INTERMESO

Cerita Burung Dara
dan Sup Hisit
di Istana Negara

“Pak Ahok paling suka dengan tahu Jepang yang halus-halus. Waktu dia masih di Balai Kota, kami kirim ke sana bisa 3-4 kali dalam seminggu.”

Foto-foto: Hasan Alhabshy

Sabtu, 28 Januari 2017

Hanya beberapa bulan setelah tentara Jepang menguasai Jakarta, rumah Sutan Sjahrir kedatangan enam tamu tak terduga. Mereka ingin berdiskusi mengenai situasi politik dengan Sjahrir, yang kelak diangkat menjadi Perdana Menteri pertama Indonesia. Mereka di antaranya penyair Pujangga Baru, Amir Hamzah, sastrawan Sutan Takdir Alisjahbana, dan Ali Budiardjo—kelak menjadi Sekretaris Perdana Menteri Sjahrir.

Kebetulan kala itu menjelang tengah hari, saatnya mengisi perut. Sjahrir lantas menyuruh anak angkatnya, Des Alwi, untuk membeli satu porsi nasi goreng ayam dan ifumi. Amir Hamzah merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang pecahan 50 sen dari dompetnya. Sebelum memberikan uang yang dibagi menjadi dua talen itu, Amir sempat mewanti-wanti Alwi agar membeli makanan di restoran Toeng Kong, lumayan jauh dari rumah Sjahrir, di Jalan Dambrink, kini Jalan Latuharhari, Menteng.

“Beli di restoran Toeng Kong, jangan di tempat lain,” ujarnya kepada Alwi. Padahal tak ada di antara mereka yang keturunan Tionghoa. Amir keturunan ningrat Melayu, sementara Sjahrir dan Sutan Takdir orang Minang. Ali lahir di Kebumen, Jawa Tengah. Tapi urusan lidah tak kenal bangsa dan bahasa.

Saat matahari tepat berada di atas kepala, segera Alwi mengayuh sepeda dari Jalan Dambrink menuju restoran Toeng Kong. Setelah menunggu 20 menit, dua porsi makanan itu dibawa pulang di dalam keranjang bambu kecil.

Restoran yang menyediakan makanan Cina itu rupanya begitu membekas di ingatannya. Sejarawan dan mantan diplomat itu menorehkan pengalamannya dalam sebuah surat pujian yang ia tujukan kepada restoran Toeng Kong. Dan meski resto itu telah berganti nama menjadi Cahaya Kota, Alwi beserta keluarga dan cucunya masih kerap mampir.

Bahkan saking sukanya, waktu Taufiq Kiemas masuk rumah sakit, beliau menyuruh orang beli sup hisit di sini.”

Mukian Mulyono, pemilik Cahaya Kota

“Saya perlu menceritakan sesuatu kejadian sejarah yang unik mengenai Kota Betawi ini, terutama mengenai restoran-restoran yang keberadaannya di kota ini semenjak sebelum perang,” Des Alwi menulis dalam suratnya pada 1 September 1999. Anak angkat Sjahrir asal Banda Neira, Maluku, ini meninggal pada November 2010.

* * *

Sebelum Indonesia merdeka, restoran yang menyajikan masakan dari daratan Cina di Jakarta masih amat sedikit. Begitu pula saat restoran Toeng Kong alias Cahaya Kota mulai membuka pintu pada 1942. Tempat makan ini didirikan oleh tiga bersaudara Oen, yaitu Oen Hon Min, Oen Tjoen Min, dan Oen Lie Min. Sejak awal, mereka banyak menghidangkan masakan ala Kanton. Konsistensi dalam menghadirkan makanan Kanton dengan teknik campuran bumbu sederhana ini justru membuat mereka cepat dikenal.

Restoran Toeng Kong, yang bersalin nama menjadi Tjahaya Kota pada 1962 dan sekarang jadi Cahaya Kota, bahkan dipercaya menjadi salah satu pemasok makanan untuk tiga kesatuan Tentara Nasional Indonesia. “Di catatan akta restoran yang saya punya, dulu Angkatan Darat, Laut, dan Udara, kami masakin juga makannya,” ujar Mukian Mulyono, pemilik Cahaya Kota sejak 1984.

Pada mulanya, restoran Cahaya Kota berdiri di Jalan Prapatan yang sekarang menjadi Tugu Tani. Namun pemerintah memerintahkan restoran Cahaya Kota ditutup sementara karena akan dibangun Monumen Nasional. Sebagai gantinya, tiga bersaudara Oen diberi sebuah lahan baru. Gubernur DKI Jakarta kala itu, Soemarno Sosroatmodjo, juga mendukung perjanjian dengan mereka.

Akhirnya pemerintah mengambil alih sebuah rumah di Jalan KH Wahid Hasyim yang menjadi lokasi restoran hingga saat ini. Sebelumnya, rumah itu dihuni oleh tujuh orang warga negara Belanda. Rumah tinggal itu pun dibangun ulang menjadi restoran untuk tempat dagang. Dan saat proses pembangunan, lagi-lagi tiga bersaudara Oen mendapat perlakuan istimewa.




“Waktu itu bangunannya kan masih berbentuk rumah. Untuk bangun ulang semennya dibantu cariin karena material bahan bangunan masih susah didapat,” kata Mukian. Restoran Cahaya Kota buka kembali pada 15 Februari 1962.

Namun, setelah dua dari tiga pendirinya meninggal, anak-anak yang ditunjuk menjadi penerus malah sulit akur. Ketimbang terus bertengkar, akhirnya diputuskan Cahaya Kota dijual. Kebetulan saudara jauh dari tiga bersaudara Oen merupakan teman Mukian. Ia pun ditawari untuk membeli restoran Cahaya Kota. Mukian, yang merupakan pebisnis jam tangan, tertarik dengan tawarannya. Apalagi setelah melihat Cahaya Kota masih selalu ramai dikunjungi pelanggan.

Untuk menebus Cahaya Kota, Mukian membayar Rp 600 juta. Setelah membeli resto itu, Mukian baru tahu bahwa Cahaya Kota punya banyak cerita dengan para pejabat tinggi negeri ini. Restoran Cahaya Kota juga pernah memenangi kompetisi Chinese Food Contest yang diadakan oleh Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta kala itu. “Waktu itu sih saya terpikirnya bisnis saja…. Dalam hati saya untung juga dibeli, karena kalau harus tutup kan sayang sekali,” kata Mukian.

Tak cuma jaraknya yang tak terlampau jauh dengan Istana Negara dan Istana Merdeka, sudah lama Cahaya Kota punya hubungan dekat dengan Istana dan lingkaran kekuasaan. Dulu Presiden Sukarno sering meminta ajudan untuk dibelikan mi goreng, nasi goreng, ayam goreng, atau sate ayam.

Kebiasaan ini dilanjutkan putrinya, Presiden Megawati Soekarnoputri, dan sang suami Taufiq Kiemas. Beberapa kali Megawati dan Taufiq, didampingi putrinya, Puan Maharani, mampir bersantap di Cahaya Kota. Menu yang paling disukai adalah sup hisit atau sup sirip hiu. “Bahkan saking sukanya, waktu Taufiq Kiemas masuk rumah sakit, beliau menyuruh orang beli sup hisit di sini,” kata Mukian.

Sukarno turun, digantikan Presiden Soeharto. Selera Bung Karno mungkin tak sama dengan Soeharto, tapi Cahaya Kota tetap masih “dekat” dengan Istana. Setiap kali perayaan 17 Agustus di Istana atau rapat kabinet, Cahaya Kota hampir selalu mengirim masakan ke Istana. Mukian pun kerap diundang untuk mengikuti upacara di Istana Negara. Kadang Presiden Soeharto juga senang memesan makanan untuk disantap bersama putra-putri dan cucunya di rumah. Burung dara goreng merupakan salah satu menu favoritnya.

Hingga kini masih banyak pejabat yang mampir untuk menyantap hidangan restoran Cahaya Kota. Meliana, Manajer Operasional Restoran Cahaya Kota, bercerita Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok merupakan salah satu pelanggan tetapnya. Sebelum Ahok dicalonkan menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta, dia bersantap bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Cahaya Kota.

Sejak saat itu, Ahok ketagihan masakan Cahaya Kota, terutama menu Gurame Sop Special-nya. Hidangan gurami digoreng tepung lalu dimasak bersama tahu Jepang menggunakan saus kuah kacang. “Pak Ahok paling suka dengan tahu Jepang yang halus-halus. Waktu dia masih di Balai Kota, kami kirim ke sana bisa 3-4 kali dalam seminggu. Bahkan saat sidang di Kementerian Pertanian pun kami juga masih diminta kirim masakan,” kata Meliana.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE