INTERMESO

Diserbu Berita Palsu

“Kami tak melebih-lebihkan pengaruh Rusia…. Banyak situs Internet memproduksi berita palsu, tapi jaringan Rusia-lah pemimpin industrinya.”

Foto-foto: Thinkstock

Selasa, 13 Desember 2016

Beberapa pekan lalu, 8 November malam, India geger setelah Perdana Menteri Narendra Modi mengumumkan bahwa pecahan uang 500 rupee dan 1.000 rupee tak berlaku lagi. Bagaimana tak geger, Perdana Menteri Modi hanya memberi waktu beberapa jam hingga pecahan uang itu tak berlaku lagi.

Pada malam itu pula, Perdana Menteri Modi menyampaikan kabar bahwa bank sentral India (RBI) akan menerbitkan pecahan uang 2.000 rupee. Hanya beberapa jam setelah Modi berpidato di televisi, entah dari mana sumbernya, segera beredar desas-desus. Lewat Facebook, lewat WhatsApp, lewat Twitter, kabar burung itu segera menyebar ke mana-mana.

Untuk memantau peredaran pecahan uang paling besar itu, situs NDTV mengutip satu pesan yang beredar lewat aplikasi WhatsApp, bank sentral India akan menanam chip nano-GPS pada setiap lembar uang 2.000 rupee. Berkat chip pasif nano-GPS ini, konon bank sentral India bisa melacak ada di mana setiap lembar pecahan uang itu dan berapa jumlahnya.

Bahkan kabarnya, sekalipun ada di dalam tanah, hingga kedalaman 120 meter, pecahan uang dengan gambar Mahatma Gandhi itu bisa dilacak oleh satelit yang dioperasikan bank sentral. Bagaimana rakyat India tak heboh mendengar “berita” seperti itu. Tentu saja “berita” itu jauh dari benar alias hanya kabar palsu.

“Dari mana kalian mendengar kabar seperti itu? Bahkan aku sendiri belum pernah mendengarnya,” Arun Jaitley, Menteri Keuangan India, terheran-heran. Situs India Today mengolok-olok kabar burung terkait chip GPS pada pecahan 2.000 rupee itu dengan memasang meme 10 fitur “canggih” yang terpasang pada lembaran uang tersebut. Harian itu menulis, pecahan 2.000 rupee ini juga punya banyak fungsi, antara lain sebagai perangkat navigasi, alat perekam suara, sekaligus kamera mikro.

Opini tak tercipta seperti 25 tahun lalu. Sekarang ada banyak situs palsu, bot, troll, yang mempengaruhi opini dengan algoritma tertentu.”

Kanselir Jerman Angela Merkel

Di luar sana, di India, Amerika Serikat, Jerman, Tiongkok, Prancis, tak terkecuali juga di Indonesia, setiap detik beredar kabar-kabar palsu dan berita yang remang-remang kebenarannya. Di Facebook, Twitter, WhatsApp, Line, Google+, dan sebagainya, berita-berita yang akurat bercampur baur dengan gosip maupun berita-berita palsu, dan menyebar sama cepatnya.

Baru lewat sebulan lalu, rakyat Malaysia dikagetkan oleh beredarnya kabar soal meninggalnya Mahathir Mohamad, mantan perdana menteri dan sekarang pemimpin kelompok anti-Perdana Menteri Najib Razak. Seperti ini salah satu judul beritanya: “BREAKING: Former Malaysia Prime Minister Tun Mahathir Mohamad Dies at 91”. Padahal faktanya, Mahathir masih segar-bugar dan terus bersuara lantang sampai detik ini.

Tak sedikit orang “termakan” kabar palsu seperti ini. Beberapa waktu lalu, Pensa Brasil menulis “berita” dengan mengklaim sumbernya dari kepolisian Brasil bahwa Presiden Dilma Rousseff menyetor duit 30 miliar real atau Rp 119 triliun ke rekening perusahaan daging Friboi. Kabar sensasional ini terbukti palsu. Tapi berita palsu ini sudah menyebar ke mana-mana, dibagikan hampir 100 ribu kali. Lebih banyak dibaca ketimbang berita yang benar-benar berdasarkan fakta.

“Ada banyak sekali berita palsu di luar sana,” kata Tai Nalon, mantan wartawan dan pendiri Aos Fatos, kepada Guardian. Nalon dan teman-temannya mendirikan Aos Fatos untuk menelusuri kebenaran berita-berita sensasional seperti yang disebarkan Pensa Brasil. “Tapi aku tak yakin apa yang terjadi di Brasil sama dengan kasus di Amerika Serikat.”

Bahkan di Amerika dan negara-negara superpower, berita-berita palsu ini jadi masalah sangat serius.

* * *

Apa boleh buat, Internet dan media sosial, selain memberikan beribu-ribu manfaat, mendatangkan banyak masalah. Satu di antaranya adalah mempermudah dan mempercepat penyebaran kabar bohong, juga fitnah.

Saat Amerika Serikat menggelar pemilihan presiden bulan lalu, ada banyak sekali berita palsu dan berita “abu-abu” yang beredar di Internet. Salah satu topik panas yang jadi sumber berita palsu itu adalah soal kesehatan Hillary Clinton, calon presiden dari Partai Demokrat. Di YouTube, misalnya, beredar video yang diklaim menjadi bukti ketidakwarasan Hillary. Di Facebook, di Twitter, juga di sejumlah blog, ada banyak sekali berita soal cedera kepala yang konon pernah dialami Hillary.

Bahkan kadang pembuat berita-berita palsu ini benar-benar sinting. Beberapa bulan lalu, situs The New Nationalist dan The Vigilant Citizens menulis berita besar bertajuk bombastis, “Pizzagate: How 4Chan Uncovered the Sick World of Washington’s Occult Elite”. Menurut dua situs ini, restoran pizza Comet Ping Pong di Washington merupakan markas geng penculik dan pemerkosa anak yang dikepalai oleh Hillary Clinton dan ketua tim kampanyenya, John Podesta. Dari dua situs itu, berita ini menyebar ke mana-mana lewat Facebook, Twitter, dan sebagainya.

Gara-gara berita “sampah” ini, James Alefantis, pemilik Comet Ping Pong, kena getahnya. Berkali-kali James, yang tak sekali pun bertemu langsung dengan Hillary, menerima ancaman pembunuhan. James sudah menghubungi Facebook dan Twitter untuk menghapus semua berita itu. Tapi, bak rumput liar, satu mati tumbuh seribu. “Aku seperti menembak kawanan lebah dengan satu senapan,” kata Bryce Reh, anak buah James, kepada The New York Times.

Sebagian berita palsu itu, konon, merupakan ulah intel-intel Rusia untuk mempengaruhi hasil pemilihan Presiden Amerika. Clint Watts, peneliti di Foreign Policy Research Institute dan Center for Cyber and Homeland Security di Universitas George Washington, menelusuri dari mana sumber berita-berita ngawur itu.

Kepada CNN, Watts menuturkan, ada tiga “pabrik” utama berita-berita palsu terkait pemilihan presiden, yakni kelompok pendukung Donald Trump, pengusaha berita palsu yang semata-mata mengejar uang, dan kelompok-kelompok terkait dengan intelijen Rusia.

Bukan hanya Watts yang mencium jejak intel Moskow di balik berita-berita palsu. Sejumlah analis yang tergabung di PropOrNot dan Rand Corporation juga mengendus jejak intel Moskow di ratusan situs Internet yang terus-menerus memproduksi berita palsu. Seberapa besar berita-berita palsu ini mempengaruhi hasil pemilihan presiden jelas sulit diukur.

“Kami tak melebih-lebihkan pengaruh Rusia…. Banyak situs Internet memproduksi berita palsu, tapi jaringan Rusia-lah pemimpin industrinya,” PropOrNot menulis. PropOrNot mencatat ada sekitar 200 situs Internet yang dipakai jaringan Rusia. Jaringan penyebar berita palsu ini menjangkau lebih dari 15 juta warga Amerika. Bukan jumlah yang kecil.

Masa-masa kampanye memang jadi musim pasang peredaran berita palsu. Amerika sudah melewati masa itu, tak lama lagi Prancis dan Jerman menyusul. Alain Juppe, kandidat Presiden Prancis dari Partai Republik, sudah merasakannya. Beberapa pekan lalu, di Internet beredar berita soal hubungan dekat Juppe dengan kelompok Islam, Ikhwanul Muslimin. Bahkan, dalam satu berita, nama Juppe ditulis Ali Juppe.

Di Prancis, kabar seperti ini jadi hal sangat sensitif bagi karier politik. “Bagaimana kalian menyebut hal seperti ini? Berita itu sepenuhnya omong kosong,” Ludovic Martinez, kepala staf Juppe, menanggapi berita itu, dikutip Guardian. Apakah berita-berita palsu itu jadi penentu, tak jelas benar. Tapi Juppe dikalahkan oleh Francois Fillon dalam memperebutkan “tiket” pemilihan Presiden Prancis mewakili Partai Republik.

Pemilihan umum di negerinya baru akan berlangsung pada akhir Agustus 2017, tapi sejak jauh-jauh hari Kanselir Jerman Angela Merkel sudah memperingatkan soal bahaya peredaran berita-berita “sampah” ini. “Dunia sudah berubah. Debat terjadi di media yang benar-benar baru…. Opini tak tercipta seperti 25 tahun lalu. Sekarang ada banyak situs palsu, bot, troll, yang mempengaruhi opini dengan algoritma tertentu. Kita harus belajar bagaimana menghadapi mereka,” kata Kanselir Merkel. Pengaruh berita-berita palsu itu, Merkel menekankan, tak boleh diremehkan. Sebab, di luar sana, ada banyak orang yang percaya pada berita-berita palsu ini.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.