METROPOP
Jadi juara manusia batu tingkat nasional, Idris laris manis. Ingin ikut lomba tingkat dunia.
Idris si Manusia Batu
Foto: Ari Saputra/detikX
Dua jam sudah. Orang-orang terus mengerumuni “patung” Bung Tomo di Kota Tua, Jakarta. Satu per satu, mereka minta berfoto bersama dan memasukkan uang ke kotak yang disediakan.
Patung Bung Tomo memang menjadi salah satu ikon Kota Tua yang paling terkenal. Banyak orang dari berbagai daerah datang ke kawasan wisata itu khusus untuk berfoto dengannya.
Manusia batu di Kota Tua
Video: www.20detik.com
Patung yang eksis di Kota Tua sejak 2012 itu bukan patung dari batu. Ia adalah manusia patung alias manusia batu. Sosok manusia patung itu adalah Idris.
Saya merasa lelah, haus. Saya istirahat, ya, cuma minum sama merokok sebatang. Sudah, cuma itu saja istirahatnya."
Setiap hari, Idris bersepeda dari tempat kosnya menuju Kota Tua. Di sepanjang perjalanan, yang jarak tempuhnya sekitar 1 kilometer itu, Idris sering disapa rekannya dengan teriakan “merdeka” serta kepalan tangan tegak. Idris pun membalas sapaan tersebut dengan teriakan “merdeka”.
Pukul 08.00 WIB, Idris sudah sampai dan memulai kerja hingga pukul 17.00 WIB. Dari pagi sampai sore, Idris tidak pernah kehabisan permintaan untuk berfoto. Bahkan pengunjung Kota Tua sering harus antre untuk berfoto dengannya. Ia hanya beristirahat sebentar setiap 2-3 jam. “Saya merasa lelah, haus. Saya istirahat, ya, cuma minum sama merokok sebatang. Sudah, cuma itu saja istirahatnya,” kata Idris saat ditemui detikX.
Pengunjung di tempat wisata Kota Tua, Jakarta.
Foto: Ari Saputra/detikX
Sejarah Idris sebagai manusia batu bermula pada 10 Juni 2012. Hari Minggu itu, lelaki asal Bogor, Jawa Barat, tersebut datang ke Kota Tua untuk mencari uang. Cuma lulus sekolah dasar, Idris tidak punya banyak pilihan. Yang terpikirkan saat itu, ia akan berjualan. Tidak dikira, kawasan itu bak pasar kaget, yang dipenuhi pedagang. Idris pun mengurungkan niatnya.
Idris lantas memilih menepi dan duduk-duduk di bawah pohon di Taman Fatahillah. Saat itu, pria kelahiran 1978 tersebut melihat belasan anak SMA berebut foto di dekat meriam Si Jagur. Mereka begitu narsis hingga Idris pun tertawa melihat saking lucunya gaya para “anak baru gede” itu. “Ini kan tempat wisata, pasti orang bawa kamera, pasti orang berburu foto unik, pasti orang tidak melewatkan berfoto di meriam,” kata Idris dalam hati. Ia lantas mendapat ilham untuk menjadi obyek foto dekat Si Jagur untuk menghasilkan uang.
Pengunjung mengabadikan momen di Kota Tua, Jakarta.
Foto: Ari Saputra/detikX
Idris berpikir dan menimbang-nimbang mau jadi karakter apa biar menarik sebagai obyek foto. Menjadi badut sudah terlalu umum. Ia lantas memutuskan menjadi patung tentara dan berdiri di sebelah meriam.
Hanya mengantongi uang Rp 30 ribu, di antaranya untuk membeli tiket kereta ekonomi Bogor-Jakarta, saat itu Idris mantap memulai kariernya sebagai manusia patung. Ia membawa cat tembok warna abu-abu bekas sisa cat rumahnya.
Ternyata Bung Tomo itu pahlawan santri yang membakar semangat anak-anak Surabaya, juga penyayang keluarga. Keren banget saya kalau jadi karakter ini."
Untuk seragam tentara, dia mengenakan baju, celana, dan sepatu bekas. Sesampai di Kota Tua, Idris memanfaatkan pojok sepi di kawasan tersebut untuk mengubah wujud. Termasuk mengganti kostum dan mewarnai seluruh tubuhnya dengan cat yang dia bawa dari rumah.
Hari pertama beraksi sebagai manusia patung, Idris banyak dicemooh. Saat itu belum ada satu pun manusia patung di Kota Tua. Idris kerap dianggap stres, gila, dan kurang kerjaan. Namun hari itu ia berhasil membawa uang Rp 30 ribu alias balik modal.
Idris pun kembali keesokan harinya dan seterusnya. Hanya, saat awal-awal menjadi manusia batu, Idris masih mencari karakter yang tepat. Ia berubah-ubah kostum. Pada minggu pertama, misalnya, dia memakai busana daerah, kemudian menjadi pekerja proyek, lalu pekerja kantoran, dan menjadi tentara.
Baru pada Agustus 2012, Idris memutuskan menjadi sosok pahlawan. Ia masuk warnet, berselancar di Internet, dan jatuh suka begitu melihat Bung Tomo, ikon pertempuran 10 November 1945.
“Ternyata Bung Tomo itu pahlawan santri yang membakar semangat anak-anak Surabaya, juga penyayang keluarga. Keren banget saya kalau jadi karakter ini,” kata Idris.
Maka, keesokan harinya, Idris membeli baju bekas satpam, membuat topinya dari potongan celana. Selempangnya dibikin dari karpet. Setelah merasa cukup mirip dengan Bung Tomo, Idris pun mejeng di Kota Tua.
Ternyata rezeki dari manusia patung lumayan. Dalam sehari, Idris bisa mengantongi uang Rp 300 ribu. Namun pekerjaan ini sempat mengorbankan matanya. Mata Idris terkena katarak gara-gara kemasukan zat kimia pada cat tembok yang digunakan Idris untuk mengecat sekujur badan dan mukanya. Ia harus naik meja operasi dua kali, untungnya gratis.
Idris beristirahat sejenak dengan duduk di tempat yang teduh setelah berdiri berjam-jam menjadi patung di dekat meriam Si Jagur.
Foto: Isfari Hikmat/detikX
Katarak rupanya tidak membuat Idris jera. Selanjutnya ia menggunakan kosmetik yang aman. Idris juga belajar seni manusia patung. Ia belajar secara otodidaktik melalui Internet, mengamati tiga manusia patung yang menjadi idolanya. Mereka adalah wanita asal Uruguay, Catherine Palderama, yang sudah belasan tahun menjadi manusia patung di Barcelona dengan karakter tetap malaikat.
Selanjutnya adalah Mario Santos dari Portugal, 45 tahun, salah seorang juara dunia manusia patung, yang memegang rekor 15 jam 30 menit berdiri dengan posisi tidak berubah. Terakhir adalah John Eicke, satu-satunya juara dunia manusia patung sebanyak dua kali.
Perkenalannya dengan Septian Dwi Cahyo, seniman pantomim kawakan sekaligus salah satu yang memperkenalkan seni manusia patung di Indonesia, membuat wawasan seni Idris berkembang. Idris sempat ditegur oleh Septian karena, sebagai manusia patung, terlalu banyak bergerak dan bicara.
Idris melayani permintaan untuk berpose dengan seorang pengunjung Kota Tua.
Foto: Isfari Hikmat/detikX
Kepada Septian, Idris menjelaskan dirinya ingin pengunjung Kota Tua yang berfoto dengannya puas dan punya kenangan. Itu sebabnya ia berbicara dan mengarahkan pengunjung yang berfoto dengannya tentang pose-pose foto yang bagus, sehingga tidak monoton.
Pertemanan dan komunikasi dengan Septian masih berlanjut sampai sekarang, bahkan menjadi teman curhat.
Yang lain masih mencoba mencari bahannya, mencoba mencari bentuk, sementara Idris sudah benar-benar siap."
Pada 2014, Idris menjadi juara pertama dalam lomba Humanoid 2014 yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta dalam rangka ulang tahun ke-487 Kota Jakarta. Septian, yang menjadi penggagas lomba itu, menyatakan Idris memang yang terbaik. Ia jauh lebih siap dan matang dibanding yang lain.
“Yang lain masih mencoba mencari bahannya, mencoba mencari bentuk, sementara Idris sudah benar-benar siap. Bentuk (badan), warna, bahan, kostum, dan geraknya, Idris memang seperti patung,” kata Septian saat ditemui detikX.
Kini Idris menjadi manusia batu paling legendaris. Banyak manusia patung di Kota Tua, yang jumlahnya 65 orang, yang terinspirasi dan belajar kepada Idris. Sekarang ia tidak hanya mejeng di Kota Tua, tapi sering mendapat undangan untuk sebuah acara ataupun tampil di televisi.
Hasil menjadi manusia patung, Idris mampu mengontrak tempat kos, sehingga tidak lagi harus bolak-balik Bogor-Jakarta setiap hari. Ia juga mampu membiayai pendidikan anaknya hingga perguruan tinggi. Sang istri, yang sempat melarangnya, bahkan kini membantu Idris mempersiapkan dan mencari kostum kebutuhan untuk tampil.
Idris masih menyimpan obsesi. Menjadi juara lomba Humanoid 2014 di Indonesia memperkenalkannya dengan profesional seniman level dunia John Eicke, juara dunia The World Championship of Living Statues 2013 asal Jerman, serta Ashton Ka, seniman asal Bulgaria. Pertemanan itu memacu keinginan Idris untuk mewakili Indonesia dalam lomba humanoid tingkat dunia di Arnhem, Belanda. “Mimpi terbesar seorang manusia batu itu apa, sih. Saya harus bisa menjadi juara dunia dan saya harus bisa membuat rekor,” ujarnya.
Idris memamerkan penghargaan yang diraihnya.
Foto: Isfari Hikmat/detikX
Septian sangat mendukung mimpi Idris. Ia mengaku sudah cukup lama memperhatikan sepak terjang Idris. Menurut dia, Idris cukup giat mempelajari seni manusia patung. Septian bahkan meyakinkan Idris agar terus menekuni seni manusia patung dan mengembangkan teknik-tekniknya.
“Kami sebenarnya mau memberangkatkan Idris. Sehabis saya menyelenggarakan lomba humanoid, Indonesia tahun depan boleh mengirimkan juaranya, sudah kami siapkan tapi gagal,” kata Septian saat ditemui detikX.
Idris gagal pada 2015 karena konsepnya terlalu umum. Saat ini ia mengaku sudah memiliki konsep yang unik. Idris berjanji akan mengharumkan nama bangsa dengan konsep barunya nanti. Mari kita lihat saja mimpi mendunia si Manusia Batu.
Manusia perak di Bandung dikhawatirkan merusak seni manusia batu yang sedang menggeliat.
Foto: Isfari Hikmat/detikX
Suhu di Kota Tua mencapai 30 derajat Celsius. Wajah Ayun penuh keringat. Pria 29 tahun asal Subang, Jawa Barat, itu mengenakan pakaian tebal dan berlapis ala Densus 88. Ia juga menenteng senjata laras panjang dan memakai penutup kepala.
Siang itu, Ayun tengah menjadi obyek foto pengunjung di Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat. Ya, Ayun, memang jadi salah satu manusia batu alias manusia patung di situ.
Sejumlah atribut, seperti pedang dan senjata lain, Ayun letakkan di hadapannya agar pengunjung bisa memilih dan menggunakannya ketika berfoto bersamanya. Setelah puas berfoto dengan Ayun, biasanya pengunjung memberikan sejumlah uang dengan memasukkannya ke tempat yang telah disediakan.
Sebelum mejeng di Kota Tua, Ayun sempat menjadi manusia batu di Monumen Nasional. Namun ia memutuskan pindah karena Monas sepi pengunjung saat malam tiba. Beda dengan Kota Tua, yang selalu ramai hingga malam. “Kalau malam, saya ganti kostum setan,” ujar Ayun saat ditemui detikX.
Ayun baru satu bulan menjadi manusia batu. Sebelumnya, ia mencari uang dengan menjadi pekerja proyek bangunan. Ia alih profesi karena diajak seorang kenalannya. Sang kenalan memintanya menjadi karakter Densus 88 pada pagi hari dan setan pada malam hari. Kostum sudah disiapkan, dan Ayun tinggal memakainya.
Hasil jadi manusia batu ternyata lebih gede daripada bekerja di proyek. Ayun bisa membawa pulang Rp 200 ribu per hari dengan menjadi manusia batu di Kota Tua. Jumlah yang lumayan.
Kota Tua memang merupakan kawasan yang selalu ramai dikunjungi wisatawan walau hari kerja. Ada yang sekadar melihat benda-benda bersejarah koleksi museum di sana. Banyak juga wisatawan yang menghabiskan waktu berfoto-foto, termasuk dengan meriam atau ornamen bangunan kuno lainnya. Namun foto bersama dengan manusia batu menjadi satu daya tarik tersendiri.
Kalau malam, saya ganti kostum setan."
Kini di Kota Tua ada lebih dari 60 manusia patung. Manusia patung pertama di sana adalah Idris, yang memerankan karakter pahlawan Bung Tomo. Idris datang pada 2012.
Setelah satu bulan mejeng di Kota Tua, Idris menginspirasi orang lain untuk menirunya. Seorang penjaja es keliling mendekati Idris untuk belajar. Idris pun mengajarinya cara menjadi manusia patung, termasuk bahan yang digunakan untuk mengecat tubuhnya.
Waktu terus berjalan, satu per satu karakter lain bermunculan di Kota Tua. Sampai akhirnya, pada Maret 2013, ada sembilan orang yang menjadi manusia patung. Tebersit ide saat itu untuk membentuk Komunitas Manusia Batu (Kombat).
Berbagai rupa cosplayer dan manusia batu yang siap melayani permintaan pengunjung tempat wisata untuk foto bersama.
Foto: Ari Saputra/detikX
Pada 1 April 2013, terbentuklah Kombat dengan jumlah anggota 10 orang. Anggota Kombat harus mendukung Sapta Pesona Pariwisata di Kota Tua. Setiap anggota pun harus mempunyai papan nama karakter masing-masing, dan karakter itu tidak boleh sama.
Namun, pada pertengahan 2014, banyak anggota yang keluar dari Kombat. Sebagian beralasan kembali berdagang, pulang kampung, ada pula yang karena ingin melanjutkan sekolah. Namun ada dugaan bahwa hal itu akibat mulai banyaknya orang yang mencari rezeki sebagai obyek foto di Kota Tua. Persaingan mulai ketat.
“Puncaknya ketika libur Hari Raya 2015. Ada 53 ragam obyek foto. Mulai karakter robot, hantu, hingga boneka bermunculan,” kata Idris. Fenomena manusia batu ternyata bukan hanya di Jakarta. Belakangan, di Bandung juga bermunculan manusia perak atau silverman di sejumlah perempatan jalan. Mereka biasanya bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek. Wajah dan badannya disemprot dengan cat warna perak.
Seorang manusia robot berjalan di tengah-tengah pengunjung yang berwisata di Kota Tua, Jakarta.
Foto: Ari Saputra/detikX
Fenomena manusia perak di Bandung makin marak, jumlahnya tidak hanya satu-dua orang, tapi bisa puluhan. Mereka sering terlihat di perempatan Dago-Pasopati dan Pasteur. Sayang, keberadaan mereka dikeluhkan warga.
“Banyak manusia silver di lampu merah. Mencemaskan sih enggak. Tapi, kalau enggak dikasih uang, mukanya jadi enggak enak,” ujar Asmara Kharismadi, 36 tahun, warga Bandung.
Banyak manusia silver di lampu merah. Mencemaskan sih enggak. Tapi, kalau enggak dikasih uang, mukanya jadi enggak enak."
Septian Dwi Cahyo, maestro seniman pantomim, yang juga menjadi pembina manusia patung, menyayangkan fenomena silverman karena mereka menjadi seperti pengemis.
“Tubuhnya dicat silver, terus minta-minta duit. Dia sebenarnya mengikuti manusia batu, tapi bergerak terus. Pas dia diam sih terlihat bagus. Tapi, ketika lampu lalu lintas menyala merah, mereka bergerak minta-minta,” ujar Septian.
Septian, yang sudah lama menekuni seni gerak dan ekspresi, menjelaskan, manusia batu merupakan turunan seni dari pantomim. Dulu dikenal dengan sebutan human statue dan kini berkembang menjadi living statue atau manusia batu.
“Saya melihat memang cukup menghidupi. Akhirnya fenomena itulah yang dipakai oleh orang lain tanpa menggandeng art-nya. Banyak yang berpikir hanya bagaimana mendapatkan uang, dan itu yang merusak seni itu sendiri,” tutur Septian kepada detikX.
Septian membandingkan fenomena silverman dengan Idris si manusia batu. Awalnya Idris memang “mengamen” sebagai manusia batu. Namun Idris pun mau mempelajari bidang seni ini sembari jalan. Bahkan terus mengembangkan dirinya dari waktu ke waktu.
“Berbeda dengan silverman, mereka hanya berpikir bagaimana dapat uang tanpa memikirkan art-nya,” katanya.
Septian khawatir fenomena silverman justru bakal merusak keberadaan dan nilai seni manusia batu yang saat ini tengah menggeliat.
Reporter: Isfari Hikmat
Editor: Iin Yumiyanti
Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.