INVESTIGASI

Zigzag Politik ala Ahok

Ahok akhirnya memutuskan menempuh jalur parpol dalam pilgub DKI 2017. Mengecewakan pendukung, tapi diklaim sebagai keputusan yang logis.

Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Selasa, 2 Agustus 2016

Perbincangan selama beberapa jam sudah cukup bagi Singgih Widiyastono untuk menebak keinginan politik Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Gubernur DKI Jakarta itu menunjukkan gelagat urung maju dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2017 melalui jalur independen.

Gelagat ini terbaca saat Ahok menggelar makan malam bersama relawan Teman Ahok di sebuah restoran di Jakarta Utara pada Rabu, 20 Juli 2016. Selain Singgih, hadir empat pendiri Teman Ahok lainnya, yakni Amalia Ayuningtyas, Aditya Yogi Prabowo, Muhammad Fathony, dan Richard Haris Purwasaputra.

“Dalam pertemuan itu, kami sudah tahu ada sinyal kalau Bapak akan (maju pilgub) lewat parpol, karena Golkar sudah mau masuk,” ucap Singgih kepada detikX.

Namun sikap resmi Ahok baru disampaikan seminggu setelah pertemuan itu. Persisnya ketika Teman Ahok menggelar acara halalbihalal pada Rabu, 27 Juli 2016, di markas mereka di kompleks Graha Pejaten, Jakarta Selatan.

Ahok datang lebih awal dan berjumpa dengan Teman Ahok selama setengah jam. Dalam acara itu, turut diundang perwakilan partai politik pendukung Ahok. Ahok sendirilah yang memutuskan maju melalui jalur parpol. “Oke, saya putuskan lewat parpol,” ucap Ahok.

Stiker dukungan terhadap Ahok untuk maju dalam pilgub DKI Jakarta
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Ahok mengaku memilih jalur parpol karena sudah melihat komitmen kuat dari parpol pendukung, yakni Partai Golkar, Partai Nasional Demokrat, dan Partai Hati Nurani Rakyat. Ketiga parpol itu langsung melayangkan surat dukungan resmi. Menurut Ahok, reaksi parpol secepat itu sangat langka.

Niat Ahok maju melalui jalur independen kendur sejak parpol mulai menyuarakan dukungan mereka."

“Begitu Teman Ahok ngomong, mana surat dukungannya? Langsung besok bilang, surat dukungannya sudah ada. Luar biasa,” ujarnya.

Toh, tiga parpol ini memiliki kesamaan. Mereka semua berawal dari Partai Golkar. Ahok sendiri pernah berkecimpung di parpol berlambang beringin itu. Ia menganggap sudah tak asing bekerja sama dengan mereka.

“Kenapa saya percaya? Kan, teman-teman semua, ketiga partai ini, muaranya Golkar. Saya kenal semua pentolannya, seperti Wiranto dan Surya Paloh,” ucapnya.

Ahok sendiri memiliki karier politik panjang. Ia mulai masuk dunia politik melalui Partai Perhimpunan Indonesia Baru dan lolos sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Belitung Timur. Pada 2005, ia berhasil duduk sebagai Bupati Belitung Timur.

Keinginannya menjadi Gubernur Bangka Belitung (Babel) kandas setelah kalah dalam pilgub Babel pada 2007. Kekalahan inilah yang membuatnya masuk Golkar dalam pemilu legislatif 2009 dan berhasil meraih kursi anggota Dewan di Senayan.

Pada 2010, ia diusung Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) menjadi pendamping Joko Widodo dalam pilgub DKI 2012. Kemenangan Jokowi dalam pilpres 2014 membawa berkah buat Ahok, karena ia naik jabatan menjadi gubernur. Kini Gerindra ia tinggalkan untuk menuju pilgub DKI 2017.

Hasan Nasbi, Direktur Eksekutif Cyrus Network, konsultan yang mendampingi Teman Ahok
Foto: Ari Saputra/detikcom

Pengambilan keputusan melalui jalur parpol dalam pilgub DKI 2017 ini terkesan singkat. Namun Direktur Eksekutif Cyrus Network Hasan Nasbi mengatakan keputusan Ahok itu sudah lama dibuat. Hanya pemantapan baru dilakukan menjelang halalbihalal Teman Ahok.

