INVESTIGASI
Sampah dengan volume berton-ton terus hanyut dan menumpuk di aliran Sungai Cikapundung. Warga berteriak. Pemerintah lamban bergerak.
Sampah di Sungai Cikapundung, persisnya di jembatan Cijagra, Bojongsoang, Kabupaten Bandung
Foto: Baban Gandapurnama/detikcom
Selasa, 5 April 2016
Anang Sudarna geleng-geleng kepala saat memandang hamparan sampah di Sungai Cikapundung, persisnya di jembatan Cijagra, Kelurahan Bojongsoang, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang bejibun. Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jabar tersebut menaksir volume sampah itu 500 ton.
Anang pun mencoba naik dan berjalan di atas sampah-sampah itu. Badannya yang berbobot 80 kilogram bisa “ditahan” oleh sampah aneka rupa tersebut. “Bisa terbayang ketebalannya. Perkiraan saya, (tumpukan sampah ini) lebih dari 1 meter,” ujarnya kepada detikX.
Anang menyambangi jembatan itu pada Minggu, 6 Maret 2016, setelah mendapat laporan di grup WhatsApp pencinta lingkungan Kota Bandung, Jangkar EcoVillage. Sampah yang tersangkut di jembatan itu kembali memicu ketegangan antarwarga di bantaran Sungai Cikapundung.
Kondisinya sejujurnya memanas. Cuma, kami berusaha meredamnya."
Sebelumnya, sampah membuat warga beberapa kelurahan di Bojongsoang ribut dengan warga Bandung Kidul, Kota Bandung. Warga Bojongsoang marah karena sampah menambah derita selain banjir tiap musim hujan.
Tudingan pun diarahkan kepada tetangga mereka di Bandung Kidul. Jika melihat peta aliran Sungai Cikapundung, posisi Bandung Kidul memang lebih ke hulu. Surat protes dilayangkan Bojongsoang. “Kondisinya sejujurnya memanas. Cuma, kami berusaha meredamnya,” ucap Anang.
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil meninjau tumpukan sampah di Sungai Citepus.
Foto: Avitia Nurmatari/detikcom
Namun, sebulan sejak peristiwa itu berlalu, kemarahan warga terus berlanjut. Hanya, kini pemerintah, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Bandung dan Pemerintah Kota Bandung, yang jadi sasaran. Bagaimana tidak, sampah terus saja hanyut dan bikin jijik warga.
detikX, yang menyambangi lokasi pada Rabu, 23 Maret 2016, menyaksikan berbagai sampah, dari Styrofoam, plastik, popok, hingga kasur bekas, masih memenuhi kali. Bangkai hewan yang terseret arus kian memperparah bau busuk di jembatan yang dekat dengan pertemuan Sungai Cikapundung-Citarum itu. "Semua sampah Cikapundung tertambat di jembatan ini," ucap Ketua RW 10 Kampung Cijagra, Tatan Suherlan, kepada detikX.
Jembatan yang menghubungkan Cijagra dengan Leuwibandung, Dayeuhkolot, itu memang cukup rendah posisinya dari dasar sungai. Jika volume air naik karena hujan di hulu, sampah akan tersangkut dan lama-lama akan menggunung.
Tatan menyebut pemandangan itu sebetulnya biasa. Sebab, sampah akhirnya akan hanyut sendiri seiring dengan surutnya air. Namun, pada musim hujan tahun ini, debit Sungai Cikapundung terus saja meninggi sehingga sampah tak kunjung amblas terbawa aliran air Cikapundung.
Tumpukan sampah di Pasar Kordon, Buah Batu
Foto: Aryo Bhawono/detikX
Pintu air di kawasan Pasar Kordon, Buah Batu
Foto: Aryo Bhawono/detikX
Penanganan sampah oleh pemerintah dinilai warga sangat lamban. Alih-alih sigap, pemerintah terkesan sibuk saling menyalahkan. Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar menyebut sampah-sampah itu berasal dari Kota Bandung, sementara Wali Kota Bandung Ridwan Kamil keberatan disebut telah gagal total mengelola sampah.
Data yang dihimpun Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) menyebutkan penyumbang terbesar sampah di Cikapundung adalah daerah Babakan Siliwangi dan Jalan Asia Afrika di Kota Bandung. Di Asia Afrika, misalnya, terdapat pasar yang sampahnya sebagian terbuang ke aliran Cikapundung di wilayah tersebut.
Selain itu, pedagang kaki lima yang berada di Jalan Asia Afrika banyak yang membuang sampah ke sungai. Saat Peringatan Ke-60 Konferensi Asia Afrika digelar di Bandung pada April 2015, lapak pedagang kaki lima itu dibongkar pemerintah. “Tapi kita berpikirnya per event. Kita harapkan itu kontinu,” kata Kepala Bidang Program dan Perencanaan BBWSC Adenan Rasyid kepada detikX.
Anang menambahkan, Pasar Kordon di Jalan Buah Batu menjadi biang sampah ke Cikapundung. Sampah di pasar tersebut diangkut tiga hari sekali, bahkan sering cuma seminggu sekali. Karena tempat pembuangan sampah penuh, warga pun melemparkan sampah sesuka hati ke sungai. “Saya punya buktinya, kok,” katanya.
Karena tempat pembuangan sampah penuh, warga pun melemparkan sampah sesuka hati ke sungai."
Adenan Rasyid
Sementara itu, Jangkar EcoVillage menemukan masih banyak warga di bantaran Cikapundung di Kota Bandung yang membuang sampah di sungai. Hal itu terlihat dari jenis sampah yang hanyut di Cikapundung, yang mayoritas sampah rumah tangga.
Ridwan Kamil menyangkal tudingan bahwa kotanya telah “memproduksi” sampah besar-besaran ke Cikapundung. Di Kota Bandung, ia telah membuat 40 kegiatan untuk mereduksi sampah.
Ia antara lain telah membelanjakan anggaran untuk pengadaan sepeda motor pengangkut sampah di tiap RW. Pasukan kebersihan ditambah sebanyak 1.500 personel. Warga yang membuang sampah sembarangan digerebek, difoto, dan dijatuhi hukuman setimpal.
Jadwal pembuangan sampah warga pun, menurut Ridwan Kamil, sudah diatur rapi. Warga yang hendak membuang sampah ukuran besar, seperti sofa dan kasur, harus menyesuaikan jadwal petugas dinas kebersihan yang nongkrong di titik-titik yang sudah ditentukan.
Rapat koordinasi penanganan sampah Cikapundung di Gedung Sate, Kompleks Gubernur Jawa Barat
Foto: Ibad Durohman/detikX
Kata Emil, biasa ia disebut, dari 1.500 ton sampah per hari di Bandung, sebagian besar atau sekitar 1.200 ton terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah Sarimukti. Sisanya, sebanyak 300 ton, diangkut secara simultan keesokan harinya.
Emil menyebut, sampah-sampah yang ada di Cikapundung berasal dari daerah lebih hulu, tepatnya di Lembang. Di sana ada peternakan sapi yang kotorannya mengalir ke sungai. Lalu sampah Cikapundung itu juga berasal dari Kabupaten Bandung sendiri, yang sebagian termasuk daerah perkotaan alias urban.
Namun, ujar Emil, apabila ternyata masih ada masalah-masalah sampah yang ditemukan di Kota Bandung dan lainnya, ia siap bekerja sama untuk menanggulanginya. “Bahwa sekarang ada problem, kita ngobrol cari solusinya,” katanya.
Bupati Bandung Dadang M. Naser memilih bersikap moderat. Menangani sampah di Cikapundung dan sungai lainnya yang tercemar, katanya, harus mengesampingkan ego sektoral. Seluruh daerah dari hulu hingga hilir sungai harus peduli terhadap masalah sampah itu.
Seteru pendapat mengenai penyebab bencana sampah itu akhirnya didamaikan melalui pertemuan bersama di Gedung Sate, Kompleks Gubernur Jawa Barat pada Rabu, 23 Maret 2016. Mereka sepakat untuk mengeruk sampah di muara Cikapundung secara bersama-sama keesokan harinya. Selain di Cijagra, bersih kali dilakukan di Sungai Citepus di Kabupaten Bandung.
Bersih sungai benar-benar dilakukan secara tuntas. Puluhan personel Tentara Nasional Indonesia dan alat berat milik Pemerintah Kota dan Kabupaten Bandung dikerahkan untuk mengeruk sampah. Hasilnya, aliran Sungai Cikapundung di Cijagra benar-benar bersih.
Namun, mirisnya, bersihnya sungai ini tak bertahan sampai dua jam. Hujan di kawasan hulu kembali menyapu sampah di sepanjang sungai. Deretan sampah kembali berduyun-duyun menuju muara Cijagra.
Misalnya pada Rabu, 30 Maret 2016, sampah kembali memenuhi sungai di Cijagra sepanjang 20 meter. Air pun menggenang hingga berada di atas aspal dekat jembatan. Warga kembali berteriak, karena derita mereka belum juga berakhir. “Bersih, (sampah) datang lagi. Bersih, (sampah) datang lagi,” ujar seorang nenek sambil menatap timbunan sampah Cikapundung.
Reporter: Aryo Bhawono, Ibad Durohman
Redaktur: Aryo Bhawono
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.