INTERMESO

Tiga Upaya Mengurai Kemacetan di Semanggi

Video: Facebook PT Wijaya Karya

Selasa, 19 April 2016

Jembatan Semanggi adalah salah satu proyek mercusuar Presiden Sukarno setelah Tugu Monumen Nasional dan Stadion Utama Gelora Bung Karno. Karena itu, selama proses pembangunannya, proyek Semanggi sempat menuai banyak kritik dari sejumlah kalangan. Pada awal 1961, jembatan ini dibangun untuk mengurai kemacetan dari empat arah menuju Senayan ketika ada aktivitas akbar yang melibatkan puluhan ribu orang.

Pada 1987, daerah di sekitar Jembatan Semanggi diperlebar dengan dalih mengurai kemacetan yang mulai terjadi. Hampir 30 tahun kemudian, dalih yang sama kembali disuarakan saat pembangunan jalan layang di atas Semanggi dimulai pada 8 April lalu.



Tahap I
Semanggi 1961-1962


  • Merupakan jembatan modern pertama di Indonesia yang dibangun pada awal 1961 hingga pertengahan 1962.
  • Jembatan ini dibangun untuk menopang proyek Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, yang akan menggelar Pesta Olahraga Negara-negara Asia.
  • Total dana yang dihabiskan Rp 16,9 miliar, berasal dari pinjaman Jepang.
  • Penggagas pembangunan jembatan ini adalah Presiden Sukarno.
  • Konsep arsitekturnya dibuat Ir Sutami yang juga sebagai pelaksana proyek. Di jembatan ini, Sutami untuk pertama kalinya menerapkan sistem beton pratekan.
  • Dengan pendekatan ultimate design, dimensi jembatan menjadi lebih ramping dan struktur jembatan kuat menahan beban sampai batas tertentu (V/C rasio < 0,7) pada persimpangan jalan utama tanpa konflik, sehingga arus lalu lintas tetap lancar.
  • Total panjang jembatan 1.509 meter dengan bentang terpanjang 5.050 meter dan lebar 30 meter.
  • Ketika itu Jembatan Semanggi mampu menampung volume kendaraan 20 ribu satuan mobil penumpang per hari.
  • Pekerjaan konstruksi melibatkan 120 orang dan menyertakan 4 tenaga konsultan dari Jepang serta seorang insinyur dari Inggris.
  • Metode yang mereka kembangkan mampu meminimalkan gangguan arus lalu lintas (sekitar 100 ribu kendaraan di masing-masing ruas jalan).


Tahap II
Semanggi 1987-1989


  • Pada 1987, Jembatan Semanggi dilebarkan untuk mengakomodasi kesibukan lalu lintas di tengah Kota Jakarta. Bentang tengah jembatan baru didesain dengan sistem box girder sepanjang 25 meter agar tidak mengganggu lalu lintas di Jalan Sudirman.
  • Struktur beton pada empat tikungan (ramp) yang membentuk daun semanggi digantikan struktur approach ramp, yakni timbunan tanah dan pengerasan aspal.
  • Jembatan lama pada ruas Jalan Gatot Subroto sebagian dijadikan bagian dari jalan tol. Karena itu, dilakukan penebalan pada dimensi pelat lantai serta boks, selain dibuat penguatan rangka baja siku pada boks agar daya dukung jembatan meningkat.
  • Pada 10 November 1989, Presiden Soeharto meresmikan Jembatan Semanggi. Momentum itu sekaligus menandai Jembatan Semanggi sebagai bagian dari Jalan Lingkar Dalam Jakarta.
  • Ketika itu volume lalu lintas di Jalan Gatot Subroto mencapai 120 ribu mobil per hari.


Tahap III
Semanggi 8 April 2016 hingga Agustus 2017


  • Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama melakukan groundbreaking dimulainya pembuatan jalan layang di atas Jembatan Semanggi. Pembangunan jalan lingkar melayang ini dimaksudkan untuk mengurai kemacetan arus lalu lintas dari arah Cawang ke arah Jalan Thamrin, dan dari arah Slipi ke Blok M.
  • Dengan adanya jalan layang, nantinya arus lalu lintas dari arah Slipi bisa langsung menuju Blok M tanpa harus memutar di kolong jembatan.
  • Arus lalu lintas dari arah Cawang menuju Jalan Thamrin pun bisa langsung memasuki jalan layang tanpa harus memutar di kolong Jembatan Semanggi.
  • Jalan layang Semanggi akan memecah antrean di depan Plaza Semanggi dan di depan Markas Polda Metro Jaya, sehingga diharapkan tak ada lagi antrean di kolong jembatan.
  • Panjang jalan mencapai 1.000 meter (1 kilometer) dengan lebar 30 meter dan tinggi dari jalan sekitar 5,1 meter.
  • Dengan adanya jalan layang ini, diharapkan laju kendaraan, yang saat ini cuma 5-10 km/jam, bisa meningkat menjadi 10-20 km/jam.
  • Dana yang dibutuhkan Rp 460 miliar, berasal dari perusahaan properti asal Jepang, PT Jepang Mori Company melalui PT Mitra Panca Persada.


Referensi:
- Buku Sisi Lain 45 Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum yang diterbitkan Kementerian Pekerjaan Umum, 2010
- Rilis Wijaya Karya dan penjelasan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama


Reporter: Melisa Mailoa
Penulis/Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.