METROPOP
Yayan Ruhian
Dikenal jago silat, Yayan Ruhian mengaku sebenarnya penakut dan tidak suka berkelahi. “Kalau ada yang mengajak berantem, saya takutlah.”
Foto: dok. Yakuza Apocalypse
Rabu, 16 Maret 2016Setiap sore, jauh sebelum azan magrib berkumandang, Yayan Ruhian selalu berjalan kaki menembus hutan. Setelah melintasi hutan, ia akan melewati sawah, lalu ia masih harus menyeberangi sungai. Tujuannya hanya satu: menuju rumah guru silatnya.
Kala itu, pada 1982, Yayan masih menjadi siswa kelas III sekolah menengah pertama. Di Cibeber, Kecamatan Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, yang merupakan kampung halaman Yayan, banyak orang belajar bela diri. Ayah Yayan juga seorang pesilat. Kakaknya pandai karate.
Yayan remaja terkagum-kagum pada Barry Prima gara-gara menonton film Jaka Sembung. Yayan membayangkan, bila bisa silat, ia akan terlihat keren. Apalagi kalau ada yang mengajak berantem, dia pasti menang.
Tapi ternyata, di kampung Yayan, belajar silat tidak boleh untuk keren-kerenan, apalagi buat gagah-gagahan. Belajar silat tidak bisa dipisahkan dari belajar agama. Sang guru selalu memberi nasihat “dirikanlah salat, belajarlah silat”. Silat pun diajarkan setelah salat dan mengaji, membaca Al-Quran.
“Biasanya itu (latihan silat) sehabis mengaji, saya ngaji lo, anak pesantren,” kata Yayan.
Yayan belajar silat kepada guru mengajinya selama dua tahun. Suatu ketika, saat Yayan duduk di bangku SMA, ada mahasiswa yang melakukan kuliah kerja nyata di kampungnya. Salah satu kegiatan mahasiswa itu adalah membuka Perguruan Pencak Silat Kateda Indonesia. Perguruan ini beda dengan perguruan silat yang sebelumnya diikuti Yayan, lebih terorganisasi.
Yayan tekun berlatih sampai menjadi asisten pelatih di Kateda. Lulus SMA, pada 1988 sang pelatih, Jimmy Tapisah (sekarang mengajar silat di Inggris), mengajak Yayan ke Jakarta untuk membantu mengajar silat. Yayan berpikir ia bisa mengajar silat sambil kuliah.
“Sempat berpikir, saya satu atau dua tahun mengajar silat, berikutnya insya Allah segera kuliah. Ternyata lewat (kuliahnya), ha-ha-ha….”
Perguruan silat Kateda sekarang berubah nama menjadi Pencak Silat Tenaga Dasar (PSTD) Indonesia. Tidak lama mengajar di PSTD di Tanah Abang, Jakarta, Yayan juga ditugasi mengajar personel Pasukan Pengamanan Presiden.
Yayan mengajar anggota Paspampres sekitar dua tahun. Ia lantas ditugaskan ke cabang PSTD di daerah-daerah, yakni Jawa Tengah, dan tinggal untuk mengajar silat selama tiga tahun. Kemudian ke Sumatera, Timor Leste, Sulawesi, dan Bali.
Yayan tidak mengira silat akan membawanya ke dunia film, bahkan sampai menembus Hollywood. Ia merasa lucu bagaimana dirinya dari seorang pesilat kampung bisa menjadi bintang film.
Semua terjadi setelah pertemuannya dengan Gareth Evans. Pada 2008, Evans meminta Yayan membuatkan koreografi adegan perkelahian untuk film Merantau. Namun, dua minggu sebelum syuting, Evans tidak kunjung menemukan seorang pemain untuk memerankan Erik.
Karena waktu semakin sedikit, produser Merantau, Daiwanne Ralie, mengusulkan agar Yayan dijajal. Setelah Yayan diminta casting, ternyata Evans merasa cocok.
Yayan dalam satu adegan film dengan Joe Taslim.
Foto: dok. Facebook/Joe Taslim
Yayan dalam satu adegan film dengan Joe Taslim.
Foto: dok. Facebook/Joe Taslim
“Wah, saya main nih, ha-ha-ha…. Jadi ya itu saja. Perjalanannya sangat simpel.”
