METROPOP

Cecep Arif Rahman

Puncak Seorang Jagoan Silat

Cecep sering kabur dari kompleks pesantren demi menonton film.

Ilustrasi: Luthfy Syahban

Rabu, 16 Maret 2016

Menonton film bukan perkara yang mudah bagi Cecep Arif Rahman kecil. Ia tumbuh dalam keluarga dan lingkungan pesantren yang disiplin. Ayahnya, pemimpin Pondok Pesantren Nurul Islam, sangat ketat mengawasi santrinya, termasuk Cecep.

Semua santri, termasuk Cecep, harus menggunakan waktu untuk belajar dan beribadah. Mereka dilarang keluar malam. Padahal pemutaran film, yang kala itu hanya ada dengan layar tancap, cuma dilakukan kala malam hari. Maka Cecep kecil, yang gemar menonton film, pun mencuri-curi kesempatan.

“Kalau bapak saya ngontrol, saya diam dulu sampai jam 21.00. Setelah jam 21.00, kita baru keluar, nonton tiga film sekaligus,” cerita Cecep saat ditemui detikX di Elite Club Epicentrum, Kuningan, Jakarta, tempat Cecep melatih silat.

Sukses “kabur” dari kompleks pesantren belum berarti masalah selesai. Kadang layar tancap itu harus bayar. Nah, bila tidak punya uang, Cecep terpaksa memanjat pohon agar bisa menonton tanpa membayar. Kadang ia memilih menunggu setelah film diputar setengah agar bisa masuk secara gratis.

Maka, bila sekarang ia menjadi bintang film, bahkan menembus pusat perfilman dunia, Hollywood, dengan bermain dalam Star Wars: The Force Awakens, Cecep sungguh tidak menyangka. Ia lebih tidak menyangka, silat yang menjadi hidupnya sejak kecil-lah yang mengantarkannya masuk dunia film.

* * *


Darah pesilat mengalir dalam tubuh Cecep. Bapak-ibunya merupakan pesilat. Bapak Cecep seorang guru yang aktif di perguruan silat Tapak Suci, sedangkan sang ibu piawai bermain silat Panglipur. Demikian juga kakek-nenek Cecep.

Bagi Cecep, bersilat sudah seperti menghirup udara atau mengudap makanan sehari-hari. Semua mengalir dan terjadi begitu saja sejak ia kecil. Dari bayi, ia sudah melihat atraksi silat. Di kampungnya, Pataruman, Sucinaraja, Garut, Jawa Barat, semua acara, mulai khitanan, lamaran, sampai nikahan, selalu disertai dengan atraksi silat. Nyaris semua orang, termasuk nenek-nenek, di kampung Cecep bermain silat.

Bagi orang-orang di kampungnya kala itu, hiburan hanya ada dua, yakni bermain bola dan silat. “Yang paling murah itu silat. Kalau main bola harus punya sepatunya, sama bolanya. Kalau silat? Asalkan punya tangan, ha-ha-ha…,” ujarnya.

Cecep mulai diajari silat pada umur 8 tahun. Gurunya adalah sang kakek. Ketika menginjak sekolah menengah pertama, Cecep harus belajar silat di tempat lebih jauh. Ia mesti berjalan kaki selama 40 menit, melewati kuburan, sawah, kebun bambu, sungai, naik lagi ke hutan, baru sampai.

(Dari kiri) Cecep Arif Rahman, Iko Uwais, dan Yayan Ruhian dalam pemutaran perdana film Star Wars: The Force Awakens.
Foto: Gus Mun/detikHOT

Ayah Cecep baru memperbolehkan Cecep berlatih silat setelah salat isya. Karena itu, Cecep remaja baru keluar dari rumah pukul 8 malam. Ia akan tiba di rumah guru silatnya sekitar pukul 9. Latihan selesai menjelang tengah malam.

