Ganteng-Ganteng-Balerino

Foto: Agung Pambudhy/detikX

Senin, 1 Februari 2016

Siko Setyanto kini menjadi salah satu balerino (penari balet laki-laki) yang diperhitungkan di negeri ini. Sejumlah kritikus seni sering memuji pementasannya. Ia juga telah berkeliling dunia untuk pertunjukan balet.

Tapi, ketika ditanya mengapa memilih jadi balerino, ia akan terdiam sebentar, berpikir untuk menemukan jawaban yang tepat. Lantas ia berkata bahwa garis tanganlah yang menuntunnya jadi balerino. “Sepertinya saya dipertemukan dengan balet oleh Yang Punya Kehidupan,” kata Siko saat ditemui detikX.

Siko tumbuh di perkampungan di Solo, Jawa Tengah. Sebagai bocah, lelaki kelahiran 1983 ini suka main sepak bola di lapangan becek berlumpur. Kadang ia bermain badminton. Tidak pernah sedikit pun terlintas dalam benak Siko untuk menjadi penari, apalagi penari balet.

Bagi Siko, balet merupakan dunia yang sangat “jauh”, tidak mungkin disentuh. Kursus balet biasanya hanya ada di kota besar, dan pesertanya kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke atas karena biaya kursus yang tidak murah. Sedangkan Siko berasal dari keluarga yang kekurangan. Bapaknya seorang perajin sepatu, ibunya mengurus rumah tangga.

Bayar ke saya cukup pakai disiplin dan kerja keras."

“Saya anak kampung, yang bayar sekolah saja bulan depan enggak tentu, enggak ada uang,” cerita Siko. Namun, suatu hari, ketika Siko berusia 9 tahun, ibu dan sepupu perempuannya mengajak Siko ke Sanggar Maniratari. Saat itu sejumlah anak sedang menari balet dengan iringan Lady of the Dream, musik Kitaro.

Mendengar musik itu dan melihat anak-anak menari, hati Siko bergetar. Ia juga terkagum-kagum oleh rumah model Belanda yang menjadi tempat latihan balet. Rumah itu memiliki jendela-jendela yang sangat besar dan pintunya sangat lebar terbuat dari kayu jati.

Winadi Yuwono
Foto: dok. pribadi via Instagram

Siko Setyanto
Foto: dok. pribadi via Facebook

“Rumahnya saja sudah membuat saya terkesan. Saya senang sekali dan berdebar-debar,” ujarnya.

Wied Sendjayani, guru balet sekaligus pendiri Sanggar Maniratari, lantas mendekati Siko dan bertanya apakah Siko suka menari, Siko menjawab tidak. Namun si guru rupanya melihat bakat pada Siko. Maka, meski Siko berkata tidak, Wied tetap menawarinya untuk datang.

“Silakan datang setiap ada latihan. Bayar ke saya cukup pakai disiplin dan kerja keras,” kata sang guru ketika ibu Siko menanyakan bagaimana nanti ia akan membayar biaya kursus balet anaknya.

Sejak itu, Siko rajin datang ke Maniratari. Ia membuktikan memang bisa membayar dengan kerja keras. Siko merupakan angkatan keempat Maniratari. Ada 14 orang yang jadi murid Wied dan hanya empat orang yang laki-laki.

Hari pertama berlatih menjadi hari yang sangat menyeramkan bagi Siko. Ia disuruh memakai celana ketat seragam balet. Semua balerina di Maniratari menertawakan Siko. Tapi rupanya itu belum seberapa. Selanjutnya Siko harus menghadapi cemoohan karena latihan balet. “Di-bully, cowok kok nari balet. Menjengkelkanlah bully-nya.”

Ejekan, cemoohan, dan halangan juga dialami para balerino lainnya, seperti Winadi Yuwono, Arya Yudistira Syuman, dan Andi Wijaya.

Pertunjukan The Nutcracker in Jazz di gedung Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Sabtu, 19 Desember 2015.
Foto: Agung Pambudhy/detikX


Winadi kecil sangat gemuk. Saat sekolah dasar saja, berat badan Winadi 40 kilogram. Ia aktif berolahraga apa saja agar berat badannya turun. Namun semua olahraga itu tidak kunjung membuahkan hasil. Kebetulan ibu Winadi, Henny Ellisanti, adalah guru balet dan pemilik Flores Classical Ballet School. Sang ibu mengajak Winadi menari balet agar bobotnya surut. Winadi nurut, dia anggap balet sebagai olahraga saja. Lama-lama ternyata ia menyukai balet, yang sering diidentikkan dengan tarian perempuan.

“Orang kadang mikir, balet kok cowok, tetapi saya masa bodoh. Kalau saya suka, kenapa enggak dijalani?” ujar lelaki kelahiran 7 November 1990 itu.

Selain berlatih balet, Winadi mengatur pola makannya. Ia tetap makan dengan porsi besar seperti kebiasaannya, tapi ia menghindari gorengan dan karbohidrat berlebih. Dan ternyata Winadi berhasil memangkas berat badannya, bahkan akhirnya memiliki tubuh ideal.

Bonus lainnya, Winadi menjadi penari balet profesional. Latihan berat hingga cedera yang dijalani Winadi membuatnya mahir melakukan gerakan-gerakan yang sulit, seperti pirouettes, gerakan memutar tubuh lima sampai enam kali dengan satu kaki seperti gasing. Lalu gerakan loncat di udara dan soubresaut, melompat dengan posisi kaki lurus menyilang.

Kalau saya suka balet, kenapa enggak dijalani?"

Beda dengan Winadi, yang bisa bersikap masa bodoh, Siko sempat mengalami krisis kepercayaan diri karena tidak tahan pada cemoohan teman-temannya. Mereka menasihati Siko agar berhenti latihan balet karena tarian itu tidak baik bagi kejantanannya. Tarian lemah gemulai dikhawatirkan bisa mengubah orientasi seksual Siko. Namun akhirnya Siko lebih mempercayai wejangan gurunya daripada nasihat kawan-kawannya. Sang guru selalu menegaskan tarian tidak akan mengubah orientasi seksual. “Kalau kamu memang laki-laki, ya jadilah laki-laki seumur hidupmu.”

Siko pun mengamini ajaran sang guru. Sampai sekarang ia merasa orientasi seksualnya tidak berubah. Ia tetap laki-laki tulen.





SAMPAI BERONTAK

"Saya ngotot. Yang penting keinginan dari dalam diri sendiri."

Pentas The Nutcracker in Jazz 
Foto: Agung Pambudhy/detikX

Senin, 1 Februari 2016

Arya Yudistira Syuman memiliki trik sendiri untuk menghindari bullying. Yudi—sapaan akrabnya—mengajak teman-temannya berlatih balet agar ia tidak sendirian menjadi cowok yang berlatih balet. Mereka semua digratiskan asalkan mau rajin berlatih. Itu mudah saja karena guru baletnya adalah ibu Yudi sendiri, Farida Oetoyo, sang maestro balet.

Yudi berpikir teman-temannya bersedia berlatih balet karena bisa bertemu dengan balerina yang cantik-cantik. “Mereka sih enggak pernah bilang, tetapi mungkin begitu ya.”

Yudi kecil senang melihat balet. Tapi, untuk menjadi penari, ia masih pikir-pikir. “Cuma, dulu kan pikirannya, saya cowok, masak menari balet?”

Tapi, pada usia 15 tahun, Yudi akhirnya mau juga belajar balet karena diajak ibunya. Sang ibu kesulitan mencari balerino untuk pementasan.

“Dari dulu sampai sekarang, penari balet pria jarang, jadi mau cari penari balet pria susah banget,” cerita Yudi.

Farida melatih Yudi dan teman-temannya sampai lumayan bisa sehingga, bila membutuhkan penari pria, ia tinggal memanggil Yudi dan teman-temannya.

Salah satu pementasan dalam acara The Nutcracker in Jazz.
Foto: Agung Pambudhy/detikX

Balerina dan balerino menari dalam acara The Nutcracker in Jazz.
Foto: Agung Pambudhy/detikX

Namun ternyata ayah Yudi, sutradara Sjumandjaya, tidak setuju anak laki-lakinya menjadi penari balet. Sang ayah ingin Yudi lebih berfokus di dunia musik, yang masa depannya lebih menjanjikan. Namun Yudi telanjur kepincut pada balet. Sang ibu pun mendukungnya.

“Saya ngotot. Yang penting keinginan dari dalam diri sendiri,” kata Yudi. Pada usia 19 tahun, Yudi nekat berontak terhadap ayahnya dengan pergi ke Jerman untuk belajar balet. Yudi belajar dari balet klasik sampai balet kontemporer. Sekarang ia menjabat artistic director & choreographer di Ballet Sumber Cipta.

Andi Wijaya dan Susi Mariah 
Foto: dok. On Stage Academy

Andi Wijaya juga dilarang orang tuanya berkarier di balet. Lulus sekolah menengah atas, Andi melanjutkan kuliah dengan jurusan manajemen di Pontianak. Namun, suatu ketika pada 1998, Andi ke Jakarta untuk ikut audisi tari dan ia lolos. Andi lantas cuti kuliah dan lebih tertarik belajar balet. Ini membuat orang tuanya marah. “Orang tua tidak suka, mereka enggak bisa membayangkan saya jadi apa nantinya,” kata Andi.

Namun ternyata Andi bisa memupus keraguan orang tuanya. Ia tidak mengalami kesulitan ekonomi dengan berkarier di dunia tari tersebut. Pada 2002, Andi menikah dengan penari balet Susi Mariah, salah satu lulusan terbaik dari sekolah Ballet Sumber Cipta. Mereka kemudian mendirikan sekolah balet On Stage Academy.




BULLYING BERUBAH APRESIASI

"Saya masih sering di-bully sampai sekarang kalau saya cerita profesi saya adalah penari balet. Masyarakat tidak tahu saja soal balet."

Siko Setyanto
Foto: dok. pribadi

Senin, 1 Februari 2016

Bullying terhadap para balerino terjadi akibat ketidaktahuan masyarakat tentang sejarah balet. Tarian asal Italia itu justru pertama kali dipentaskan oleh penari laki-laki. Pertunjukan tari balet pertama kali dilakukan pada 1581 di Paris. Pertunjukan tersebut digelar oleh Balthazar de Beaujoyeulx, seorang pemain biola dan ahli tari Prancis, untuk menghibur Ratu Catherine de Medicis. Selama satu abad, semua penari balet adalah laki-laki. Baru pada 1681, pertunjukan balet berjudul The Triumph of Love melibatkan perempuan.

 “Saya masih sering di-bully sampai sekarang kalau saya cerita profesi saya adalah penari balet. Masyarakat tidak tahu saja soal balet,” kata Arya Yudistira Syuman, penari balet laki-laki.

Namun rupanya Yudi, Siko, Winadi, dan Andi merupakan balerino yang tangguh. Bullying tidak memadamkan hasrat dan kecintaan mereka pada balet. Mereka tekun berlatih karena yakin balet adalah jalan hidup. Siko, misalnya, yakin baletlah yang akan menyelamatkannya untuk lepas dari kehidupan kampung.

Siko memetik banyak pelajaran selama belajar balet. Sang guru tidak hanya mengajarkan gerakan tari, tapi juga disiplin dan filsafat hidup. Siko dilatih habis-habisan setiap hari. “Guru saya bilang, ‘Kamu anak kampung, tapi jangan kampungan.’”

Balerina unjuk kebolehan dalam acara The Nutcracker in Jazz.
Foto: Agung Pambudhy/detikX

Keyakinan dan kerja keras itu tidak sia-sia. Siko sekarang menjadi guru balet di Ballet Sumber Cipta. Balet juga telah membuat Siko berkeliling dunia. Sejumlah negara di Eropa, Jepang, dan Korea telah dikunjunginya. Belum lama ini ia mewakili Indonesia dalam ajang Asia Dance Company.

Teman-teman Siko yang dulu mencemooh sekarang banyak yang kagum atas kesuksesannya. Winadi juga menangguk sukses dengan tidak mempedulikan ejekan orang yang memandang rendah balerino. Saat usia 20 tahun, Winadi mencapai level advance dan dinyatakan lulus oleh Royal Academy of Dance—dewan penguji penari yang berbasis di Inggris. Winadi juga ikut perlombaan Dance Prix. Teman-teman Winadi pun tidak lagi mem-bully, tapi malah memberikan apresiasi.


Reporter: Melisa Mailoa
Editor: Iin Yumiyanti

Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.

SHARE