INTERMESO

Koorders,
Penjaga Hutan
Era Hindia Belanda

Setiap tanggal 10 Agustus diperingati sebagai Hari Konservasi Alam Nasional. Sijfert Hendrik Koorders disebut sebagai pelopor perlindungan flora dan fauna pertama di Indonesia, wilayah yang dulu bernama Hindia Belanda.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Jumat, 6 Agustus 2021

Setiap hari, kawasan wisata Situ (Danau) Lengkong di Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Ciamis, Jawa Barat, dikunjungi banyak orang. Tak hanya bercengkerama dengan alam, pengunjung juga bisa berziarah ke situs bekas Kerajaan Panjalu, sebuah kerajaan Sunda yang berdiri di Ciamis pada abad ke-13-16 (1200-1500-an Masehi) di Nusa Gede.

Nusa Gede adalah pulau kecil seluas 16 hektare yang tepat berada di tengah-tengah Danau Lengkong, yang luasnya 70 hektare. Pulau hutan primer itu ditumbuhi berbagai jenis pepohonan yang menjulang tinggi dan rimbun. Di sela-sela rerimbunan Nusa Gede, terdapat makam petilasan Prabu Sanghyang Borosngora (Syekh Panjalu), makam Prabu Hariang Kencana, dan Sayyid Ali bin Muhammad bin Umar.

Tapi yang menarik pulau itu juga dinamai Pulau Koorders dan Cagar Alam Koorders sejak 16 November 1921 melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 60 Staatsblad (Lembaran Negara) 1921 Nomor 683. Meski Nusa Gede atau Pulau Koorders sudah genap 100 tahun, kondisi alamnya masih tetap lestari. Masyarakat tetap menjaga warisan secara turun-temurun melalui isyarat tabu dengan kata pamali.

Sijfert Hendrik Koorders (1863-1919)
Foto: Repro buku Sang Pelopor, Peranan Dr. S.H Koorders dalam Sejarah Perlindungan Alam di Indonesia karya Pandji Yudistira

Gunung teu beunang dilebur. Lebak teu beunang diruksak. Larangan teu beunang dirempak. Buyut teu beunang dirobah. Layar teu beunang dipotong. Pondok teu beunang disambung (Gunung tak boleh digunduli, lereng tak boleh dirusak, larangan tak boleh dilanggar, aturan tak boleh diubah, layar tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung).” Begitulah Prabu Sanghyang Borosngora, Raja Panjalu, menyampaikan wasiatnya sebelum lengser keprabon dan melanglang buana menyiarkan agama Islam.

Lalu siapa Koorders sampai pemerintah kolonial Belanda menyematkan namanya untuk pulau itu? Nama lengkapnya Sijfert Hendrik Koorders. Ia seorang ahli botani yang dianggap sebagai pelopor pelindung atau penjaga hutan di Hindia Belanda. “Dokter Koorders lahir di Bandung, 29 November 1863, dari pasangan dokter Daniels Koorders dan Maria Henriette Boeke,” ungkap Pandji Yudistira Kusumasumantri, seorang purnakarya di Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam kepada detikX di kantornya, Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam, Jalan Pajajaran, Bogor, Jawa Barat, Kamis, 5 Agustus 2021.

Koorders harus kehilangan ayahnya saat berusia 6 tahun pada 1869. Ia lalu kembali ke Kota Haarlem, Belanda. Maria berharap kelak anak satu-satunya itu bisa menjadi pendeta mengikuti jejak suaminya sebagai pakar teologi. Tapi, alih-alih belajar teologi, Koorders malah sering jalan-jalan di Taman Hutan yang baru saja diresmikan Wali Kota Haarlem, FW van Eeden. Ia asyik mengelilingi taman itu melihat berbagai jenis pepohonan langka.

Tersirat dalam benak Koorders bahwa dirinya harus menjadi seorang ahli biologi hutan. Benar saja, setamat SMA di Haarlem, Koorders melanjutkan studi ke Jerman untuk mempelajari ilmu kehutanan. Saat itu, satu-satunya studi tentang ilmu kehutanan yang pertama di Eropa adanya di Jerman. Selama lima tahun Koorders belajar di Akademi Kerajaan Prusia di Neustadt Eberswalde, Berlin, hingga usianya menginjak 21 tahun.

Jadi dia cemas. Kekhawatiran dokter inilah yang memang dia biasanya sebagai pencinta alam botanicus, periset, dan sebagainya yang melekat pada dirinya, cemas.”

Pandji Yudistira Kusumasumantri

Pandji Yudistira, purnakarya di Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Selepas lulus kuliah, Koorders melamar bekerja di Kementerian Negara Jajahan Belanda pada 1884. Setelah diterima, ia sempat menjalani studi singkat di Universitas Tubingen dan Stuttgart, serta tinggal di Sekolah Pertanian Negara di Wagening. “Setibanya di Jawa, ia memulai pekerjaannya dengan jabatan sebagai houtvester (pejabat kehutanan) yang memiliki perhatian besar terhadap dunia botani,” ujar Pandji, yang juga mantan Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Ciamis, Jawa Barat.

Koorders memang kemudian dikirim ke Hindia Belanda. Ia langsung ditempatkan bekerja di Lands Plantentium et Buitenzorg atau sekarang yang bernama Kebun Raya Negara Bogor. Saat itu, Kebun Raya pengelolaannya dipimpin oleh Melchior Treub (1880-1905). Setelah itu, praktis selama hampir 31 tahun Koorders mengabdikan dirinya pada masalah kehutanan di Hindia Belanda. Ia sering melakukan perjalanan dan penelitian flora dan fauna ke sejumlah wilayah di Jawa. Ia sempat menjadi Kepala Laboratorium Botani Hutan di Kebun Raya Bogor.

Koorders mengadakan beberapa perjalanan riset sampai Pulau Weh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Kalimantan, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur. “Di Minahasa, dia kurang-lebih tiga bulan. Di sana dia melahirkan buku laporan perjalanan botani di Sumut dan Sulut. Buku itu berisi tentang flora setebal 700 halaman. Sesudah itu, dia ada mahakarya yang paling besar bagi dokter Koorders selama penelitian di Jawa,” terang penulis buku 'Sang Pelopor, Peranan Dr. S.H. Koorders dalam Sejarah Perlindungan Alam di Indonesia' (2014) ini.

Menurut Pandji, Koorders bersama Dr Th Valeton menerbitkan mahakarya berupa 13 buku tebal tentang flora di Indonesia dengan judul ‘Briddragen tot de Kennis der Boomsoorten van Java’ (Sumbangan Total Pengetahuan tentang Jenis-jenis Pohon dari Jawa). Koorders juga menulis buku berjudul ‘Flora von Cibodas’ yang berisi koleksi 766 jenis tanaman bunga di sekitar Gunung Gede. Hasil penelitiannya ini mengejutkan para ahli botani di Eropa.

Rombongan pemburu badak di Ujung Kulon pada 1901

Foto: Repro buku 'Sang Pelopor, Peranan Dr. S.H Koorders dalam Sejarah Perlindungan Alam di Indonesia' karya Pandji Yudistira

Tangkapan burung cenderawasih di Maluku dan Papua

Foto: Repro buku 'Sang Pelopor, Peranan Dr. S.H Koorders dalam Sejarah Perlindungan Alam di Indonesia' karya Pandji Yudistira

Dari hasil perjalanan penelitiannya itu, Koorders mengumpulkan koleksi berbagai macam tumbuhan yang hingga kini tersimpan di Herbarium Koordersianium Kebun Raya Bogor. Tercatat lebih-kurang 48.012 nomor dan 150 ribu spesimen. Koleksinya itu terdiri atas ranting kering, tunas, daun, bunga, kayu, kulit kayu, dan buah yang diawetkan dalam botol berisi cairan alkohol.

Selama bertugas di Hindia Belanda itulah Koorders merasa miris terhadap kerusakan hutan akibat eksploitasi sumber daya alam yang tak memperhatikan aspek pelestarian alam. “Jadi dia cemas. Kekhawatiran dokter inilah yang memang dia biasanya sebagai pencinta alam botanicus, periset, dan sebagainya yang melekat pada dirinya, cemas,” ucap Pandji lagi.

Akhirnya Koorders mengumpulkan sejumlah teman pakar biologi, kimia, dan botani untuk berkumpul mendirikan Perkumpulan PerlindunganAlam Hindia Belanda (Nederlandsch Indische Vereeniging tot Natuurbescherming)pada 12 Juli 1912. Dari semua anggota perkumpulan yang kebanyakan orang Eropa, hanya satu orang pribumi yang masuk. Dia adalah Pangeran Poerboatmodjo, yang saat itu dikenal sebagai ahli konservasi air. Koorders sendiri bertemu dengan Poerboatmodjo ketika masih menjabat sebagai Bupati Kutoarjo pada 1903-1906.

Koorders mendirikan perkumpulan itu setelah terjadinya malapetaka besar terhadap pembunuhan berbagai macam satwa liar di wilayah Nusantara. Salah satunya perburuan dan perdagangan besar burung cenderawasih. Juga perburuan dan pembunuhan terhadap badak Jawa bercula satu dikawasan Ujung Kulon sejak 1894. “Dokter Koorders bergerilya bagaimana tentang potensi adanya satwa langka, tumbuhan langka, dan harus dijadikan satu keutuhan karena negara ini negara yang kaya tentang flora dan fauna,” ujar Pandji.

Gayung bersambut. Ide Koorders bersama perkumpulan pelindung alam diapresiasi Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johannes Benedictus van Heutsz. Ia mengesahkan organisasi itu pada 14 Juli 1914.Koorders dan teman-temannya lalu memperjuangkan dibuatnya Undang-Undang CagarAlam (Natuurmonumenten Ordonantie). Barulah undang-undang itu disahkan di eraGubernur Jenderal Hindia Belanda Alexander William Frederik pada 18 Maret 1916 dengan menerbitkan Lembaran Negara (Staatsblad van Nederland Indie) Nomor 278.

Pemburu Eropa, Charles te Mechelen, yang baru menembak mati badak Jawa muda pada 1921 di Ujung Kulon.

Foto: Repro buku 'Sang Pelopor, Peranan Dr. S.H Koorders dalam Sejarah Perlindungan Alam di Indonesia' karya Pandji Yudistira 

Pasar burung surga (cenderawasih) di Makassar

Foto: Repro buku 'Sang Pelopor, Peranan Dr. S.H Koorders dalam Sejarah Perlindungan Alam di Indonesia' karya Pandji Yudistira 

Sembilan bulan kemudian, Ratu Belanda Wilhelmina memutuskan penyerahan pemerintah Hindia Belanda (Bestur Over Nederlandsch Indie) dari Gubernur Jenderal Alexander Willem F Idenburg kepada Johan Paul Graaf van Lemburg Stirum dalam suratnya yang diterbitkan melalui Staatsblad Nomor 279 tanggal 15 Desember 1916. Di dalam surat itu, Ratu Belanda meminta Gubernur Jenderal menyampaikan pesan kepada Perkumpulan Perlindungan Alam. Barulah pada 1919, pemerintah Hindia Belanda menetapkan sekitar 55 lokasi hutan cagar alam di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

Koorders terus menyuarakan kegiatan konservasi alam hingga ajalnya menjemput. Ia meninggal dunia akibat sakit paru-paru di Rumah Sakit Cikini pada 16 November 1919. Kematian Koorders pada usia 56 tahun itu membuat seluruh pegawai dinas kehutanan dan Kebun Raya Bogor terkejut. Lalu diusulkan agar nama Ketua Perkumpulan Perlindungan Alam itu diabadikan di Cagar Alam Nusa Gede, Panjalu, Ciamis, sebagai penghormatan atas jasa dan iktikad baik dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan konservasi alam. “Dokter Koorders adalah seorang penjaga natuurmonumenten yang tidak akan pernah punah. Dia abadi selamanya,” pungkas Pandji.

Sejumlah tokoh Indonesia yang juga gigih memperjuangkan kelestarian alam meneruskan jejak Koorders. Mereka di antaranya Effendy A Sumarjaya, yang dikenal sebagai tokoh konservasi dan merintis berdirinya sejumlah taman nasional di Indonesia. Ia wafat pada 17 Maret 2017. Lalu ada nama tokoh pemerhati masalah lingkungan hidup dan pelestarian alam lainnya, seperti Otto Sumarwoto (wafat 1 April 2008) dan Prof Dr. Herman Haeruman.


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE