image 1 for background / image background
image 2
image 3

SAINS

PERANG BINTANG
SI IRON MAN

Mereka punya duit yang tak akan habis tujuh turunan. Kini para triliuner itu berlomba menjadi yang nomor satu di antariksa.

Ilustrasi: detikX

Rabu, 17 Februari 2016

Elon Musk, 44 tahun, punya segalanya di bumi. Dia pintar dan punya istri cantik. Majalah Forbes menaksir, kekayaannya lebih dari Rp 150 triliun. Tapi Musk tak berniat berfoya-foya dan menghabiskan umur di planet ini. Dia menyimpan cita-cita untuk pensiun di Planet Mars.

“Itu akan menjadi tempat yang menarik untuk pensiun.... Aku sudah lama berangan-angan, suatu ketika nanti bisa pensiun di Planet Mars," kata Musk, seperti dikutip USAToday, beberapa tahun lalu. Namun Mars bukanlah bulan. Dalam soal jarak saja, perjalanan ke bulan hanyalah sebuah perjalanan kecil dibanding perjalanan ke Planet Merah.

Jika diibaratkan naik kereta, perjalanan ke bulan seperti naik kereta komuter dari Jakarta ke Bogor. Sedangkan perjalanan ke Planet Mars bak naik kereta api dari Jakarta ke Banyuwangi. Jarak terdekat dari bumi ke Mars kira-kira setara dengan 140 kali jarak bumi ke bulan. Wahana Curiosity perlu waktu lebih dari delapan bulan hingga mendarat di Kawah Gale, Planet Mars. "Perjalanan itu akan menjadi petualangan paling menantang sepanjang hidupku," kata Elon Musk.

Perjalanan itu akan menjadi petualangan paling menantang sepanjang hidupku."

Tapi Elon Musk bukan orang kaya biasa. Dia adalah Tony Stark, si Iron Man, demikian orang-orang sering menyamakan Musk dengan superhero Hollywood itu. Bagi Musk, pergi ke Mars bukan hal mustahil. Musk memang tidak melulu terus menumpuk duit. Alih-alih terus menimbun harta, dia malah “berjudi” dengan membelanjakan hartanya untuk bisnis yang sangat berisiko. Dia mendirikan Tesla Motors, perusahaan pembuat mobil listrik yang canggih, dan membenamkan duitnya di perusahaan pembuat panel sel surya Solar City.

Demi mewujudkan mimpinya terbang ke Mars, Musk mendirikan Space Exploration Technologies Corporation alias SpaceX. “Hidup di bumi mestinya tak selalu soal urusan mengatasi masalah.... Tapi juga mengerjakan sesuatu yang memberi inspirasi,” kata Musk kepada Guardian.

Elon Musk
Foto: Getty Images

Di depan ratusan orang di Hong Kong, awal bulan lalu Elon Musk “menjual” mimpinya pensiun di Mars. “Apakah kita hanya menginginkan satu masa depan terkungkung di satu planet sembari menunggu kejadian yang akan memusnahkan kita semua? Ataukah kita ingin menjadi spesies multiplanet?”

Ongkos perjalanan ke antariksa, menurut Elon “Iron Man” Musk, mestinya bisa jauh lebih irit. Tapi berhemat, kata Musk agak sinis, memang tak pernah jadi keahlian lembaga pemerintah. Bisnis terbang ke antariksa memang harus diambil alih swasta. Sekarang ada empat triliuner berebut nama di antariksa: Elon Musk; bos Amazon, Jeff Bezos; triliuner dari Inggris, Sir Richard Branson; dan Paul Allen, salah satu pendiri Microsoft.

“Kita butuh kompetisi. Kita semua akan diuntungkan oleh persaingan di antara kami bertiga,” kata Sir Richard, bos Grup Virgin, kepada CNBC, beberapa pekan lalu. Dia tak ragu mengklaim bahwa pesawat antariksa SpaceShipTwo milik Virgin Galactic, perusahaan miliknya, lebih hebat ketimbang milik teman baiknya, Elon Musk, dan Jeff Bezos. “Pesawat kami kembali ke bumi dan berhasil mendarat di atas roda, karena pesawat kami menyerupai pesawat terbang biasa. Milik mereka tidak bisa.”

Peluncuran roket Falcon9 milik SpaceX
Foto: Getty Images

SpaceShipTwo milik Virgin Galactic
Foto: Getty Images

Sir Richard boleh saja mengklaim pesawatnya lebih oke ketimbang milik Elon Musk atau Jeff Bezos. Elon Musk maupun Bezos juga mengklaim roket mereka punya kelas sendiri. Pada November tahun lalu, roket dan modul New Shepard milik Blue Origin, perusahaan Bezos, berhasil terbang hingga ketinggian 100 kilometer dan mendarat lagi dengan selamat di pangkalan Texas. Dua bulan kemudian, New Shepard kembali terbang hingga ketinggian 101 kilometer dan pulang ke bumi tanpa cacat.

Setelah berkali-kali mencoba dan gagal, roket Falcon9 milik SpaceX berhasil terbang ke orbit rendah bumi dan mendarat kembali di pangkalan Cape Canaveral, Florida, pada akhir Desember tahun lalu. “Welcome back, Baby!” Elon “Iron Man” Musk menulis di Twitter. “Aku tak bisa mempercayainya... ini peristiwa revolusioner.” Beberapa pekan lalu, SpaceX kembali menguji coba Falcon9 dan sukses.

Sebenarnya agak sulit membandingkan mana yang lebih hebat di antara tiga roket dan pesawat milik Sir Richard, Jeff Bezos, dan Elon Musk. Mereka terbang pada ketinggian yang berbeda. Pesawat milik Richard Branson dan Jeff Bezos terbang di bawah Garis Karman, batas antara atmosfer bumi dan antariksa alias hingga ketinggian maksimum 100 kilometer.

Roket Falcon9
Foto: Getty Images

Target Falcon9 berkali-kali lipat lebih jauh dari New Shepard maupun SpaceShipTwo. Suatu kali nanti, Elon Musk bermimpi, roket Falcon ini akan menerbangkannya ke Planet Merah. Supaya bisa terbang hingga ke Planet Mars, tak ada jalan lain, ongkos perjalanan ke antariksa harus dipangkas habis. Sekarang masih mustahil bagi Musk terbang ke Mars dengan roket Falcon dan kapsul Dragon 2. Tapi si Iron Man optimistis, misi mengirim manusia ke Planet Merah bisa dimulai tak berapa lama lagi, paling telat 2025.

Untuk memotong ongkos perjalanan ke atas langit sana, juragan-juragan super-tajir ini menggunakan resep hampir serupa, yakni memakai kembali pesawat atau roket. Analis Goldman Sachs menaksir, cara “daur ulang” roket bisa memangkas ongkos terbang ke antariksa hingga 90 persen.

Selama ini, roket yang terbang mengirimkan satelit atau wahana ke antariksa hanya dipakai sekali, dibiarkan terbakar di atmosfer atau jatuh ke laut. “Kita harus mempunyai sistem propulsi untuk pendaratan sangat bagus jika hendak pergi ke tempat lain di luar bumi,” kata Musk kepada Chicago Tribune. Di Planet Mars, terang tak akan ditemukan lokasi pendaratan dengan infrastruktur sangat lengkap dan mulus seperti Cape Canaveral.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo

Rubrik Sains mengulik penemuan-penemuan baru serta seluk-beluk sains dan teknologi.