INTERMESO

‘Tukang Bengkel’ Helikopter Tempur TNI Angkatan Udara

“Pilot tanpa ada kru darat ini, tak bisa terbang itu pesawat. Manajemen pesawat itu satu kesatuan, tak ada yang lebih penting dari yang lain."

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 23 April 2018

Dua teknisi berseragam biru muda dengan tulisan Scorpio di bagian belakang berada di puncak helikopter EC-725 AP Caracal yang terbuka penutup mesinnya. Mereka mengamati komponen-komponen mesin yang terdapat di bawah rotor utama. Di ketinggian sekitar 4 meter dari tanah, mereka tampak berbincang serius.

Dua orang lainnya berada di kursi kokpit heli buatan Airbus Helicopters itu, dibantu beberapa kawannya yang berdiri di sisi kiri dan kanan pintu depan. "Mereka mengecek panel instrumen di kokpit untuk tes terakhir sebelum terbang," ujar Mayor Tek Dony Anggoro kepada detikX Kamis, 19 April 2018, di hanggar Skadron Teknik 24 (Skatek) Pangkalan Udara (Lanud) Atang Sendjaja, Bogor.

Sementara itu, di ujung hanggar bagian kanan, satu pesawat helikopter jenis yang sama belum diutak-atik. "Dia baru masuk, lagi menunggu giliran," ujar Dony, yang juga menjabat Kepala Seksi Pemeliharaan Skatek 24 Lanud Atang Sendjaja, sambil menunjuk helikopter produksi Prancis yang berfungsi sebagai heli untuk operasi pencarian dan penyelamatan tempur tersebut.

Heli EC-725 AP Caracal merupakan salah satu alat utama sistem persenjataan terbaru yang dimiliki TNI Angkatan Udara. Sejak akhir 2016, sudah enam EC-725 AP Caracal yang memperkuat Skadron Udara 8 Lanud Atang Sendjaja, Bogor. Selain Angkatan Udara Indonesia, helikopter yang dikembangkan dari Eurocopter AS532 Cougar ini juga dipakai oleh Angkatan Udara Prancis, Brasil, Malaysia, dan Meksiko.

Skatek 24-lah yang ditugasi memelihara salah satu jenis helikopter tercanggih di kelasnya itu. "Kami di sini melakukan pemeliharaan tingkat sedang," ujar Dony. Pemeliharaan tingkat sedang, kata lulusan Akademi Angkatan Udara 2002 itu, mencakup keseluruhan air frame pesawat helikopter dan mesin. "Main rotor blade dilepas. Mesinnya dilepas, komponen-komponen mesin diturunkan. Kita lakukan inspeksi keseluruhan…. Tapi kalau helikopternya baru, seperti Caracal ini, masih inspeksi luar saja."

Teknisi dari Skadron Teknik 024 melakukan cek terakhir helikopter EC-725 AP Caracal
Foto : Pasti Liberti

Sekali masuk di helikopter, tak mungkin bisa pindah atau silang ke pesawat."

Mayor Tek Dony Anggoro, Kepala Seksi Pemeliharaan Skadron Teknik 24 TNI AU

Tiap pesawat, kata Dony, sudah disusun jadwal pemeliharaan oleh masing-masing skadron udara yang mengoperasikannya. Jadi tak mungkin satu jenis pesawat mendapat pemeliharaan dalam waktu bersamaan. "Standar pemeliharaan itu sekitar dua minggu atau 12 hari kerja," ujar Mayor Tek Dony. Satu pesawat ditangani teknisi bagian avionik dan mekanik sebanyak 12-16 orang.

Bukan hanya heli terbaru itu yang berada dalam wilayah pemeliharaan Skatek 024 yang memiliki Scorpio. Sejumlah heli di Skadron Udara 6 Atang Sendjaja dan heli angkut VVIP NAS 332 L1 Super Puma di Skadron Udara 45 yang berposisi di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, juga menjadi tanggung jawab Skatek 024.

Menjadi perwira teknisi pesawat merupakan tugas yang tak bisa dielak. Saat berada di Akademi Angkatan Udara, berdasarkan hasil tes psikologi, mereka sudah diarahkan dalam tiga jurusan: teknik industri, aeronautika, dan elektronika. Mayor Tek Dony Anggoro merupakan salah seorang dari kadet akademi yang ditunjuk menjadi calon perwira teknik.

Begitu juga adik angkatannya, Mayor Tek Ida Bagus Putu Purwa. "Setelah lulus taruna, kami menjenjang ke akademi lanjutan berpangkat letnan dua. Kami dididik lagi selama 6 bulan," ujar Purwa. Setelah menjalani akademi lanjutan, para perwira akan dikembalikan ke korps masing-masing.

Perwira teknik akan mendapatkan pelatihan dasar kecabangan di Wing Pendidikan Teknik dan Pembekalan Lanud Husein Sastranegara, Bandung. "Kami diberi dasar-dasar menjadi seorang perwira teknik. Menjadi teknisi. Kami juga diberi pengenalan berbagai pesawat yang ada di TNI AU," ujar Mayor Tek Purwa, yang saat ini menjabat Kepala Seksi Pengendalian Kualitas Skatek 024.

Helikopter EC-725 AP Caracal di depan salah satu hanggar Skadron Udara 8 Lanud Atang Sendjaja, Bogor
Foto: Dok. Pentak Lanud Atang Sendjaja


Saat dasar kecabangan ini, semua perwira dilatih dengan materi semua jenis pesawat yang memperkuat TNI AU. Pembagian perwira yang akan menangani helikopter, pesawat tempur, atau pesawat angkut akan diputuskan berdasarkan hasil ujian. "Saya juga tidak menyangka dipilih menangani helikopter. Kami juga tak pernah minta lihat hasil ujian tersebut," kata Dony. Terpilih menjadi perwira teknik untuk helikopter membuat Dony dan Purwa ditempatkan di Lanud Atang Sendjaja, Bogor. "Sekali masuk di helikopter, tak mungkin bisa pindah atau silang ke pesawat."

Sebelum helikopter EC-725 AP Caracal tiba, bukan hanya calon penerbangnya yang mendapat pelatihan khusus. Para calon teknisinya juga diterbangkan ke pabrik helikopter Airbus di Marignane, Marseille, Prancis. Mayor Tek Purwa salah seorang perwira teknisi yang mendapatkan kesempatan mendalami heli model tersebut. "Di pabrik ada tiga macam training, yakni avionik, airframe, dan mesin. Saya ikut pelatihan engine. Khusus pelatihan mesin, makan waktu 10 hari, sementara training lain butuh 6 minggu," ujar Mayor Tek Purwa.

Dalam pelatihan mesin tersebut, para teknisi mendapatkan pengenalan dasar mesin. "Kami dikasih pengenalan dasar bagaimana cara melepas komponen dan aksesori mesin serta pemeliharaannya," kata Mayor Tek Purwa. Umumnya, kata Purwa, prinsip kerja semua helikopter relatif hampir sama. Namun, dengan penambahan teknologi terbaru, tingkat kerumitan untuk pemeliharaan juga turut bertambah.

Karena itu, kata Mayor Tek Purwa, mendapatkan mekanik dengan kemampuan andal tak bisa bergantung pada pelatihan semata. "Setiap teknisi harus punya kemauan membaca dan belajar lagi. Terutama buku-buku technical order harus benar-benar dikuasai," ujar Purwa. "Karena itu, sangat penting pengetahuan bahasa asing bagi para teknisi."

Pengamat penerbangan Dudi Sudibyo menuturkan, saat pembelian pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat pada awal 1990, ia bertemu langsung dengan para penerbang dan teknisi yang dikirim. "Pilot hanya empat orang, tapi teknisi dan staf manajemen spare part mencapai 100 orang," ujar Dudi.

Para teknisi dari Skadron Teknik 024 Lanud Atang Sendjaja, Bogor
Foto : Dok. Pentak Lanud Atang Sendjaja

Persiapan pesawat agar laik terbang dan aman dalam berbagai operasi, baik itu pertempuran maupun operasi-operasi lainnya, dilakukan oleh mereka. "Peran para teknisi ini tak bisa dianggap remeh. Pilot tanpa ada kru darat ini, tak bisa terbang itu pesawat. Manajemen pesawat itu satu kesatuan, tak ada yang lebih penting dari yang lain," katanya.

Dudi mengatakan tak mudah menjadi seorang teknisi dengan kualifikasi andal. Pabrik produsen pesawat, baik sipil maupun militer, tak sembarangan mengeluarkan sertifikat untuk calon teknisi. "Pabrik mempunyai standar tinggi dalam meloloskan seorang teknisi. Kalau tak lulus ujian, benar-benar tak bisa (jadi teknisi)," ujarnya.

Pendiri TNI Angkatan Udara, Suryadi Suryadarma, pun menyadari pentingnya para teknisi, terutama perwira teknik, untuk memimpin bidang pemeliharaan pesawat terbang. Buku Sejarah Angkatan Udara Indonesia 1950-1959 menyebut Komodor Udara Suryadarma mengontak langsung Letnan Kolonel Ir CWA Oyens dari Militaire Luchtvaart atau Angkatan Udara Tentara Kerajaan Hindia Belanda di sebuah hotel di Bandung pada 1950.

Oyens saat itu hendak kembali ke Belanda untuk melanjutkan kariernya. Namun Komodor Udara Suryadarma membujuknya agar mau melatih atau membuat pelatihan teknis pesawat terbang untuk tingkat perwira. Oyens akhirnya setuju. Berbekal biaya dari AURI, ia kembali ke Belanda untuk menyiapkan peralatan. Sekolah tersebut akhirnya terwujud pada 1951 ketika diselenggarakan seleksi di Lanud Husein Sastranegara, Bandung.


Reporter/Redaktur: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE