SAINS
Orang-orang menyebut Sergio sebagai Victor Frankenstein,
tapi dia tak ambil pusing.
Sergio Canavero
Foto: YouTube
Selasa, 9 Februari 2016
“Dia sudah gila.” Sinting. Itulah kesimpulan Arthur Caplan, Direktur Etika Medis Rumah Sakit Langone Universitas New York, dan Binhai Zheng, dokter spesialis bedah saraf di Universitas California, San Diego, soal Sergio Canavero. Ilmu pengetahuan, menurut Arthur, masih belum memungkinkan untuk mewujudkan rencana “gila” dokter bedah saraf asal Torino, Italia, itu.
“Aku pikir ide itu benar-benar bodoh.... Kamu akan ditangkap dengan tuduhan pembunuhan jika memotong leher orang sebelum dia mati,” kata Arthur. Di mata Binhai, ide fantastis dokter Sergio itu tak perlu ditanggapi terlalu serius. “Kalian tak bisa menaruh kepala orang di atas tubuh orang lain,” kata Binhai kepada majalah Wired beberapa waktu lalu.
Setahun lalu, Sergio bikin heboh saat “mengumumkan” rencana “gila”-nya untuk mencangkokkan kepala manusia ke tubuh orang lain. Rencana itu dia tulis di jurnal Surgical Neurology International dan dia sampaikan dalam sejumlah seminar. Orang-orang menyebut Sergio sebagai Victor Frankenstein, tapi dia tak ambil pusing.
Ini hanya sains-fiksi.... Dia mestinya menulis novel saja dan menjualnya di Amazon."
“Aku Frankenstein yang nyata,” kata Sergio kepada NBC. Dia mengaku memang bukan orang yang normal. Demikian pula Victor Frankenstein. Victor, tokoh fiktif dalam novel karya Mary Shelley yang terbit pada 1818, Frankenstein; or, The Modern Prometheus, punya cita-cita menciptakan makhluk hidup. Alih-alih menghidupkan manusia, Victor malah menciptakan monster. Gara-gara terus dikejar monster yang dia ciptakan sendiri, hidup Victor berakhir tragis.
Ide yang terdengar sinting itu menamatkan karier Sergio di Rumah Sakit Torino. Sesama dokter mencercanya dan gereja mengkritik rencana operasi transplantasi kepala Sergio. Gara-gara ribut-ribut tersebut, dia diminta mundur dari pekerjaannya.“Aku menjadi pesakitan, paria,” kata Sergio kepada Guardian. Tapi Sergio jalan terus.
Foto: Huffington Post
Foto: Welt
Kecuali kiamat, perang nuklir, atau bumi luluh lantak dihajar asteroid, menurut Sergio, operasi ala Frankenstein itu akan terlaksana pada 2017. “Jika masyarakat tak menginginkannya, aku tak akan mengerjakannya.... Tapi, jika orang-orang di Eropa dan Amerika tak mau, bukan berarti tak bisa dikerjakan di tempat lain. Sebagai ilmuwan, kami tak akan berhenti hanya lantaran operasi ini kontroversial,” kata Sergio.
Di Italia, tak ada rumah sakit yang bersedia memberikan meja operasi untuk operasi cangkok kepala, demikian pula di Amerika Serikat. Beruntung, Institut Teknologi Harbin dan Sekolah Kedokteran Harbin di Tiongkok bersedia menjadi tuan rumah untuk operasi Sergio.
Ada dua hal yang dipersoalkan dari rencana Sergio Canavero. Menyambung kepala orang ke tubuh orang lain, menurut Binhai dan Caplan, terang tindakan tak etis. Manusia baru hasil cangkok kepala juga bakal menghadapi masalah identitas, siapakah dia? Apakah identitasnya mengikuti pemilik kepala atau menyesuaikan dengan empunya tubuh? Apalagi jika umur pemilik kepala dengan pemilih tubuh ternyata berselisih lumayan jauh.
“Ini hanya sains-fiksi.... Dia mestinya menulis novel saja dan menjualnya di Amazon,” Binhai berkomentar sinis. Satu masalah lagi, Binhai dan sejumlah dokter tak percaya Sergio bisa memotong leher orang, menyambungkan lehernya di tubuh orang lain dan abrakadabra.... manusia baru itu bisa berfungsi sempurna.
Eduardo Rodriguez, profesor bedah plastik di Universitas New York, termasuk di barisan dokter yang tak percaya. Kendati barangkali tak ada masalah untuk menyambungkan tulang leher atau tulang belakang, saluran pernapasan, saluran pencernaan, serta pembuluh darah di antara kepala dan tubuh milik dua orang yang berbeda, menghubungkan saraf tulang belakang bakal jadi persoalan sangat pelik.
Foto: Beartales
“Kita belum sampai pada titik di mana kita bisa mengganti kepala, dan sistem sarafnya bekerja sempurna,” kata Eduardo, seperti dikutip Livescience. Belum lagi soal kemungkinan penolakan oleh tubuh barunya. Eduardo pernah punya pengalaman operasi besar transplantasi wajah. Kendati bisa dibilang sukses, sistem kekebalan tubuh sang pasien bereaksi dengan menolak bagian wajah yang dicangkokkan.
Sepanjang sejarah, belum ada yang bisa meniru Dr Frankenstein—Victor biasa disapa. Memang ada beberapa ilmuwan yang mencoba operasi cangkok kepala, tapi bukan pada manusia. Pada 1970, dokter bedah dari Universitas Case Western Reserve, Amerika Serikat, Robert White, mencoba mencangkokkan kepala monyet pada tubuh monyet lain. Monyet hasil cangkok kepala itu hanya hidup selama sembilan hari.
Tapi Sergio dan sekondannya, Ren Xiaoping, dokter bedah saraf di Sekolah Kedokteran Harbin, sangat yakin mereka bisa menjadi the real Dr Frankenstein. Ren Xiaoping pernah punya pengalaman operasi pencangkokan kepala pada tikus. Namun operasi pada tikus jelas tak bisa disamakan dengan pada manusia.
Pertengahan Januari lalu, Sergio memamerkan keberhasilan tim dokter di Sekolah Kedokteran Harbin menyambungkan leher monyet. Dia mengklaim, sistem saraf kepala monyet bisa tersambung mulus dengan tubuh barunya. Demi pertimbangan etika, monyet itu hanya dibiarkan bertahan hidup selama 20 jam. “Ini sangat penting supaya orang tak lagi berpikir bahwa operasi penyambungan leher tak mungkin dikerjakan,” kata Sergio kepada New Scientist. “Operasi ini jelas mungkin dilakukan.”
Valery Spiridonov
Foto: NBC News
Untuk mencegah kerusakan saraf saat proses pemotongan leher, Sergio menuturkan, mereka akan menggunakan pisau bedah yang sangat tipis dan sangat tajam. Untuk menyambungkan jaringan saraf kepala dan tubuh pasien, Sergio mengandalkan “ramuan ajaib”-nya, polietilen glikol. Menurut Sergio, polietilen glikol terbukti sangat mangkus memicu regenerasi sel saraf.
“Dr Frankenstein dari Torino” menaksir, operasi maraton cangkok kepala ini bakal makan waktu 36 jam dengan melibatkan 150 dokter dan paramedis. Supaya operasi yang sangat rumit ini bisa mulus, jika tim sudah terbentuk, paling tidak mereka butuh latihan selama dua tahun.
Setelah operasi penyambungan leher tuntas, pasien—Sergio sudah menemukan “donor” kepala, yakni Valery Spiridonov, 30 tahun, dari Rusia—akan dibiarkan dalam kondisi koma selama sebulan, hingga sel-sel saraf tersambung. Sergio menaksir, setahun setelah operasi, Valery bakal bisa menggerakkan tubuhnya yang baru.
Sergio Canavero bersama Valery Spiridonov
Foto: Zuma
Valery menderita penyakit Werdnig-Hoffman, yang membuat badannya lumpuh. “Aku butuh bantuan orang lain setiap hari, setiap menit,” kata Valery. Dia tak tahu apakah operasi Sergio bakal berhasil. “Tapi, jika aku tak mencobanya, takdirku jelas bakal menyedihkan.”
Tak banyak dokter percaya Sergio dan Ren Xiaoping bakal mencatat sejarah, menjadi orang pertama yang berhasil melakukan operasi transplantasi kepala. Michael Sarr, redaktur jurnal Surgery dan mantan dokter bedah di Klinik Mayo, Rochester, salah satunya. Semula dia juga tidak yakin pada ide Sergio. Setelah menyimak detail rencana Sergio “Dr Frankenstein” Canavero, Dokter Sarr merasa operasi seperti itu bisa jadi mungkin dikerjakan. “Aku percaya, paling tidak secara teori, operasi penyambungan leher bisa dikerjakan. Ilmunya sudah ada di luar sana,” kata Sarr.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Rubrik Sains mengulik penemuan-penemuan baru serta seluk-beluk sains dan teknologi.