Awalnya, Cecep bertiga berguru silat. Namun, lambat laun, teman Cecep mrotoli satu per satu. Tinggal dia seorang yang belajar silat. Padahal ia seorang penakut. Ia bukan pemberani, yang tak takut berjalan malam-malam sendiri. Pada masa itu belum ada listrik. Selain itu, dongeng tentang hantu-hantu, yang semakin membuat takut, masih sering diceritakan orang-orang.

Sang guru melatih Cecep agar tidak takut. Ia disuruh berteman dengan hal-hal gaib dan alam. Sang guru juga menyuruhnya merapal ayat-ayat Al-Quran untuk mengatasi rasa takut. Ia pun bertahan belajar silat hingga sekolah menengah atas, hingga kemudian sang guru mempercayainya ikut serta melatih silat.

Lulus SMA, Cecep melanjutkan kuliah di Universitas Pakuan, Bogor. Meski kuliah, Cecep tidak mau meninggalkan silat. Ia memilih Bogor untuk kuliah karena dekat dengan Cimande, yang terkenal dengan silat Cimandenya, tempat ia bisa melanjutkan belajar silat.

Cecep Arif Rahman
Foto: Ari Saputra/detikX

Ketekunannya belajar silat pun berbuah manis. Pria kelahiran 18 Agustus 1972 ini sering menjuarai lomba silat. Ia menjadi juara pertama tunggal tangan kosong dalam Kejuaraan Dunia Pencak Silat di Hat Yai, Thailand, pada 1994. Ia juga masuk tiga besar tim terbaik saat mengikuti Festival Bela Diri Bercy, Prancis, pada 2005-2008. Gara-gara acara ke Prancis inilah Cecep berteman dengan Yayan Ruhian dan Iko Uwais lantaran mereka satu tim.

Biasanya, dalam event mempromosikan silat ke luar negeri, Maya Evans, istri Gareth Evans, menjadi sponsornya. Nah, suatu ketika Evans, yang tertarik untuk membuat dokumentasi silat, datang ke perguruan silat Cecep. Selama dua hari Evans berada di sana.

Ketika Evans kemudian ingin membuat layar lebar perdananya, film Merantau, Cecep pun diajak. Tapi ia menolak karena pada 2008 itu Cecep baru saja diangkat menjadi pegawai negeri sipil sebagai guru bahasa Inggris. “Enggak enak kan, baru saja diangkat sudah bolos,” ujar Cecep.

Sesuatu itu tidak ada puncaknya. Sebab, kalau kita menganggap sudah berada di puncak, berhenti sudah. Anggap seperti hidup, puncak itu berarti mati."

Cecep kembali diajak main dalam The Raid 2. Yayan-lah yang mengkondisikan agar syuting tidak mengganggu jadwal mengajar Cecep. Khusus untuk Cecep, syuting hanya dilakukan Sabtu dan Minggu dan saat liburan sekolah. Guru bahasa Inggris itu pun lantas memohon kepada sang kepala sekolah agar diizinkan ikut syuting.

“Jadi saya main film itu karena pertemanan, ha-ha-ha…. Iko dan Yayan-lah yang merekomendasikan kepada Gareth Evans,” kata suami Yani Suryani ini.

The Raid 2 ternyata membuat terpesona sutradara Star Wars 7, J.J. Abrams, sehingga Iko, Yayan, dan Cecep pun diminta menjadi cameo dalam film legendaris itu.

Kini Cecep banyak mendapat tawaran main film. Ia bersedia main asalkan jadwal syuting tidak bertabrakan dengan jadwalnya mengajar dan tidak merusak citra dirinya sebagai seorang guru, pengajar. Ia ingin film-film yang dibintanginya mempunyai unsur pendidikan.

Cecep pun tidak mau berhenti belajar silat. Meski dikenal jago, ia ingin ilmu silatnya lebih tinggi dan tinggi lagi.

“Sesuatu itu tidak ada puncaknya. Sebab, kalau kita menganggap sudah berada di puncak, berhenti sudah. Anggap seperti hidup, puncak itu berarti mati.”


Reporter: Ibad Durohman
Penulis/Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Luthfy Syahban
Videografer: Nugroho Tri Laksono

Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.