“Mereka sudah sering diskusi. Membulatkan tekad iya kali (dalam satu malam),” ucapnya. Cyrus Network adalah lembaga konsultan politik yang mendampingi Teman Ahok selama ini.

Tiga parpol tak memberikan dukungan berbarengan. Partai NasDem lebih dulu memberikan dukungan pada 12 Februari 2016. Disusul Partai Hanura pada 26 Maret 2016. Sedangkan Partai Golkar menyatakan dukungan pada 24 Juni 2016.

Komposisi tiga parpol ini di DPRD DKI Jakarta memenuhi syarat kursi pengajuan calon gubernur. Total kursi ketiga parpol itu 24. Hanura memiliki 10 kursi, Golkar 9 kursi, dan NasDem 5 kursi.

Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Indonesia I dari Dewan Pimpinan Pusat Golkar, Nusron Wahid, mengaku partainya sudah menyerahkan surat dukungan resmi kepada Ahok. Keputusan jalur parpol diambil oleh Ahok sendiri tanpa intervensi.

Bahkan ketiga parpol tak ada yang mematok nama untuk calon pendamping Ahok. Pembicaraan-pembicaraan tentang siapa wakil gubernur memang ada, tapi, “Itu terserah Ahok,” kata Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ini.

NasDem dan Hanura memiliki sikap yang sama. Ketua DPP NasDem Victor Laiskodat mengungkapkan bahwa pembicaraan lebih jauh mengenai pilgub DKI baru akan dilakukan setelah Ahok mengeluarkan pernyataan maju lewat jalur parpol.

Hasan mengaku niat Ahok maju melalui jalur independen kendur sejak parpol mulai menyuarakan dukungan mereka. Sejak NasDem menyatakan dukungan, gaya bicara suami Veronica Tan itu berubah.

Namun itu bukan pertimbangan utama. Hasan menyebutkan ada kendala teknis jika tetap maju secara independen. Pertama, keputusan harus diambil sebelum 3 Agustus 2016 demi memenuhi persyaratan Komisi Pemilihan Umum.

Kedua, verifikasi dukungan independen melalui pengumpulan fotokopi kartu tanda penduduk harus diteken Ahok sendiri. Padahal berkas tersebut diperkirakan mencapai 259 bundel. Verifikasi juga membutuhkan waktu panjang.

Nusron Wahid ditetapkan sebagai Ketua Tim Pemenangan Ahok dalam pilgub DKI Jakarta, 2017.
Foto: dok. Istimewa

Karena itu, jalur parpol dirasa lebih mudah secara teknis. “Kalau tidak ada tanda tangan Ahok di 259 bundel itu, enggak bisa dimajukan,” tuturnya.

Hasan tak menafikan kekecewaan yang merebak akibat pilihan Ahok. Seperti diketahui, Teman Ahok sudah bersusah payah mengumpulkan KTP sejak setahun lalu. Mereka yakin Ahok bisa diusung secara independen pada saat peluang melalui jalur parpol kecil.

Dukungan sudah mencapai 700 ribu KTP. Namun Ahok mematok 1 juta KTP kalau Teman Ahok mau mengusungnya. Ternyata target itu pun bisa dicapai hanya dalam hitungan bulan. Eh, begitu komplet, Ahok berpaling ke parpol.

Kendati demikian, kata Hasan, ia sendiri hanya bisa memakluminya. “Saya sudah beberapa kali menghadapi kenyataan politik, tapi teman-teman (Teman Ahok) baru pertama kali menghadapi realitas politik,” ucapnya.

Beberapa pendukung yang menyerahkan KTP, kata Hasan, juga datang dan melampiaskan amarah. Tapi keputusan yang diambil dianggap paling logis. Makanya pihak yang kecewa ini harus di-recovery.

Kekecewaan tak hanya hadir di markas Teman Ahok. Hashtag (tagar) #BalikinKTPGue merebak di Twitter pascahalalbihalal Teman Ahok. Tagar ini sempat menjadi trending topic di Indonesia. Namun Teman Ahok sendiri buru-buru menjawab bahwa tagar itu merupakan pesanan dan dari luar Jakarta.

Ahok mempersilakan Teman Ahok agar mengembalikan salinan KTP jika ada pendukungnya yang kecewa terhadap keputusan jalur parpol yang dipilihnya.


Reporter: Isfari Hikmat, Bahtiar Rifai, Ibad Durohman, Aryo Bhawono
Redaktur: Aryo Bhawono
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.