INTERMESO

SAMBUT HARI BHAYANGKARA

Hidup Baru
Jenderal Soekanto

Setelah dicopot Bung Karno, Kapolri pertama, Soekanto Tjokrodiatmodjo, aktif di Olahraga Hidup Baru. Namanya sempat terseret dalam kasus rencana makar Sawito Kartawibawa.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 24 Juni 2017

Dua tahun sebelum lengser dari Kepala Kepolisian Negara Indonesia, Jenderal Said Soekanto Tjokrodiatmodjo menerima sebuah brosur. Judulnya Kesempurnaan Hidup. Kesibukan memimpin institusi kepolisian membuat Soekanto tak sempat membaca brosur itu. Brosur tersebut akhirnya disimpan Sekretaris Kepolisian dengan baik.

Baru setelah tak lagi menjabat, Soekanto mulai melirik brosur tersebut. Bahkan, menurut Awaluddin Djamin, mantan Sekretaris Kapolri, Soekanto membawa brosur tersebut saat mendapat undangan dari Patrick Hemingway untuk berburu ke Afrika pada 1960. "Soekanto memanfaatkan waktu tersebut untuk mempelajari brosur itu,” ujar Awaluddin, yang juga penyusun buku biografi RS Soekanto Tjokrodiatmodjo. Beberapa waktu kemudian, Kesempurnaan Hidup berubah menjadi Olahraga Hidup Baru (Orhiba).

Cerita berbeda disampaikan Ketua Umum Orhiba Indonesia Widya Mukti. Perkenalan Soekanto dengan Orhiba justru berawal dari rasa curiga. Presiden Sukarno mendapat laporan ada pengumpulan massa di Jawa Timur oleh T.U. Saerang. "Ada kekhawatiran mengganggu stabilitas karena memang tidak lazim saat itu," ujar Widya.

Ketua Umum Orhiba Indonesia Widya Mukti
Foto: Istimewa


Ceritanya, Bung Hatta tanda tangan di halaman terakhir kosong sebuah dokumen yang isinya kemudian diubah."

Bung Karno lalu memanggil Soekanto dan beberapa pejabat terkait. Soekanto pun diminta menyelidiki langsung aktivitas yang dinilai mencurigakan itu. "Dari situlah Soekanto mengenal langsung Orhiba," kata Widya. Alih-alih membubarkan, Soekanto malah kecantol pada olahraga senam yang dulu dikenal dengan 24 gerakan dasarnya itu.

Sepulang dari Afrika pada akhir 1960, Soekanto semakin mendalami Orhiba. Tak tanggung-tanggung, ia menyambangi kediaman pendiri Orhiba, yakni T.U. Saerang, Desa Galean, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur. Sejak itu Soekanto menekuni Orhiba. Ia tertarik pada tujuan Orhiba, yakni membebaskan manusia, khususnya bangsa Indonesia, dari segala gangguan fisik dan mental.

Berkat Soekanto, berdiri Yayasan Orhiba pada 5 Februari 1964 di Malang. Pria kelahiran Bogor itu ditempatkan sebagai pelindung yayasan. Berawal dari Malang, Orhiba merambah seluruh Tanah Air. Yayasan ini kemudian pindah ke Jakarta pada 1968. Seiring berjalannya waktu, Orhiba semakin populer. Apalagi setelah banyak pejabat dan bekas pejabat yang turut bergabung.

Widya menyebut mantan wakil presiden Mohamad Hatta merupakan salah satu tokoh besar yang ikut bergabung dengan Orhiba. Bung Hatta bahkan menuliskan pengalamannya dalam sebuah artikel untuk majalah terbitan Jepang, Yomiuri Shimbun. Menurut Bung Hatta, kesehatannya semakin membaik berkat olahraga Orhiba. Selain Hatta, tercatat Duta Besar untuk Yugoslavia Mayor Jenderal Ishak Djuarsa dan bekas Dubes untuk Brasil dan Swedia Soedjono turut bergabung.

Soekanto (kedua dari kanan) menyampaikan sambutan pada upacara serah-terima kepolisian dari Kepala Polisi Umum Belanda di Indonesia G. Van Nes (ketiga dari kanan) kepada Kepala Kepolisian Negara Indonesia di Jakarta, 19 Januari 1950.
Foto : dok. repro buku Direktorat Sejarah Polri

Sementara itu, Soekanto acap kali mendapat undangan memberi ceramah seluk-beluk olahraga itu ke Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa. "Sampai Orhiba pernah diklaim milik organisasi luar negeri, padahal ini olahraga asli Indonesia," kata Widya.

Sampai suatu ketika di pengujung September 1976, Menteri-Sekretaris Negara Sudharmono didampingi Jaksa Agung Ali Said dan Kepala Badan Intelijen Yoga Soegama mengumumkan adanya upaya penggantian kepala negara yang dilakukan secara inkonstitusional. Gerakan ini disebut dipimpin Sawito Kartawibawa bersama Singgih dan Soedjono.

Ada yang menyebut Sawito adalah suami anak angkat Soekanto. Namun Widya membantah hal tersebut. Menurutnya, hubungan Soekanto dengan Sawito hanya terkait kegiatan Orhiba. "Sawito memang kepercayaan Soekanto di Orhiba," ujar Widya.

Rupanya pihak intelijen sudah mengintai gerak-gerik Sawito. Sawito disebut menyiapkan sejumlah dokumen, antara lain "Menyongsong Pemerintah Adil Indonesia" dan "Mundur untuk Maju Lebih Sempurna", yang menilai Presiden Soeharto gagal dan meminta atau mendesak Presiden menyerahkan kekuasaan kepresidenan kepada Hatta. Sawito juga menyusun dokumen "Menuju Keselamatan", "Pernyataan", dan "Pernyataan Pemberian Maaf bagi Almarhum Bung Karno".

Pelatihan ilmu dan teknik penyidikan diberikan kepada mantri polisi di Sekolah Kepolisian di Sukabumi, Jawa Barat.
Foto: dok. repro buku Direktorat Sejarah Polri

Karena rasa percaya kepada Sawito, Bung Hatta pun bersedia menandatangani tiga dokumen yang disebut terakhir. Meutia Hatta, dalam suatu kesempatan wawancara dengan detikX, menuturkan saat itu Bung Hatta tertipu oleh tindak tanduk Sawito. "Ceritanya, Bung Hatta tanda tangan di halaman terakhir kosong sebuah dokumen yang isinya kemudian diubah," ujar Meutia.

Tak tanggung-tanggung, berbekal tanda tangan Bung Hatta, Sawito berhasil mendapat teken sejumlah tokoh penting lainnya. Kardinal Darmojuwana, Ketua Dewan Gereja Indonesia T.B. Simatupang, serta Buya Hamka ikut membubuhkan tanda tangan pada sejumlah dokumen. Soekanto juga tak segan meneken dokumen tersebut atas modal kepercayaan. 

Sawito ditangkap dan harus menjalani proses hukum. Advokat Yap Thiam Hien pun turun tangan membela Sawito. Setelah menggelar 28 kali sidang, majelis hakim menjatuhkan vonis 8 tahun penjara atas Sawito pada Juli 1978.


Reporter: Melisa Mailoa, Pasti Liberti
Redaktur: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE