INVESTIGASI

Bilik Derita di Setapak

“Untuk makan, saya memang dikasih. Tapi itu dihitung sebagai utang.”

Sejumlah korban perdagangan manusia diamankan di Polda Metro Jaya, Jakarta, tahun lalu. 

Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Rabu, 10 Agustus 2016

Baru sehari menginjakkan kaki di negeri jiran Malaysia, impiannya mendadak buyar. Pekerjaan sebagai terapis spa dengan gaji belasan juta rupiah per bulan pun sirna.

Imas (bukan nama sebenarnya), asal Bandung, Jawa Barat, berangkat mengadu nasib ke Kuala Lumpur, Malaysia, pada 21 Februari 2016. Namun ia malah mengalami nasib yang menyedihkan.

Seorang agen penyalur tenaga kerja di Malaysia bernama Afay langsung membawanya ke sebuah tempat berlabel Victoria Garden Spa, yang terletak di daerah Setapak, Kuala Lumpur.

Tapi, begitu Imas masuk ke bangunan, tidak ada satu pun suasana spa di sana, seperti jacuzzi (kolam air hangat), ruang sauna, ataupun fasilitas kebugaran.

Hanya ada deretan kamar berjumlah 15 pintu yang dilengkapi kasur dan kamar mandi. Di kamar juga disediakan pesawat televisi, tapi hanya menyajikan film porno.

“Saya sebelumnya bekerja sebagai terapis di sebuah spa di Jakarta. Di sana (Victoria Garden) tempatnya bukan seperti spa seperti yang lain,” ujar Imas saat ditemui detikX, Jumat, 5 Agustus 2016.

Lorong kamar Spa Victoria Garden
Foto: Istimewa

Suasana kamar di Spa Victoria Garden
Foto: Istimewa

Kecurigaan Imas bertambah ketika pengelola spa memintanya berdandan dan berpakaian seksi. Selanjutnya ia pun disuruh berbaris laksana sedang mengikuti kontes kecantikan di hadapan tamu di spa tersebut.

Saat itulah Imas sadar dirinya dijadikan pelacur alias penjaja seks, bukan pemijat biasa. Sebab, saat dipilih tamu di kontes, ia langsung diajak masuk kamar untuk berhubungan layaknya suami-istri.

Imas pun segera memprotes kepada penyalurnya di Jakarta, yang bernama Apriani Rahman alias Vio, lewat telepon. “Kok, saya kerjanya seperti ini?” Namun Vio hanya menjawab tidak tahu. Dan alasannya, tempat kerja lain penuh.

Saat Imas minta pulang, Vio malah membeberkan utang yang harus ditanggungnya, berupa pengurusan paspor serta tiket pesawat, yang jumlahnya Rp 18 juta. Alhasil, ia pun hanya bisa pasrah.

Imas semakin merana lantaran tidak menerima gaji dari kerja yang dilakukannya. Padahal, dalam “perjanjian” awal, ia bakal mendapat 60 ringgit dari sekali kencan.

Namun uang tersebut semuanya diambil Afay dengan dalih untuk menutupi utang Imas saat proses pemberangkatan dan biaya hidup selama tinggal di Malaysia. “Untuk makan, saya memang dikasih. Tapi itu dihitung sebagai utang,” ucapnya.

Misalnya saya. Dalam dua minggu kerja, utang Rp 18 juta yang disebut Vio sebenarnya sudah lunas. Tapi, menurut Vio, utang itu masih ada."

Imas, perempuan asal Bandung, korban perdagangan manusia

Praktis, selama bekerja sebagai pemuas nafsu pria hidung belang, Imas hanya mengandalkan uang tip dari pelanggan.

Selama bekerja, Imas pun tidak bisa ke mana-mana. Sebab, ia tidur di kamar yang sekaligus dijadikan tempat untuk melayani tamu. Jam kerja yang dijalani Imas pun teramat panjang, yakni lebih dari 12 jam. Ia harus bekerja dari pukul 1 siang sampai pukul 4 pagi.

Tidak ada libur, bahkan ketika ia sedang menstruasi. Dalam sehari, Imas dipaksa melayani lima tamu, bahkan lebih. Setiap tamu bahkan ada yang minta servis dua kali.

Selama di Malaysia, perempuan beranak satu tersebut dipekerjakan di empat spa berbeda. Selain di Victoria Garden, ia disuruh bekerja di daerah Subang Jaya dan Kuantan.

Sejumlah korban perdagangan manusia diamankan di Polda Metro Jaya, Jakarta, tahun lalu.
Foto: Agung Pambudhy/detikcom


Saat ke Subang Jaya tersebut, Imas bertemu dengan perempuan asal Indonesia yang bernasib sama. Mereka mayoritas berasal dari Medan, Sumatera Utara, dan Batam, Kepulauan Riau.

Saat berbincang-bincang dengan teman asal Indonesia itu, rupanya mereka mengalami hal yang sama, yakni ditipu agen-agen penyalur. Mereka pun tidak bisa pulang karena terlilit utang yang entah untuk urusan apa.

Imas mengatakan soal jeratan utang secara sepihak oleh penyalur menjadi sebab utama perempuan asal Indonesia yang dipaksa menjadi pekerja seks di Malaysia tidak bisa pulang.

“Misalnya saya. Dalam dua minggu kerja, utang Rp 18 juta yang disebut Vio sebenarnya sudah lunas. Tapi, menurut Vio, utang itu masih ada,” ujar Imas.

Mirisnya lagi, uang saku 300 ringgit yang diterima Imas dari Afay malah dimasukkan sebagai utang. Akibatnya, selama bekerja di Malaysia, ia terus terbebani utang tak berujung.

“Bahkan biaya ke klinik untuk mengobati luka lebam karena disakiti tamu dihitung utang juga,” kata Imas, menggerutu.

Imas menambahkan, nasib yang dialami empat gadis belia asal Jakarta yang juga dikirim Vio ke Kuala Lumpur lebih menyakitkan. Dari keempatnya, ada yang usianya 16 tahun dan baru lulus ujian nasional SMA.



Mereka dijanjikan bekerja di restoran. Namun, setelah dijelaskan bahwa akan bekerja sebagai pekerja seks, mereka serempak menangis. Mereka disuruh melayani pria hidung belang dengan cara dilelang dengan tarif kencan 5.000 ringgit.

Direktur Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial Kementerian Sosial Sony W. Manalu mengakui saat ini masih banyak warga negara Indonesia yang diselundupkan ke Malaysia. Hingga Agustus 2016, pihaknya telah memulangkan 12 ribu WNI yang datang secara ilegal ke Malaysia.

Para korban itu dibawa pulang ke Indonesia melalui tiga jalur. Pertama, dari Johor Bahru khusus Semenanjung Malaya menuju Tanjungpinang, terus ke Tanjung Priok, Jakarta.

Kedua, lewat Kuching di Sarawak ke Entikong, Kalimantan Barat. Ketiga, jalur Tawau di Kinabalu ke Nunukan, Kalimantan. Sedangkan khusus Sumatera Utara menggunakan jalur Tanjungpinang.

Selain diperdagangkan di industri prostitusi seperti Imas dan kawan-kawan, korban perdagangan manusia ini antara lain dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga dan di perkebunan-perkebunan kelapa sawit di Malaysia.

“Ketika sampai di Malaysia tanpa dokumen, mereka ditangkap polisi, mereka kan dihukum cambuk. Ketika sudah menjalani hukuman, mereka dideportasi,” tutur Sony kepada detikX.

“Trafficking in Person Report”, yang diterbitkan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat pada Juni 2016, menyebutkan Malaysia masih menjadi tujuan teratas para pekerja migran Indonesia, disusul Arab Saudi.

Setidaknya, ada 4,5 juta WNI yang bekerja di luar negeri. Sekitar 1,9 juta orang di antaranya tidak memiliki dokumen atau visa mereka habis (overstayed). Dan dari 1,9 juta WNI itu, mayoritas berada di Malaysia.

WNI yang bermasalah legalitasnya itu sangat rawan menjadi korban perdagangan manusia. Perempuan dan anak-anak adalah yang paling potensial untuk diperdagangkan.


Reporter: Bahtiar Rifai, Isfari Hikmat, Ibad Durohman
Penulis/Editor: Deden Gunawan
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.