INTERMESO
Pada 7 Desember 1954, beberapa tokoh Islam mendirikan Yayasan Masjid Istiqlal untuk membangun sebuah masjid agung kebanggaan nasional di Ibu Kota Jakarta. Pada 1955, diadakan sayembara rencana gambar Masjid Istiqlal. Peserta yang mendaftar berjumlah 30 orang, tapi hanya 27 yang menyerahkan gambar. Dari jumlah itu, cuma 22 yang memenuhi syarat, dan lima di antaranya menjadi pemenang. Mereka adalah F. Silaban dengan tema Ketuhanan, R. Oetoyo (Istigfar), Hans Groenewegen (Salam), lima mahasiswa Institut Teknologi Bandung (Ilham), dan tiga mahasiswa ITB (Khatulistiwa). Pembangunan masjid dimulai pada 24 Agustus 1961, dan diresmikan pada 22 Februari 1978 oleh Presiden Soeharto. “Marilah kita membuat masjid yang tahan menghadapi cakaran masa, sehingga ia dapat bertahan seribu, dua ribu, bahkan tiga ribu tahun,” kata Presiden Sukarno saat melakukan pemancangan tiang pertama Istiqlal, 24 Agustus 1961.
Berdiri di atas lahan 9,5 hektare, sedangkan luas bangunan 3,8 hektare, yang terdiri atas bangunan masjid, taman, halaman parkir, kolam air mancur, serta sungai yang mengelilinginya. Bangunan masjid terdiri atas gedung utama, gedung pendahuluan, teras raksasa, menara, dan lantai dasar.
Untuk menghindari rayap, Presiden Sukarno memutuskan bangunan dibuat tanpa menggunakan kayu, melainkan dari baja, stainless steel, marmer, dan beton. Marmer berasal dari Citatah, Padalarang, Jawa Barat, dan Tulungagung, Jawa Timur, stainless steel dari Jepang, keramik dari Italia, dan konstruksi kubah bajanya dari Jerman.
Daya tampung masjid bisa mencapai 200 ribu orang, yang terdiri atas ruang salat utama dan balkon serta sayap: 61.000 orang. Ruang pada bangunan pendahuluan: 8.000 orang. Ruang teras terbuka di lantai 2: 50.000 orang. Semua koridor dan tempat lainnya: 81.000 orang.
Memiliki kubah besar dengan garis tengah 45 meter sebagai simbol tahun kemerdekaan Republik Indonesia (1945). Kubah ini terbuat dari rancang baja yang dipesan khusus dari Jerman. Juga ada kubah kecil bergaris tengah 8 meter, yang melambangkan bulan kedelapan dalam tarikh Masehi (Agustus).
Tinggi menara 6.666 cm atau 66,66 meter. Angka ini sama dengan jumlah ayat dalam Al-Quran. Menara dirancang berlubang-lubang untuk mengurangi tekanan embusan angin. Puncak menara dibuat setinggi 30 meter, sesuai dengan jumlah juz dalam Al-Quran. Terbuat dari baja tahan karat seberat 28 ton.
Semula, Friedrich Silaban cuma merancang delapan pilar untuk menyangga kubah. Dalam proses pembangunan sempat sempat diubah menjadi 20 buah dengan ukuran lebih kecil. Akhirnya tercapai kompromi jumlah pilar 12 buah, sesuai dengan tanggal kelahiran Rasulullah, 12 Rabiul Awal.
Ragam hias ornamen bersifat sederhana tapi elegan, yaitu pola geometris berupa ornamen logam krawangan (kerangka logam berlubang) berpola kubus, lingkaran, atau persegi.
Terdapat 468 keran air untuk berwudu yang tersebar di emper teras sebelah utara, timur, dan selatan masjid. Juga dilengkapi dengan 80 urinoir dan 52 kamar mandi beserta WC-nya.
Terbuat dari kayu meranti merah yang berusia sekitar 300 tahun dari Pulau Kalimantan dan kulit sapi. Beduk yang terletak di bawah menara ini memiliki garis tengah 1,71 meter.