INVESTIGASI
Sebanyak 148 anak laki-laki menjadi korban prostitusi gay di kawasan Puncak, Bogor. Pelaku seorang residivis. Pelanggannya ada yang dari Singapura.
Ilustrasi: Edi Wahyono
Selasa, 6 September 2016Arief tak bisa berkutik lagi ketika membuka pintu kamar kelas superior nomor 03 Hotel Cipayung Asri, Jalan Raya Puncak Nomor 88 Km 75, Bogor, Jawa Barat. Beberapa polisi sudah menunggu di kamar itu dan dengan sigap menangkapnya.
Hari itu, Selasa, 30 Agustus 2016, Arief datang ke Hotel Cipayung Asri untuk memenuhi pesanan seorang pelanggan yang menghubunginya melalui telepon. Ia pun membawa tujuh anak laki-laki ke hotel itu.
Pria asal Brebes, Jawa Tengah, tersebut sudah beberapa bulan ini menjalankan bisnis prostitusi anak laki-laki untuk dijual kepada kalangan gay. Namun hari itu ulah sang germo terhenti oleh aparat kepolisian.
Konten yang ditampakkan Facebook itu adalah Berondong Bogor. Dia menggunakan nama Rico, nama samaran. Nama itu selalu muncul di semua aktivitas.”
“Saat datang, dia (Arief) turun dari angkot dengan membawa tujuh orang anak. Sesekali ia melihat handphone. Pas di depan kamar, langsung disergap polisi,” cerita pengelola Hotel Cipayung Asri, Iwan, kepada detikX.
Polisi menjebak Arief dengan berpura-pura menjadi gay yang memesan anak buah Arief. Tim Badan Reserse Kriminal Mabes Polri mendatangi manajemen hotel terlebih dulu untuk merancang skenario penangkapan.
Lima aparat berbaju preman meminta kamar 03. Beberapa personel masuk ke kamar itu, sedangkan sisanya berjaga di luar. Ada yang di restoran tepat di depan kamar, ada pula yang bersiaga di dalam mobil.
“Mungkin karena niatnya memang untuk menjebak, makanya polisi yang datang ganteng-ganteng,” ujar Iwan.
Jalan masuk menuju Hotel Cipayung Asri
yang menjadi lokasi penangkapan pelaku prostitusi gay, Arief.
Foto: Bahtiar Rifai/detikX
Setelah ditangkap sekitar pukul 14.00 WIB, Arief beserta tujuh anak buahnya, di antaranya masih mengenakan seragam sekolah, digelandang ke Mabes Polri. Korban lalu dirujuk ke panti milik Kementerian Sosial RI untuk direhabilitasi.
Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Mabes Polri Brigadir Jenderal Agung Setya mengungkapkan, gerak-gerik Arief diendus sejak awal Agustus 2016. Penyelidik Subdirektorat Cybercrime Mabes Polri menengarainya melakukan transaksi prostitusi online untuk gay lewat media sosial Facebook.
Di Facebook, Arief mengelola grup bernama Berondong Bogor, yang dia pakai untuk menjaring pelanggan. Akun Facebook pribadi Arief, Rico, sering memberikan tanggapan di grup itu. Ia juga beberapa kali menuliskan status.
“Konten yang ditampakkan Facebook itu adalah Berondong Bogor. Itulah kemudian dia menggunakan nama Rico, nama samaran. Nama itu selalu muncul di semua aktivitas,” ujar Agung kepada detikX.
Di grup Berondong Bogor, terdapat beberapa kode untuk menandai para korban yang siap melayani para pemesan. Kode P untuk peran perempuan, T peran laki-laki, dan B untuk peran kedua-duanya.
Selain lewat media sosial, pelaku diketahui menggunakan aplikasi di smartphone. Aplikasi itu memudahkan para predator pemburu anak menemukan korbannya, sekaligus melakukan transaksi dengan germo.
Video: Budi Setiawan/20detik
Grup Facebook Zicco RCM yang berisi foto-foto anak laki-laki dengan nama dan usia mereks. Grup ini diduga terkait dengan prostitusi online yang dijalankan Arief.
Foto: screenshot
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Ni’am menambahkan, korban anak-anak itu biasa disebut sebagai “kucing”. Mereka bebas melakukan hubungan seksual sesama jenis, bahkan pesta seks.
