INVESTIGASI


METROMINI TUNGGU MATI

Bisnis Metromini kian lesu. Setoran harian tak pernah cukup dan bus sering celaka. Angkutan kota ini sudah laik dikubur.

Foto: detikX

Jumat, 22 Januari 2016

T

ak ada lagi sisa kejayaan di wajah Yuliar Yayang. Lelaki 48 tahun itu sedang menikmati secangkir kopi di sebuah warung di kawasan Rempoa, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten.

Ia biasa menunggu tawaran menjadi sopir tembak di warung yang menjadi salah satu titik rute Metromini trayek 74 itu.

Pekerjaan sopir tembak inilah yang ia andalkan untuk menghidupi keluarganya beberapa tahun belakangan. Dulu nasibnya jauh berbeda. Ia pernah memiliki empat unit bus Metromini. Namun usahanya bangkrut dan semua busnya ia jual.

Petugas Dinas Perhubungan DKI Jakarta menanyai sopir Metromini. (Safir Makki/CNN Indonesia)

"Empat-empatnya saya jualin, sekarang tinggal sopir nembak-nembak," ujarnya.

Yuliar memulai bisnis angkutan perkotaan dari bawah. Pada 1985, ia menjadi kernet. Kegigihannya mencari penumpang membuahkan hasil hingga menduduki kursi kemudi bus Metromini trayek 74 rute Blok M-Rempoa.

Tahun-tahun itu memang masa kejayaan bus Metromini. Yuliar mengenang, ongkos bus Rp 150-200 bisa menghidupi sopir, kernet, dan pemilik bus. Metromini merupakan moda transportasi populer di Jakarta.

Keberhasilan ini tidak membuatnya pongah. Ia merealisasi mimpinya memiliki Metromini sendiri.

Tahun 2003, ia berhasil membeli satu unit bus Metromini 74. Kemudian Yuliar membeli angkot jurusan Ceger. Angkot ini ia jual untuk membeli Metromini lagi. Alhasil, pada 2004 ia memiliki empat unit bus Metromini.

Nasib berbalik dengan cepat. Keuntungan bisnis ini tidak pernah meningkat. Setoran tidak berubah banyak sejak 2003, sedangkan biaya perawatan terus membengkak.

Sekarang saja mobilnya sudah pulang setengah hari karena tidak ada penumpang. Ya sudah, enggak usah narik."

"Sekarang ongkos Rp 4.000, setorannya Rp 400 ribu. Harga kanvas rem berapa? Kanvas rem dulu Rp 25 ribu, sekarang enggak dapat. (Kanvas rem) jadi Rp 40 ribu. Nguber-nya dari mana?" ujarnya.

Bisnis Metromini memang sedang redup. Pemilik bus Metromini trayek 75, Ana Nainggolan, mengaku sudah tidak berharap banyak dari dua busnya.

Rabu, 9 Desember 2015, ia sengaja mampir ke Terminal Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Dua busnya teronggok di salah satu sudut terminal. Ana hanya diam. Metromininya beroperasi atau tidak, untungnya tak jauh beda. Malah sopir bus ia ajak minum kopi bareng.

"Sekarang saja mobilnya sudah pulang setengah hari karena tidak ada penumpang. Ya sudah, enggak usah narik," ujarnya.

Keluhannya soal setoran minim dan biaya perawatan yang tinggi sama dengan Yuliar. Ia juga mengaku bisnis transportasi Metromini telah kalah. Moda transportasi lain kian marak dan kredit kendaraan pribadi kian mudah.

"Habis itu (penumpang) sama busway. Belum lagi Go-Jek. Belum lagi Uber (Uber Taxi) sama motor, itu paling gawat. Kan orang-orang kerja pakai motor, karena mengambil motor terlalu gampang," katanya. 

Keresahan atas memburuknya bisnis Metromini juga diakui pengusaha lain. Hartono, pemilik Metromini trayek 74, mengeluhkan keuntungan kecil dari enam bus miliknya. Ia memulai berkecimpung di dunia transportasi sejak 1983 dengan menjadi kernet.