Dari film Merantau, Yayan lantas diajak main film The Raid. Film ini sukses secara nasional dan internasional sehingga melambungkan nama Iko Uwais dan Yayan. Kedua bintang ini pun makin berkibar namanya dengan ikut bermain di film Hollywood, Star Wars.
Yayan merasa semua itu merupakan takdir. “Kalau sudah kehendak Tuhan, tidak ada yang sulit. Itu skenario Tuhan.”
Meski sibuk main film, Yayan masih memelihara salat lima waktu. Bagi dia, salat merupakan sarana komunikasi dengan Allah. Kalau tidak salat, ia takut kehilangan momen untuk berkomunikasi dengan Allah.
Yayan juga sangat menaruh hormat kepada orang-orang yang taat beragama. “Bagi saya, siapa pun yang dekat dengan Tuhannya ataupun siapa saja yang taat pada agamanya, agama apa pun, dia adalah orang yang hebat, orang yang sakti.“
Saat awal-awal mengajar silat, Yayan heran, banyak orang yang sudah hebat dengan ilmu bela dirinya tapi masih belajar silat. Saat Yayan tanya, mereka menjawab belajar silat karena menilai silat merupakan bela diri yang lengkap.
Untuk membuktikannya, Yayan belajar aikido, karate, bahkan gulat. Ia pun menyadari banyak nilai silat yang tidak bisa ditemukan pada ilmu bela diri lainnya.
Silat, bagi Yayan, sangat identik dengan persatuan. Prinsip bela diri bukan untuk melawan dan menang, melainkan menempatkan diri bagaimana agar aman saat menghadapi ancaman. Bila ada yang mengajak ribut, tidak boleh langsung ditanggapi. Lebih baik dihindari.
“Kita tidak ofensif, tapi defensif. Jadi, kalau ada yang mengajak ribut itu, ‘eh nanti dulu’, jadi tidak justru ‘mari’, begitu.”
Bila ada orang yang mengajak berkelahi untuk mengetahui siapa yang lebih jago, Yayan memilih mengalah."
Menurut Yayan, kian hebat ilmu yang dikuasai, pesilat akan semakin rendah hati. Biasanya, seorang guru yang terkenal hebat, saat didatangi orang untuk belajar, ia akan menjawab tidak punya keahlian apa-apa. “Malah bilang, ‘Yah, saya mah enggak bisa apa-apa.’ Selalu seperti itu. Jalan juga nunduk.”
Yayan pun bersikap seperti itu, semakin mempelajari silat, semakin ia merasa baru tahu sedikit soal silat. Garang di film, Yayan mengaku sebenarnya penakut dan tidak suka berkelahi. Kalau misalnya ada yang mengajaknya berantem, “Saya takutlah.”
Bila ada orang yang mengajak berkelahi untuk mengetahui siapa yang lebih jago, Yayan memilih mengalah. Sejauh ini Yayan berhasil menghalau orang yang berniat jahat terhadap dirinya tanpa harus berkelahi.
“Saya enggak harus nendang dia, enggak harus mukul dia. Jadi, kalau ada yang mepet, saya enggak mau mendorong mereka. Tapi, kalau tiba-tiba dia jatuh dan nyusruk, itu kan bukan saya yang mendorong dan menjatuhkan dia, tapi karena dia sendiri.”
"Bagi saya, siapa pun yang dekat dengan Tuhannya ataupun siapa saja yang taat pada agamanya, agama apa pun, dia adalah orang yang hebat, orang yang sakti."
Semakin banyak tawaran main film, Yayan tidak lantas berhenti menjadi guru silat. Ia tetap mengajar di PSTD. Yayan juga tengah menyiapkan tanah di kampung halamannya. Saat memiliki waktu libur tiga hari, dia pulang kampung untuk menengok tanah itu. Di sana ia mengolah kebun, mencabuti rumput, dan merawat apa saja yang ia tanam. Yayan ingin suatu ketika di tanah itu ia mendirikan padepokan silat sendiri. Ia mau pencak silat tetap lestari.
Reporter: Ibad Durohman
Penulis/Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Luthfy Syahban
Videografer: Okta Marfianto
Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.