Beberapa orang dipaksa melakukan seks oral dan sodomi. “Arief juga pernah melakukan prakondisi dengan cara minta dioral oleh anak buahnya,” tutur Asrorun kepada detikX. KPAI turut terlibat dalam pengungkapan kasus ini.
Latar belakang Arief sendiri cukup mengagetkan. Ia pernah aktif di lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam penanggulangan HIV/AIDS di Bogor. Bahkan Arief sebelumnya terseret dalam kasus prostitusi online. Namun, kala itu, korbannya perempuan.
Melalui media sosial Twitter, Arief menjajakan beberapa model lengkap dengan jadwal kunjungan para model tersebut ke Kota Jakarta. Pelanggan dapat menghubungi keduanya untuk melakukan transaksi seks.
Polisi menggerebeknya di sebuah hotel bersama seorang germo. Arief pun harus menjadi pesakitan dan baru bebas pada Maret 2016 dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Paledang, Bogor.
Kini Arief sudah bergerak jauh. Ia melakukan rekrutmen anak laki-laki dengan membentuk geng Rico Ceper Manajemen atau RCM. Beberapa anggotanya menganggap geng ini sebagai bagian dari gaya hidup.
Melalui kelompok inilah Arief menggiring anak-anak itu untuk mau melayani hubungan seks sesama jenis. Mereka biasa berkumpul di tempat kos Arief di kawasan Harjasari, Bogor. Tetangga sekitar mengenal Arief dengan nama panggilan Aryo. Ia dikenal tertutup dan berperilaku mirip perempuan.
Setiap keluar dari kamar, Arief selalu bertopi untuk menutupi kepalanya yang botak. Tetangga tak begitu mengenalnya karena jarang berbincang. Apalagi ia selalu sibuk dengan tablet elektronik ketika keluar dari tempat kos.
Rumah kos Arief selama tinggal di Bogor.
Foto: Bahtiar Rifai/detikX
Beberapa tetangga menyebutkan anak-anak muda usia SMP dan SMA biasa bertandang ke kos Arief, kadang sampai lima sepeda motor berboncengan. Namun mereka tak menaruh rasa curiga sedikit pun.
“Kalau ditanya, dia bilang bantuin PKL SMA,” ujar Fitri, salah satu tetangga tersangka, kepada detikX.
Belakangan, sindikat prostitusi gay ini semakin terkuak lebar. Dari keterangan Arief, polisi menangkap dua pedagang sayur di Pasar Ciawi, Bogor, pada Rabu, 31 Agustus 2016. Keduanya adalah Ucu dan seseorang dengan inisial E.
Polisi menyebut Ucu memiliki anak asuh yang dipekerjakan untuk menjual dagangannya. Ucu pun memanfaatkan karyawannya itu untuk melampiaskan berahi. Ucu juga aktif berkomunikasi dengan Arief dan bekerja sama mengelola prostitusi.
Para pedagang di pasar itu tak menyangka jika rekan mereka terlibat dalam prostitusi gay. Perilaku Ucu tergolong normal. Kebiasaannya pun tak mencolok.
Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Mabes Polri Brigadir Jenderal Agung Setya dalam konferensi pers mengenai kasus prostitusi anak di
kantornya, Jumat (2/9).
Foto: Rachman
Haryanto/detikcom
Salah seorang pedagang, Agustian, menyebutkan Ucu terkadang datang ke pasar pada pukul 02.00 WIB untuk menunggu sayuran turun dari truk, lalu menggelar dagangan pada pukul 04.00 WIB. Menjelang siang, ia pulang sejenak untuk tidur dan kembali untuk menutup warung pada sore hari.
“Yang sedih itu istrinya, baru ngelahirin, 40 hari saja belum. Anaknya dua, masih kecil-kecil,” ucapnya kepada detikX.
Agung menyebutkan, Ucu dan E berkaitan erat dengan Arief. Ucu bertukar anak asuh dengan Arief. Sedangkan E menyediakan rekening untuk transaksi atas prostitusi gay.
Untuk setiap transaksi, mereka memasang tarif Rp 1,2-10 juta. Sedangkan anak-anak yang mereka jual hanya menerima Rp 100-150 ribu.
Pelanggan prostitusi ini bukan hanya dari Jakarta. Polisi menyebutkan ada pelanggan dari Malaysia. Informasi yang diterima detikX dari Asrorun, disebutkan ada juga pelanggan yang berasal dari Singapura.
Reporter: Bahtiar Rifai, Ibad Durohman, Aryo Bhawono
Redaktur: Aryo Bhawono
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.