Impiannya memiliki Metromini baru terealisasi pada 1994 dengan cara kredit. Bisnis ini terus ia kembangkan hingga mampu menyewa pool bersama pemilik Metromini lain di kawasan Ciputat. Hartono tergolong berhasil merawat bisnis karena mampu menyediakan pool dan mekanik. Kelaikan armadanya bisa dibilang lebih terjamin.

Namun, sama saja, kecelakaan di jalan pernah membuat bisnisnya mandek. Sopirnya menabrak dua anak sekolah yang mengendarai sepeda motor hingga masuk ke kolong bus.

"Kita sempat enggak jalan berbulan-bulan, akhirnya kita lepas saja mobilnya. Hilang satu mobil karena kejadian itu, mobilnya saya jual untuk menyelesaikan masalah itu," ujarnya. Halomoan Purba, pria asal Batak yang sudah 30 tahun menjadi sopir Metromini 75, mengatakan Metromini makin lama makin sedikit karena persaingan dengan moda transportasi lain. Dulu, di rute Pasar Minggu-Blok M, hampir 200 bus yang beroperasi. Kini jumlahnya menyusut tinggal 70-80 unit.

Ia mencontohkan lagi, Metromini trayek 64 beberapa tahun lalu masih 20 unit yang beroperasi. Sekarang satu pun sudah tidak ada. Trayek 77 juga tinggal 4 bus yang hilir mudik mengangkut penumpang dari sebelumnya 30-an bus.

"Saya sudah berkecimpung terlalu lama. Malam hari saya suka prediksi-prediksi. Pemerintah enggak perlu capek-capek. Tunggu saja tanggal mainnya. Habis sendiri tuh Metromini," ujarnya.


BUS ROMBENG DI JALAN
IBU KOTA

Bus Metromini rombeng dan berkarat menjadi pemandangan sehari-hari di jalan-jalan Ibu Kota. Menunggu giliran dirazia dan menjadi besi tua di tempat pengandangan.

Video: detikTV

Jumat, 22 Januari 2016

Panasnya udara Jakarta mengharuskan Hartono, 51 tahun, menanggalkan bajunya. Ia berteduh di sudut pool bus yang disewanya di bilangan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Kedua matanya tak bisa lepas dari mekanik yang tengah mengotak-atik salah satu bus Metromini trayek 74 miliknya.

Hartono harus memastikan Metromini miliknya tidak kena garuk petugas Dinas Perhubungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pascatragedi tabrakan antara Metromini B-80 dan kereta Commuter Line di Jalan Tubagus Angke, Jakarta Barat, 6 Desember 2015, Dinas Perhubungan kini gencar menggelar operasi.

Sejumlah karyawan Hartono sibuk merapikan bus Metromini yang sudah berkarat di sekujur bodinya itu. Mereka membenahi pintu agar bisa dibuka-tutup. Bagian yang terlihat buram, seperti jendela, dibersihkan.

Sedangkan deretan bangku penumpang bus buatan 1985 itu masih terlihat apa adanya, terbungkus selimut jok lama. "Ini sedang mempersiapkan bus-bus untuk besok," kata Hartono, Rabu, 9 Desember 2015.

Tidak hanya supaya terbebas dari razia, Metromini rombeng tersebut dipermak juga agar lolos dalam uji berkala kendaraan bermotor (kir) di Satuan Pelayanan Pengujian Kendaraan Bermotor Dinas Perhubungan DKI Jakarta di Pulogadung, Jakarta Timur. Setelah ada Metromini yang celaka, Hartono merasa uji kir dilakukan lebih ketat ketimbang biasanya.

Metromini diparkir di depan Balai Kota DKI Jakarta dalam sebuah demonstrasi. (Agung Pambudhy/detikX)

"Kalau lagi kayak begini, ya susah. Bukan mahal atau murah, tapi kami yang jadi lebih sulit, karena ada pengetatan. Mobil jelek sedikit enggak bisa lolos," katanya.

Hartono total memiliki enam unit Metromini 74, yang melayani rute Blok M-Rempoa. Bus-bus itu setiap harinya bermalam di pool sewaan hasil patungan bersama pengusaha lainnya.

Meski masing-masing memiliki bus, Hartono dan kawan-kawannya mempekerjakan mekanik yang sama. Para mekanik itu tinggal di tiga buah rumah petak yang dibangun di dalam pool. Tidak semua dari mereka mempunyai latar belakang teknik mesin.

"Lulusannya bisa apa saja. Kami didik. Yang senior ngajarin yang baru. Kan kami juga sudah pengalaman lama, bukan cuma satu-dua tahun," kata Hartono.

Menurut dia, para teknisinya harus banting tulang dan putar otak untuk mengakali onderdil Metromini. Selain harga onderdil sekarang selangit, mesin Metromininya tidak bisa lagi diasuransikan karena sudah berusia lebih dari 10 tahun.

Belum lagi kalau armadanya harus diangkut ke tempat pengandangan di Rawa Buaya, Jakarta Barat, karena terkena razia. Bila tidak buru-buru diambil, Metromini kian parah karatnya dan mesin jadi rusak. Beberapa onderdil bahkan hilang karena tidak adanya pengawasan di lokasi pengandangan bus kota itu.

"Kena biaya parkir di sana itu bisa sampai Rp 500 ribu per bulan. Makin lama makin tinggi. Biasanya, kalau (Metromini) enggak diambil, langsung dilelang. Kalau sudah rusak parah, dilelang. Jadi besi tua," katanya.

Tak mudah merawat Metromini yang sudah renta. Ketua Forum Warga Kota Jakarta Azas Tigor merasakan dampaknya. Tigor, sapaannya, juga memiliki armada Metromini. Awalnya ia memiliki 13 bus Metromini trayek P17, yang melayani rute Terminal Pasar Senen-Terminal Manggarai.

Namun susahnya perawatan membuat jumlah Metromininya menyusut menjadi delapan unit. Tak semuanya dapat beroperasi, hanya dua yang masih mencari penumpang. "Karena enggak ada penumpangnya lagi. Dan itu juga cuma (beroperasi) Senin sampai Jumat," ujarnya.

Terpaksa menjual busnya untuk menutup biaya operasional bus yang lain. Satu unit Metromini dijual seharga Rp 75-100 juta. "Itu termasuk surat-surat dan trayeknya."

Azas Tigor Nainggolan

Pengakuan ini bukan isapan jempol belaka. Tigor mengaku terpaksa menjual busnya untuk menutup biaya operasional bus yang lain. Satu unit Metromini dijual seharga Rp 75-100 juta. "Itu termasuk surat-surat dan trayeknya," ujar Tigor.

Direktur Utama PT Metromini, Nofrialdi, menyesalkan pihak Dinas Perhubungan DKI yang dengan gampang mengandangkan Metromini. Padahal kesalahan yang dilakukan Metromini kadang-kadang kecil, sementara Metromini sudah dilengkapi dengan surat-surat.

Petugas Dinas Perhubungan DKI Jakarta mendata bus Metromini. (Hasan Alhabshy/detikX)




"Masak, (karena) pentil tidak ada tutupnya, mobil dikandangin. Kalau surat kami lengkap, petugas naik ke mobil. Kami disuruh hidupkan lampu sein. Kalau sedikit kerlap-kerlipnya, dianggap tidak layak, dan mobil pun dibawa," katanya.

Nofrialdi menambahkan, saat ini hanya tinggal sekitar 3.100 bus Metromini. Dari jumlah itu, sekitar 1.600 unit dicabut izinnya. Pencabutan ini dilakukan pada masa Kepala Dinas Perhubungan DKI dijabat Udar Pristono (2012-2013).

Namun hitungan ini hanya perkiraan karena bus yang sudah dicabut izinnya masih terlihat di jalan. "Katanya kan yang dia cabut 1.600 trayek yang mati sebelum 2011. Tapi, nyatanya, yang 2016 mobil orang jalan masuk juga dalam pencabutan itu," ujarnya.


NAMANYA REBUTAN DUIT,
YA, UGAL-UGALAN

Sopir tembak biasa mengemudikan Metromini. Surat tak lengkap, kemampuan ala kadarnya, dan hanya untuk kejar setoran. Tak ayal, banyak celaka di jalan.

Foto: Yulida Medistiara/detikX

Jumat, 22 Januari 2016

Tawar-menawar di belakang bus Metromini trayek 75 itu berjalan cukup alot. Sopir bus itu tengah mengaso setelah “narik” beberapa rit. Seorang sopir tembak, Ucok Sihotang, menawarkan jasanya untuk terus mengoperasikan bus yang melayani rute Pasar Minggu-Blok M, Jakarta Selatan, itu..

"Lagi minta, biar bisa narik. Lumayanlah satu-dua rit," ucap Ucok.Rabu, 9 Desember 2015, itu, peruntungan Ucok sedang tidak bagus. Ia menawarkan bagi hasil atas jasanya. Pendapatan satu rit dibagi rata sopir dengan sopir tembak setelah dikurangi biaya solar.

Biasanya kesepakatan ini berjalan mulus. Namun sopir resmi atau sopir batangan hari itu menolaknya. Ia meminta model setoran hasil tidak dibagi dua, tapi disetor sekian persen. Tawar-menawar pun gagal. 

Metromini antre untuk mengambil penumpang di Terminal Blok M, Jakarta Selatan. (Rachman Haryanto/detikX)

"Kalau dulu kita dipecah dua, sekarang kita sistem setoran. Jadi per ritnya berapa," ujar Ucok, yang sudah 10 tahun menjadi sopir tembak.

Bila menjadi sopir tembak, dalam satu rit Ucok bisa mengantongi uang sekitar Rp 30 ribu. Tapi, jika tidak berhasil duduk di  kursi kemudi, ia mengutip uang sekitar Rp 2.000 dari tiap sopir, sekadar untuk membeli rokok.

"Ya, kalau dipikir-pikir, lebih baik narik daripada menganggur. Kalau menganggur, kita mengeluarkan duit dari dompet. Tapi, kalau narik, kan kita makan, kita merokok, ambil dari uang tarikan dulu," ujarnya.

Ucok tidak punya pilihan selain menjadi sopir untuk mencari uang walau tidak punya SIM B1 Umum. Soal SIM, ia mengaku kesulitan mengurusnya karena tidak mempunyai ijazah formal. "TK saja enggak lulus, ha-ha-ha…," katanya.

Praktek sopir tembak sudah menjadi kebiasaan dalam kegiatan operasional Metromini. Di Terminal Pasar Minggu, penampilan para sopir tembak ini mudah dikenali. Mereka rata-rata masih berusia muda. Jumlahnya lebih banyak dibanding sopir asli.

Keberadaan mereka menguntungkan sopir batangan. Setiap kali sopir batangan beristirahat, bus menganggur. Sopir tembak menjalankan bus itu dan menghasilkan uang.

Dia (sopir tembak) butuh makan, kita juga butuh makan. Lihat oranglah kalau sopir tembak, enggak sembarang orang."

Muchlisin, seorang sopir batangan, yang sudah sekitar 11 tahun mengais rezeki di belakang kemudi Metromini 75, mengaku sering memakai sopir tembak. Jasa mereka lumayan membantu. Ia dapat bekerja setengah hari dengan uang setoran yang tetap mengalir.

"Dia (sopir tembak) butuh makan, kita juga butuh makan. Lihat oranglah kalau sopir tembak, enggak sembarang orang," tuturnya.


Lelaki asal Tegal, Jawa Tengah, ini harus menyetor Rp 400 ribu kepada pemilik bus Metromini tiap hari. Kadang, jika rezeki tidak mencukupi, Muchlisin hanya menyetor Rp 250 ribu. Apalagi jika lalu lintas sedang macet, bus biasanya hanya bisa beroperasi empat rit.

Sopir Metromini trayek 640 (Pasar Minggu-Tanah Abang), Jhony Hendar, sudah tidak asing lagi dengan sopir tembak. Menurut dia, penggunaan sopir tembak ini merupakan hal lumrah, apalagi setoran yang harus ia penuhi Rp 500 ribu per hari.

Namun para sopir tembak sering sembarangan ketika ngetem atau menunggu penumpang. Tak jarang mereka nekat melintasi busway atau menerobos lampu merah. Boleh dibilang, perilaku mereka ugal-ugalan dan kerap menyebabkan celaka. 

Kejar setoran sering kali menjadi dalih utama. "Namanya juga rebutan duit. Duitnya masih di kantong manusia. Jadi benar, kita memang ugal-ugalan, tapi terpaksa," kilah Ucok. 

Namun, meski penggunaan sopir tembak penuh risiko, pemilik bus pun seakan-akan tutup mata. Suhartono, pemilik Metromini trayek 74 rute Blok M-Rempoa, mengaku melarang sopirnya memakai sopir tembak.

Namun kebiasaan di lapangan tidak bisa dikontrol. Biasanya sopir batangan merekrut temannya sendiri untuk bagi rezeki. Suhartono pun tidak mempermasalahkan kebiasaan ini asalkan setoran sopir tetap lancar.

Sudarwanto, pemilik Metromini dengan trayek sama, mengakui hal serupa. Ia menyatakan tidak pernah memaksa sopir terus-terusan narik. Namun mereka tetap saja mencari sopir tembak. 

"Saya enggak mikirin kok soal setoran. Sudah, bus dipulangin saja, taruh di pool. Begitu saja, daripada ditembakin dia tidak tanggung jawab," katanya.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Shafruhan Sinungan menyebut para pemilik Metromini tidak mempedulikan keselamatan penumpang dengan mempekerjakan sopir tembak. "Pengemudi harus memenuhi kualifikasi," katanya.


INVESTIGASI


Bak Anak di Tengah Perceraian Orang Tua

Revitalisasi Metromini terhambat kepengurusan ganda. Pengurus menuding pemerintah hanya berkoar-koar. Pemilik merasa keberatan kalau cicilan bus barunya selangit. Ruwet!

Foto: Rachman Haryanto/detikX

Jumat, 22 Januari 2016

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansyah punya pengibaratan yang unik terkait dengan peliknya masalah Metromini saat ini. Bus kota warna merah-biru itu bagaikan anak-anak di tengah orang tua yang sedang bercerai.

Si anak tidak terurus karena orang tua mereka sibuk berantem. Akibatnya, ya sudah, anak itu akhirnya memilih jalan sendiri-sendiri. "Ya, pada liar, sendiri-sendiri, tuh. Yang penting perut gua aja, deh," kata Andri.

Saat ini kepengurusan PT Metromini, yang menaungi ribuan pemilik bus itu, memang masih dilanda konflik antara kubu Nofrialdi dan T.H. Panjaitan. Perpecahan itu terjadi sejak diadakannya rapat umum pemegang saham Metromini pada 1993.

Akibat belum akurnya para pengurus PT Metromini, Andri melanjutkan, pemerintah belum bisa merevitalisasi Metromini yang kondisinya bobrok. Padahal bertambahnya transportasi umum yang layak sudah dinanti-nanti masyarakat Ibu Kota.

Menurut Andri, revitalisasi mendesak dilakukan karena kondisi bus Metromini yang sudah pada uzur. Selain itu, tingkat kecelakaan yang terjadi karena aksi ugal-ugalan sopir Metromini tidak kunjung menurun. "Sejauh ini, dari 3.000 Metromini yang ada, sebanyak 1.600 sudah kami kandangin," katanya.

Seorang petugas mengecek Metromini dalam sebuah uji kir. (Hasan Alhabshy/detikX)

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah menawarkan formula untuk revitalisasi Metromini itu, yakni dengan sistem pembayaran rupiah per kilometer. Pemerintah akan membayar layanan sekaligus menanggung biaya perawatan kendaraan. Selain itu, para sopir Metromini akan digaji dua kali upah minimum provinsi.

Syaratnya, para pengusaha Metromini meremajakan armadanya. Pengadaan bus itu nanti akan dilakukan dengan sistem lelang. Metromini wajah baru harus dilengkapi dengan kamera CCTV, perangkat global positioning system, dan mesin air conditioner (AC).

Andri menyebutkan revitalisasi dengan formula yang digagas Pemprov DKI Jakarta itu berhasil diterapkan di Koperasi Angkutan Jakarta alias Kopaja. Pemerintah menunggu PT Metromini bergabung, tapi konflik kepengurusan di perusahaan mesti diselesaikan terlebih dulu.

"Karena ada dualisme kepemimpinan, kalau kami (teken) kontrak dengan Nofrialdi, nanti Panjaitan marah. Makanya saya bilang, beresin dulu manajemen elu, baru nanti kami ajak gabung. Kami hanya mau tahu dengan siapa nanti berkontrak," dia menandaskan.

Direktur Utama PT Metromini, Nofrialdi, balik menuduh Pemprov DKI Jakarta sengaja mengangkat masalah konflik kepengurusan Metromini sebagai kambing hitam. Pasalnya, Nofrialdi mengklaim, konflik di Metromini telah selesai. Kubunya dan kubu Panjaitan sudah meneken pakta perdamaian.

Kesepakatan yang diambil, Panjaitan ditempatkan sebagai Komisaris PT Metromini, sedangkan ia duduk sebagai Direktur Utama PT Metromini. Saat ini kepengurusan yang sudah solid itu tinggal menunggu surat keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Ini kan sama kayak munas Partai Golkar. Seperti kayak kubu Agung Laksono dengan Aburizal Bakrie, yang akhirnya berdamai juga."

Hanya, Nofrialdi mengakui, tidak mudah menjalankan kesepakatan damai itu di lapangan. Misalnya ia belum bisa memanfaatkan kantor pusat PT Metromini di kawasan Pulogadung di Jalan Pemuda, Rawamangun, karena masih dikuasai preman binaan Panjaitan.

"Ini kan sama kayak munas Partai Golkar. Seperti kayak kubu Agung Laksono dengan Aburizal Bakrie, yang akhirnya berdamai juga," ujarnya.

Karena itu, ia menuntut Pemprov DKI Jakarta segera mengundang PT Metromini untuk berembuk. Tidak dengan melakukan razia terus-menerus terhadap bus-bus Metromini yang beroperasi di jalan raya. "Kalau ingin menghancurkan, jangan begitu caranya," ujar Nofrialdi.

Para pemilik Metromini juga berharap segera ada pengurus PT Metromini yang diakui oleh Pemprov DKI Jakarta, sehingga mereka mempunyai tempat untuk menyampaikan aduan. Selain itu, dengan adanya pengurus tunggal, pengurusan surat-surat kendaraan bisa lebih mudah dilakukan.

"Enggak jadi masalah kalau ada fee pengurusan surat Rp 30 ribu, asalkan kantornya benar," kata pemilik Metromini 74 rute Rempoa-Blok M, Sudarwanto, 34 tahun.

Namun Sudarwanto berkeberatan apabila peremajaan armada Metromini nantinya dibebankan kepada pemilik. Sebab, suku bunga kredit bank sekarang ini tinggi. Ia mendengar nantinya setoran armada baru Rp 11 juta per bulan. "Tidak akan mampu saya," katanya.

Seorang polisi menilang sopir Metromini rute Blok M-Pasar Minggu. (Jabbar Ramdhani/detikX)




Pengusaha Metromini yang lain, Hartono, 51 tahun, juga merasa tidak akan mampu membayar uang muka untuk armada baru yang dilengkapi mesin AC, yang bisa mencapai Rp 100 juta. Kalaupun Metromini jadi diremajakan, ia minta agar bisa mendapatkan kredit lunak.

"Makanya, kalau disuruh kredit, (saya) enggak mampu. Kecuali pemerintah memberikan kredit lunak, baru bisa," katanya.


Reporter: Ibad Durohman, Isfari Hikmat, Bahtiar Rifai
Penulis: Aryo Bhawono, Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.