak ada kesan kriminal pada wajahnya. Hanya, pria berperawakan kurus yang lahir pada 12 Februari 1989 itu memiliki tato di kedua tangannya. Pria tamatan program Paket C itu diketahui indekos di kawasan Banjaran, Bandung Barat, bersama istri dan tiga anaknya yang masih kecil. “Saya terjun ke dunia kejahatan masuk kepala dua, sekitar umur 20 tahunan,” ucap Agun.

TKP penjambretan, jalan Ir H Juanda, Dago
Foto : Dony Indra Ramadhan/detikcom

Mengenakan pakaian tahanan berwarna oranye, kepala ditutup sebo, dan tangan diborgol, Agun mengisahkan awal ia berkecimpung di dunia hitam. Sebelum jadi penjambret, ia mengaku gemar berkelahi di jalan. Bahkan ia sempat terlibat dalam perkelahian yang menyebabkannya masuk penjara selama lima bulan pada 2008.

“Ya, bengal. Berantem sama teman sekolah, orang lain yang masih seumuran. Paling masalah sepele, saling ejek. Kalau nggak, ya, bantuin teman saja,” tuturnya.

Agun pun mengaku menjadi penjambret bersama teman-temannya ketika bergabung dengan geng motor di Bandung sejak 2008. Namun ia sempat berhenti melakukan tindak kriminal itu sejak 2010 hingga 2016 karena bekerja sebagai bartender atau peracik minuman di sebuah kafe di Bandung. Ia mengaku menjambret sekitar 200 kali selama 2008-2017. “Mulai lagi 2017 awal sampai akhirnya sekarang ditangkap polisi,” ujarnya.

Dalam aksinya, Agun tak pernah membawa senjata tajam. Ia hanya menggunakan tangan kosong dan mengandalkan keahliannya mengendarai sepeda motor. Berhasil atau tidak, pada prinsipnya ia lihai ketika harus melarikan diri. “Kalau gagal, kita tinggalin. Kalau berhasil, langsung kabur. Dia ngejar, kita kabur saja. Saya tak pernah membawa senjata tajam.”

Yang jelas, target sasaran orang yang akan dijambret memang selalu perempuan, terutama para perempuan pekerja yang baru pulang dari sejumlah tempat hiburan malam. Kaum perempuan lebih mudah dijambret, apalagi pada waktu malam hari yang memang sepi.

Agun si 'Raja Jambret' bersama Kasatrekrim Polrestabes Bandung AKBP Yoris Maulana.
Foto : Dony Indra Ramadhan/detikcom

Sebelum melakukan aksi, Agun biasanya menyurvei kawasan tempat target yang disasar. Ia mempelajari lalu lintas di Kota Bandung. Ia juga memperhatikan kapan waktu kemacetan lalu lintas, kondisi jalan, dan jam berapa suasana sepi.

Begitu juga jalan mana saja yang sering dilalui wanita yang bekerja pada malam hari itu. Aksinya selalu dilakukan pada pukul 02.00-03.00 WIB. Kawasan yang selalu menjadi target operasinya adalah Dago, Jalan Otista, Lengkong, BKR, dan Jalan Soekarno-Hatta. “Saya berangkat dari rumah biasanya malam, pukul 23.00 WIB, keliling Bandung cari target sasaran. Korban condong ke wanita karena lebih mudah. Sistemnya, menarik paksa tas korban yang menonjol,” ujarnya.

Agun mengakui menjambret tas wanita tak selalu menguntungkan. Setelah berhasil menjambret sebuah tas, ia biasanya tak membukanya terlebih dahulu. Dalam semalam, ia bisa tiga kali melakukan penjambretan. Setelah mendapatkan semuanya, ia dan kawannya baru membuka tas-tas yang diperoleh itu. “Di dalamnya kadang ada uang, kadang nggak ada. Kadang ada handphone, kadang nggak ada. Kadang dapat kosmetik doang,” ujarnya.

Hasil paling besar yang didapatkan Agun adalah ketika awal terjun jadi penjambret, yakni pada 2008. Saat itu ia berhasil menjambret tas seorang wanita yang berisi uang Rp 10 juta. Hasil jambretan selama ini ia gunakan untuk menafkahi istri dan anak-anaknya di rumah. Setiap kali menjambret, ia bisa mengantongi uang Rp 200-300 ribu.

“Buat keperluan sehari-hari keluarga, buat istri dan anak. Kalau saya punya kerja, nggak jambret. Kalau nggak kerja, baru jambret,” ujarnya.


Agun saat ditangkap polisi
Foto : Dony Indra Ramadhan/detikcom

Setiap beraksi, Agun bertindak sebagai joki. Ia pernah jatuh bersama korbannya, bahkan sempat dipukuli massa ketika tertangkap. Namun ia selalu berhasil meloloskan diri. Akhirnya ia masuk daftar pencarian orang (DPO) ketika menjambret pasangan Alfaris dan Rena di Dago, yang menyebabkan salah satunya tewas.

Selama dalam pelarian sejak namanya masuk DPO, Agun sempat bersembunyi di sejumlah tempat di Kabupaten Bandung, Garut, hingga Tasikmalaya, Jawa Barat. Namun akhirnya ia memutuskan pulang ke tempat kosnya di Banjaran. Alasannya, saat itu anaknya yang kedua akan merayakan ulang tahun. Karena itulah dia menyempatkan diri pulang. Tak tahunya ia malah ditangkap.

“Saya menyesali perbuatan saya. Kepada seluruh warga yang merasa dijambret saya atau pelaku lain, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Mudah-mudahan ini yang terakhir,” tuturnya.


Reporter: Dony Indra Ramadhan (Bandung)
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE